Saturday, March 31, 2012

Rudy Ramawy Bos Google Indonesia

Saat meresmikan kehadirannya di Indonesia, Google juga mengumumkan penunjukan Rudy Ramawy sebagai Country Head Indonesia pada Jumat (30/3/2012) di Jakarta.

"Pembicaraan dengan Google cukup panjang, sekitar satu tahun. Tapi secara resmi saya mulai masuk tim Google Indonesia pada Januari 2012.

Hari ini, saya resmi menjabat sebagai Country Head," jelas Rudy dalam jumpa pers di Gedung Cyber 2, Jakarta.

Rudy Ramawy akan memimpin Google Indonesia untuk lebih mendekatkan diri kepada pengguna, mitra kerja, dan para stakeholder di Indonesia.

Tentang Rudy Ramawy
Rudy mendapat gelar sarjana di bidang Teknik Kimia dari University of California, Barkeley. Ia memulai karier di Procter and Gamble tahun 1994.

Pada tahun 1997, Rudy menjadi Direktur Sales and Marketing Sony Music Entertainment Indonesia. Tahun 1999, ia direkrut menjadi Managing Director untuk Warner Music Malaysia yang berkantor di Kuala Lumpur.

Rudy kembali ke Indonesia pada tahun 2003 dan bergabung kembali dengan Sony Music Entertainment Indonesia sebagai President Director dan sekaligus sebagai Regional Marketing Director untuk Asia Tenggara.

Tahun 2005, Rudy bergabung dengan Nantrindo Telepon Seluler (pemilik operator seluler Axis) sebagai Direktur dan Chief Marketing Officer.

Sebelum bergabung dengan Google, Rudy menjabat sebagai Direktur Programming dan Production RCTI

sumber : www.kompas.com

SAYA BUTUH ORANG BODOH !


Si Jabrik
Teman saya punya teori yang rada gila. Dia bilang, “Negara ini ngak maju-maju sejak reformasi 1998, karena terlalu banyak orang pinter”. Awalnya saya terbahak-bahak mendengar teorinya yang gila itu. Tetapi ia serius melanjutkan. Buktinya dengan merangkai kata-kata dan kalimat secara elok, maka para politisi bisa menunda kenaikan BBM, namun memberikan ketidak jelasan, bahwa BBM akan naik atau tidak. Hanya orang-orang pintar yang bisa membuat situasi gamang, dan tidak jelas. Padahal demonstran (asli atau tidak) sudah seminggu ber-jibaku dibawah terik matahari dan guyuran air hujan, serak kehilangan suara. Namun BBM tetap saja bisa naik minggu depan atau bulan depan. Semuanya demi kompromi sebuah kontrak politik. Ini bukti bahwa politisi kita makin pintar dan canggih. Tetapi sanggah teman saya, kalau politisi kita bodoh, pasti akan tegas. Naik atau tidak. Selesai ! Tidak ada ruang untuk tidak jelas.

Teman saya dengan sengit juga melanjutkan argumentasinya. Menurut dia semakin banyak orang ketangkap gara-gara korupsi. Mulai dari bekas bupati, bekas walikota, bekas gubernur, hingga bekas menteri. Rame-rame masuk penjara gara-gara korupsi. Kenapa ? Karena mereka pinter-pinter semua, dan mereka merasa bisa menipu Negara. Coba kalau mereka bodoh dan tidak tau caranya korupsi. Pasti ngak ada orang korupsi. Begitu penjelasan teman saya. Walaupun gila, tetapi sedikit banyak ada benarnya juga.

Teman saya juga mengeluhkan, bahwa karena semuanya pinter, maka semakin banyak ‘talk show’, di televisi dan radio. Karena pada pinter semua. Maka apapun diperdebatkan. Seolah-olah semua orang mau pamer, kalau dirinya memang pinter dan tau segalanya. Saya semakin tertawa mendengar lanjutan teori teman saya ini. Terdengar ngawur namun mengundang seribu pertanyaan lanjutan.

Jadi argumen teman saya ini, sok pinter, pamer pinter, belaga pinter dan kebanyakan adu pinter, bakal jadi hambatan yang serius buat negera ini. Kebetulan saya punya pengalaman rada-rada mirip. Pernah sekali saya membuat sebuah proyek disebuah perusahaan. Saat proyek akan di aplikasikan, sang pimpinan perusahaan dengan bangganya mengatakan bahwa ia memberikan 10 staffnya, yang paling pinter. Celakanya proyek itu tidak jalan-jalan alias macet. Semata-mata karena setiap aspek dari proyek itu diperdebatkan dan dikaji ulang oleh 10 orang pinter, yang semuanya merasa lebih pinter dan tidak ada satupun yang mau mengalah.

Frustasi dengan situasi dan kondisi yang macet selama sebulan, saya menghadap pemilik perusahaan. Dengan sangat hati-hati, saya katakan bahwa saya ingin menukar anggota tim. Dari 10 yang paling pinter dengan 10 yang paling bodoh. Awalnya sang pemilik perusahaan matanya melotot dan merasa gusar. Ia merasa tersinggung Namun setelah saya perlahan-lahan saya jelaskan situasinya, akhirnya ia tersenyum juga. Mengerti betul situasinya, ia lalu menuruti permintaan saya. Ia memberikan 10 anggota staffnya yang tidak terlalu pinter. Dalam 2 bulan proyek itu terselesaikan dengan baik. Diakhir proyek, sang pemilik perusahaan mengatakan, kadang staff yang terlalu pinter malah menyulitkan. Kadang kita butuh staff yang biasa biasa saja.

Cerita ini pernah saya ceritakan juga ke Mpu Peniti. Dan beliau tertawa terkekeh-kekeh. Malah menurut beliau, kadang dalam situasi kritis dan genting, kita justru butuh orang bodoh. Karena mereka pikirannya lebih pendek, tidak pandai menghitung resiko, akibatnya lebih berani mengambil tindakan. Dan seringkali justru jadi menyelamatkan banyak orang.

Benarkah kita butuh orang bodoh ? Pernah sekali saya berdiskusi sengit dengan Mpu Peniti. Saya bersikukuh, kita tidak butuh orang bodoh. Buat apa orang bodoh ? Begitu argumen saya. Lalu Mpu Peniti bercerita dan memberikan saya sebuah pelajaran manajemen. Kisah ini terjadi saat pasca krisis ekonomi 1998. Alkisah, disebuah perusahaan, karena krisis ekonomi, maka perusahaan itu dibelit hutang. Bertubi-tubi “debt-collector” datang dan menagih hutang. Para karyawan stress menghadapi situasi seperti itu. Di saat genting, sang pimpinan, entah mendapat wangsit dari mana, tiba-tiba menugaskan seorang “office boy” yang terkenal sekali dikantor itu “agak lambat cara berpikir-nya”, menjadi resepsionis untuk menghadapi para penagih hutang. Percaya atau tidak strategi ini berhasil dengan manjur. Para penagih hutang rata-rata frustasi menghadapi “office boy” itu.

Moral dari cerita ini, menurut Mpu Peniti, adalah kita jangan takabur menyepelekan “orang bodoh” dan merendahkan mereka, seolah mereka adalah kaum yang terbuang. Manajemen adalah ibarat sebuah mosaic. Kita harus bisa memberdayakan semua orang. Tiap orang, apa-pun kemampuan dan situasinya – pasti akan bermanfaat. Maka sejak peristiwa itu, saya selalu belajar menghargai setiap orang. Apapun kekurangan dan kelebihannya.

Renzo Rosso, pemilik dan yang menemukan jeans bermerek Diesel, menulis sebuah buku “Be Stupid – For Successful Living”. Yang merupakan kelanjutan dari kampanye iklan Diesel yang super heboh yaitu “Be Stupid”. Konsep kampanye iklan itu sendiri diciptakan oleh perusahaan iklan “Anomaly”. Idenya sangat sederhana, kadang untuk berhasil dalam hidup ini, kita butuh strategi bodoh.

