Wednesday, February 29, 2012

Perusahaan terbaik di Indonesia 2011

20 perusahaan terbaik di Indonesia Versi Fortune Indonesia
majalah bisnis terbitan Kompas Gramedia telah mewawancarai ratusan pemimpin perusahaan-perusahaan di tanah air. setelah perjalanan panjang sekitar 1,5 tahun akhirnya Fortune indonesia dapat memilih 20 perusahaan terbaik di Indonesia yang dinamakan ‘Fortune Most Admired Companies 2011‘


Berikut adalah daftar 20 perusaan terbaik di Indonesia dalam anugerah Fortune Most Admired Companies 2011 :

  1. Adaro Energy
  2. Aneka Tambang
  3. Astra International
  4. Bank Central Asia
  5. Bank Mandiri
  6. Bank Rakyat Indonesia
  7. Garuda Indonesia
  8. Gudang Garam
  9. HM Sampoerna
  10. Holcim Indonesia
  11. Indofood Sukses Makmur
  12. Indosat
  13. Kalbe Farma
  14. Lippo Karawaci
  15. Medco Energi International
  16. Mitra Adiperkasa
  17. Telekomunikasi Indonesia
  18. Unilever Indonesia
  19. United Tractors
  20. XL Axiata
Sumber : Majalah Fortune Indonesia

Monday, February 27, 2012

20 CEO Indonesia Terbaik tahun 2011


Sekitar 20 Chief Executive Officer (CEO) perusahaan besar dan terkemuka di Indonesia diberi penghargaan atas kinerjanya dalam menjalankan perusahaan.

Mereka mendapatkan penghargaan dari sebuah majalah ekonomi, dalam acara Malam Penganugerahan "Top 20 Indonesia Most Admired CEO 2011", di Ballroom Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Selasa (6/12/2011) malam.

Para CEO yang terpilih ini ditentukan melalui survei yang dilakukan kepada 1.200 responden yang dipilih secara acak dari database perusahaan di 16 bidang usaha yang ada di Indonesia.

Para CEO terpilih ini tidak hanya dilihat dari usahanya dalam meningkatkan kinerja keuangan perusahaannya saja, akan tetapi juga keberhasilannya dalam mengemban tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui inisiatif-inisiatif CEO tersebut dalam melakukan Corporate Social Responsibility dan program hijau perusahaannya.

Beberapa nama-nama besar seperti Sutanto Hartono, Stanley Setia Atmadja, Bintang Perbowo, Emirsyah Satar serta Alwin Syah Loebis masuk terpilih sebagai Top 20 Most Admired CEO ini.

Berikut ini adalah rekap 20 nama-nama CEO yang terpilih dalam "Top 20 Indonesia Most Admired CEO 2011":

1. Alwin Syah Loebis, Direktur Utama PT Antam Tbk.
2. Anthoni Salim, Presiden Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
3. Arwin Rasyid, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Tbk.
4. Benjamin J Mailool, Presiden Direktur PT Matahari Putra Prima Tbk.
5. Bintang Perbowo, Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk.
6. Emirsyah Satar, Presiden Direktur PT Garuda Indonesia Tbk.
7. Johnny Darmawan Danusasmita, Presiden Direktur PT Toyota Astra-Motor Tbk.
8. Karen Agustiawan, Direktur Utama PT Pertamina.
9. Maurits Daniel Rudolf Lalisang, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk.
10. Omar S Anwar, Presiden Direktur PT Trimegah Securities Tbk.
11. Purnomo Prawiro, CEO Bluebird Group.
12. Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
13. Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama PT Telkomsel.
14. Siswanto Prawiroatmodjo, Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk.
15. Sofyan Basir, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.
16. Stanley Setia Atmadja, Presiden Direktur PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.
17. Suryo Suwignjo, Presiden Direktur PT IBM Indonesia.
18. Susanto Djaja, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics TBK.
19. Sutanto Hartono, Direktur Utama PT Surya Citra Televisi Tbk.
20. Trihatma Kusuma Haliman, Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Tbk.(ade)

sumber : http://economy.okezone.com

CEO Terbaik 2010 dari Asia


VIVAnews - Banyak CEO yang terlihat hebat dan mengesankan saat ini. Namun CEO yang mampu bangkit dari keterpurukan dan bencana krisis 2009 mampu membuat pertumbuhan ekonomi dunia bergerak.

Majalah Fortune menyusun peringkat CEO tahun ini, dengan kriteria mereka yang terus bangkit dari keterpurukan ekonomi. Pemimpin perusahaan yang tidak hanya bisa merangkak dari puing-puing resesi, namun yang mampu berlari dari resesi. Hal ini dapat terlihat bagaimana mereka menemukan pasar baru, meremajakan bisnis tua, dan mengalahkan pesaingnya di tahun ini.

Contohnya Ellen Kullman mengubah DuPont menjadi saham yang fenomenal, Mark Zuckenberg’s mampu menambah 150 juta pengguna Facebook dalam 12 bulan. Steve Jobs melahirkan kelas baru dunia komputer dan membuat Apple menjadi perusahaan teknologi paling besar.

Namun, dari 50 CEO terkemuka di dunia pada 2010, beberapa CEO di antaranya berasal dari Asia. Lantas, siapa saja mereka?

Robin Li, CEO Baidu
Robin Li, pendiri Baidu
Ia menempati urutan ke 6 dalam ”Businessperson of the Year” versi Majalah Fortune. Kerugian Google merupakan keuntungan bagi Baidu, khususnya ketika kehilangan 420 juta pengguna web dari China. Pada bulan Maret, Google berhenti menyensor hasil pencariannya untuk Cina dan mengalihkan pencari situs China ke situs Hongkong. Hal itu lalu diambil alih Robin Li dengan situsnya Baidu. Kini Baidu telah memimpin pasar di China, dan menjadi raksasa. Pada akhir 2009, pangsa pasarnya melonjak dari 58 persen menjadi 73 persen sekarang. Dengan permintaan pencarian 8,5 miliar setiap bulan, Baidu siap mengambil posisi Yahoo sebagai situs pencari terbesar dua dunia.

Wang Chuanfu, CEO BYD

Wang Chuanfu, CEO BYD
Ia menempati urutan ke 21. BYD dibangun untuk menciptakan baterei (biasanya baterei diimpor dari Jepang, Wang lalu membangunnya di China). Namun ke depannya BYD juga menciptakan mobil listrik. Tahun lalu BYD mulai menjual mobil listrik pertamanya. Tahun ini ia mengumumkan rencana untuk mendirikan kantor pusat di Amerika Utara tepatnya di Los Angeles, karena pada 2011 bekerjasama dengan Daimler. Investor legendaris Warren Buffet menanamkan sehamnya US$230 juta dan kini bernilai US$1,2 miliar.



Ratan Tata, Chairman Tata Group



Ratan Tata, Chairman Tata Group
Tata adalah konglomerat yang berinvestasi di bidang energi, baja, hotel, dan kimia. Ia mengontrol lebih dari dua lusin perusahaan. Namun untuk unit mobil, Tata belakangan ini menciptakan gebrakan. Mobil khusus untuk kelas menengah, dengan model lebih besar, tidak panas dengan kecepatan 64 mil per jam, itu dijual dengan harga dasar US$2.500 tengah disiapkan untuk dipasarkan di Amerika Serikat. Saham Tata Motors melesat hingga 60 persen tahun ini. Ia berada di peringkat 25 ”Businessperson of the Year”

Geesung Choi, CEO Samsung Electronics

Geesung Choi, CEO Samsung Electronics

CEO baru ini mempunyai ambisi untuk meningkatkan pendapatan dari US$116 miliar menjadi US$400 miliar pada 2020. Untuk mewujudkannya, Choi akan terus membidik penjualan termasuk layar datar, memory chips dan ponsel. Ambisi itu mulai terwujud perlahan, dimana kini Samsung telah berhasil meningkatkan pangsa pasar ponsel dan mengalahkan pemimpin industri, Nokia.

Li Li, Chairman Shenzen Hepalink Pharmaceutical

Li Li, Chairman Shenzen Hepalink Pharmaceutical Li dan istrinya menjadi pasangan terkaya di China setelah melepas perusahaan obatnya kepada publik. Penjamin emisi Goldman Sachs pada awalnya akan mendapatkan US$5 miliar namun hanya mendapatkan US$1 miliar. Sahamnya mengalami penurunan 17 persen pada Mei, namun perusahaan itu tetap menjadi pemain kuat dalam produk natrium heparin, yang digunakan untuk mengobati penyakit jantung dan pembuluh darah otak.








Sumber :www.vivanews.com

The Best CEO 2010 Pilihan Majalah SWA


"Leaders see the way, Leaders see connections, Leaders see others, Leaders see within "


Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu melihat apa yang dibutuhkan para stakeholders dan memberikan jawabannya; mampu menyelaraskan berbagai sistem dalam rangka mencapai tujuan bersama; mampu memberdayakan karena hanya dengan bersama kita akan mampu meraih cita-cita, dan mau mengembangkan diri dengan introspeksi," demikian diungkapkan oleh Satyo Fatwan, Managing Partner Dunamis Organization Services dalam malam penganugerahan The Best CEO 2010 yang diselenggarakan tadi malam, 4 November 2010 bertempat di hotel Shangri La Jakarta. 

