Monday, December 2, 2013

Surat Motivasi CEO General Electric Indonesia Untuk Pemimpin Masa Depan


Handry Satriago
CEO
GE Indonesia
BRI II Tower, 16th Floor
JL. Jend Sudirman No. 44-46.
Jakarta 10210
Indonesia
T +62 21 573 0466
F +62 21 573 0561
Jakarta, 9 July 2012

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan
Di manapun Anda berada
Di dunia yang semakin global

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu
membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop
dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk
“Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena,
walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”,
celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain
pembuatannya.

Tuesday, October 22, 2013

Bandung Bondowoso, APEC dan Roh Entrepreneur


Bisnis.com, JAKARTA - Alkisah, di wilayah Prambanan dahulu kala berkuasa seorang raja bernama Prabu Boko. Raja yang dikisahkan sebagai raksasa sakti itu memiliki seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang.

Kecantikan Roro Jonggrang pun memikat Bandung Bondowoso, seorang pangeran dari Kerajaan Pengging, yang berbatasan dengan Prambanan. Atas nama perluasan wilayah, Bandung Bondowoso berhasil menaklukkan Prambanan, bahkan membunuh Prabu Boko. Bandung yang kemudian tinggal di kerajaan Prambanan, lantas meminang Roro Jonggrang untuk menjadi permaisuri.

Tuesday, August 27, 2013

Pesan Pak Teddy kepada Para CEO



Pada tanggal 26 Februari 2013, Majalah Warta Ekonomi menobatkan 29 Chief Executive Officer (CEO) perusahaan sebagai Indonesia Most Admired CEO 2013, sesuai dengan hasil risetnya terhadap 16 sektor industri. Pak Teddy diminta memberikan keynote speech bertemakan  tentang CEO Wisdom pada acara yang berlangsung di Hotel Crown, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, Pak Teddy menyampaikan pengalaman beliau sebagai profesional maupun entrepreneur, sebagaimana pernah ditulis dalam sebuah surat yang diterbitkan dalam buku “Surat dari & untuk Pemimpin” oleh PT Tempo Inti Media, bersama pesan-pesan 90 tokoh Indonesia, seperti Wapres RI Boediono, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Emil Salim, Sri Mulyani Indrawati, Kuntoro Mangkusubroto, A. Syafi’ Maarif, Goenawan Mohamad, Emirsyah Satar, Adnan Buyung Nasution, Arifin Panigoro, Joko  idodo dan lain-lain..

Pembelajaran TP Rahmat



Theodore Permadi Rachmat (TP Rachmat), pendiri Triputra Group, adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan visioner. beliau telah terbukti berhasil di dunia bisnis, baik sebagai profesional ataupun entrepreneur. Setelah berkontribusi aktif dalam pengembangan bisnis di Indonesia selama kurang lebih 44 tahun, T.P. Rachmat ingin berbagi pengalaman hidupnya dengan menerbitkan sebuah buku yang diberi judul Pembelajaran T.P. Rachmat

Buku setebal 364 halaman yang ditulis oleh Ekuslie Goestiandi dan Yusi Avianto Pareanom ini mengupas bagaimana pembelajaran Teddy Rachmat, panggilan hangat T.P. Rachmat, dalam mengarungi kehidupan yang berhasil menghadirkan perbedaan nyata.

Lewat buku ini, Pak Teddy mencoba untuk mengumpulkan dan menyusun secara sistematis butirbutir pembelajaran yang selama ini berserakan dan tak tertata rapi. “Selayaknya kehidupan manusia yang tak pernah mencapai titik sempurna, demikian pula proses pembelajaran pun tak mengenal kata usai. Sepanjang kehidupan bergulir, maka pembelajaran pun harus dilakukan terus menerus”, tutur Pak Teddy didalam tulisan pembuka bukunya.

Tuesday, June 4, 2013

Peran dalam Lean Six Sigma – Green Belt, Black Belt, Champion


Salah satu kunci inovasi dalam metode Lean Six Sigma terletak dalam sumber daya manusia, peran yang dibentuk, dan kapabilitas yang dimasukkan ke dalam sumber daya manusianya. Sebelum adanya Lean Six Sigma, kualitas manajemen dalam prakteknya sebagian besar diserahkan kepada pabrik dan ahli statistik yang masing-masing berada di departemen yang berbeda. Karena Lean Six Sigma merupakan metodologi yang berpusat kepada manusia, maka dalam setiap inisiatifnya diperlukan berbagai peran dengan tanggung jawab dan tugas-tugas yang berbeda untuk memungkinkan berjalannya proyek-proyek Lean Six Sigma. Peran-peran tersebut adalah:

1)    Executive Leadership

Termasuk CEO dan anggota top management lainnya. Mereka bertanggung jawab dalam menentukan visi untuk implementasi Lean Six Sigma. Mereka juga memfasilitasi pemegang peran lainnya dengan kebebasan dan sumber daya untuk mengeksplorasi ide-ide baru untuk sebuah terobosan perbaikan.

