Wednesday, December 12, 2012

Artikel Motivasi : Ketabahan Pohon Bambu



Pada suatu hari terjadi dialog antara seorang manusia yang tengah  putus asa dalam hidup dengan tuhan. Manusia itu mengeluh betapa berat beban hidupnya, dan dia bertanya pada tuhan, adakah satu alasan yang membuat dia harus tetap hidup? Tengoklah sekelilingmu. Apakah kamu melihat tumbuh-tumbuhan semak duri dan bamboo?” kata tuhan.

Kemudian orang tersebut mulai melihat kesekeliling kebun yang penuh dengan tumbuhan semak dan
bamboo. “ ketika aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, aku memelihara mereja dengan baik. Ia menyinari mereka dengan cahaya dan menyirami dengan air hujan.

Biji-biji semak tumbuh dengan  dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya, tetapi biji bambu belum tumbuh sama sekali. Namun, aku tidak menyerah. “kata tuhan.

Pada tahun berikutnya, tumbuhan semak makin  tumbuh lebat, tetapi bambu belum memunculkan tunasnya. Namun, aku tidak menyerah. Tahun ketiga pun, tunas bambu masih belum kelihatan, namun aku tidak menyerah.

Demikian juga pada tahun ke empat, aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu, namun akhirnya tahun kelima, aku melihat munculnya tunas-tunas kecil dari pohon bamboo, yang mau keluar dengan membuka tanah,” Tunas-tunas kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa, jika di bandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi, sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pessat dan berdiri tegak setinggi 30 meter, jauh melebihi tumbuhan semak.

Tampaknya selama lima tahun, biji bamboo yang di tanam itu menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama. Dan aku tidak akan memaksa ciptaanku untuk menghadapi tantangan di luar kemampuanya,” kata tuhan lagi. Kemudian tuhan berkata lagi,”tahukah kamu , bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu tumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bamboo  itu.

Sebagaimana aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bamboo itu. Demikian pula aku tidak pernah kecewa dan berputus asa tentang dirimu juga. Maka janganlah kamu membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bamboo itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu, akan ada waktunya di mana kamu akan tumbuh tinggi..”

Pesan cerita:

Kita semua di lahirkan ke dunia, dengan keunikan, kelebihan,dan tujuan hidup yang berbeda dengan orang lain. Jangan pernah mengeluh dalam hidup karena karena tuhan telah mengatur segalanya semnpurna.

Karena itu, jika anda merasa beban hidup anda terassa berat, bersyukurlah karena masalah-masalah itu adalah cara tuhan membuat kita semakin kuatb dan semakin baik dari pada sebelumnya. Maka cintailah proses dan bukan hasilnya. Karena proses akan mengajarkan banyak hal pada kita.

Seperti menempuh perjalanan jauh, nikmatilah perjalanan anda, dan anda akan mendapatkan npemandangan dan pengalaman berharga yang anda temui di sepanjang  perjalanan itu. Dan yakinlah, bahwa segalanya akan menjadi indah pada saatnya.






Memang kalau kita pahami dan renungkan,, bahwa SEMUA -TELAH dan AKAN berjalan SEMPURNA atas IZINNYA.

Sunday, September 2, 2012

PELAJARAN DARI PERANG GINGSENG



Kalau Anda mengenal watak orang Korea dan Amerika, mungkin Anda akan sepakat dengan saya, Samsung tak akan menyerah ditekan Apple.


Pekan lalu Samsung didenda USD1 miliar atas tudingan telah mengambil tanpa hak beberapa elemen kekayaan intelektual Apple (yang tak diakui Samsung) dan minggu ini Apple meminta pengadilan melakukan injunction agar melarang delapan produk Samsung beredar di seluruh pasar Amerika Serikat. Di lain pihak, Samsung baru saja mengumumkan rencana ekspansi dengan membuka pabrik besar-besaran di Amerika Serikat untuk memasok kebutuhan memorychip bagi Apple.

Orang Korea yang saya kenal bersuara halus, tetapi berwatak keras. Daya juangnya seakan tak pernah habis, sekuat tenaga yang dijanjikan akar ginseng. Mental menembusnya sangat kuat sekalipun medan yang dihadapi
berbahaya untuk dimasuki. Seperti itulah mereka menempati kawasan berbahaya di Los Angeles (LA) yang tak berani didiami warga Amerika sekalipun.

Anda mungkin masih ingat bagaimana mereka mempersenjatai diri tatkala LA dilanda kerusuhan berat pada 1992. Bukannya lari seperti kebanyakan kelas menengah kita yang mengalami hal serupa di Jakarta tahun 1998,
mereka justru menghadapinya dengan senjata laras panjang. Padahal bahasa Inggris mereka pas-pasan. Dengan modal bahasa isyarat, mereka menguasai titik-titik strategis di berbagai pelosok dunia. Sekeras baja itulah pegolf perempuannya, Se Ri Pak, dididik ayahnya menjadi juara dunia turnamen golf.

Dua Perspektif Berbeda

Pada sisi lain mari kita lihat perspektif Apple.Langkah yang diambil Apple adalah cerminan watak orang Amerika yang saya kira mudah Anda kenal. Mereka sangat straight to the point, apa yang dirasakan itu yang diungkapkan, pegangan mereka adalah aturan hukum,kompensasi kerugian tanpa perasaan, dan sangat kompetitif. Orang Amerika yang kita kenal memang amat beragam,tetapi dunia mengenal mereka sebagai bangsa yang ingin mengatur dunia dan merasa pusat dunia ada di rumah mereka.