Setiap tahunnya, Dunamis bekerjasama dengan Majalah Swa dan Synovate Indonesia memilih CEO Terbaik Indonesia dalam program The Best CEO. Pada survei yang dilaksanakan tahun 2010 ini, terpilih 26 kandidat dari berbagai perusahaan. Parameter yang digunakan adalah Fungsi Kepemimpinan dan Indeks Loyalitas Karyawan. Untuk Fungsi Kepemimpinan, metode yang digunakan adalah program Dunamis - 4 Roles of Leadership yang menilai para CEO dari 4 fungsi kepemimpinan yaitu : Perintis, Penyelaras, Pemberdaya dan Panutan

Hasil lengkap 10 besar The Best CEO 2010 adalah sebagai berikut:

1. Yuslam Fauzi - Bank Syariah Mandiri
2. Agung Adiprasetyo - Kompas Gramedia
3. Hasnul Suhaimi - XL Axiata
4. Suhartono - FIF
5. Drs. Eko Budiwiyono, MBA - Asuransi Jasindo
6. Wishnutama - Trans TV
7. Joko Mogoginta - Tiga Pilar Sejahtera Food
8. Rinaldi Firmansyah, CFA - Telekomunikasi Indonesia
9. Richard Budihadianto - GMF Aeroasia
10. Rudi Borgenheimer - Mercedes-Benz Indonesia

Ditulis oleh : Oleh : Asri L Suryajaya, Corporate Communications Dunamis Organization Services

CEO Lokal Indonesia Aksi GLOBAL


Di tengah kompetisi karier yang semakin ketat, sederet profesional lokal sukses meraih posisi puncak (CEO) di perusahaan multinasional. Siapa saja dan apa yang mereka lakukan?

Perusahaan multinasional (asing) papan atas dengan jaringan kaliber global. Punya merek produk yang sangat kuat di dalam negeri Indonesia dan sukses ekspor ke lebih dari 50 negara. Wajarlah, orang mengira PT Goodyear Indonesia pasti dipimpin seorang ekspatriat. Apalagi perusahaan ini PMA asal Amerika Serikat. Namun nyatanya tidak. Perusahaan produsen ban ini dipimpin CEO asli lokal, Iriawan Alex Ibarat.

Ya, diam-diam memang banyak profesional lokal yang sukses menduduki posisi nomor satu (CEO) di sejumlah perusahaan multinasional di Tanah Air. Mereka sanggup mengalahkan kandidat dari kalangan ekspat untuk menduduki posisi puncak di MNC. Artinya, tidak hanya Iriawan, masih ada beberapa nama lain yang bisa disebut.

Di industri TI misalnya, ada Sutanto Hartono yang sukses menduduki posisi nomor satu di Microsoft Indonesia, Adi J. Rusli di posisi puncak EMC Indonesia, Megawaty Khie di Hewlett-Packard Indonesia, dan Suryo Suwignyo di IBM Indonesia. Di bisnis otomotif ada sosok hebat seperti Sudirman M.R. (Daihatsu), Mukiat Sutikno (Chevrolet Indonesia) dan Dyonnisius Betty (Yamaha Motor).

Bukan hanya mereka. Ada Maspiyono Handoyo yang sukses menduduki posisi puncak di perusahaan susu terkemuka, Fonterra Brands Indonesia. Kemudian ada Handry Satriago (CEO GE Indonesia). Selanjutnya, nama Randy Lianggara juga tak bisa dilupakan karena sukses menjabat Country CEO AXA Indonesia hingga sekarang. AXA Indonesia sendiri membawahkan AXA Life, AXA Financial Indonesia, AXA Mandiri, dan AXA Asset Management.

Di farmasi, ada Luthfi Mardiansah, CEO Novartis Indonesia, sementara di bisnis riset dan konsultasi ada Andreas Raharso, orang nomor wahid di HayGroup Global Research, dan Julianto Sidarto di Accenture. Kemudian di bisnis pertambangan ada Darwin Silalahi (Shell Indonesia), Abdul Hamid Batubara (Cevron Indonesia), Nicolas Kanter (British Petroleum Indonesia). Dan masih banyak lagi. Belum termasuk CEO asal Indonesia di perusahaan manufaktur yang selama ini kiprahnya kurang terdengar gaungnya karena memang low profile.

Bagaimanapun, torehan prestasi yang telah mereka catat merupakan pencapaian yang hebat. Mereka bisa dipercaya pemegang saham global yang notabene orang asing. Mereka sanggup mengalahkan kandidat lain dari kader terbaik yang dimiliki grup perusahaan itu yang bertebaran di kantor regional ataupun kantor pusat global. Tak bisa dinafikan, untuk menjadi CEO MNC di Indonesia biasanya harus mengalahkan talenta terbaik MNC itu di level Asia (Singapura dan Hong Kong).

Mereka juga hebat karena bisa mengendalikan dan mengelola segenap persoalan yang kompleks, baik urusan bisnis di Indonesia maupun hubungan dengan pemegang saham (prinsipal). Banyak stakeholder yang harus dipuaskan. Para CEO di MNC umumnya menghadapai banyak tekanan atau tuntutan. Setidaknya meliputi tekanan dari pemegang saham di kantor regional dan global, tekanan dari karyawan lokal (people), dan tekanan budaya karena harus mengawinkan budaya lokal dengan budaya perusahaan MNC yang berciri global.

Yang juga menarik, sejumlah profesional rupanya tak hanya sukses memuncaki posisi CEO yang cakupan tugas operasionalnya tak hanya Indonesia, melainkan wilayah yang lebih luas. Sebut contoh David Utama, CEO dan Presiden GE Healthcare ASEAN, bermarkas di Singapura. Juga Andreas yang mengepalai (dean) HayGroup Global Research. Dalam hal ini yang menawarkan posisi Direktur HayGroup Global Research itu ke Andreas bukan HayGroup Singapura, tetapi HayGroup global (level dunia). Dan masih ada sejumlah nama yang tak disebut di sini.

Sudah pasti, tanggung jawab dan tugas mereka tidaklah ringan. Andreas, contohnya. Dia harus bertanggung jawab atas riset yang dilakukan para global practice leader HayGroup di Boston, London, Frankfurt, Sao Paolo dan Paris. “Tugas saya menemukan formula agar implementasi strategi dan kebijakan dapat lebih efektif bagi para pemimpin puncak di pemerintahan, korporasi, atau organisasi nirlaba sehingga bisa digunakan HayGroup sebagai growth engine baru. Saya harus melapor kepada bos langsung saya di Washington dan bos tidak langsung di Paris,” Andreas menjabarkan tugasnya.

Bila diamati, mereka yang sukses menduduki poisisi puncak MNC itu dipercaya pemegang saham global dan regional karena memang sudah memiliki portofolio sukses sebelumnya. Rekam jejak kepemimpinan mereka sebelumnya memang biru. Sudah teruji. Darwin, misalnya, sebelum menjadi orang nomor satu di Shell Indonesia merupakan leader di Boston Consulting Indonesia. Contoh lain, sebelum dipercaya memimpin EMC Indonesia, Adi juga sudah terbukti sukses memimpin Oracle Indonesia dan Dell Indonesia.

Sementara Luthfi Mardiansah, sebelum tahun ini mendapat tantangan baru sebagai CEO Novartis Indonesia sukses pula mengerek kinerja Pfizer Indonesia dan anak usaha Pfizer di Cina. Sewaktu menjabat GM Pfizer di Cina, Luthfi berhasil membawa perubahan bisnis Pfizer dan sukses merelokasi pabrik ke pabrik yang lebih canggih tanpa mengganggu proses bisnis Pfizer. Tak hanya itu, ia berhasil pula membantu negosiasi porsi saham Pfizer di Cina jadi lebih besar, dari 49:51 menjadi 25:75. Adapun prestasinya di Indonesia, menjadikan Pfizer tumbuh dua digit terus, dari yang semula punya nilai bisnis US$ 60 juta (2007) menjadi US$ 100 juta.

Catatan menarik, pola-pola mereka dalam meniti karier hingga sukses menuju puncak MNC amat beragam. Ada yang memang sejak awal meniti karier di lingkungan MNC sehingga tak terlalu kaget hingga kemudian sukses menapaki posisi teratas. Ada pula yang mengawali karier dari perusahaan besar lokal. Namun banyak juga yang sebelumnya berasal dari dunia konsultasi atau bahkan pendidikan.

Andreas, misalnya, berasal dari dunia pendidikan. Sebelumnya dia dekan salah satu fakultas di Universitas Bina Nusantara. Darwin, awalnya dari dunia consulting sebelum memimpin bisnis pertambangan, sedangkan Luthfi sebelum dipercaya sebagai CEO Novartis Indonesia juga sudah memimpin Pfizer Indonesia dan Capsugel China, serta mengawali dari Indofood. Kendati demikian, benang merahnya sama: semua profesional lokal yang sukses dipercaya memimpin multinasional itu biasanya memang sudah punya pengalaman dan eksposur internasional.

Tak kalah menarik, sejumlah CEO lokal yang memimpin MNC rupanya juga mampu unjuk gigi di level regional atau global dari keseluruhan bisnis MNC itu. Jadi mereka bukan sekadar sukses naik ke puncak, tetapi juga mencetak prestasi. Tengoklah Randy, CEO AXA Indonesia. Di bawah kepemimpinan Randy, tahun 2010, misalnya kepuasan karyawan AXA mencapai 96%, kepuasan distributor 88%, dan kepuasan nasabah 84%. Angka itu tertinggi dibanding seluruh AXA di Asia. Lalu return on equity AXA Indonesia di atas 70%. “Tidak ada satu pun negara di Asia di mana ada AXA yang angkanya bisa perfek begini. AXA Indonesia menjadi Country of the Year 2010 dan saya diminta berbagi ke negara lain,” kata Randy.