2)    Champion

Champion mengambil tanggung jawab dalam menerapkan filosofi Lean Six Sigma dalam organisasi secara keseluruhan. Executive Leadership akan memilih mereka dari jajaran manajemen tingkat atas. Champion juga bertindak sebagai mentor bagi para Black Belt.

3)    Master Black Belt

Master Black Belt ditunjuk oleh Champion, berperan sebagai in-house coach Lean Six Sigma. Master Black Belt dapat memberikan pelatihan mengenai Lean Six Sigma dan tools-tools nya kepada karyawan lain di perusahaan. Mereka berperan sebagai pemimpin dan pembimbing dalam proyek dan mendedikasikan 100% waktu untuk pelaksanaan berbagai proyek Lean Six Sigma. Mereka bertanggung jawab terhadap Champion dan membimbing Black Belt dan Green Belt dalam proyek.

4)    Black Belt

Black Belt adalah profesional yang dapat menjelaskan filosifi dan prinsip-prinsip Lean Six Sigma dengan baik, termasuk semua tool pendukungnya. Seorang Black Belt harus memiliki kemampuan memimpin tim, mengerti dinamika tim, dan mendelegasikan peran dan tanggung jawab kepada seluruh anggota tim. Black Belt memiliki pemahaman mendalam akan seluruh aspek model DMAIC sesuai dengan prinsip-prinsip Six Sigma. Mereka memiliki pengetahuan dasar mengenai konsep Lean Enterprise, dan mampu mengidentifikasi elemen-elemen dan aktifitas tanpa nilai tambah (pemborosan / waste) serta menggunakan tool yang spesifik untuk meneliminasinya. Black Belt beroperasi dibawah bimbingan Master Black Belt untuk mengaplikasikan metodologi Lean Six Sigma dalam proyek-proyek yang lebih spesifik. Mereka berkontribusi penuh dalam penerapan Lean Six Sigma. Black Belt memiliki tanggung jawab utama pada eksekusi proyek.

5)    Green Belt

Green Belt adalah karyawan yang melakukan penerapan Lean Six Sigma bersamaan dengan tanggung jawab pekerjaaannya yang lain.  Mereka beroperasi dibawah bimbingan Black Belt dalam menjalankan proyek. Green Belt bertugas menganalisa dan mengatasi masalah kualitas dan terlibat aktif dalam proyek-proyek improvement. Green Belt adalah mereka yang paling tidak memiliki tiga tahun pengalaman kerja dan mampu mendemonstrasikan pengetahuannya akan tools dan proses yang mengacu kepada Lean Six Sigma.

Beberapa organisasi menambah beberapa ‘warna’ belt, seperti Yellow Belt, untuk karyawan yang telah menyelesaikan pelatihan dasar tool Six Sigma yang juga berpatrisipasi dalam proyek, dan ada juga ‘white belt’ yang telah diberi pelatihan lokal mengenai konsep-konsep Six Sigma namun tidak berpartisipasi dalam proyek

sumber : www.shiftindonesia.com


Saturday, May 4, 2013

Manfaat Analisa 5 Why’s ? dalam Continuous Improvement


Sebelum membaca artikel tentang manfaat dan fungsi analisa 5 why's  ? marilah kita simak dulu lagu melankolis dari Yuni sarah terlebih dahulu.

“ Mengapa tidakkah kau maafkan ?

“ Mengapa kubertanya ?

“ Mengapa tiada maaf darimu ?

Sewaktu mendengar kata Mengapa ? ingatan saya langsung terhubung dengan  dua  peristiwa menarik, pertama sewaktu kuliah di Fisika Unair, Ada salah satu dosen saya, paling tidak suka kalau di tanyain dengan awalan MENGAPA ?

Tuesday, January 8, 2013

Aplikasi Lean Manufacturing memakai Kerangka Dasar Matematika ?



Menarik  bagi kita yang sehari hari berjibaku dengan dunia industri khususnya bidang manufaktur, banyak sekali stratgi yang bisa diterapkan  supaya menghasilkan produk yang kompetitif dan berkualitas  yang disukai oleh konsumen. 
Kenapa harus disukai konsumen ? karena sejatinya konsumenlah yang membayar ongkos produksi dan ongkos lainnya lewat transaksi jual beli. Jika tidak disukai konsumen, tidak ada pembelian , kemudian tidak ada order, hingga akhirnya tidak akan ada produksi. Inilah rantai kesalingtergantungan antara produsen dan konsumen. 

Dalam bidang manufaktur kita mengenal banyak perusahaan yang mempunyai konsep seperti Toyota dengan TPS-nya, Motorola & GE dengan Six Sigma-nya.