Renzo Rosso, menggunakan strategi bodoh sebagai sebuah cemeti yang membuat kita terperangah. Menurut Renzo, kemampuan kita seringkali dibatasi oleh sikap kita. Pembatasan itu terjadi karena kita terbiasa dengan arogansi dan kesombongan kita. Misalnya, karena kita punya segudang gelar, maka kita merasa sangat pandai. Nah, sangat pandai itu seringkali menjadi penghambat gerakan kita. Contoh kasus: Ada dua orang pegawai yang kena PHK. Yang pertama seorang sarjana S2 sangat cerdas dan pandai dengan segudang pengetahuan. Yang kedua seorang lulusan SMA yang mungkin pengetahuan-nya biasa biasa saja. Yang pertama saat ingin menjadi pengusaha, akan membuat rencana yang sangat rapi dan perhitungan resiko yang sangat nyelimet. Saking rumitnya, akhirnya ia batal menjadi pengusaha. Dan tetap menjadi pengangguran sehabis PHK. Yang kedua, karena sudah kepepet, akhirnya tanpa pikir panjang, berdagang pecel lele, dan es campur. Lalu kemudian sukses. Semata karena yang kedua tidak memiliki perhitungan resiko yang rumit. Ia punya nyali dan keberanian yang lebih besar. Semata-mata karena pengetahuan-nya yang terbatas. Itu pokok ide Renzo Rosso. Bahwa strategi bodoh kadang-kadang membuka pintu solusi yang sangat sederhana.

Republik ini dan Negara ini barangkali sudah saatnya juga butuh Strategi Bodoh. Sebuah sikap penyederhanan yang memangkas semua kerumitan, dan mengembalikan para pemimpin kita pada satu sikap sederhana, jujur membela kepentingan rakyat. Tanpa debat. Tanpa adu pinter. Saatnya hadir seorang pemimpin yang kritis mau menyelamatkan kita semua. Kalau perlu bodoh, marilah kita bodoh bersama.

sumber : http://biangpenasaran.blogspot.com/

10 CEO Indonesia Paling Respek Pada Lingkungan

Riset Warta Ekonomi Intelligence Unit mengenai Green CEOs menghasilkan 10 Chief Executive Officer perusahaan publik yang memperoleh prosentase penilaian  paling tinggi dalam hal menerapkan paradigma hijau di perusahaan. Berikut profil mereka:
   
1. Widya Wiryawan
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk.

Pria berkacamata ini meraih posisi Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. (AAL) sejak 2007. Satu tahun Widya memimpin, penjualan bersih AAL mengalami peningkatan 36,9% dari Rp5961,0 miliar. Karena krisis global, penjualan 2009 mengalami penurunan, dan baru pada 2010 mampu mencatat angka penjualan bersih senilai Rp8,8 triliun melebihi penjualan di tahun 2008. Akhir April lalu, AAL membagikan deviden 2010 sebesar Rp850 per lembar, dengan nilai total Rp1,31  triliun. Nilai itu 65% bagian dari laba bersih senilai Rp2,02 triliun.

Di bawah kepemimpinan Widya, AAL memiliki program yang terencana dalam menerapkan paradigma “hijau” di perusahaan. AAL telah memiliki tata kelola lingkungan perkebunan grup AAL yang ditangani oleh divisi Safety, Health & Environment. AAL juga mempunyai program Corporate Social Responsibility yang dikelola oleh departemen Community Development. Disamping itu, AAL memiliki program konservasi perkebunan dan conservation specialist untuk mengelola program konservasi ini.

Perusahaan yang memiliki luas kebun 291.814,48 ha ini memerhatikan aspek lingkungan perkebunan kelapa sawit sejak dari periode pra konstruksi (survei lahan, sosialisasi, dan perizinan) guna mencegah potensi konflik seperti masalah status lahan. Begitu pula pada periode konstruksi  (pembukaan lahan, pembibitan, dan penanaman) guna mencegah kepunahan vegetasi dan satwa serta  kebakaran lahan. Pada periode operasi (perawatan kebun, masa panen, dan operasional pabrik CPO), AAL juga memiliki program yang mengatur masalah emisi udara, limbah cair, dan limbah
padat.

Tak cukup dengan itu, AAL juga mengikuti program sertifikasi Astra Green Company yang  bekerjasama dengan badan sertifikasi internasional AFAQ Perancis. AAL pun telah melakukan uji coba  mengikuti standar Indonesia Sustainable Palm Oil. Bahkan, beberapa perusahaan yang tergabung dalam grup AAL dalam tiga tahun terakhir memperoleh Peringkat Hijau dalam penghargaan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan Perusahaan) dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sejak 2009 lalu AAL untuk kali pertama menginisiasi laporan keberlanjutan kepada publik. Hal itu, menurut Widya, ditujukan sebagai bagian dari akuntabilitas perseroan untuk tanggung jawab sosial dan pengelolaan lingkungan.

2. Sofyan Basyir
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Di bawah kepemimpinan Sofyan Basyir, pelan tapi pasti BRI berubah menjadi bank terbaik dan  terbesar di Indonesia. Ia menjabat posisi Direktur Utama BRI sejak Mei 2005 dan terpilih kembali menjabat posisi itu pada 20 Mei lalu. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk pada 2010 meraup laba bersih setelah pajak sebesar Rp11,47 triliun, melonjak sebesar 56,98% dibandingkan tahun sebelumnya hanya sebesar Rp7,31 triliun.

BRI diketahui telah menyalurkan dana Bina Lingkungan (BL) sekitar Rp6,66 miliar sepanjang kuartal I 2011. Jumlah tersebut diupayakan dapat meningkat menadi Rp40-60 miliar pada akhir 2011. Menurut Sofyan, dana BL BRI terus meningkat setiap tahun. Tahun lalu BRI telah menyalurkan dana sebesar Rp48,82 miliar, sementara pada 2008 dan 2009 masing-masing sebesar Rp35,03 miliar dan Rp37,87 miliar. Tahun lalu BRI menyisihkan 3-4% dari laba perseroan yang mencapai Rp11,47 triliun untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

Dalam pemberian kredit, BRI juga semakin memperhatikan aspek lingkungan hidup. Misalnya, untuk pembiayaan industri kelapa sawit dan turunannya, BRI menegaskan kepada debiturnya agar pembukaan areal dan operasional kebun maupun pabrik dilakukan dengan prinsip tidak merusak alam atau lingkungan. BRI menerapkan syarat tersebut dalam persyaratan formal pemberian kredit. 

Dipimpin Sofyan Basir, BRI juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Pada November 2010 lalu, misalnya, BRI mengkampanyekan gerakan penanaman 1 miliar pohon untuk dunia melalui acara BRI Bersemi (Bersepeda untuk bumi) yang diikuti sekitar seribu peserta bersepeda santai di Jakarta. BRI menyelenggarakan pula kegiatan penanaman hutan bakau di wilayah pantai utara DKI Jakarta. BRI mengalokasikan dana Rp1,842 miliar untuk program ini.

3. Wachid Usman
Direktur Utama PT Timah Tbk.

Wachid Usman memangku jabatan Direktur Utama perseroan sejak tahun 2007, setelah memegang beberapa jabatan penting sejak bergabung dengan PT Timah pada tahun 1982, antara lain Kepala Operasi Produksi, Kepala Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Direktur Operasi PT Tambang Timah dan pernah merangkap sebagai Direktur Utama PT Tambang Timah pada tahun 2002-2003. Sarjana teknik tambang Institut Teknologi Bandung ini menekankan bahwa sebagai perusahaan tambang timah kelas dunia, PT Timah Tbk. juga harus melaksanakan tanggung jawab pengelolaan lingkungan.