Bagaimanapun, fenomena makin banyaknya profesional lokal yang sukses berkarier hingga di posisi puncak MNC mesti dilihat sebagai hukum pasar. Ada permintaan dan kebutuhan di satu sisi, sedangkan di sisi lain ada penawaran berupa kopetensi yang sesuai dan minat. Perusahaan multinasional itu realitasnya memang butuh pemimpin lokal yang bisa mendalami budaya dan karakteristik pasar di negara yang bersangkutan. MNC tak selamanya bisa menerapkan strategi di Indonesia hanya dengan copy paste dari strategi globalnya. Mereka butuh orang lokal hebat yang mampu menerjemahkan visi bisnis global mereka, serta mengawinkannya dengan kearifkan dan ciri lokalitas. Di sisi inilah terbuka peluang profesional lokal menjadi CEO MNC.

Sebaliknya, tak salah bila kemudian para profesional lokal melihat peluang itu sebagai kesempatan yang tak disia-siakan. Bagaimanapun para profesional butuh jabatan seperti itu sebagai training ground untuk mengasah kompetensi kepemimpinan. Menduduki posisi puncak di MNC akan menambah wawasan dan kemampuan dalam mengelola unit bisnis yang skalanya lebih besar, melibatkan stakeholder asing dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. Mereka akan terlatih mengurusi bisnis dalam atmosfer internasional.

Sudah pasti, pemegang saham MNC tak akan main-main dalam menaruh kepercayaan pada profesional yang akan menduduki posisi puncak unit bisnisnya di suatu negara. Alhasil, dalam memilih CEO mereka akan sangat selektif. Adi, CEO EMC Indonesia, menjelaskan, pada umumnya perusahaan multinasional mempunyai nilai dan budaya tersendiri yang telah ditumbuhkembangkan selama perusahaan itu berdiri. Profesional lokal yang menjadi CEO MNC tentu harus melakukan penyesuaian budaya. “Apalagi seperti kami di EMC juga harus bekerja sama dengan eksekutif EMC di 81 negara lainnya,” tutur Adi.

“Kami harus bisa memadukan kepentingan kantor pusat global dan regional dengan kebutuhan yang ada di lokal, serta bagaimana kami dapat memperlihatkan kualitas kemampuan dalam menjalankan target yang diberikan, menangani berbagai rintangan, dan mengubah tantangan menjadi peluang,” paparnya. Adi sendiri teringat, ketika ditawari posisi CEO EMC Indonesia diberi tantangan yang tak ringan: meningkatkan pertumbuhan bisnis dan brand awareness EMC di Indonesia melalui kegiatan pemasaran, ekspansi pasar, layanan pelanggan, membangun partner ekosistem yang berkelanjutan, serta membangun tim yang kuat dan agresif.

Noke Kiroyan, mantan CEO perusahaan tambang asing PT Rio Tinto Indonesia melihat fenomena makin banyaknya MNC yang menunjuk orang Indonesia sebagai CEO lebih sebagai strategi perusahaan untuk memperkuat penetrasi pasar di pasar Indonesia. “CEO lokal dianggap memahami situasi dan kondisi pasar dan konsumen Indonesia,” katanya. Namun benang merahnya, Noke melihat, siapa pun yang sukses menjadi CEO merupakan individu yang sudah berhasil mendobrak batasan multikultural yang didukung kemampuan komunikasi dua arah. Termasuk memiliki kemampuan percakapan dalam bahasa Inggris (bahasa asing) selaiknya percakapan biasa dalam keseharian.

Mereka punya kemampuan adaptasi dengan perbedaan budaya dan pola pikir terbuka. Maklum, meski beraktivitas di Indonesia, CEO itu akan bertemu dengan orang asing. Contohnya, tak mudah tersinggung jika berhadapan dengan orang yang terbiasa menegur secara to the point dalam konteks pekerjaan. Noke mengajak melihat keberhasilan orang India yang banyak dipercaya memegang kendali strategis di berbagai perusahaan asing dunia. Orang India memiliki karakter yang gigih untuk maju, asertif, percaya diri tinggi sehingga berani berargumen dengan baik. Mereka punya keinginan belajar dan berkembang yang sangat tinggi serta kemampuan berbahasa Inggris. “Orang India tetap percaya diri dalam bercakap-cakap dengan bahasa Inggris biarpun dialeknya masih kental keindiaannya,” papar Noke.

Pendapat seiring juga dilontarkan Betti Alisjahbana, mantan CEO IBM Indonesia. Dalam pandangan Betti, kultur menjadi sebab orang India lebih menonjol. Menurut pengalamannya, orang India memiliki mind set internasional. Kalau ditawari tantangan, orang India langsung mengatakan “bisa” dengan mantap. Meskipun, saat menyanggupi sesungguhnya sama sekali belum punya bayangan bisa menyelesaikan. Namun kemudian mereka mau berusaha mati-matian untuk membuktikan kesanggupannya. “Kalau orang kita lebih konservatif,” tutur perempuan yang pernah menduduki posisi kunci di IBM ASEAN dan Asia Selatan ini.

Mantan CEO PT International Nickel Indonesia Tbk. dan CEO PT Kelian Equatorial Mining, Arif Sulaeman Siregar melihat kearifan lokal dan kemampuan manajemen perusahaan merupakan kata kunci. Menurut Arif, sangat penting memiliki kemampuan memahami apa yang terjadi di lapangan dan kemampuan manajemen perusahaan. “Kelemahan orang Indonesia biasanya mampu memahami kondisi lapangan, tapi kurang pada manajemen,” katanya. Kemampuan manajemen di lapangan melingkupi hubungan dengan karyawan, pemerintah, pemegang saham dan seluruh pihak terkait.

Randy ikut menambahkan. Menurutnya, biasanya kendala bekerja di multinasional dan menghadapi stakeholder asing adalah soal cara berpikir (way of thinking). “Kita punya kelebihan karena mengerti budaya Timur. Kalau kita bisa mengerti sedikit budaya Barat maka akan menguntungkan karena kita bisa menjembatani. Kalau budaya Barat saja tak bisa, karena kita berada di Timur, tapi kalau budaya Timur saja yang ditonjolkan maka pemegang saham yang dari Barat juga sulit percaya,” Randy memberikan tip. Dia sendiri tiap tiga bulan sekali melapor ke kantor regional di Hong Kong dan terkadang meeting dengan pihak AXA Prancis.

Harus diakui, hingga kini masih banyak peluang profesional Indonesia menduduki posisi puncak MNC yang ada di Tanah Air. Tengoklah perusahaan manufaktur global yang ada di Indonesia, rata-rata masih dipegang ekspat Jepang, Korea atau Barat. Harusnya posisi-posisi itu bisa dipegang profesional lokal. Bahwa realitasnya masih banyak ekspat di posisi kunci MNC di Indonesia, Betti menilai semata karena kepercayaan. “Ya kita harus rebut kepercayaan itu,” sahut Betti. Caranya?

Tunjukkan rekam jejak yang bagus selama berkarier, berani mengambil risiko, percaya diri dan berlatih dengan meningkatkan eksposur internasional dalam berkarier. Kalau itu bisa dilakukan, profesional Indonesia harusnya semakin banyak sukses berkiprah sebagai CEO MNC di Indonesia, bahkan CEO level regional dan global.

Ayo, siapa mau di puncak multinasional ?

Reportase: Herning Banirestu, Kristiana Anissa, Rias Andriati, Sigit A. Nugroho dan Tutut Handayani
Riset: Siti Sumariyati
sumber : htpp://swa.co.id

Tips CEO Terbaik Indonesia : Handry Satriago


Handry Satriago: Seorang Pemimpin Jangan Hanya Memberi Mimpi Besar


Perjalanan karier Handry Satriago, Presiden Direktur GE Indonesia bisa menjadi panutan bagi para profesional di Indonesia. Sejak awal kariernya di GE, dia memosisikan diri untuk berkarya sebaik mungkin dan bekerja keras. “Karena pilihannya cuma dua: grow atau diam menikmati fasilitas yang ada,” katanya. Dan dia lebih memilih untuk grow. Konsekuensinya, Handry harus bekerja lebih keras lagi, sampai akhirnya dipilih menjadi CEO GE Indonesia.

Sebagai pemimpin, Handry menerapkan prinsip-prinsip leadership 4E dari Jack Welch (energy, energizing, edge, dan execute). Leader, katanya, harus punya energy dan passion untuk learning dan improving. “Karena biasanya ketika perusahaan sukses, kita jadi lupa untuk belajar sesuatu yang baru,” ucapnya. Menurutnya, pemimpin harus bisa belajar lebih banyak lagi. Handry juga menggarisbawahi “penyakit baru” para pemimpin. Yakni nacisstic leader. Ini terjadi pada leader yang misalnya pernah sukses dengan strategi bisnis di masa lalu dan diterapkan pada masa sekarang. Padahal, situasi dan kondisinya berbeda. Ini kemungkinan berhasilnya kecil, karena belum tentu kesuksesan yang dulu bisa diraih dengan cara yang sama. Itulah sebabnya, dia menyarankan seorang leader harus terus mau belajar. “Untuk bisa belajar, diperlukan ketahanan dan kesehatan,” kata dia.

“Leader juga wajib punya kemampuan meng-energize orang,” Handry menegaskan. Sebab, tidak mungkin pemimpin bisa maju dengan diri sendiri. Pemimpin bisa maju kalau timnya juga ikut maju. Handry mengibaratkan dengan tim lari estafet. “Tidak mungkin hanya satu orang saja yang jago lari. Semua harus bisa lari untuk memenangkan perlombaan,” ungkapnya.

Pemimpin juga perlu edge. Seorang leader harus punya itu. Kemampuan edge ini membuat leader berani mengambil keputusan pada prinsip yang dipegang. Seringkali demokrasi dalam bisnis terjadi ketika keputusan belum diambil. “Ketika keputusan diambil, itu sudah menjadi tanggung jawab leader dan harus berani mempertanggung jawabkan hingga proses evaluasi berikutnya,” kata dia. Edge juga memungkinkan leader mengambil keputusan yang tidak populer.