Sejak kecil anak-anak di sekolah Amerika dibiasakan berbicara terbuka, menghargai kesetaraan, berkompetisi, dan berinovasi. Melakukan plagiat adalah haram. Kalau mengutip kalimat orang lain sekalipun, harus disebutkan sumbernya. Itu pun belum cukup. Para pelajar dan mahasiswa wajib mengolah kembali kutipan milik orang lain itu dengan kata-kata buatan sendiri. Mereka menghargai orisinalitas ide dan kreativitas.

Tapi begitu ada yang meniru, jangankan bangsa lain,bangsa sendiri pun dikenai sanksi berat. Seorang plagiator yang tertangkap tak akan pernah bisa berkarier di dunia akademis sepanjang hidupnya dan seorang pencuri karya cipta didenda sangat berat. Di lain pihak,Korea Selatan memasuki pasar dunia yang sudah lebih dulu dikuasai Jepang yang menjadi obsesinya. Seorang ilmuwan Korea pernah mengatakan, jalur yang harus mereka lalui adalah inovasi melalui imitasi.

Adapun bagi masyarakat Amerika, imitasi adalah perbuatan kriminal yang berarti mencuri kekayaan orang lain dan bisa menghancurkan daya saing bangsa karena imitasi menghalangi niat orang lain berinovasi. Imitasi adalah disinsentifbagiinovasisehingga ujung-ujungnya konsumen sendiri yang dirugikan. Namun badan orang Korea terlalu kecil untuk melompat sejauh inovasi yang sudah dibangun Amerika selama dua abad. Maka imitasi
yang dulu dilakukan Jepang kini mereka ikuti.

Hanya saja dunia telah berubah menjadi lebih kompleks, industri berteknologi tinggi semakin ruwet,dan Amerika sudah semakin licin memagari dirinya dengan jeratanjeratan hukum. Jadi sesungguhnya bukan Amerika yang ingin mereka tundukkan,melainkan Jepang. Kalau Jepang bisa buat Honda, Korea buat Hyundai dan bunyinya mirip. Platform pengembangan teknologinya mirip-mirip Jepang, tetapi diawali dengan tangan besi militer di bawah kekuasaan Jenderal Park Chung-hee.Nah,begitu pasar automotif dan konstruksi memasuki tahap saturation, Korea mengopi cara Jepang mengembangkan platform teknologi informasi (TI).

Dulu Jepang melalui korporasinya, Fujitsu, juga pernah mempermalukan Intel saat mengembangkan microprocessor chip pada 1980-an. Meski hak patennya ada di Intel, Fujitsu selalu mampu meluncurkan chipyang kapasitasnya dua kali lebih besar dalam waktu enam bulan lebih cepat dari kemampuan Intel memasuki pasar. Toh Intel bukannya menyeret Fujitsu ke ranah hukum, melainkan melakukan switching ke chip komputer dan membiarkan Fujitsu berjaya dalam industri game dan entertainment. Tapi mengapa sekarang Apple begitu marah pada Samsung?

Nazar Keras Kepala


Beberapa menit lalu, saat transit di Bandara Sydney,saya menyaksikan sejumlah orang memperdebatkan kasus Samsung. Seorang warga Korea menunjukkan tablet Samsung berlayar kaca antigores yang tak bisa dibuat Apple. Baginya Samsung pahlawan. Samsung bukanlah plagiator sejati karena juga mengembangkan teknologi hardware. Dan baginya, konsumen telah diuntungkan. Buktinya produk berteknologi sama bisa dipasarkan Samsung dengan separuh harga Apple.

Orang Amerika yang berada di sampingnya ternyata tak membela Apple, ia justru mengutuknya. Ia tidak bisa menerima langkah sweeping yang diajukan Apple untuk melakukan injunction sebagai lanjutan dari putusan peradilan yang memenangkan gugatannya. Injunction itu berupa permintaan agar delapan produk Samsung dilarang beredar di seluruh pasar Amerika. Seperti biasanya, setelah itu lawyer Apple yang jeli melihat uang akan
melakukan hal serupa di negara-negara lain. Memang kalau diperhatikan, denda sebesar USD1 miliar yang diajukan kelihatan impresif.

Tapi bagi perusahaan global yang sedang tumbuh, jumlah sebesar itu hanya menarik di mata media. Harap maklum, anggaran promosi tahunan Samsung USD2,75 miliar.Samsung adalah penguasa pasar hardware Android terbesar di Benua Amerika (33%) mengalahkanLG, Moto,Sony,danHTC. Bahkan Samsung menjadi pemasok komponen dan memory chip yang penting bagi Apple. Samsung menguasai 70% pasar memory chip untuk handset berbasiskan Android dan Apple, jauh melebihi Toshiba.

Bahkan 40% pasokan DRAM Apple datang dari Samsung. Maka, seperti yang saya duga, Samsung memilih bertempur ketimbang menarik diri. Cara Samsung memang berbeda dengan yang biasa ditempuh korporasi Jepang yang mudah menyerah kalau ditekan Amerika. Beberapa detik yang lalu CEO Samsung sudah membuat pernyataan yang sangat mengejutkan."Kita akan terus bertempur dan bersungguh- sungguh menghadapi kenyataan ini.


Kita akan melakukan banding dan kami nyatakan akan terus berupaya untuk menjamin keberadaan barangbarang ini di berbagai jaringan ritel di Amerika Serikat dan dunia,"ujarnya. Saya kira, selain berwatak keras, Samsung juga paham bagaimana cara menghadapi lawyer Amerika Serikat. Menghadapi bangsa besar ini Anda tak bisa bermain dengan perasaan. Bangsa ini harus dilawandenganargumentasi.
Bila Anda diam berarti tidak mengerti atau kalah.Dan bagi yang kalah, pintu terbuka lebar. Bukan dengan sowan,cium tangan atau membuat pernyataan maaf di koran seperti yang menjadi ciri khas tuntutan para lawyer kita,melainkan membayar. Beberapa waktu lalu Apple juga membayar ganti rugi sebesar USD600 juta kepada Nokia karena dianggap lalai menyalahgunakan perjanjian hak cipta dalam kasus IP.