Untuk memastikan pengelolaan lingkungan berjalan efektif, PT Timah Tbk. melakukan pengawasan dengan melibatkan pihak independen dan mengacu pada Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 yang
telah diraih sejak 1997. Sejak kegiatan operasi penambangan direncanakan, Timah memberikanperhatian khusus bagi perbaikan kembali kualitas lingkungan pada masa pasca tambang sehingga kondisi lingkungan bisa kembali seperti sedia kala.

Sampai tahun 2009, PT Timah Tbk telah menanam 526.607 pohon di sekitar wilayah operasi perusahaan. Mereka juga terlibat dalam proyek Pemerintah Provinsi Bangka-Belitung bernama ‘Babel Hijau’. Timah juga menjalankan program ‘One Man One Tree’ untuk melakukan adopsi pohon yang melibatkan para karyawannya.

4. Prijono Sugiarto
Presiden Direktur PT Astra International Tbk.

Sejak Januari 2010, pria kelahiran 20 Juni 1960 ini menduduki jabatan Presiden Direktur menggantikan pendahulunya Michael D. Ruslim. Kiprah Prijono sendiri di Astra dimulai sejak 1990. Dinakhodai Prijono, Astra memiliki kerangka kerja Astra Green Company (AGC) yang menunjukkan aspirasi Astra untuk bisa memperoleh lingkungan kerja yang sehat dan aman sekaligus melindungi keberlanjutan lingkungan. Formula AGC menjadi panduan dasar implementasi dan evaluasi bagian Environment, Health, and Safety (EHS) di seluruh perusahaan Grup Astra. Formula

AGC ini juga menjadi green strategy Astra yang mencakup pula di dalamnya proses bisnis yang aman, nyaman, dan bersih (green process), pengembangan produk ramah lingkungan dan aman serta pengembangan kompetensi karyawan di bidang EHS (green employee). Implementasi EHS ini mengikuti
standar dan regulasi nasional dan internasional.

Disamping itu, Astra juga melakukan sejumlah aksi kepedulian lingkungan, seperti program konservasi dan sanitasi berbasis masyarakat di bantaran sungai Ciliwung, Jakarta. Aksi kepedulian lainnya adalah pemberian bantuan peralatan pengelolaan sampah di Jakarta dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia dan Ulang Tahun Jakarta ke-484. Astra pun membangun Taman Astra seluas 4.000 meter persegi di dekat kantor pusatnya demi kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan, serta gerakan penanaman pohon di berbagai tempat di
Indonesia.

5. Eamon John Ginley
Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk.

Eamon J. Ginley dilantik sebagai CEO Holcim Indonesia pada tanggal 19 Juli 2009. Sebelumnya, Eamon menjabat sebagai Manufacturing Director sejak 2004. Dihela sarjana kimia ini sebagai CEO, Holcim Indonesia mengembangkan sejumlah strategi berwawasan lingkungan. Apalagi sebagai perusahaan produsen semen, Holcim sangat potensial menghasilkan polusi yang mencemari lingkungan.

Holcim mengembangkan produk dan layanan yang ramah lingkungan, antara lain produk semen yang berbahan baku clinker yang rendah. Holcim juga mengembangkan sarana mobil pengaduk semen ukuran
kecil yang lebih efisien untuk proyek pembangunan berskala kecil dan semen yang bisa cepat mengering serta membangun proyek-proyek properti ramah lingkungan (Ecohome). Disamping itu, Holcim juga menjadi pionir eradifikasi ozone depleting substances (gas CFC).

Holcim juga mengoperasikan bahan bakar alternatif dari biomasa berupa sekam padi yang sudah tidak terpakai dan cangkang kelapa sawit. Untuk mengolah debu semen, Holcim menggunakan alat penghisap debu elektrostatis. Holcim juga mengembangkan tanaman bahan bakar yang cepat tumbuh untuk menyerap karbon di sekitar pabrik, mengurangi faktor klinker semen, serta mengurangi penggunaan air dan listrik per ton yang dibutuhkan untuk pembuatan semen.

6. Maurits D. Lalisang
Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk.

Maurits menjabat sebagai Presiden Direktur Unilever Indonesia sejak 2004. Bergabung dengan Unilever tahun 1980, ia pernah menjabat berbagai jabatan senior di Unilever, termasuk Direktur Corporate Relations, Direktur Foods, Direktur Home Care and Direktur Sales. Di bawah kepemimpinan Maurits, Unilever memiliki program sustainability yang lengkap, mulai dari Unilever Sustainable Living Plan, sustainable development report, hingga sustainability strategy.

Unilever Sustainable Living Plan bertujuan membantu masyarakat menikmati kualitas hidup yang baik sekaligus ramah lingkungan. Unilever mencanangkan tiga tujuan besar yang harus dicapai pada 2020, yaitu memotong separo environmental footprint produk-produknya, membantu lebih dari 1 miliar penduduk dunia untuk ikut meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraannya, serta berusaha 100% bahan baku produknya adalah bersumberkan bahan baku agrikultur yang berkelanjutan.

Pada November 2009 Unilever mencanangkan strategi menggandakan skala bisnisnya sekaligus mengurangi dampak lingkungan dalam keseluruhan rantai bisnisnya. Dalam hal ini, sejak 2008, ada empat prioritas dampak lingkungan yang menjadi pusat perhatian Unilever, yakni emisi greenhouse gas (GHG), air, limbah, dan sumber produksi perusahaan yang berkelanjutan (sustainable sourcing).

Aksi lingkungan juga giat dilakukan Unilever. Pada tahun 2010 dilakukan gerakan penanaman 10.000 bibit pohon kelapa, program pengelolaan sampah di 8 kota besar dengan melibatkan 134.000 kader lingkungan, pengembangan 730 wiraswastawan di bidang pengelolaan sampah, dan pengembangan 19 koperasi bank sampah

7. Alwin Syah Loebis
Direktur Utama PT Antam Tbk.

PT Antam Tbk. baru saja mencetak kenaikan 71% laba bersih pada triwulan I tahun ini, dengan nilai Rp 346,6 miliar. Periode yang sama tahun lalu, laba ANTM sebesar Rp201,23 miliar. Di bawah kepemimpinan Alwin, ANTM gencar melakukan aksi korporasi. Meski demikian, alumni Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1983 tidak melupakan tanggung jawab lingkungan perusahaannya. Pada akhir 2010, di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Antam di Pongkor, Jawa Barat, dibangun Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati TNGHS meliputi Pusat Penelitian & Pendidikan Pohon dan Tanaman Asli, Pusat Pembenihan dan Penanaman Pohon Asli, sarana pembibitan, dan Pusat Reklamasi dan Restorasi Lahan. Untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat penerima manfaat dari program CSR Antam, dilakukan survei indeks kepuasan masyarakat bersama Institut Pertanian Bogor. pengumpulan data dilaksanakan pada Desember 2009. Hasilnya, ANTM menerima penilaian Community Satisfaction Index sebesar 76,4%. 

8. Rinaldi Firmansyah
Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Lahir di Tanjung Pinang, 49 tahun silam, Rinaldi Firmansyah mulai memimpin PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) sejak 2007 setelah sebelumnya menjabat sebagai direktur keuangan. Alumnus Teknik Elektro ITB, Bandung, ini mengusung Green Leadership Program dalam menghadapi masalah lingkungan. Ada tiga strategi utama yang dijadikan motor penggerak. Pertama, melakukan penghematan energi (energy saving) baik di kantor maupun pada peralatan di lokasi operasi Telkom.

Implementasinya, mulai dari  menerapkan paperless office di semua kantor Telkom hingga pemindahan dan migrasi TDM switch yang sudah tua menjadi soft switch. Migrasi ini mampu mereduksi hingga 35,0 A dari existing switch sebesar 58,9 A menjadi 23,9 A.