“Sebagus apa pun Anda, kalau tidak execute tidak bisa menonjol,” katanya menyebut E yang terakhir. Untuk bisa execute, Handry menyarankan agar membuat target yang bisa dicapai dan berdasarkan perhitungan. “Create success story juga penting. Maksudnya, bikin pilot project sebelum menjalankan proyek besar,” ujarnya tandas. Tujuannya, agar orang percaya kemampuan seorang leader. “Jangan berikan mimpi besar,” dia mengingatkan.

Handry menerapkan prinsip tersebut dalam kariernya. Menurutnya, sebagai seorang pemimpin multinational company, tidak cukup hanya bisa menjual produk ke Indonesia. “Tetapi, how to sell’Indonesia to the company,” dia menyarankan. Untuk itu, dia menuntut diri sendiri supaya dapat menyajikan fakta menarik tentang Indonesia agar bisa “dijual” ke headquarter. Sehingga, kantor pusat punya kepercayaan untuk berinvestasi maupun mendidik pasar Indonesia.

Bagaimana bisa meraih pasar Indonesia dan regional, juga menjadi andalan Handry. Misalnya, pengguna kereta api. Fakta, menariknya, pengguna lokomotif terbanyak di ASEAN adalah Indonesia. Jadi sangat masuk akal kalau service center of excellence juga ada di Indonesia. Hal-hal semacam inilah yang harusnya dikemukakan ke head quarter.

Bekerja di multinational company, seorang pemimpin juga harus bisa memberikan manfaat bagi negara dan bangsa. “Untuk Indonesia-nya dapat apa, itu juga penting. What can we do selain doing business?” ungkap Handry. Jadi, Indonesia juga harus mendapatkan keuntungan dari keberadaan multinational company. Misalnya, di GE yang melakukan banyak program rural (pedesaan), seperti menjual peralatan high tech untuk pedesaan yang disesuaikan sehingga produk bisa dinikmati dengan harga yang lebih murah.

Ke depan, Handry bercita-cita ingin menjadi guru. “Kalau untuk menjadi guru, saya harus melewati tahap sebagai CEO regional atau global, ya harus saya jalani,” ujarnya mengungkapkan cita-citanya. (EVA).

ditulis : by Sigit A. Nugroho

Kiat Menjadi CEO di Perusahaan Multinasional


Pola-pola meniti karier di perusahaan multinasional beragam. Bagaimana para profesional Indonesia bisa menuju posisi puncak?

Ketika ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. tahun 2004, Maurits Lalisang justru terkejut. Kala itu dia merasa belum banyak pengalaman. Namun, tanggung jawab itu diterimanya dengan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Apalagi, selama 24 tahun mengabdi di raksasa consumer goods asal Belanda itu, dia tidak penah minta naik pangkat. Sejak bergabung di Unilever tahun 1980 sebagai tenaga penjualan, Maurits rajin keluar-masuk pasar tradisional. Berkat kerja keras dan prestasinya, kariernya terus melesat menjadi supervisor, manajer regional hingga ke kursi puncak: CEO.

Lulusan Jurusan Administrasi Niaga FISIP Universitas Indonesia itu terbilang konsisten mendaki tangga kariernya di satu perusahaan. Langkah serupa juga dilakukan Handry Satriago yang mengawali kariernya dari nol hingga kini menjadi orang nomor satu di GE Indonesia. Handry mulai bekerja di perusahaan tersebut pada Februari 1997 sebagai Manajer Pengembangan Bisnis. Dia hanya butuh waktu 13 tahun, dari seorang staf menjadi CEO GE Indonesia per 1 September 2010. Sarjana Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Institut Pertanian Bogor dan MBA dari IPMI ini sejak awal kariernya selalu melecut diri untuk berprestasi. “Pilihannya cuma ada dua: grow atau diam menikmati fasilitas yang ada. Tapi saya pilih grow, sehingga harus bekerja lebih giat lagi,” ucap eksekutif yang menggunakan kursi roda dalam beraktivitas ini.

Pola karier Handry dan Maurits nyaris sama: profesional loyal yang mengawali dari bawah. Nah, ini juga mirip dengan perjalanan karier Vadyo Munaan, VP & Senior Country Manager Mastercard Worldwide untuk Indonesia. Bedanya, Vadyo tidak meniti karier dari bawah, tetapi langsung di level atas dan bertahan sampai sekarang, 10 tahun lamanya. Setelah meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Parahyangan, Bandung, dia langsung menclok ke Mastercard Indonesia.

Bagaimana Vadyo bisa awet mempertahankan jabatan bergengsinya? Dia mengaku selalu membangun rasa percaya perusahaan terhadap dirinya. Caranya, “Performance harus diutamakan ketimbang ambisi pribadi,” ungkapnya. Selain itu, dia mampu memenuhi target-target yang dibebankan perusahaan kepadanya. Dia menampik bahwa Mastercard hanya mementingkan target kuantitatif. “Kami dituntut untuk dapat melihat bagaimana prospek pasar. Karena, setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda,” kata pria berumur 43 tahun itu. Sukses membangun kepercayaan perusahaan, Vadyo juga berhasil membangun kepercayaan pelanggan. “Saya bisa bertahan lama di Mastercard juga karena mau mendengarkan kebutuhan pelanggan. Pertama, kami harus mendapatkan kepercayaan pelanggan, setelah itu kepercayaan manajemen Mastercard,” imbuhnya.

Untuk pengabdian cukup lama inilah, Vadyo diganjar apresiasi khusus dari Mastercard. “Malah saya sekarang sudah bisa memilih mau hadiah apa,” tuturnya dengan tergelak tanpa bermaksud menyombongkan diri. Hadiah itu priceless, tetapi dia merahasiakan bentuknya. Apakah dapat jatah saham Mastercard? “Oh tidak. Saham saya yang paling berharga adalah kedua anak saya,” katanya.

Pola yang ditempuh Darwin Silalahi untuk mencapai puncak lain lagi. Untuk mencapai posisi CEO PT Shell Indonesia, dia berkali-kali harus pindah kerja dan terakhir melalui jalur konsultan. Dia merintis karier dari British Petroleum Indonesia (BP), lalu ke perusahaan lokal, sempat menjadi staf ahli di BUMN, menjadi direktur pengelola di perusahaan konsultan asing dan kini menjadi dirut di perusahaan minyak & gas asing lagi. Baginya itu semua bukan rencana hidup. “Saya sempat bercita-cita menjadi dokter,” ujarnya mengenang. Namun, selepas SMA, justru MIPA Universitas Indonesia yang dijejak lantaran ia menyukai mata pelajaran fisika dan matematika.

Ada juga CEO yang kariernya harus loncat sana-sini di bidang yang berbeda. Contohnya, Sutanto Hartono, yang pernah menjadi CEO Sony Music, lalu CEO RCTI, sampai akhirnya dipercaya sebagai Country Manager Microsoft Indonesia saat ini.

Lantas, apa saja yang dilakukan para eksekutif hebat itu agar perjalanan kariernya melesat?

Darwin percaya bahwa seseorang dapat mendaki karier dengan lancar jika mempunyai tiga kriteria yang disingkat menjadi CAR, yaitu capacity, achievement, relationship. Capacity merupakan kemampuan yang dibawa orang tersebut sejak lahir, seperti tingkat inteligensia yang tinggi, kompetensi yang dibangun melalui pembelajaran terus-menerus, dan kemampuan berpikir strategis plus mengeksekusinya.

Achievement merupakan hal apa saja yang bisa dicapai dalam hidup orang tersebut. Bukan saja dalam pekerjaan, tetapi juga terkait dengan pencapaian pribadi, misalnya mencapai puncak gunung. Adapun relationship adalah jaringan yang dibangunnya, terutama ke pemimpin perusahaan. Menurutnya, setelah posisi manajer ke atas, rata-rata jabatan atau job baru itu ditawarkan justru karena relationship yang dibangun itu. Bukan saja dalam organisasi perusahaan tempat bekerja, tetapi juga dengan kalangan luar perusahaan.

Vadyo menuturkan pengalaman yang berbeda. Dia mengklaim, terobosan yang paling mengesankan selama bekerja di Mastercard adalah meluncurkan Mastercard Internet Gateaway Services (MiGs). MiGs dapat diterapkan seperti pemesanan tiket online. “Teknologi ini hanya dimiliki Mastercard untuk online payment yang paling aman,” katanya. Inovasi ini membuatnya lega lantaran dapat menyelaraskan kesibukan konsumen dengan transaksi pembayaran secara real-time.

Agar kariernya terus moncer, Handry memiliki kiat khusus. Menurut lelaki kelahiran Pekanbaru, 13 Juni 1969, ini, sebagai seorang pemimpin, dia menerapkan prinsip 4E (energy, energizing, edge, execute) dari Jack Welch. Menurutnya, leader harus memiliki energy dan passion untuk learning dan improving. Sebab, biasanya ketika perusahaan sukses, pemimpin lupa belajar sesuatu yang baru. Bos juga mesti mampu meng-energize orang lain. Pasalnya, tidak mungkin pemimpin bisa maju sendirian, sehingga harus bekerja sama dengan tim. Selain itu, pemimpin juga perlu edge supaya berani mengambil keputusan pada prinsip yang dipegangnya.

Namun Handry mengingatkan, ”Sebagus apa pun Anda, kalau tidak execute, tidak bisa menonjol.” Untuk bisa execute, dia menyarankan agar atasan membuat target yang bisa dicapai dan berdasarkan perhitungan matang. Create success story juga penting, misalnya dengan membuat pilot project sebelum menjalankan proyek besar. Ini untuk menumbuhkan kepercayaan orang lain kepada pemimpin. “Jadi, leader itu jangan memberikan mimpi besar,” dia mewanti-wanti.