Selain itu Apple juga sepakat membayar sebesar USD11,5 dari setiap penjualan iPhone-nya kepada Nokia. Nah sekarang Apple wajib mencari dana penggantinya. Mudah saja bukan? Kalau Samsung tak bisa membayar, mereka akan mengalihkannya kepada pelanggannya.Itu saja. Mereka tak pernah berpikir konsumen itu perasa, punya pertimbangan lain dan seterusnya. Mereka juga tak berpikir hubungan jangka panjang dengan vendor-vendornya.Amerika adalah bangsa seperti yang saya sebutkan di atas.

Mereka pragmatis dan main logis,bukan win-win dan bukan hubungan saling membantu. Media massa di Amerika menyebut cara yang ditempuh Apple sebagai cara pemungut pajak. Denda ini kini dikenal dengan istilah "Apple Tax". Jadi bagi Samsung,buat apa bawa-bawa perasaan atau memakai budaya Asia lainnya Hadapi saja dengan PERANG GINGSENG, toh dengan beredarnya kasus ini brand power Samsung naik beberapa kali lipat.

Kendati harga sahamnya sempat anjlok dan platform baru bermunculan, Samsung masih punya kekuatan pasar yang besar. Samsung juga mulai mengincar Nokia dan Microsoft yang akan masuk besar-besaran ke dalam kategori produk yang sama. Jadi, bagi saya, perang ginseng masih panjang. Ini adalah bagian dari perjuangan yang diajarkan guru-guru sekolah bisnis Amerika Serikat sendiri pada bangsa-bangsa Asia. Mereka mengajarkan cara menyaingi korporasi dunia Amerika, bahkan cara menaklukkannya.

Mereka mengajarkan pentingnya inovasi dan memiliki paten teknologi.Dan bagi negara seperti Indonesia, penting agar menciptakan sophisticated corporate yang mampu menggantikan peran negara dalam penciptaan kesejahteraan. Ini berarti penting bagi kita melakukan transformasi dari factor-based economy (ekonomi berbaikan SDA) menjadi innovation-based economy. Dan dalam transformasi itu, intrik, saling menuntut dan menuduh dalam business law adalah hal yang biasa. Kata Ross Perot semua itu ada aturannya, kecuali bila Anda memasuki ranah politik. Jadi adu pintar saja. Mari kita pantau terus perang ginseng ini.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia


Thursday, August 30, 2012

MEMBANGUN SPIRIT KEBERHASILAN


Di sekolah kehidupan kita menyaksikan bahwa setiap manusia di dorong oleh suatu keinginan untuk maju, untuk bertumbuh, untuk berkembang, untuk meraih apa yang dipahaminya sebagai kesempurnaan atau kesuksesan hidup. Dorongan untuk mencapai kesempurnaan atau kesuksesan hidup itu saya sebut sebagai spirit keberhasilan [the spirit of success], karena hemat saya dorongan tersebut bersifat spiritual. Dan spirit keberhasilan itu ada dalam diri setiap anak manusia sebagai pertanda bahwa ia adalah mahluk spiritual, disamping tentu saja mahluk bio-sosio-psikologis.

Spirit keberhasilan ini sangat jelas terlihat dalam diri anak-anak batita-balita. Hampir tanpa pengecualian, anak-anak batita-balita bicara tentang keinginannya, tentang cita-citanya, tentang masa depannya. Dan hampir tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi orangtuanya, anak-anak itu berbicara tentang hal-hal yang "besar". Ada yang ingin jadi pilot, ada yang ingin jadi CEO Terbaik, ada yang ingin jadi penyanyi terkenal, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi pengusaha kaya, ada yang ingin jadi insinyur, ada yang ingin jadi menteri, bahkan jadi presiden, dan sebagainya. Mereka ingin punya pakaian bagus, mainan yang banyak, rumah yang besar seperti istana, mobil yang serba bisa, bahkan pesawat udara, dan seterusnya. Mereka ingin menikah dengan puteri cantik atau pangeran tampan dari negeri seberang. Mereka berjanji akan membelikan orangtuanya sejumlah hal yang belum pernah dimiliki orangtuanya. Pergi ke bulan atau memetik bintang-bintang adalah soal-soal yang mereka anggap akan mampu mereka lakukan kelak, suatu hari nanti. Singkatnya, spirit keberhasilan telah mengembangkan daya imajinasi anak-anak batita-balita sampai pada tingkat yang amat mempesona.

Masalahnya kemudian, spirit keberhasilan ini perlahan-lahan meredup dalam diri sebagian besar anak-anak yang beranjak remaja dan menjadi manusia dewasa. Mereka mulai menghadapi berbagai masalah dan kesulitan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lingkungan di mana anak-anak itu dibesarkan, seolah-olah mengajarkan mereka untuk sekadar menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, dan bukannya untuk berjuang mengaktualisasikan segenap potensi diri guna mengubah situasi yang ada agar menjadi lebih baik. Sedikitnya dukungan dari lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dan terutama orangtua dan pengajar di sekolah, telah membuat banyak anak-anak usia sekolah dasar belajar untuk merasa tak berdaya, tak yakin akan kemampuannya, dan tak boleh berpikir tentang sesuatu yang besar lagi. Perlahan tapi pasti, anak-anak yang merasa tak berdaya dan tak punya keyakinan diri itu mulai membuang jauh-jauh pikiran-pikiran besar dan cita-cita terbaiknya. Dan jika perasaan tak berdaya ini berkembang terus, maka pada gilirannya ia akan melahirkan orang-orang yang pesimis memandang masa depannya.