Strategi kedua adalah pemanfaatan energi hijau (green energy) untuk mengurangi konsumsi sumber daya dan menghemat total cost ownership. Misalnya membangun BTS yang menggunakan energi hijau. Adapun strategi ketiga ialah mencanangkan go green program, seperti mendukung gerakan penanaman
pohon.


9. Gatot Mudiantoro Suwondo
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Pria lulusan Mindanao State University Filipina ini menjabat Direktur Utama BNI sejak Februari  2008. Di tangan Gatot, BNI makin menunjukkan tanggung jawabnya yang besar di bidang lingkungan.  BNImenjadi pelopor konsep green banking di Indonesia. BNI menjadi bank pertama di Indonesia  yang menjadi anggota lembaga United Nation Environment Programme Finance Initiative (UNEP FI) sejak 2005. Lembaga ini merupakan tempat bank-bank dari seluruh penjuru dunia untuk berbagi sukses praktek perbankan berwawasan lingkungan.

Dalam kebijakan perusahaan, BNI juga telah memasukkan isu lingkungan sebagai bahan pertimbangan. BNI menyalurkan kredit komersial untuk usaha-usaha ramah lingkungan seperti industri daur ulang, pertanian/peternakan dengan sistem produksi bersih dan industri terkait efisiensi. BNI juga dipercaya sebagai bank pelaksana kredit program pinjaman lunak dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan telah ikut serta dalam beberapa skim pinjaman lunak lingkungan dari kreditur internasional. Dalam proses kerjanya pun, BNI juga telah mengurangi penggunaan kertas dan membatasi penggunaan listrik.
   

10. Lukman A. Mahfoedz
PT Medco Energi Tbk.

Pria kelahiran 1954 ini menjabat sebagai CEO Medco Energi pada bulan Mei 2011. Meski baru sebulan menjabat sebagai CEO, Lukman bukanlah orang baru di Medco. Sebelumnya, Lukman menjabat  sebagai Project Director Medco Energi sejak tahun 2008. Sebagai CEO baru Medco Energi, sarjana teknik mesin ITS Surabaya ini juga menerima tongkat estafet pengemban tanggung jawab perusahaan di bidang lingkungan.

Medco Energi diketahui telah cukup lama menjalankan aktivitas proyek bisnisnya berdasarkan paradigma hijau. Strategi hijau diimplementasikan ke dalam visi perusahaan yang memfokuskan  pada pencarian energi terbarukan, seperti etanol, panas bumi, dan biomassa. Pada tahun 2006 Medco Energi membangun pabrik etanol di Lampung berbahan baku singkong. Lalu pada Desember 2007 perusahaan ini mendapat izin untuk mengoperasikan ladang panas bumi di Sarulla, Sumatera Utara.

DINA KARINA SEPTYANI, JAJANG YANUAR HABIB, FEKUM ARIESBOWO W. DAN FADJAR ADRIANTO

(Tulisan ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 13 tahun 2011)
sumber :http://www.wartaekonomi.co.id/berita-174455019-10-ceo-hijau.html

Rahasia Keajaiban Ekonomi Korea

Tahun 2009 merupakan tonggak baru industri mobil Korea Selatan (selanjutnya disebut Korea). Untuk pertama kalinya sejak Korea membuat mobil, mereka memenangi North American Car ofthe Year Award, penghargaan yang diberikan oleh 50 wartawan otomotif terkemuka di Amerika Serikat. Penerima penghargaan adalah Hyundai Genesis, pendatang baru relatif murah (US$ 40 ribu), yang berhasil menyaingi Lexus, Mercedes dan BMW.

Sementara itu, Samsung Electronics yang bercikal bakal sebagai pedagang beras, kini berhasil menjual Samsung Galaxy Tab sebanyak 2 juta unit. Ini pencapaian hebat karena penjualan setinggi itu dicapai hanya dalam tiga minggu setelah produk diluncurkan. Dengan pencapaian ini, Samsung Galaxy Tab bisa memproklamasikan diri sebagai tablet Android terlaris di dunia, meski untuk pasar tablet secara keseluruhan Apple masih memegang pasar dengan iPad-nya. Di Indonesia, raksasa elektronik asal Korea itu mengklaim mendominasi pasar tablet PC Indonesia dengan meraih 71% market share.

Menurut Myung Oak Kim dan Sam Jaffe – penulis buku ini – etos kerja dan semangat kolektif yang dimiliki bangsa Korea benar-benar menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara itu sejak 1960-an. Keduanya, menurut laporan Bank Dunia 2008, telah mengantarkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler selama 40 tahun dan transformasi ekonomi yang berhasil melambungkan status Korea sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-15 dunia.
Etos kerja dan semangat kolektif itu diimplementasi ke dalam strategi perencanaan terpusat, penekanan pada ekspor, industrialisasi yang tergolong ambisius, dan dedikasi dari angkatan kerja terdidik. Mempelajari perkembangan ekonomi Korea ini, Myung Oak Kim dan Sam Jaffe membagi pertumbuhan Korea menjadi tiga tahap. Tahap pertama atau yang disebutnya sebagai Korea 1.0 digulirkan sejak Park Chung-hee berkuasa awal 1960-an. Tanda-tanda Korea 1.0 menjadi bagian dari raksasa ekonomi dunia mulai kelihatan setelah Korea membangun industri mobil dan perkapalan. Prestasi itu dicapai karena industri Korea berhasil mengambil keuntungan dari etos kerja yang didisiplinkan oleh negara dan upah rendah.

Pascakrisis 1998, ekonomi Negara Ginseng itu memasuki era Korea 2.0. Pada era ini, etos kerja masih menjadi andalan, tetapi upah yang rendah hilang. Perekonomian Korea sekarang didominasi oleh industri baru, seperti hiburan, perangkat lunak, dan manufaktur peralatan telekomunikasi. Bisnis di industri ini menjanjikan upah rata-rata lebih tinggi. Pendapatan Korea saat ini di atas US$ 20 ribu per orang. Ini menempatkan Korea dalam jajaran negara industri Eropa dan mendekati Jepang (US$ 38 ribu) dan bahkan membuka pintu untuk bersaing dengan AS (US$ 47 ribu).

Tantangan Korea sekarang: bagaimana terus meningkatkan kemajuan dan pendapatan pekerja dari US$ 20 ribu menjadi US$ 40 ribu. Di sisi lain, Korea harus bersaing dengan negara berupah rendah seperti Cina dan India. Korea juga tak dapat mencapainya dengan model dekrit presiden seperti yang terjadi di era Korea 1.0 yang berhasil menyulap industri baja dan otomotifnya.
Korea saat ini mirip posisi Jepang 30 tahun lalu. Pada 1980-an, Jepang berhasil memasukkan dirinya ke dalam kelompok nyaman sebagai pemimpin ekonomi dunia. Begitu pula pada 2010, Korea berhasil menempatkan diri di kelompok 15 negara ekonomi terbesar di dunia. Jadi, bagaimana Korea bisa terus tumbuh dan menghindari dekade yang hilang seperti yang dialami Jepang sekarang?

Selama 20 tahun terakhir, Jepang tetap menekankan keselamatan dalam kebijakan ekonomi dengan mengandalkan pertumbuhan dan dukungan konglomerat multinasional. Menurut sifatnya, seperti halnya perusahaan besar, pertumbuhannya jarang yang berlangsung sangat cepat. Seyogyanya, Korea dapat menghindari dua kesalahan yang dilakukan Jepang itu, karena memiliki pengalaman bagaimana memperbarui strategi pertumbuhan ekonominya saat dilanda resesi pada 1998.
Selama 1998 akibat runtuhnya keuangan, Korea merupakan salah satu negara yang menghadapi krisis mengerikan. Namun, negeri ini berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye Hallyu yang artinya Gelombang Budaya Korea (Kim, 2008). Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantarkan Kor-Sel melewati krisis dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka (The Economist, 2010).