Bagi Handry, seorang pemimpin perusahaan multinasional tidak cukup hanya bisa menjual produk ke Indonesia. “Tetapi, how to sell Indonesia to the company tempat kita bekerja,” ujarnya. Itulah sebabnya, dia menuntut diri sendiri agar dapat menyajikan fakta menarik tentang Indonesia yang dapat “dijual” ke headquarter. Ujung-ujungnya, kantor pusat punya kepercayaan untuk berinvestasi ataupun mendidik pasar Indonesia. Dengan demikian, tidak cukup hanya mengandalkan potensi pasar Indonesia sebanyak 240 juta jiwa.

Menaklukkan pasar Indonesia dan regional juga menjadi target Handry. Misalnya, potensi pengguna kereta api. Fakta menariknya, pengguna lokomotif terbanyak di ASEAN adalah Indonesia. Jadi, sangat masuk akal kalau service center of excellence juga ada di Indonesia, sehingga hal-hal semacam itu mesti disampaikan ke kantor pusat.

Meski bekerja di perusahaan global, menurut Hendry, profesional Indonesia pun wajib memberikan manfaat bagi negara dan bangsa. “What can we do selain doing business?” ujarnya. Jadi, Indonesia juga harus mendapatkan keuntungan dari keberadaan multinational company. GE, misalnya, melakukan banyak program rural dengan menjual peralatan high tech untuk pedesaan dengan harga murah.

Keberhasilan yang dicapai para eksekutif kita di perusahaan multinasional tidak berakhir hingga di sini. Ke depan, Handry masih bercita-cita menjadi guru. “Kalau untuk menjadi guru, saya harus melewati jalur sebagai CEO regional atau global dulu, ya harus saya jalani,” dia menuturkan impiannya di hari tua kelak.

Sementara Handry masih punya impian menjadi guru, Vadyo sudah puas dengan kariernya di Mastercard. “Tidak ada lagi ambisi berlebih karena posisi saya ini sudah teratas di Mastercard Indonesia,” katanya. Kini, yang terpenting adalah mempersiapkan pengganti dirinya. Penggantian di sini bukanlah orangnya, melainkan sistemnya. “Jadi siapa pun nantinya yang duduk di posisi saya sekarang, semua akan berjalan dengan baik, mampu memberikan semangat, memelihara disiplin dan prosedur yang sama ke semua tim karena ini hasil kerja tim,” Vadyo menegaskan.

Terlepas dari prestasi dan jabatan yang dicapai eksekutif kita di perusahaan multinasional, Darwin mengingatkan, sesungguhnya lompatan karier yang diraihnya tak pernah direncanakan sebelumnya. “Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik dengan 3 kriteria CAR, selebihnya pasrahkan apa yang digariskan Tuhan,” ujarnya dengan bijak.

Betty Alisjahbana menambahkan, untuk menuju puncak perusahaan multinasional harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yang harus dilakukan antara lain membangun kinerja yang konsisten, memiliki visi, mencari dukungan mentor, punya exposure di tingkat global, serta tidak berdiam di satu bidang saja. Sebaliknya, yang tidak boleh dilakukan adalah bersikap tertutup terhadap dunia internasional dan tidak percaya diri.” Kebanyakan profesional kita kurang percaya diri. Ini mungkin kultur kita dibesarkan,” kata mantan CEO IBM Indonesia itu, prihatin. (*)


Kunci-kunci Menuju Puncak
Inilah fondasi untuk menduduki pucuk korporasi multinasional
  • Percaya diri dan bersikap terbuka
  • Bangun kompetensi yang unggul
  • Cetak kinerja yang konsisten
  • Luaskan jejaring, buat exposure di tingkat global
  • Carilah mentor untuk mendukung kinerja cemerlang


Reportase: Herning Banirestu, Sigit A. Nugroho dan Yurivito Kris Nugroho.
Riset: Sarah Ratna
sumber :http://swa.co.id

Ciri - Ciri Bos Idaman Indonesia


Sebagai pemimpin, Anda tentu ingin menjadi ‘atasan idaman’ dengan cara berhasil memenuhi target perusahaan sekaligus memperoleh pendapatan sebanyak mungkin. Namun, hal tersebut tidaklah cukup. Bagi para anak buah, seorang atasan seharusnya tidak cuma mengevaluasi kinerja tetapi juga terlibat dalam membantu mereka meraih kesuksesan di perusahan.

Hal tersebut diungkapkan oleh survei yang dilakukan Kelly Services, konsultan tenaga kerja global. Sekitar 38% dari para responden yang mengatakan bahwa atasan mereka telah dengan baik mempersiapkan mereka meraih kesuksesan di masa depan, 42% mengatakan mereka tidak dipersiapkan dengan baik, sementara 20% ragu.

Sekitar dua per tiga dari orang yang telah menjawab survei menyatakan akan merekomendasikan perusahaan tempat mereka bekerja sekarang kepada teman atau kenalan mereka. Berdasarkan pernyataan Bernadette Themas, Direktur Pengelola Kelly Services Indonesia, “Para pekerja sangat mempercayai perusahaan. Menurut mereka, perusahaan mempunyai pandangan yang jelas tentang bagaimana para pekerjanya diatur dan ditempatkan. Mereka, dalam hal ini perusahaan, memiliki dampak yang sangat besar untuk kemampuan bisnis karyawan dengan tujuan untuk menarik dan mengasah talenta.”

Hasil survei di Indonesia menunjukkan bahwa baik gen Y (usia 18 – 29 ) maupun gen X (usia 30 – 47) setuju bahwa gen X akan menjadi pemimpin terbaik, tapi generasi Baby Boomer (usia 48-65) sangat yakin bahwa generasi mereka merupakan yang terbaik sebagai pemimpin.

Selain itu, berdasarkan studi tersebut, yang paling penting dimiliki untuk menjadi pemimpin terbaik ialah 32% responden berpendapat cara memimpin adalah hal yang terpenting; sedangkan 24% mengatakan visi ke depan dan arahan yang jelas adalah hal yang terpenting. Sementara itu, 18% mengatakan cara berkomunikasi adalah hal terpenting.

Lebih dari separuh responden (55%) menyatakan budaya kepemimpinan di kantor mereka antara “memberdayakan” atau bahkan “inklusif” dan 29% menyatakan “otoriter” dan “menindas”. Lebih dari separuh (59%) responden menyatakan kerja keras mereka diperhatikan dan dihargai. Di antara mereka yang merasa kerja keras mereka dihargai dan diperhatikan ini, 48% mendapatkan surat penilaian dari manajemen, sementara 33% mendapatkan bonus dan insentif, dan 18 persen diberitahu program resmi lain.

“Karyawan akan mengakui kepemimpinan para atasan yang mampu menjalankan budaya kepemimpinan berupa pemberdayaan pegawai serta memberi penghargaan atas kerja keras karyawan,” kata Bernadette Themas.

ditulis by Ellyzar Zachra P.B

10 Rahasia JACK WELCH, CEO Paling Fenomenal Di Zaman Kita


"Lupakan perubahan perlahan-lahan dan melompatlah !" nasehat Jack Welch.

Tidak ada upaya setengah-setengah !

Jack Welch adalah salah satu CEO paling sukses sekaligus paling kontroversial di dunia. Ketika memimpin General Elektric, usianya baru 45 tahun. Secara revolusioner, Jack Welch mengangkat GE dari  keterpurukan , membuatnya bangkit dan kembali besar. Langkah -langkah serta strategi dramatis dan revolusionernya membuat ia dijuluki sebagai 'Bos paling keras' di Amerika oleh majalah fortune. Program-program perubahannya yang luar biasa telah menjadi benchmark bagi bisnis modern abad 21.

 
Dan inilah 10 gaya menejerial Jack Welch yang membuatnya meraih sukses :

1. Berinvestasi pada Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM ) adalah kekuatan. Jack Welch menghabiskan banyak waktu untuk berbicara dan bertatap muka dengan para karyawan. Ia berbicara, menasihati , membujuk dan mendidik , mengembangkan SDM. Kerap diduga ia mengenal langsung sekitar 1000 karyawan dan mengetahui tanggung jawab mereka di perusahaan. Ia melakukan itu karena ia adalah seorang yang optimis tentang potensi manusia. "Ide yang mengalir dari semangat manusia tidak terbatas. Yang harus Anda lakukan adalah memanfaatkan sumber itu dengan baik. Saya tidak suka menggunakan kata efisiensi. Kata yang tepat adalah kreativitas.  Saya percaya bahwa semua orang penting," katanya.

Jack Welch terus mengungkapkan komitmennya untuk mengembangkan mereka. Sejak awal dia berjanji,"Saya menginginkan revolusi dan saya ingin revolusi itu dimulai dari Crotonville."
Crotonville adalah Institut pengembangan Menejemen yang legendaris milik General Electric. Berdiri tahun 1956.Jack Welch adalah seorang pengunjung dan pengajar tetap di lembaga ini.

2. Dominasi pasar Anda.... atau Enyah !
Pilihan sederhana yang sering diulang-ulang oleh Jack Welch. Ia tak ambil pusing dengan perusahaan yang berada di posisi empat atau lima. Ia ingin jadi yang pertama atau kedua. Merebut dan memimpin pasar. Kalau Anda tak bisa berada di depan, jual bisnis itu dan cari peruntungan di tempat lain

3. Tak pernah tinggal diam.
Jack Welch adalah sosok yang tak kenal lelah. Meski pernah menjalani operasi jantung, ia tak pernah berhenti bekerja. Ia memasuki General Electric {GE} dengan energi tak kenal lelah. Jack Welch tak mau tinggal diam dan bersandar pada kejayaan yang telah dimiliki perusahaan. Di bawah pimpinannya GE terus berubah.