Untunglah tidak semua anak-anak kemudian kehilangan spirit keberhasilannya. Sebagian anak-anak, terutama yang terlatih dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di usia pra-remaja, tumbuh dan berkembang dengan cita-cita besar yang membara untuk mengubah situasi dan kondisi hidupnya. Mereka terus mencari cara untuk mencapai yang terbaik. Mereka—dan orang-orang yang mendampingi mereka—percaya bahwa keberhasilan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja keras terus menerus sampai mereka mencapainya. Mereka meninjau kemajuannya pada setiap langkah, dan merayakan keberhasilan pada tahap-tahap tertentu. Untuk tujuan-tujuan yang belum tercapai, mereka menarik pelajaran dari seluruh proses yang telah dilalui, dan mencari cara lain untuk kembali memulai usaha ke arah itu. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka, dan keyakinan itu melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang lebih besar, gagasan-gagasan yang membuat mereka bergairah dalam setiap langkah mereka. Mereka selalu melihat adanya harapan, dan karena itu mereka berkembang menjadi orang-orang yang optimis dalam menyongsong masa depan.

Jika setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini memiliki spirit keberhasilan di dalam dirinya, lalu bagaimana kita menjelaskan kenyataan di atas? Mengapa sejumlah masalah, kesulitan, dan tantangan hidup membuat anak-anak tertentu bertumbuh menjadi orang-orang yang pesimis, sementara anak-anak yang lainnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang optimis dalam memandang masa depan mereka? Mengapa, ketika diperhadapkan pada masalah yang sama, kesulitan yang sama, tantangan yang sama, sejumlah orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda? Manakah yang membuat seseorang itu bisa menjadi pesimis atau optimis, tingkat kesulitan yang dihadapinya ATAU cara ia merespons kesulitan-kesulitan tersebut?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Carol Dweck, peneliti dari University of Illinois menunjukkan bahwa anak-anak yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat tetap [berkata pada dirinya "Saya bodoh"] belajar lebih sedikit dibanding dengan anak-anak yang menganggap penyebab-penyebab kesulitan sebagai hal yang sifatnya sementara ["Saya tidak mencoba dengan sungguh-sungguh"]. Anak-anak yang merasa tidak berdaya memusatkan perhatian pada penyebab kegagalan—umumnya diri mereka sendiri—, sedangkan anak-anak yang berorientasi pada penguasaan materi memusatkan perhatiannya pada cara-cara untuk memperbaiki kegagalan. Anak-anak yang merasa tak berdaya, menghubungkan kegagalannya dengan kurangnya kemampuan [bersifat tetap], sementara rekan-rekan mereka mengaitkan kegagalannya dengan kurangnya usaha untuk itu [bersifat sementara].

Sejalan dengan penelitian Dweck, Martin Seligman dari University of Pennsylvania dan sejumlah peneliti lain di bidang psikologi kognitif dan pengembangan emosional, menegaskan bahwa yang menentukan pesimis atau optimisnya seseorang adalah pola respons-nya terhadap suatu keadaan yang dianggap sebagai kesulitan/masalah. Pola respons menunjukkan pada perilaku yang sudah menjadi kebiasaan sebagai hasil pembelajaran dalam waktu tertentu. Mereka yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat permanen ["Ini tidak akan pernah berubah"], meluas ["Ini akan menghancurkan segala-galanya"], dan pribadi ["Ini semua kesalahan saya"], menunjukkan pola respons yang pesimis. Mereka yang merespons kesulitan/masalah sebagai sesuatu yang bersifat sementara ["Ini akan berlalu/bisa diatasi"], terbatas ["Ini hanya dalam soal yang satu ini saja"], dan eksternal ["Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini"], menunjukkan respons yang optimis.


Lebih jauh, studi Seligman dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pola respons pesimis hampir selalu dikalahkan oleh mereka yang memiliki pola respons optimis. Agen asuransi yang optimis menjual lebih banyak polis dibanding agen-agen yang pesimis, sekalipun mereka sebenarnya memiliki potensi-potensi yang relatif setara bagusnya. Agen properti yang optimis menjual 250-320 persen lebih banyak dari agen properti yang pesimis. Studi-studi lanjutan menunjukan konsistensi hal tersebut. Pelajar yang optimis mengungguli pelajar yang pesimis. Manajer yang optimis mengungguli manajer yang pesimis. Para kadet di West Point yang optimis mengungguli kadet-kadet yang pesimis. Tim-tim olahraga yang optimis menggungguli tim-tim olahraga yang pesimis. Rakyat cenderung memilih pemimpin yang menunjukkan optimisme ketimbang pesimisme. Bahkan terbukti pula bahwa mereka yang merespons kesulitan secara optimis memiliki usia hidup lebih panjang daripada mereka yang merespons secara pesimis.