Hallyu atau Korean Wave digunakan untuk menggambarkan popularitas budaya populer Korea (K-popped, 2007). Jutaan orang di Cina, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Jepang, Filipina dan Thailand dipengaruhi oleh budaya pop Korea. Mereka menonton drama TV Korea, film dan mendengarkan musik pop mereka. Sebagai suatu fakta, media merupakan awal dari sebuah gelombang besar.

Konsekuensi dari semua itu adalah perubahan luar biasa ketika orang yang melihat produk-produk media itu bersedia menghabiskan uang mereka untuk membeli mulai dari kosmetik hingga ponsel yang ditampilkan dalam drama TV, atau yang disajikan oleh aktor/peyanyi favorit mereka. Selain itu, semakin banyak orang yang tertarik makan masakan Korea dan bepergian ke Korea, terutama mengunjungi lokasi pengambilan gambar drama TV atau film Korea terkenal. Yang luar biasa, beberapa perkembangan itu kemudian menjadi norma, terutama bagi yang fanatik (Huang, 2009).

Ketika ditayangkan pertama kali pada 2002, Winter Sonata menyajikan sesuatu yang baru, yakni gambaran tentang keluarga Korea modern dan percintaan. Sebelumnya, selama puluhan tahun, tayangan drama TV Korea bergenre sejarah Korea kuno dan cerita tentang keluarga di perkotaan. Format ini sukses meraih pemirsa Korea, terutama orang dewasa dan ibu rumah tangga yang melihat pertunjukan ini sebagai cara bersantai yang menyenangkan setelah seharian sibuk menjalankan tugas rumah tangga seperti memasak, mengurus suami dan anak-anak.

Kesuksesan Winter Sonata mendorong drama Korea ini ke panggung internasional. Pada 2003 ditayangkan di Jepang dan menjadi sensasi seketika. Acara ini lebih populer dari acara apa pun dari luar negeri. Rating point-nya melebihi peringkat gabungan serial TV AS Blockbuster ER, AllyMcBeal dan Friends. Sementara peluncuran pertama DVD-nya terjual habis dalam empat jam. Dari Jepang, kesuksesan Winter Sonata terus ke Cina dan Asia Tenggara, kemudian ke belahan dunia lainnya termasuk Amerika Latin dan sebagian Afrika. Serial drama TV ini menjadi lambang dari Hallyu. Dan, kesuksesan film dan program TV ini mendorong banyak bintangnya menjadi semacam pemandu sorak industri pariwisata Korea.

Budaya Korea telah menjadi salah satu produk ekspor yang menyebar ke negara-negara di seluruh Asia. Berarti, budaya menghasilkan pendapatan negara. Pada 2005 saja, Korea memperoleh pendapatan total dari ekspor “barang-barang budaya” lebih dari US$ 1 miliar atau dua kali lipat dibanding tahun 2002 yang hanya US$ 500 juta. Keberhasilan Korean Wave berdampak signifikan pada berbagai sektor di negaranya seperti kenaikan di bidang pariwisata dan masakan, citra negara dalam persepsi negara-negara lain. Ini menimbulkan rasa ingin tahu yang kuat dalam pikiran kita bagaimana hal itu bisa terjadi.

Keberhasilan Korea dalam memperluas budaya popnya ke negara lain berdampak positif yang signifikan dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto pariwisata dan industri budaya (Dator & Seo, 2004). Namun, di balik keberhasilan ekspor budaya itu, beberapa peristiwa yang menimpa para artis Korea kini juga banyak mendapat sorotan. Tekanan untuk menjadi sempurna begitu terasa di industri hiburan Korea. Operasi plastik menjadi isu yang lumrah demi kesempurnaan fisik sang bintang. Ataupun masa pelatihan selama bertahun-tahun dan belum tentu calon bintang tersebut bakal debut jika tidak benar-benar berbakat, membuat mereka depresi yang berakhir dengan bunuh diri. Banyak artis Korea yang tidak tahan atas depresi yang dialami, dan jalan pintasnya bunuh diri.

Budaya dan masyarakat Korea telah berubah secara signifikan dalam 10 tahun terakhir. Homogenitas etnis negara telah digantikan oleh bentuk multikulturalisme sebagai konsekuensi dari makin banyaknya pekerja, eksekutif asing dan pasangan buruh asing yang merasa Korea telah menjadi rumah mereka. Selain itu, semakin banyak perempuan yang masuk ke sektor tenaga kerja dan meninggalkan peran mereka sebagai ibu rumah tangga. Konsekuensinya, struktur sosial tradisional runtuh cepat.

Meski demikian, etos kerja yang didisiplinkan pemerintah berdasarkan ajaran Konfusius masih melekat pada mereka. Konfusianisme didasarkan pada keyakinan bahwa orang perlu bekerja untuk kebaikan kelompok dan bangsa. Ini mengimplikasikan pandangan bahwa kebutuhan, ambisi, dan kekhawatiran pribadi menjadi kurang penting. Filsafat ini sangat memengaruhi dan telah bekerja dengan baik dalam bisnis di Korea.

Semangat kerja sebagai tim dan loyalitas pekerja sangat berperan dalam meningkatkan kinerja ekonomi negara itu. Para pekerja Korea umumnya bekerja beberapa jam lebih panjang dari negara maju lainnya, bahkan ada kecenderungan terus meningkat. Tahun 2007, berdasarkan laporan tahun 2008 Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), rata-rata pekerja Korea bekerja 2.261 jam per tahun atau 200 jam lebih tinggi dibanding 1994. Ini jauh melampui sebagian besar dari 22 negara maju yang tergabung dalam OECD. Rata-rata pekerja Jepang misalnya, hanya sekitar 1.800 jam per tahun. Sementara pekerja di AS berada jauh di bawah itu.

Perbedaan utamanya terletak pada falsafah kerja mereka. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya di kantor. Mereka tidur di sana. Semuanya berhubungan dengan pekerjaan mereka,” kata Rahul Prabhakar, warga negara India yang telah bekerja di Samsung Electronics sejak 2005. “Di Barat, itu terjadi sampai batas tertentu, tapi masih ada pemisahan antara kerja dan kehidupan pribadi. Di sini, tidak ada pemisahan.” (halaman 178).

Buku ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama menyoroti tentang sejarah, karena bagaimanapun sejarah ikut membentuk dan melanggengkan ekonomi Korea. Bagian kedua berkaitan dengan masalah ekonomi dan perdagangan. Buku ini mencoba menggali lebih dalam bencana ekonomi yang menimpa Korea pada 1997-1998 dan mengeksplorasi hubungan Kor-Sel dengan Jepang, Cina dan AS.

Kemudian, bagian ketiga menyoroti perkembangan industri tertentu, seperti sektor otomotif dan perusahaan swasta, seperti LG dan Samsung. Bab-bab ini memusatkan perhatian pada subjek jauh lebih kecil dalam rangka mempelajari sesuatu yang lebih besar, agar dapat memberikan pemahaman tentang Korea secara keseluruhan.

Bagian empat mengeksplorasi gaya hidup masyarakat Korea modern, termasuk obsesi dengan golf, bagaimana rasanya bekerja di sebuah perusahaan Korea, dan bagaimana Konfusianisme mendominasi lanskap budaya negara. Bab terakhir buku ini menjelaskan tentang lompatan lebih lanjut yang harus dilakukan untuk mencapai Korea 3.0. Pada tahap ini, pengembangan perekonomian Korea berada pada titik dengan pijakan ekonomi yang sama dengan AS.