4. Pikirkan layanan.

Sebelum era Jack Welch , GE adalah perusahaan manufaktur, kampiun gaya lama. Welch membawa konsep
layanan ke dalam perusahaan. Sekarang GE adalah perusahaan jasa yang juga melakukan kegiatan manufaktur Perusahaan keuangan, perusahaan informasi sekaligus perusahaan pembuat perkakas rumah tangga. Kualitas dan layanan melingkupi semua aktivitasnya.

5. Lupakan masa lalu, cintai masa depan.

Untuk satu perusahaan yang punya sejarah luar biasa, GE di bawah kepemimpinan Jack Welch menyibukkan dirinya dengan masa depan. Perusahaan ini merangkul hal-hal baru baik dalam bidang teknologi informasiataupun internet. Jack Welch memimpikan masa depan . Ia memuja masa depan dan GE menciptakan masa depan.

6. Belajar dan memimpin
Pemimpin model baru bukan seorang diktator korporat. Si pemimpin punya komitmen untuk belajar, menentukan dan bergerak maju. Keputusan yang salah jadi kesempatan bagi mereka. Belajar dari kesalahan lebih penting dari menikmati kesuksesan.

7. Tanpa basa basi
Jack Welch berkomunikasi dan bersikap apa adanya. Baik ketika berbicara dengan pekerja di pabrik GE, para manager di satu program pelatihan, atau para analisis indrustri. Ia berbicara dengan blak-blakan dan sepenuh hati. Ia berbicara apa adanya.

8. Hilangkan birokrasi

Direpotkan dengan birokrasi dan hierarki yang membuang waktu, Jack Welch hampir meninggalkan GE setelah satu tahun bekerja di sana. Ia berhasil dibujuk, tetapi kejengkelannya tetap bersemayam. Setelah mencapai puncak, Welch membuang aturan-aturan birokratis seperti orang membalas dendam

9.Tidak kemana-mana
Seharusnya tidak ada lagi yang namanya manusia korporat. Tetapi Jack Welch tetap bisa bekerja dengan baik walau hanya pada perusahaan. Bagaimana mungkin ia bisa belajar dan berkembang di satu organisasi saja?

10. Mengurus toko kelontong
Jack Welch mengatur GE seakan-akan perusahaan itu sebuah toko kelontong. Hal-hal standar tetap berlaku. Kualitas dan pelayanan. Arus uang. Mengetahui apa yang laku, bagian bisnis mana yang berjalan baik. SDM. Fakta bahwa anda menjual pembangkit tenaga nuklir dan bukan permen tidak teramat penting.

Jack Welch adalah pribadi unik dan kesuksesannya pun unik. Namun ada beberapa aturan yang bisa diterapkan secara universal yang dipetik dari kisah karirnya :
- Jadikan gambaran pekerjaan Anda mudah dimengerti...dan kemudian katakan pada semua orang
- Revolusi, jangan perubahan bertahap
- Terus berubah
- Berpikir positif
- Kelilingi diri diri Anda dengan kualitas
- Selalu belajar
- Keep it simple stupid. Apapun yang Anda lakukan sederhanakan, komunikasikan sederhana. Ukuran sederhana, sistem sederhana
-Jaga orang-orang Anda
-Rencanakan Suksesi
- Buat kesalahan. Semua orang berbuat salah. Anda bisa mengakui atau terus tidak peduli. Ketidakpedulian adalah jalan menuju kehancuran.

"Kalau Anda tak punya ide lain, sebaiknya Anda berhenti kerja saja ," kata Jack Welch

Sunday, February 26, 2012

Apa itu konsep Just in Time (JIT) ?

Lean thingking #3:

Untuk memahami dasar-dasar Operational Excellence (OE), dalam seri tulisan Lean Thinking  kali ini, saya mencoba sharing tentang konsep Just In Time (JIT).

Apa definisi JIT ? Siapa yang mempelopori konsep JIT ? apa keuntungan dari penerapan JIT ? Bagaimana filosofi JIT ? Apa syarat untuk implementasi konsep JIT ? Siapa saja yang berperan  dalam JIT ? berikut penjelasan dari berbagai pertanyaan tersebut,

Salah satu tujuan kita berbisnis adalah memproduksi barang baik produk maupun jasa yang berkualitas tinggi (quality) dan memuaskan pelanggan (customer satisfication), oleh sebab itu pemahaman dan implementasi Konsep JIT sangat diperlukan sebagai prasyarat utama.

Konsep Just In Ti me (JIT) adalah sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terbaik yang ada di Jepang, sejak awal tahun 1970an, JIT pertama kali dikembangkan dan disempurnakan di pabrik Toyota Manufacturing oleh Taiichi Ohno, oleh karena
itu Taiichi Ohno sering disebut sebagai bapak JIT, Konsep JIT berprinsip hanya memproduksi  jenis-jenis barang yang diminta (what) sejumlah yang diperlukan (How much) dan pada saat dibutuhkan (When) oleh konsumen.

Just In  Time (JIT) merupakan keseluruhan  filosofi dalam operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan  baku dan suku cadang,  personalia, dan fasilitas dipakai sebatas  dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan.

Fujio Cho dari Toyota mendefinisikan pemborosan (waste) sebagai: Segala sesuatu yang  berlebih, di luar kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat, dan waktu kerja yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk.

Dalam bahasa sederhanya pengertian pemborosan adalah  segala sesuatu tidak memberi nilai tambah itulah pemborosan.
Ada 7 (tujuh) jenis pemborosan disebabkan karena
  1. Over produksi ( OverProduction )
  2. Waktu menunggu ( Waiting )
  3. Transportasi ( Transportation )
  4. Pemrosesan ( Process production )
  5. Tingkat persediaan barang ( Unnecessary Inventory )
  6. Gerak ( Unnecessary Motion )
  7. Cacat produksi ( Defects )
Dalam pelaksanaan konsep JIT terdapat empat hal pokok yang harus dipenuhi : pertama, Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan. kedua, Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya. ketiga, Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan  fluktuasi permintaan. keempat, Berpikir kreatif, inovatif serta selalu menerima masukan atau saran dari karyawan

Untuk mencapai empat konsep tersebut perlu diterapkan sistem dan metode sebagai berikut :

a. Sistem kanban  untuk mempertahankan produksi Just In Time (JIT).
b. Metode kelancaran dan kecepatan produksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
c. Optimalisasi waktu penyiapan untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
d. Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
e. Aktifitas perbaikan lewat kelompok kecil (small group) dan sistem saran untuk meningkatkan skills    tenaga kerja.
f. Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan
sedangkan elemen-elemen Just In Time (JIT) adalah
  • Pengurangan waktu set up
  • Aliran produksi lancar (layout)
  • Produksi tanpa kerusakan mesin
  • Produksi tanpa cacat
  • Peranan dan support operator produksi
  • Hubungan yang harmonis dengan pemasok
  • Penjadwalan produksi yang stabil dan terkendali
  • Sistem Kanban

Tulisan ini hanya sekilas menjelaskan apa itu Just in Time (JIT), tentu masih banyak hal  yang beum di jelaskan di tulisan singkat ini, oleh sebab itu tunggu tulisan-tulisan selanjutnya  di seri tulisan sharing Lean Thinking berikutnya..

Bagaimana pendapat anda ?
semoga bermanfaat ?
salam dari Jiaxing, Zhejiang- China

Aan Hunaifi

Wednesday, February 22, 2012

Cara Unik dan Inspiratif Memilih CEO Terbaik


Seorang pengusaha memasuki masa tuanya dan merasa inilah saatnya untuk memilih sesorang yang sukses untuk mengambil alih bisnisnya.

Daripada memilih salah satu Direkturnya atau anak-anaknya, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Dia memanggil semua eksekutif muda yang ada di perusahaannya.

Dia mengatakan, “Sudah saatnya saya pensiun dan memilih CEO berikutnya. Saya telah memutuskan untuk memilih salah satu di antara kalian.” Para eksekutif muda terkejut, tapi si bos melanjutkan perkataannya. “Saya akan memberikan masing-masing kepada kalian satu BIBIT hari ini – bibit yang sangat special. Saya mau kalian menanamnya, menyiraminya dan kembali kesini setelah setahun dari hari ini dengan apa yang telah kalian peroleh dari bibit yang saya berikan. Lalu saya akan menilai hasil yang kalian bawa, dan memilih salah satunya untuk mejadi CEO berikutnya.”

Seorang pria, bernama Jim, juga berada disana hari itu dan dia, sama seperti yang lainnya, menerima sebuah bibit. Dia pulang ke rumah dan bercerita kepada istrinya. Istrinya membantu Jim, mencari pot, tanah dan pupuk, dan Jim menanam bibit itu. Setiap hari, Jim menyiraminya dan melihat apakah tanamannya itu tumbuh. Setelah tiga minggu, beberapa eksekutif mulai bercerita mengenai bibit itu yang mulai berkembang.
Jim selalu mengecek bibitnya, tapi tidak ada menemukan pertumbuhan.
Tiga minggu, empat minggu bahkan lima minggu, belum terlihat pertumbuhan apapun.

Sekarang, tiap orang bercerita tentang tanamannya, tapi Jim tidak memiliki tanaman dan dia merasa gagal.
Enam bulan berlalu – masih belum terdapat tanaman apa-apa di potnya Jim. Dia merasa bahwa dia telah mematikan bibitnya. Sementara yang lain telah memiliki pohon dan tanaman yang tinggi, sedangkan Jim tidak memiliki apa-apa. Jim tidak menceritakan apa-apa kepada rekannya, namun dia tetap selalu menyirami dan memberikan pupuk bibit tersebut – yang sangat dia inginkan agar tumbuh.

Akhirnya sampailah setahun yang dimaksud dan para eksekutif muda dari perusahaan itu membawa tanaman mereka kepada CEO untuk diperiksa.