Apa yang paling menarik dari studi-studi Seligman dan kawan-kawannya adalah bahwa rasa tak berdaya adalah hasil pembelajaran. Sebaliknya rasa percaya diri, percaya pada kemampuan untuk mengubah atau mengendalikan suatu keadaan, juga merupakan hasil pembelajaran. Cara seseorang menjelaskan suatu peristiwa kepada dirinya [self talk], atau cara seseorang merespons suatu peristiwa yang menimpa dirinya, entah itu respons yang pesimis atau pun respons yang optimis, adalah hasil pembelajaran pula. Artinya, karena semua itu merupakan pola respons yang dibiasakan lewat proses pembelajaran, maka ia bisa dihentikan dan diubah. Mereka yang sering merasa tak berdaya bisa mulai belajar untuk merasa berkemampuan. Mereka yang selama ini terbiasa memberikan respons yang pesimis, bisa mulai belajar untuk memberikan respons yang optimis. Sebab apa saja yang diperoleh dari hasil pembelajaran bisa dihentikan dan diubah [unlearning], jika ia tidak mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, rasa tak berdaya dan respons pesimis bukanlah faktor nasib, bukan faktor yang kita warisi secara genetika dari orangtua dan nenek moyang, bukan faktor permanen seperti sifat dasar [traits] yang tak bisa diubah. Demikian juga rasa berkemampuan, percaya diri, dan respons optimis bukanlah faktor keberuntungan, melainkan hasil pembiasaan yang bisa mulai kita pelajari tahap demi tahap. Dan belajar untuk percaya pada kemampuan diri, belajar untuk memberikan respons yang optimis terhadap kesulitan-kesulitan dalam hidup, adalah pelajaran yang penting dan semakin penting dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini. Bukan saja karena kehidupan masyarakat dewasa ini memperhadapkan kita pada kesulitan-kesulitan yang makin berat dan kompleks, tetapi terlebih lagi karena hanya dengan rasa berdaya dan optimis kita bisa tetap menumbuhkan spirit keberhasilan dalam diri kita masing-masing. Rasa tak berdaya dan pola respons yang pesimis akan menganiaya spirit keberhasilan yang merupakan karunia ilahi dalam diri setiap kita. Dan jika spirit keberhasilan ini terus teraniaya, maka kita akan menjalani hidup yang jauh dari potensi diri kita yang sesungguhnya. Hal yang terakhir ini harus mati-matian kita hindari, bukan?

Tulisan menarik dari : Andrias Harefa


Saturday, August 4, 2012

Tips Menjadi CEO Terbaik : Tugas CEO Memimpin Orang, Bukan Bisnis



Peran Chief Executive Officer (CEO) di sebuah perusahaan sangat vital. Sebagai punggawa tertinggi, CEO berpengaruh besar dalam menggerakan roda bisnis. Namun, tidak sedikit dari CEO di Indonesia yang salah menjalankan posisinya sebagai pemimpin. Robby Djohan, mantan CEO Bank Mandiri, Bank Niaga, dan Garuda Indonesia, berpendapat, tugas CEO seharusnya mengelola manusia, bukan bisnis. Berikut nukilan wawancara reporter SWA, Ario Fajar, dengan mantan bankir top itu di kantornya, Graha CIMB Niaga.

Anda dikenal sebagai pemimpin yang piawai membawa perubahan dan kemajuan perusahaan. Apa strategi yang diterapkan?
Saya tidak mempunyai strategi khusus. Mungkin saya berbeda dengan pemimpin kebanyakan. Hal yang saya lakukan selama saya menjadi pemimpin adalah memimpin orang, bukan memimpin bisnis.
Apa maksud dari pernyataan tersebut?
Selama ini saya menilai, CEO yang ada sekarang hanya fokus pada bisnis, bukan people. Banyak pemimpin yang salah mentafsirkan jabatan dan perannya. Pemimpin yang benar itu 20% mengurusi bisnis, sisanya 80% mengurusi orang. Inilah yang saya lakukan di beberapa perusahaan ketika menjabat sebagai CEO.
Jadi, apa yang harus dilakukan seorang CEO?
CEO harus lebih banyak mencari talent-talent baru dan memberikan kesempatan ketimbang mengurusi bisnis. Urusan bisnis itu bisa dijalankan oleh manajer-manajer. Jika dia turun tangan juga, dia tidak ubahnya dengan seorang manajer. Pemimpin adalah orang mempunyai visi dan misi, dia mencari orang-orang yang tahu dan berkemampuan untuk mengejar visi dan misi itu. Kebanyakan CEO sekarang lebih sibuk menjalankan bisnis, mengejar profit, tapi tidak memberikan kesempatan kepada talent-talent yang bagus untuk berkembang. Ada beberapa CEO yang menjabat sebagai pemimpin bank sekarang adalah orang-orang yang pernah saya beri kesempatan. Dan hasilnya, Anda bisa lihat sendiri.
Apakah Indonesia kekurangan CEO yang Anda maksud?
Kita sangat minim kaderisasi. Indonesia kekurangan CEO-CEO hebat disegala jenis industri. Akhirnya, muncullah aksi bajak-membajak profesional.
Bagaimana seharusnya peran dari organisasi?
Banyak perusahaan menempatkan CEO hanya sebagai businessman, bukan professonal. Hasilnya, perusahaan tidak cukup banyak melahirkan pemimpin yang mahir mencetak pemimpin baru untuk mengelola organisasinya. Bisnis yang sehat bersumber dari kinerja organisasi yang baik. Kinerja organisasi yang baik itu pastinya digerakan oleh orang-orang yang berkualitas. Untuk itu, perlu ada talent management program yang berkesinambungan.
Apakah itu yang Anda lakukan saat menjabat CEO?
Ketika saya menjabat sebagai CEO di beberapa perusahaan, saya sendiri yang mencari orang-orang terbaik. Bahkan tidak ada direktur personalia.
Berarti harus ada intuisi untuk mencari calon pemimpin?
Ya. Prosesnya cukup sederhana. Tidak perlu fit and proper test atau sejenisnya. Hubungan interpersonal, komunikasi, serta track record sudah menjadi pertimbangan saya untuk memberikan kesempatan.
Dari sekian banyak CEO yang menjabat, siapa CEO yang sejalan dengan pemikiran Anda atau menjalankan hal-hal yang pernah Anda jalankan?
Agus Martowardojo, mantan Dirut PT Bank Mandiri Tbk adalah pemimpin yang sangat ideal. Di zamannya, dia mampu menggerakan orang-orang muda untuk memajukan perusahaan. (EVA)
Sumber : www.swa.co.id

Thursday, July 19, 2012

6 Filosofi dalam hidup dan kerja CEO Yahoo Baru : Marissa Mayer



Yahoo! resmi menunjuk mantan petinggi Google Marissa Mayer sebagai CEO barunya. Perempuan berusia 37 tahun ini memang punya segudang prestasi, di antaranya memprakarsai user interface Google Search yang
sederhana dan bersih. 