Tesis yang diajukan penulis, dalam menyongsong Korea 3.0 itu, tool kebijakan yang membuat Korea 2.0 sukses, tidak akan selalu bekerja untuk Korea 3.0. Perencanaan ekonomi terpusat bukanlah jawaban untuk pertumbuhan di masa depan. Demikian pula sistem jaringan dan komunikasi yang rigid seperti yang berlangsung selama ini, kecil kemungkinan bekerja efektif. Terlalu general memang, tetapi bagaimanapun buku ini bisa membuka wawasan pembaca dalam konteks pembangunan nasional.

ditulis oleh :
A. EDHY ARUMAN
Redaktur Eksekutif Majalah MIX, dosen Stikom LSPR Jakarta

Sunday, March 25, 2012

Dahlan Iskan : Pribadi Unik namun mengesankan



Dalam tulisan seri pertama saya menceritakan tentang Gede Prama, namun Pribadi yang mengesankan kali ini, saya akan menjelaskan kenapa Pak DI, sapaan akrab Dahlan Iskan menjadi pribadi yang mengesankan.

Jauh sebelum dia menjadi Dirut PLN dan sekarang menjadi menteri BUMN, sosok satu ini merupakan idola saya sejak dari dulu, terutama sewaktu kuliah, Kebetulan di Asrama Bhinneka UNAIR kami berlanganan koran Jawa Pos, jadi bisa baca tulisan  tulisan Pak DI yang selalu menarik dan inspiratif itu.Salah satu tulisan beliau yang menarik ketika pak DI menceritakan proses Ganti hati,di tulisan yang berseri itu, bukan hanya masalah proses ganti hati saja,tetapi diceritakan juga perjuangan kisah hidupnya sejak kecil sampai dia  punya dua Mercy.

Namun bukan dari tulisannya saja yang membuat saya tertarik dengan style Pak Dahlan Iskan, Saya tertarik dikarenakan diceritain oleh beberapa teman yang menjadi anak buahnya di JP group, walaupun cuma diceritain tapi punya sisi menarik bagi saya.  Cerita tersebut bisa mengartikan akan arti kerja keras dan profesionalitas.

Ada kisah temen yang menempati posisi direktur di salah satu anak perusahaannya, ketika waktu  sudah malam dia ke surabaya, bermaksud mau laporan hasil kerjanya di daerah dan istirahat karena rumhanya memang di surabaya, setelah dia melaporkan hasil kerjanya, ternyata bagi pak Dahlan  kerjaan dia ada yang kurang, akhirnya boro boro dia dikasih waktu untuk istirahat, dia langsung  disuruh balik lagi kedaerah tersebut untuk segera memperbaiki dan menuntaskan, padahal  sebenarnya itu bisa dikerjakan dikemudian hari. 

Kata temen saya itulah gaya si Bos, yang  orangya sangat keras dan nuntut tuntas terhadap hasil kerjaan. Namun dari situlah temen saya ini belajar tentang bisnis dan sekarang terbukti beliau menjadi seorang pengusaha yang cukup berhasil di Surabaya saat ini.

Ada juga cerita temen mengenai Pak DI, temen ini kebetulan menjadi GM di salah satu Radar Jawa  Pos, Ketika ada kesempatan silaturahim ke kantornya, Saya mencoba bertanya apa rahasia Jawa Pos  Group bisa demikian mengurita koran dan bisnisnya, Lalu dijawab JP bisa besar karena pak Dahlan  Iskan adalah orang pekerja Sangat keras, bukan kerja keras lagi katanya..hehe.Bahkan dia bilang di JP group ini sangat sulit karyawanya bisa mengalahan ritme kerja pak Dahlan.

Masih cerita temen tersebut ada satu kunci lagi yaitu  karyawan diajarkan cara berbisnis dan punya mental Entreprenurship yang bagus. Maka tidak heran beberapa eks karyawan JP banyak yang menjadi pebisnis hebat.

Berbicara mengenai Ngmuknya Pak Dahlan Iskan, yang beberapa hari lalu bikin heboh jakarta sehingga banyak media meliput,Saya pernah melihat langsung bagaimana "Ngamuknya" pak DI, sekitar tahun 2005 bersama dengan tim Humas BSMI cabang surabaya, waktu itu kami berkesempatan kunjungan redaksi melihat langsung proses redaksional dan produksi koran Jawa Pos. Tak Disangka diseberang jauh ada suara keras, setelah bertanya ke tim redaksi siapakah itu, terus dijawab itu Pak Dahlan Iskan lagi koreksi tulisan wartawan mas, (dalam hati pantesan ndak ada yang berani melarang bersuara keras lah wong bos,hehe).

Ada cerita unik juga, dibalik pembangunan Wisata Bahari lamongan (WBL) dan PT.Lamongan Integrated shorebase (LIS) yang kebetulan lokasinya persis dibelakang desa saya di utara Lamongan Jawa Timur.

Al Kisah pak Dahlan Iskan sedang naik Heli bersama Investor dari Singapore menuju Tuban, setelah sampai di Tuban bermaksud membicarakan proyek-proyek yang akan dilakukan di Tuban bersama bupati Tuban waktu itu, namun setelah menunggu agak lama ternyata ndak segera ditemuin juga, Akhirnya dia langsung pergi meningalkan Tuban, dan langsung kontak bupati Lamongan, waktu itu masih dijabat Pak Masfuk yang punya background pebisnis. singakt cerita proyek tersebut akhirnya dibangun di Lamongan Utara, dan dari proyek rintisan itulah sekarang di daerah Paciran-Lamongan Utara terdapat banyak industri berbasis kemaritiman.

Maka tidak heran Don Kardono selaku Wadir Jawa Pos dalam kolom tulisannya di koran Jawa Pos membuat tulisan menarik yang diberi judul " Mending,Cuma lempar Kursi " hehe. Don Kardono menceritakan juga bahwa pak DI juga pernah melempar komputer ke lantai. Gara-garanya kesalahan editing, kesalahan redaksi. Dia banting komputer di depan orang yang membuat kesalahan yang  dinilai fatal itu. Tentu, sebelumnya diawali dengan suara keras, intonasi keras, dan tatapan mata yang tajam.

Yang menarik dalam tulisanya tersebut, katanya masih ada 1001 macam cara marah Dahlan Iskan. Di berbagai kasus, di berbagai daerah, di berbagai level manajemen yang berbeda, reaksi marahnya  juga berbeda. Kontekstual dan spontan.

Terlepas dari pro kontra sikap dan gaya kepemimpinan pak DI, yang jelas dia telah memberikan inspirasi dan semangat untuk selalu bekerja keras. 

Menurut pakar Manajemen Prof.Renald Kasali menyebut pak Dahlan Iskan adalah pemimpin  Transformatif yaitu, pemimpin yang memprioritaskan masyarakat, pandai berkomunikasi dengan  orang yang dipimpin, dan sering turun ke lapangan. Kemudian, pemimpin yang mempunyai energi  cukup besar, dan mampu memecahkan masalah ruwet dengan solusi sederhana.

Pak DI merupakan sosok yang unik sekaligus inspiratif,dimulai dengan menjadi karyawan biasa di Jawa Pos, berkat kerja keras dan keuletan beliaulah, telah menjadikan Jawa Pos yang awalnya mau bangkrut, sekarang menjadi Raksasa media yang disegani. Kekuatan media inilah yang menjadikan "Second Power" buat beliau dalam menjabat PLN dan meneg BUMN, Bahkan anggota DPR akan berpikir seribu kali untuk menyerang dan menghalang halangi sepak terjang Mentri satu ini. Bila tidak pengen dihajar balik oleh media JP Group, hehe.

Kita lihat saja aksi aksi Unik Pak DI selanjutnya..Semoga bermanfaat dan bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut.

Salam, 

Aan Hunaifi


CEO yang Sukses "Dongkrak" Perusahaannya


SETELAH menjabat tujuh tahun, salah satu Chief Eksekutif Officer (CEO) perusahaan makanan cepat saji, McDonalds, Jim Skinner, mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri pada 1 Juli 2012 mendatang.