Jim berkata kepada istrinya bahwa dia tidak akan datang dengan membawa pot yang kosong. Tapi istrinya memintanya untuk jujur mengenai apa yang terjadi. Jim merasakan sakit perut, dan itu akan menjadi saat yang paling memalukan dalam hidupnya, tapi dia sadar bahwa istrinya benar. Dia membawa pot yang kosong ke ruang rapat. Saat Jim tiba, dia sangat tercengang atas macam-macam tanaman yang dibawa para eksekutif yang lain. Tanaman itu begitu indah – dalam bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Jim menaruh pot kosongnya di lantai dan banyak rekannya yang menertawainya, dan beberapa turut prihatin kepadanya!
Saat CEO datang, dia memeriksa ruangan dan menyalami serta menyapa para pegawainya.

Jim berusaha untuk hanya tetap bersembunyi di belakang. “Wah, betapa bagusnya tanaman, pohon dan bunga yang telah kalian tanam,” kata CEO. “Hari ini salah satu dari kalian akan ditunjuk menjadi CEO selanjutnya!”

Tiba-tiba, CEO menunjuk Jim yang berdiri paling belakang dari ruangan tersebut dengan pot kosongnya. Dia meminta Direktur Keuangan untuk memanggil Jim ke depan. Jim sangat gugup. Dia berfikir, “CEO mengetahuinya bahwa aku gagal! Dan mungkin dia akan memecatku!”

Ketika Jim sampai di depan ruangan, CEO bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi pada bibitnya – Jim bercerita padanya.

CEO meminta semuanya untuk duduk kecuali Jim. Dia melihat kearah Jim dan mengumumkan kepada para eksekutif muda yang lain, “Inilah Bos kalian yang baru! Namanya Jim!” Jim tidak mempercayainya. Bahkan Jim tidak bisa menumbuhkan bibitnya.
“Bagaimana bisa dia menjadi CEO yang baru?” yang lainnya bertanya.

Lalu si bos berkata, “tepat setahun yang lalu, saya memberikan kalian yang ada di ruangan ini sebuah bibit. Saya sampaikan kepada kalian untuk mengambilnya, menanamnya, menyiraminya dan membawanya kembali pada saya hari ini. Tapi saya memberikan kalian semua bibit yang telah direbus, dan sudah mati – tidak mungkin untuk menumbuhkannya.

Semuanya, kecuali Jim, membawa pohon dan tanaman dan bunga. Saat kalian mengetahui bibit itu tak mungkin tumbuh, kalian menukarkannya dengan bibit yang lain. Jimlah seorang yang dengan usahanya dan jujur membawa kembali potnya yang kosong dengan bibit yang sama. Oleh karena itu, dialah yang akan menjadi CEO baru!”


  1. Jika kamu menanam kejujuran, kamu akan memperoleh kepercayaan
  2. Jika kamu menanam kebaikan, kamu akan memperoleh pertemanan
  3. Jika kamu menanam kerendahan hati, kamu akan memperoleh kejayaan
  4. Jika kamu menamam ketekunan, kamu akan memperoleh kepuasan hati
  5. Jika kamu menamam pemikiran, kamu akan memperoleh pandangan
  6. Jika kamu menanam kerja keras, kamu akan memperoleh kesuksesan
  7. Jika kamu menanam pengampunan, kamu akan memperoleh perdamaian


Jadi, hati-hati menamam apa sekarang, itu akan menentukan apa yang akan kamu peroleh di masa datang.

Pikirkan hal ini sejenak…
Jika saya muncul di depan pintu rumahmu sambil menangis, apakah kamu peduli?
Jika saya meneleponmu dan memintamu untuk menjemputku karena sesuatu telah terjadi, apakah kamu akan datang?
Jika saya hanya memiiliki satu hari lagi dalam hidup, maukah kamu menjadi bagian dari hari terakhir saya?
Jika saya memerlukan pundak untuk mengadu, apakah kamu akan melakukannya?
Ini adalah sebuat tes untuk mengetahui siapa temanmu sesungguhnya atau jika kamu hanyalah seseorang untuk teman mengobrol kala mereka bosan.

Tahukah kamu, hubungan apa antara dua matamu?


Kedua mata mengedip bersamaan,
Mereka bergerak bersamaan, menagis bersama,
mereka melihat segalanya bersamaan,
dan tidur bersamaan, tapi mereka tak pernah saling melihat,,,,,itulah arti persahabatan..
Aspirasimu adalah motivasimu,
motivasimu adalah kepercayaanmu,
kepercayaanmu adalah kedamaianmu,
kedamaianmu adalah tujuanmu,
tujuanmu adalah surga, dan hidup sangat sulit tanpa itu.

menarik sekali,semoga bermanfaat.


sumber :http://gapwebid.blog.esaunggul.ac.id/2011/01/20

Monday, February 20, 2012

Kiat CEO XL Hadapi Tantangan

JAKARTA - Menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar tidaklah mudah. Salah satu contohnya adalah Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk (EXCL), Hasnul Suhaimi.

Dia menceritakan bagaimana dirinya ditantang untuk turut andil dalam membesarkan perusahaan telekomunikasi tersebut.

"Waktu itu saya ditantang, kalau dalam tiga tahun tidak bisa membesarkan XL, saya bisa dipecat," katanya sambil berkelakar saat berkunjung ke kantor Redaksi okezone akhir pekan ini.

Dia merasa tertantang dengan hal itu, akhirnya memiliki visi yang dia sebut visi 123. Visi yang pertama adalah menjadi perusahaan telekomunikasi nomor satu di Indonesia. Visi dua dan tiga adalah perusahaan selama tiga tahun harus bisa menjadi perusahaan nomor dua terbesar

"Memang susah, tapi semua harus bisa mencapai semuanya terutama dengan visi nomor satu," akunya.

Akhirnya semua itu terbukti. Tantangan tersebut membuahkan hasil. Namun, dia mengaku keberhasilan XL melalui masa sulit juga atas kerja sama tim. "Semua harus dukung, tim, manajemen, staff. Semua harus tertuju ke visi untuk menjadi perusahaan dengan kualitas nomor satu," tuturnya.

Meski saat ini XL sudah jauh berkembang dibanding pertama kali dia bergabung di perusahaan tersebut, namun dia mengatakan sejumlah tantangan masih akan menghadang. Salah satunya tren kebutuhan pelanggan. Jika pada tahun sebelumnya pendapatan XL mengacu kepada layanan telepon dan SMS, kini lebih kepada layanan data. "Tidak bisa dipungkiri, sekarang itu zaman instant messenging, Sementara penggunaan SMS lambat laun akan jauh berkurang. Kita tidak bisa menghindari fakta tersebut. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menyiapkan antisipasi tersebut," paparnya.

Hasnul menyatakan, antisipasi itu antara lain adalah mematangkan fasilitas data atau 3G network. Berdasarkan trafik, pola kebutuhan data pelanggan meningkat signifikan menjadi 10,858 terabyte (TB) pada 2011, dari tahun sebelumnya yang hanya 2,749 TB. Secara persentase, kebutuhan fasilitas data pada 2011, tumbuh signifikan, yakni 61,1 persen (YoY). Kebutuhan fasilitas data juga memberikan kontribusi besar terhadap revenue, menjadi 22 persen dari 17 persen  dibanding tahun sebelumnya.

Pada tahun ini, XL pun akan semakin agresif mengembangkan data. Hasnul akan mengubah fokus yang awalnya lebih kepada business model menjadi data service.

Menurut dia, penggunaan data di Indonesia masih dalam fase yang rendah, seperti pada fasilitas pencarian data dan penggunaan jejaring sosial. "Namun ke depannya akan lebih banyak kepada suara dan gambar. Nah, kami tengah mempersiapkan potensi kebutuhan pelanggan tersebut," jelasnya.

Mengacu pada fokus tersebut, dia melakukan beberapa langkah, di antaranya merumuskan strategi pengembangan data, migrasi 2G menjadi 3G, dan terus menciptakan produk yang atraktif dan relevan bagi pelanggan.

Tren pertumbuhan kebutuhan fasilitas data ini, lanjut Hasnul, tidak lepas dari adanya pertumbuhan pendapatan per kapita yang terjadi di Indonesia. "Income per capita kita dari USD3.000 kini bertambah menjadi USD3.400. Ini mengalami pertumbuhan yang signifikan," tambah dia.

Peningkatan ini membuat pola konsumsi pelanggan menjadi berubah. Jika sebelumnya hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan primer, kini sudah merambah kepada pemenuhan kebutuhan primer.

"Implementasinya, kalau dulu orang beli handphone hanya untuk telepon dan SMS, kini sudah bisa membeli yang ada akses internetnya, sudah bisa membeli smartphone yang bisa main game, tablet dan laptop, yang variasi kontennya juga terus berkembang," papar dia.

Tidak main-main, XL mengalokasikan dana belanja modal (capital expanditure/capex) senilai USD7-8 triliun atau 60 persen dari total revenue yang dikantonginya.


Sunday, February 19, 2012

Pentingnya Soft Skills Bagi Mahasiswa


    

Melalui tulisan ini, saya mau berbagi pengalaman bagaimana saya mendapatkan kesempatan beasiswa Training Entrepreneurship di International Centre for Theoritical Physics ( ICTP ) Italy. 

Sebuah lembaga riset prestisius kelas dunia yang didanai oleh PBB, yang didirikan oleh Penerima  hadiah Nobel Fisika Abdus salam dari Pakistan, sebagai informasi Abdus Salam merupakan orang muslim pertama  yang meraih hadiah Nobel Fisika.

Berawal dari kebiasaan saya setiap awal tahun baru, yaitu selalu menuliskan  target-target yang harus di capai pada tahun tersebut, pada tahun 2008 ini saya menuliskan target harus bisa go internasional setelah sudah cukup modal sering mengikuti dan menjuarai event-event  tingkat nasional.