Dia bahkan menjadi salah satu orang kepercayaan di Google. Salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia teknologi ini membagikan filosofinya dalam hidup dan kerja yang membuat dirinya sekarang berada di puncak. Inilah enam di antaranya:

1. Atasi Keraguan
"Saya selalu melakukan sesuatu yang sedikit saya ragukan bisa menyelesaikannya. Saya pikir itulah caranya kita bisa berkembang. Ketika muncul momen di mana kita berkata, "Wow, aku tidak begitu yakin bisa mengerjakannya," dan kita tetap menjalaninya dengan maksimal, itulah saatnya kita mendapat  sebuah terobosan. Terkadang itu pertanda sesuatu yang sangat baik akan segera terjadi. Kita akan berkembang dan belajar banyak hal tentang diri kita."

2. Jaga hal yang terpenting
"Saya punya teori bahwa kelelahan itu sebenarnya tentang amarah. Dan kita mengalahkannya dengan mengetahui apa yang kita korbankan sehingga membuat kita marah/kesal. Saran saya: Temukan ritme Anda. 
Ritme Anda adalah apa yang begitu penting bagi Anda dan ketika Anda kehilangan itu, Anda akan mulai 
tidak menyukai pekerjaan Anda.


Karena itu, temukan ritme Anda, pahami apa yang membuat kita marah, dan jagalah ritme itu. Kita tidak bisa memiliki segala hal yang kita inginkan, tapi kita bisa punya hal-hal yang sangat penting bagi  kita. Cara berpikir ini memampukan kita untuk bekerja ekstra keras selama jangka waktu yang sangat 
panjang."

3. Bekerja dengan Orang Cerdas

"Sangat menyenangkan bisa bekerja dalam sebuah lingkungan yang sebagian besarnya adalah orang cerdas.
Menurut saya, mereka ini akan menantang kita untuk berpikir dan bekerja pada level yang berbeda."

4. Miliki perspektif luar

"Saya selalu suka membuat kue. Koki terbaik adalah para ahli kimia. Saya perempuan pebisnis tapi hobi 
saya sebenarnya yang membuat saya lebih baik di tempat kerja. Hobi inilah yang membantu saya menemukan cara-cara baru dan inovatif dalam melihat sesuatu hal."

5. Bekerja dengan mengutamakan konsumen

"Saya selalu mengutamakan user ketika di benak saya tebersit sebuah ide. Saya suka memikirkan ibu  saya dan bertanya-tanya apakah dia bisa mengerti ide itu dengan cepat."

6. Manfaatkan kendala untuk meningkatkan kreativitas

"Orang menganggap kreativitas itu sebagai hal yang tak terkendali, tapi para insiyur justru berkembang karena terbentur kendala-kendala. Mereka suka sekali mencari jalan keluar dari 'kotak  kecil itu': Mungkin Anda bilang itu mustahil, tapi kami akan melakukan ini, ini, dan itu hingga  akhirnya kami menemukan solusinya."


sumber :http://m.andriewongso.com

Monday, June 11, 2012

Strategi CEO Baru Bakrie Group Menjadi Global Company

Artikel ini saya tulis untuk mengikuti lomba blog dalam rangka memperingati HUT Grup Bakrie ke 70 , dengan tema  “Seandainya Saya Jadi CEO Grup Bakrie” yang diprakasai oleh salah satu penerus Bakrie Group yaitu Bapak Anindya  Bakrie.



Sekilas  Bakrie Group

Bakrie Group adalah sebuah konglomerasi asli Indonesia yang punya sejarah panjang selama 70 tahun berkiprah dalam percaturan bisnis Indonesia. Bisa berumur 70 tahun bagi sebuah korporasi di Indoensia merupakan sebuah bukti nyata bahwa perusahaan bisa survive dan terus tumbuh berkembang.

Dimulai dari usaha jasa perdagangan komoditas yang didirikan oleh almarhum Achmad Bakrie pada tahun 1942, kemudian diteruskan oleh generasi kedua yang dikomandani oleh Aburizal Bakrie atau yang sering kita kenal sebagai Ical, dalam fase inilah perusahaan ditransformasi dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan modern lewat aksi perseroan dengan mencatatkan sahammnya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) pada tahun 1989  dan pada tahun 2008 Bakrie Group menfokuskan diri menjadi perusahaan investasi.

Sebagai perusahaan investasi, saat ini Bakrie Group mengelola dan memiliki portofolio di tujuh sektor bisnis strategis yaitu infrastruktur, logam, agribisnis, telekomunikasi, batubara, oil & gas, serta sektor properti. Dari tujuh sektor bisnis tersebut Bakrie Group  memiliki ratusan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung lewat anak usaha dan mencatatkan sebanyak 11 emiten di Bursa Efek Indonesia dan 1 emiten di Bursa efek London.