Selama masa jabatannya, Skinner dipandang sebagai COE yang tidak banyak basa basi. Dia juga apik dalam mengelola perputaran rantai di dunia makanan cepat saji terbesar didunia sehingga harga saham McDonalds pun bisa melonjak dengan tajam.

Dalam masa kepemimpinan Skinner, saham McDonalds melonjak sekira 229 persen. Lalu bagaimana pengaruh kepemimpinan CEO  terhadap saham perusahaannya?

Seperti dilansir dari situs CNBC, Sabtu (24/3/2012), siapa saja para CEO yang semasa kepemimpinannya memberikan pengaruh yang besar khususnya dalam peningkatan harga saham perusahaannya.

Dari 30 perusahaan yang terdaftar di Dow Jones, 25 perusahaan tercatat telah mencatat kinerja harga saham yang positif atau relatif stagnan sejak CEO perusahaan tersebut menjabat. Selain itu sebanyak 15 saham naik lebih dari 20 persen.

Berikut adalah daftar CEO yang berhasil membuat saham perusahaannya naik selama masa kepemimpinannya:


1.Tempat pertama diisi oleh CEO Cisco, John Chambers. sejak menyandang sebagai CEO Cisco pada 2005 saham perusahannya melonjak sebanyak 950,5 persen di mana harga saham awal sebesar USD1,95 lalu harga sahamnya hingga 21 Maret 2012 sudah mencapai USD20,50 dengan nilai kompensasi tahunan sebesar USD12,89 juta.


2.CEO makanan cepat saji McDonald, James Skinner menempati tempat kedua. Sejak menjadi bos McDonald pada 2004 harga saham Mcd melonjak sebesar 229 persen dari semula USD29,38 menjadi USD96,72 dengan nilai kompensasi tahunan sebesar USD9,73 juta.


3. Doudlas Oberhelman yang merupakan CEO Caterpillar juga dipandang berhasil dalam kepemimpinnnya. sejak Douglas memimpin Caterpillar pada Juli 2012 harga sahamnya naik sebanyak 81,8 persen menjadi USD109 dari semula hanya USD59,97 dengan nilai kompensasi tahunan sebesar YSD10,55 juta.



4. CEO Disney Robert Iger juga menyandang CEO yang dianggap berhasil pada kepemimpinnannya. selama dipimpin olehnya sejak Oktober 2005, harga sahamnya melonjak sebesar 79,3 persen dari semula USD24,13 menjadi USD43,27 dengan kompensasi tahunan sebesar USD33,43 juta.

5. Bos Exxon Mobil Rex Tillerson pun dianggap berhasil memimpin salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia ini. Hal tersebut dilihat dengan melonjaknya harga saham perusahaan sebesar 53,1 persen menjadi USD86,01 dari semula hanya USD56,17 sejak dipimpin olehnya pada Januari 2006 dengan kompensasi sebesar USD28,95 juta.


6. Jay Fishman yang merupakan CEo Travelers juga menyandang CEo terbaik. Selama masa kepemimpinananya sejak April 2004 harga saham perusahaanya naik sebesar 43,5 persen menjadi USD58,51 dari semula hanya USD40,77 dengan kompensasi tahunan sebesar USd20,42 juta.

7. Selanjutnya predikat CEo terbaik ditempati oleh CEO salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia Chevron yaitu John Watson. Sejak dipimpin olehnya pada January 2012 saham Chevron naik 40,2 persen menjadi USd107,91 dari semula hanya USD76,99 dengan kompensasi tahunan sebesar USD16,26 juta.

8. CEO Coca Cola menjadi salah satu yang terbaik juga sehingga harga sahamnya bisa melonjak tinggi. Adalah Muhtar Kent yang sejak menjabat pada Juli 2008 harga sahamnya melonjak sebesar 39,5 persen dari USD71,12 menjadi USD40,47 dengan kompensasi tahunan yang meraup USD15,92 juta.

9. CEO DuPont Ellen Kullman juga berhasil mengelola perusahaannya dengan baik. Sehingga sejak kepemimpinannya pada Oktober 2008 saham perusahaannya melonjak sebesar 30 persen menjadi USD52,61 dari semula hanya USD40,47 dengan kompensasi tahunan sebesar USD15,92 juta.

10. Ian Reed yang merupakan CEO Pfizer. Sejak dipimpin olehnya pada Desember 2012 harga saham perusahannya naik 29,5 persen menjadi USD21,77 dari semula hanya USD16,81 dengan kompensasi tahunan sebesar USD25,01 juta








Siapkah kita belajar dari para CEO Top diatas, untuk menghasilkan benefit besar buat shareholder dan stakaholder kita ?

sumber : Okezone.com

Monday, March 5, 2012

CEO Unik dan penuh keteladanan dari JAL JEPANG : Mr.Haruka Nishimatsu

 Inilah kisah unik sekaligus inspiratif dari CEO JAL Japang, Mr. Haruka Nishimatsu, Itulah namanya.
Walaupun menduduki posisi puncak di salah satu perusahaan besar penerbangan dunia. Gaya dan perilakunya sangat sederhana patut untuk kita teladani.




Berikut ini beberapa fakta sekaligus  foto yang menarik :
 
Fakta 1 : Mr. Haruka Nishimatsu, menggunakan transportasi massal alias memakai bus umum, untuk pergi ke tempat kerjanya.

Coba bandingkan dengan dikita, sangat jarang sekali orang sekelas pejabat tinggi atau CEO diperusahaan besar mau seperti itu?

Mungkin di kita jarang yang ogah naik transportasi umum dikarenakan mau naik busway banyak terjadi pelecehan-naik kereta kena copet-naik angkot malah diperkosa mau jalan kaki ditabrak. Jadi berpikir seribu kali apabila para eksekutif atau pejabat mau naik  transportasi umum. 


Namun akhir-akhir ini ada juga yang mencoba seperti ini yaitu Pak Dahlan Iskan.




Fakta 2 : Beliau rela dan mau antri untuk makan dikantin bersama karyawanya, 

Mungkin kalau kita perhatikan, ada beberapa pejabat perusahaan di Indonesia para pejabatnya makan bareng dengan karyawanya, salah satunya Pak  Dahlan Iskan Sewaktu di PLN. Namun saya masih sering menemukan, banyak juga yang ruangan makan pejabat selevel manager keatas dipisah, bukan hanya dipisah menu-menunya pun berbeda dan pastinya lebih maknyus..hehe



Fakta 3 : Mr. Haruka Nishimatsu, mendesain tempat kerjanya terbuka dan tidak bersekat.

Mungkin dengan cara ini, akan memudahkan kontrol kinerja para staf-stafnya dan keterbukaan dalam memimpin  perusahaan JAL Japan. 
 

  
Fakta 4 : Biaya untuk keperluan penunjang CEO JAL Mr. Haruka Nishimatsu, lebih hemat dan sedikit, bila dibandingkan dengan biaya yang sama di perusahaan USA atau negara lainya.

 Dengan gaya sederhana namun tetep menjaga profesionalitas seperti itu Mr. Haruka Nishimatsu, berhasil meminimalisir pengeluaran perusahaannya




Inilah foto dan gaya Mr. Haruka Nishimatsu



Semoga kita bisa mengambil hikmah dan teladan dari Mr. Haruka Nishimatsu.

sumber: cnnnews.



Saturday, March 3, 2012

CEO Sari Roti Masuk 50 Pebisnis Wanita Asia

Majalah Ekonomi terkemuka, Forbes, mengeluarkan daftar 50 pebisnis wanita Asia paling berpengaruh. Dari ke-50 wanita itu, 4 di antaranya srikandi dari tanah air.

Salah satu pebisnis wanita yang masuk dalam daftar Forbes tersebut adalah Wendy Yap yang merupakan Presiden Direktur dan CEO dari PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI).