        Langkah pertama yang saya lakukan adalah  semakin intens mencari informasi baik di internet maupun di kampus  yang memberikan  kesempatan belajar ke luar negeri, kedua, saya memperbaiki kualitas bahasa inggris saya, ini merupakan faktor kunci sebab semua aplikasi dan proposal harus dalam bahasa inggris jadi mau ngak mau harus bisa. 
     
      Terkadang ada rasa agak putus asa karena lama tidak menemukan  kesempatan yang pas, tetapi berbekal semangat dan keyakinan suatu saat pasti akan menemukan kesempatan yang dicari, akhirnnya kesempatan itu datang dari The Abdus Salam ICTP  yang membuka program Entreprenurship forPhysicist and Engineers from Developing Countries. Walaupun masih harus diseleksi lagi oleh pantia, mulai dari awal mengirimkan aplikasi saya sudah optimis bisa lolos menjadi peserta program, sebab saya memiliki modal yang dibutuhkan  untuk mengikuti program tersebut.

       Modal saya untuk mengikuti program tersebut adalah saya pernah menjadi Student Technopreneurship Program dari The Lemelson Foundation USA dan IPB, dan Juara 3 Proposal Bisinis Bioteknologi tahun 2007 dari  Indonesia Biotechnology Students Forum (IBSF) ditambah dengan beberapa penghargaan yang lain. Setelah menunggu akhrinya panitia mengumumkan saya lolos seleksi dan berhak mengikuti program tersebut. 

      Dalam program training tersebut, saya di ajari mulai dari bagaimana mencari ide riset yang potential market, hingga comerzialitation product sekaligus proses paten, materi-materi tersebut sangat penting khususnya bagi negara-negara berkembang yang ingin beralih dari the economy based on natural resources ke the economy based on technology.
     
      Kebetulan ada salah satu mentor profesor yang berasal dari Oxford University UK, beliau mengatakan bagaimana universitas Oxford bisa mengembangkan  riset-riset yang berkualitas tinggi dan aplikatif sebab, di Oxford sudah ada satu mekanisme hubungan yang baik yaitu  antara Universitas, Pemerintah, (Perusahaan) Swasta,  sehingga hasil riset para penelitinya selalu teraplikasi dengan baik disamping itu pihak univeristas juga mendapatkan royalti dari paten yang dihasilkan. Belajar dari sini  mungkin  sudah saatnya Universitas Airlangga yang sudah BHMN menerapkan mekanisme hubungan sinergi tersebut sehingga akan menghasilkan riset-riset yang berkulaitas tinggi.


          Bagi saya mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri walaupun cuma training adalah kesempatan berharga dan langka. Menurut saya ini merupakan buah dari kerja keras, semangat dan focus pada target yang sudah saya tulis di awal tahun. 

Menyimak survey dan kajian menarik dari Majalah Tempo Pada tahun 2007 yang telah memilih 10 Perguruan Tinggi karena lulusannya yang berkarakter. Karakter  (soft skills)  penting di dunia kerja yang dikemukakannya yaitu:

1. Mau bekerja keras,  2. Kepercayaan diri tinggi, 3. Mempunyai visi kedepan, 
4. Bisa bekerja dalam tim, 5. Memiliki kepercayaan matang, 6. Mampu berpikir analitis, 7. Mudah beradaptasi, 8. Mampu bekerja dalam tekanan, 9. Cakap berbahasa Inggris, 
10. Mampu mengorganisasi pekerjaan

       Pada umumnya jarang sekali perguruan tinggi melakukan identifikasi awal kondisi mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi dari sisi soft skills-nya. Yang banyak dilakukan perguruan tinggi adalah mengidentifikasi kondisi awal kemampuan dalam berbahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Program studi juga jarang menanyakan kepada mahasiswa baru maupun lama tentang pembelajaran apa yang disukai dan tidak disukai selama ini?.  Nah, dalam era kepuasan konsumen, nampaknya harus sudah berubah kita harus lebih banyak berkomunikasi dan menggali informasi dari mahasiswa kita.

         Kita sering menyamakan pendidikan sebagaimana layaknya proses produksi barang di sebuah industri. Ada yang dinamakan input yang disetarakan dengan mahasiswa yang baru masuk, lalu ada proses produksi yang disetarakan dengan proses pembelajaran, dan ada yang dinamakan produk yang disebut lulusan. Di dalam industri dibuat SOP dan kita pun dalam dalam rangka penjaminan mutu membuat SOP. 
       
       Namun ada yang dilupakan bahwa bahan baku perguruan tinggi walaupun telah disaring memiliki rentang keragaman yang cukup tinggi, bukan hanya pada intelektualnya melainkan dari sisi karakternya. Hal ini disebabkan karena pengaruh kebiasaaan belajar, pola hidup dan pola pikir yang berulang-ulang dilakukan sampai mereka berada di SMA. Belum lagi pengaruh budaya yang membentuknya. Perubahan inilah yang menjadi hakekat dari pendidikan, dimana tujuan pendidikan adalah untuk merubah perilaku. Perubahan perilaku merupakan fungsi dari olah hati dikalikan dengan fungsi dari olah pikir, olah raga dan olah ras.

      Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999). Pada tahap pertama, penulis buku meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dan dekan/rektor perguruan tinggi) agar mereka menominasikan 50 nama orang-orang yang menurut mereka tersukses di Amerika. Dari mereka, akhirnya diperoleh 50 nama yang beberapa di antaranya adalah:

♦ Jack Welch (General Electric), ♦ Bill Gates (Microsoft), ♦ Andy Grove (Intel), 
♦ Lou Gerstner (IBM), ♦ Michael Dell (Dell Computer),♦ Mike Armstrong (AT&T),
 ♦ John Chambers (Cisco System), ♦ Frederick Smith (Federal Express), ♦ Steve Case (America Online), ♦ Elizabeth Cole (American Red Cross), ♦ Bob Eaton (DaimlerChrysler), 
♦ Michael Eisner (Walt Disney), ♦ Ray Gilmartin (Merck), ♦ Hank Greenberg (AIG), ♦ Sandy Weill (Citigroup), ♦ Alex Trotman (Ford Motor Company)

     Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 orang terpilih tersebut satu-per-satu. Dalam wawancara tersebut antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tersebut. Jawaban mereka kemudian di rangkum di dalam bab kesimpulan yang memuat 10 kiat yang menurut 50 orang tersebut paling menentukan kesuksesan mereka.

        Ternyata dari sepuluh kiat sukses tersebut tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hardskills sebagai persyaratan untuk sukses di dunia kerja. Lima puluh orang tersebut seolah sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan mereka bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam katagori keterampilan lunak (softskills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Di Jerman dikenal juga dengan istilah strategical skills atau key qualifications.

Ten Common Traits of the Best Business Leaders :

1. Passion,  2. Intelligence and clarity of thinking 3. Great communication skills, 
4. High energy level, 5. Egos in check, 6. Inner peace, 7. Capitalizing early life experience, 
8. Strong family lifes, 9. Positive attitude, 10. Focus on “doing the right things right”

       Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah “passion”, gairah, atau semangat yang membara. Orang bijak menterjemahkan semangat sebagai burning desire yang diwujudkan dalam bentuk: “bersedia mencurahkan apapun yang dipunyai untuk apapun yang sedang dikerjakan.” Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 orang sukses tadi menempatkan “semangat” sebagai modal pertama untuk meraih kesuksesan. Yang menjadi pertanyaan, semangat” itu -andaikan bisa diajarkan- akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dengan cara bagaimana? Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bias ditularkan. 

         Mengenai kiat semangat ini, saya sering di tanya sama  teman-teman. Mereka biasanya menanyakan bagaimana saya selalu bersemangat dan bergairah untuk menulis dan mengikuti kompetisi-kompetisi mahasiswa mulai semester awal sampai sekarang. Hasilnya Alhamdulillah, sampai saat ini saya telah mengumpulkan beberapa penghargaan dari mengikuti kegiatan tersebut. 
        
       Mengenai resep semangat ini, saya merasa sangat beruntung ketika pada awal semester bertemu dengan Pak.Afandi dosen biologi Unair. Ketika itu saya banyak di kasih cerita dan motivasi bagaimana semangat hidup beliau mulai dari masa SMA hingga Kuliah di Biologi –Unair. Singkat cerita, apa yang disampaikan pak Afandi waktu itu menginspirasi saya untuk selalu bersemangat dalam menjani hidup, walaupun dengan banyak keterbatasan.

     Dengan demikian tugas dosen di perguruan tinggi bukan mengajarkan semangat, melainkan menularkannya. Artinya, para dosen perlu bersemangat terlebih dahulu supaya dapat menularkan. Apakah mahasiswa akan bersemangat jika selama 100 menit tatap muka di kelas, dosen mengajar sambil duduk dengan tayangan berbentuk transparansi yang sudah usang 10 tahun yang lalu ? Nah, ini baru soal menularkan kiat nomor satu. 
      
     Lalu bagaimana dengan sembilan kiat sukses lainnya? Cerita diatas tadi bukan berarti tidak mementingkan hard skills dalam dunia pendidikan dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun beberapa buku selalu menekankan bahwa di dalam dunia nyata tersebut soft skills sangat menonjol peranannya dalam membawa orang mampu bertahan di puncak sukses, dengan kata lain :

”We HIRE people for their technical skills,
but then.... We FIRE them for behavioral faults”

Semoga Bermanfaat !
Salam,

Aan  Hunaifi

Tulisan ini di cetak dan diterbitkan sebagai Seri Buku Panduan Mahasiswa Baru 2009, di Universitas Airlangga- Surabaya