Sebuah tantangan dan peluang yang luar biasa besar jika seandainya saya menjadi CEO Group Bakrie, tidak mudah dan tidak kecil energi yang saya butuhkan untuk mengelola Bakrie Group tersebut. Tetapi disitulah menarik dan seksinya posisi CEO Bakrie Group, dengan menempati posisi tersebut jiwa dan kemampuan leadership dan entrepreneurship kita diuji dan dibuktikn. Sebab seorang pemimpin sejati harus berani menerima tantangan dan mengambil peluang walau penuh resiko sekalipun. Ibaratnya sebagai nahkoda dikapal besar CEO Bakrie Group harus mampu menyeberangi bukan hanya sungai bengawan solo yang tenang, tetapi harus juga mampu menyeberangi samudera yang penuh dengan angin kencang, ombak besar dan cuaca yang tidak menentu. 

Memasuki umur yang ke 70 tahun sudah saatnya Bakrie Group bukan saja eksis di level Indonesia tetapi harus menjadi perusahaan kelas dunia (Global Company) yang disegani dunia serta menjadi kebanggaan bangsa Indoensia.  Untuk itu diperlukan upaya yang sistematis dan strategis dalam mencapi posisi tersebut, sebagai CEO Bakrie Group saya menggunakan analisa S-W-O-T untuk bisa mendefinisikan strategi-strategi yang akan saya jalankan tersebut.

Ada tiga tahapan atau step dalam metode analisa SWOT yang saya lakukan pertama, menelaah isu-isu startegis Bakrie Group, kedua, Analisa strategi SWOT, ketiga, Implementasi dan monitoring.

Step #1 : Isu-isu Strategis Bakrie Group

Dalam beberapa tahun belakangan ini banyak berita baik negatif dan positif yang menyertai perjalanan usaha milik keluarga Bakrie tersebut, berita negatif yang bisa berpengaruh terhadap kepercayaan baik investor dan stakeholder tersebut, seperti kasus Lumpur lapindo, Bakrie Life, kasus pajak di perusahaan batubara bakrie group. Namun disisi isu negatife tersebut ada banyak berita positif seperti dari perusahaan Bakrie Telecom (BTEL) yang dikenal sebagai operator yang terjangkau oleh masayarkat bawah,  juga atas inisiatifnya menerapkan Green ICT.

Ada juga berita positif yang paling terbaru adalah keberhasilan yang patut diapresiasi kepada manajemen Bakrie Group yaitu berhasil melakukan proses kuasi reorganisasi buat Bakrie & Brothers (BNBR) serta ditambah dengan masuknya BUMI Resources dalam Forbes Global 2000 dimana Forbes menilai perusahaan dari sisi penjualan, laba, aset dan nilai pasar, bukan hanya itu saja Bakrie Group juga berhasil melakukan kerjasama dengan pemerintah Nigeria untuk investasi di negara tersebut. Melalui berbagai prestasi yang didapat perusahaan tersebut, akan semakin mudah dalam melakukan aksi–aksi strategis kedepan serta meningkatkan nilai kepercayaan terhadap shareholder dan stakeholder.

Step #2 : Analisa SWOT dan Strategi Bakrie Group

Analisa SWOT merupakan akronim dari Strenghts (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (kesempatan) dan Threats (ancaman). Berikut ini adalah penjelasan lebih detail mengenai kondisi situasi internal dan eksternal dari Bakrie Group dengan memakai analisa SWOT :

# Strenghts (kekuatan) : Nama Bakrie bukan saja dikenal dalam ranah politik, tetapi juga dikenal luas oleh para sumber pendanaan atau investor  baik yang bersifat personal maupun institusional ditingkat nasional dan internasional. Inilah sebuah kekuatan untuk memudahkan Bakrie Group dalam mengakses kebutuhan pendanaan disetiap  investasi yang telah dan akan dijalankan.

Jangka waktu usia 70 tahun bagi sebuah perusahaan sudah pasti memiliki budaya, sistem manajemen unggul, tim yang solid dan teruji. Dengan pengalaman panjang tersebut Bakrie Group memilih untuk fokus memiliki dan mengelola portofolio bisnis di tujuh sektor bidang usaha startegis.

Sebagai CEO Bakrie Group strategi yang saya gunakan untuk memaksimalkan kekuatan tersebut adalah
1.  Melakukan investasi yang memberikan bagi hasil maksimal, optimal dan berkelanjutan bagi perusahaan.
2.   Mendapatkan dana dari investor potensial seperti China, India, Timur Tengah, Afrika dengan mendirikan joint venture dan memanfaatkan situasi krisis di eropa untuk mengalihkan dana ke portofolio inti bisnis Bakrie group
3.    Memperluas akses sumber dana investasi dengan memperbanyak melisting emiten di beberapa pasar potensial seperti Hongkong, China, dan USA
4.   Menerapkan Good Corporate Government (GCG) dan LEAN Management untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas dan profitabilitas
5.  Membentuk Dream Tim, disertai proses kaderisasi berkelanjutan disetiap portofolio bisnis yang dimiliki dan dikelola
6.   Menambah kepemilikan saham diperusahaan yang berprospek jangka panjang, disertai pelepasan kepemilikan saham di perusahaan yang kurang prospek dan merugi. 

# Weaknesses (kelemahan) : Berita berita negatif yang selama ini dialamatkan ke Bakrie group mempunyai dampak kepada stakeholder dan shareholder, yang jika ditelaah lebih lanjut belum tentu kebenaran dari isu isu tersebut. Masuknya Aburizal Bakrie diranah politik bagai pedang bermata dua, disatu sisi bisa jadi kekuatan disatu sisi sebagai kekurangan.

Semakin banyaknya portofolio bisnis yang terdiversifikasi membuat sistem pengelolaan yang kompleks, bisa membuat Bakrie group tidak fokus, tidak seksi, lambat mengeksekusi peluang karena terperangkap dalam birokratisasi korporasi.