Mungkin untuk sebagian orang, nama Nippon Indosari Corpindo masih terasa asing. Tapi jika disebutkan nama produk Sari Roti, semua orang akan mengetahuinya.

Sosok dibelakang kesuksesan perusahaan roti ini adalah Wendy Yap. Wanita berusia 55 tahun ini merupakan putri dari Piet Yap yang merupakan seorang eksekutif dari kelompok bisnis Salim Group. Dia bersama rekannya mendirikan Nippon Indosari pada 1995 dan memimpin manajemen perusahaan mulai 1998.

Wendy seperti dikutip VIVAnews dari laman Forbes.com, Kamis, 1 Maret 2012, kini memimpin perusahaan yang memperoleh pendapatan tahun 2011 sebesar US$84 juta. Saat ini, harga saham Nippon Indosari telah melonjak hingga 140 persen sejak listing pertama kali tahun 2010 lalu.

Tak hanya itu, Wendy juga dianggap sukses menghantarkan bisnisnya menjadi salah satu perusahaan dengan pendapatan di bawah satu dolar AS di Asia (Asia's Best Under A Billion) versi majalah yang sama.

Dikutip dari laman perusahaan, PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk (PT NIC) berdiri pada tahun 1996, dan memulai kegiatan pemasarannya di bulan September 1996. Pada awalnya, PT NIC hanya memiliki pabrik di Kawasan Industri Jababeka-Cikarang, Jawa Barat dengan kapasitas produksi sebanyak dua line.

Seiring makin bertambahnya permintaan konsumen, perusahaan memutuskan menambah kapasitas produksinya menjadi 4 line pada tahun 2002. Areal pemasaran perusahaan dengan merek Sari Roti saat itu meliputi Jabodetabek, Bandung (Jawa Barat), dan Lampung.

Hingga saat ini, PT NIC telah mengembangkan sayap bisnisnya dengan masuk ke berbagai pasar di tanah air. Terakhir, pada April 2011, NIC membangun pabrik di Medan, Sumatera Utara dengan kapasitas produksi sebanyak 2 line.

Saat ini, Direktur Operasional Nippon Indosari Corpindo, Yusuf Hady dalam perbincangan dengan VIVAnews beberapa waktu lalu mengungkapkan Nippon Indosari telah memproduksi 1,8 juta pieces per hari yang dijual di 25 ribu titik distribusi. Penjualan ini juga melibatkan 2.500 pedagang keliling

CEO Pertamina Pebisnis Asia dengan Target Ambisius

Majalah ekonomi terkemuka, Forbes, mengeluarkan daftar 50 pebisnis wanita Asia paling berpengaruh. Dari ke-50 wanita itu, 4 di antaranya Srikandi dari Tanah Air.

Salah satu pebisnis wanita yang masuk dalam daftar Forbes tersebut adalah Karen Agustiawan. Wanita berusia 53 tahun itu kini memimpin PT Pertamina (Persero), dengan jabatan direktur utama.

Karen memulai karier di perusahaan minyak dan gas pada 1984, saat menjadi pegawai di Mobil Oil and Halliburton Indonesia. Lulusan jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung pada 1983 itu selanjutnya menjabat sebagai Business Development Manager (1998-2002) di Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan Halliburton Indonesia sebagai Commercial Manager for Consulting and Project Management (2002-2006).

Kariernya di Pertamina dimulai pada 2006 ketika Karen mengisi posisi sebagai staf ahli. Karier wanita ini pun terus menanjak ketika diberikan jabatan direktur hulu Pertamina.

Pada 2009, Karen dipercaya untuk memimpin Pertamina dan menjadikannya sebagai wanita pertama yang memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor minyak dan gas di Tanah Air itu.

Selama menjabat orang nomor satu Pertamina, Karen memasang target ambisius bagi perusahaannya. Termasuk di dalamnya adalah aktif mengakuisisi ladang minyak di Indonesia dan luar negeri.

Wanita ini juga mulai mengembangkan proyek coal bed methane (CBM) sebagai energi alternatif. Terakhir, Karen sempat diisukan masuk nominasi pengganti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu pada 2011

sumber : www.vivanews.com

Pebisnis Wanita Terkuat Asia, Pilihan Forbes

Karen Agustiawan dan Siti Hartati Murdaya pemilik Central Cipta Murdaya masuk dalam jajaran 50 pebisnis wanita paling berpengaruh di Asia versi Forbes. Selain itu masih ada dua orang lagi wanita asal Indonesia yang juga masuk.

Daftar yang dirilis Forbes, Kamis (1/3/2012), ini berisikan berbagai nama wanita yang paling berpengaruh di Asia, isinya mulai yang termuda berusia 36 tahun hingga paling tua 77 tahun.

Berikut ini adalah profil empat wanita yang dianggap paling berpengaruh di Asia:

1. Siti Hartati Murdaya (65) bersama suaminya, Murdaya Widyawimarta Poo, menjalankan perusahan Central Cipta Murdaya, yang bergerak di berbagai bidang, seperti informasi dan teknologi, real estat, kehutanan, perkebunan, produk konsumsi sehari-hari dan sipil.

Bisnis real estatnya sendiri bernilai lebih dari Rp 9 triliun, termasuk di dalamnya pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel dan Jakarta International Expo Center, tempat dilakukannya Pekan Raya Jakarta setiap tahun.

Ia juga berjanji untuk mengembangkan industri properti dan infrastruktur Indonesia dengan membelanjakan Rp 72 triliun si pusat bisnis Jakarta dalam lima tahun mendatang. Hartati juga masih aktif tergabung dalam Komite Ekonomi Nasional (KEN).

2. Karen Agustiawan (53) memulai karisnya di industri minyak dan gas pada 1984 di Mobil Oil and Halliburton Indonesia. Lalu ia bergabung dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) migas, Pertamina, pada tahun 2006 sebagai staf ahli untuk direktur hulu.

Pada tahun 2009, ia terpilih untuk menjadi direktur utama Pertamina, dan menjadi wanita pertama yang memegang jabatan tersebut.

Ia punya agenda ambisius yaitu termasuk di dalamnya mengakuisisi banyak blok migas di Indonesia dan luar negeri, mengembangkan gas metana dari batubara sebagai energi alternatif, dan bekerja sama denan PLN untuk pengembangan LNG.

Ibu dari tiga anak ini juga pernah digosipkan menjadi pengganti Menteri ESDM Darwin Saleh pada waktu reshuffle kabinet tahun 2011 lalu.

3. Shinta Widjaja Kamdani (45) merupakan anak dari konglomerat Johnny Widjaja. Sejak muda, jiwa bisnisnya sudah kelihatan, pada umur 13 ia sudah mulai menjual buku dari rumah ke rumah.

Saat ini, dia memimpin perusahaan keluarganya, yaitu Sintesa Group, yang menguasai 17 perusahaan di berbagai industri, seperti properti, manufaktur, energi dan produk konsumsi. Ia memiliki empat anak dari perkawinannya dengan Irwan Kamdani.

Pada bulan Januari kemarin, dia menjadi salah satu dari 13 warga negara Indonesia yang bisa bertemu langsung dengan Presiden AS Barack Obama di Washington untuk mendiskusikan peluncuran inisiatif bisnis di negara-negara berkembang.

4. Wendy Yap (55), anak perempuan dari Piet Yap, seorang eksekutif di Grup Salim, salah satu konglomerasi raksasa di Indonesia yang juga salah satu pendiri perusahaan Bogasari Flour Mills.

Ia mendirikan Nippon Indosari pada tahun 1995. Ia memimpin perusahaan yang terkenal dengan merek Sari Roti itu sejak tahun 1988, dan sekarang menjadi perusahaan yang paling untung di antara para produsen roti.

Dengan penguasaan 90% pangsa pasar skala nasional, perusahaannya diprediksi akan meraup pendapatan Rp 7,56 triliun tahun 2011

Sumber : Detik.com