Oleh sebab itu sebagai CEO Bakrie Group strategi saya untuk memperbaiki kekurangan tersebut adalah : 
  1.  Menyelesaikan secara hukum atas kasus lapindo dan tetep berkomitmen membayar ganti rugi tepat waktu serta memperbaiki kerusakan fasilitas umum yang diakibatkan oleh Lapindo brantas. 
  2.  Mendorong sikap profesionalitas manejemen dengan menjauhkan dan membedakan aktifitas politis dengan aktifitas bisnis Bakrie group. 
  3. Menerapkan Lean Management Startegy untuk mengurangi kompleksitas dan resiko operasional 
  4. Menciptakan dan meningkatkan brand image, kualitas produk yang menjadi identitas brand produk andalan nomor satu dipasar nasional dan global.

# Opportunities (kesempatan) : Manejemen Bakrie Group saat ini telah sangat jeli dengan memasuki dan fokus kepada tujuh sector usaha yaitu infrastruktur, logam, agribisnis, telekomunikasi, batubara, oil & gas,  dan sektor properti. Sebagai Negara yang terus tumbuh secara ekonomi dan jumlah populasi, ketujuh pilihan sektor tersebut sangat sesuai dan cocok untuk iklim investasi Indonesia baik saat ini maupun masa depan.

Menurut analisa dan studi Standard Chartered, pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang saat ini disebut sebagai negara-negara berkembang termasuk Indonesia, akan jauh lebih sigfinikan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara barat (maju).  Kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 akan berada di negara-negara yang saat ini disebut sebagai negara berkembang.

Dilihat dari trend dan prediksi Standard Chartered bahwa GDP indonesia akan menempati posisi kesepuluh pada tahun 2020 dengan nilai 3.2 triliun USD dan nomor lima pada tahun 2030 dengan 9.3 triliun USD. Sungguh sebuah peluang yang luar biasa besar bagi Bakrie Group untuk mampu bersaing dan menjadi generator (pengerak) bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Paling tidak empat sektor bisnis Bakrie Group yang paling prospek, yang bisa turut serta andil menjadi generator pertumbuhan tersebut yaitu sektor energi, telekomunikasi, agribisnis dan infrastruktur. Sebagai ilustarsi dari segi energi, pada masa depan kebutuhannya akan semakin meningkat dikarenakan pertumbuhan ekonomi baik kebutuhan domestik maupun industri, belum lagi penetrasi sektor telekomunikasi Indoensia seperti internet dan mobile masih rendah, ditambah infrastruktur jalan, industri dan perumahan yang masih jauh dari ukuran ideal saat ini. Semua itu adalah peluang yang bisa digarap oleh Bakrie Group.

Adapun langkah dan startegi yang dilakukan sebagai CEO Bakrie Group adalah :
1.    Melakukan investasi untuk menghasilkan inovasi produk energi yang ramah lingkungan, seperti Geo Coal dari  Bumi Resources group, membuat Biofuel dari kelompok Bakrie Sumatera Plantation, serta masuk ke bisnis panas bumi, dan energi terbarukan lainnya.
2.      Membuat digital infrastruktur lewat sinergi antara kelompok usaha infrastruktur dan telekomunikasi.
3.  Mendorong sinergi portofolio bisnis Bakrie Group, untuk aktif dan terlibat dalam  percepatan pembangunan di program MP3EI.

#Threats (ancaman): Untuk melakukan investasi di banyak sektor strategis diperlukan dana yang besar, sedangkan resiko dalam investasi tetep ada, sebagaimana dengan filosofi investasi semakin tinggi return, maka semakin tinggi pula resiko,  sehingga ancaman terhadap kegagalan investasi bagi Bakrie group besar. Belum lagi resiko operasional dari perusahaan yang diakibatkan oleh banyaknya usaha yang dimiliki dan dikelola.

Terdapat juga resiko kerusakan dan pencemaran lingkungan seperti lapindo brantas, pengundulan hutan akibat pertambangan dan perkebunan sawit, disamping itu resiko dari perubahan peraturan pemerintah terkait aktifitas usaha yang dimiliki Bakrie Group seperti pajak, aturan ekspor, izin eksplorasi, aturan pasar modal dan lain lain. 

Mengatasi hal tersebut diperlukan solusi cerdas dan penyelesaian tanpa bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku baik di Indonesia maupun di negara tujun investasi Bakrie Group, adapun solusi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :  
  1.  Menerapkan prinsip Good Corporate Government (GCG) secara ketat dan disiplin disetiap usaha yang dimiliki dan dikelol.
  2.  Menerapkan sistem pelaporan keuangan yang dipakai secara global dan memakai auditor pajak, keuangan yang terpercaya dimata investor dan pembuat aturan. 
  3. Merumuskan dan menerapkan sistem manejemen resiko secara transparan dan bertanggung jawab. 
  4. Fokus berinvesatsi di portofolio inti serta mengurangi investasi yang tidak sesuai dengan misi dan visi jangka panjang perusahaan. 
  5. Menerapkan best practice management sebagai contoh di sektor pertambangan menerapkan best practice mining.
  6. Menghasilkan produk yang ramah lingkungan atau green product.
  7. Membentuk social enterprise di tujuh sektor bisnis yang dimiliki untuk fokus melakukan inovasi-inovasi sosial seperti membantu UMKM, pendidikan,serta kesehatan.
 Step # 3 : Implementasi dan Monitoring Strategi

Setelah melakuakan analisa SWOT diatas, saya menyimpulkan dan meringkas strategi seandainya menjadi CEO Bakrie Group dengan mengimplementasikan STRATEGI 4G yaitu Global, Growth, Generator, dan Green.

Berikut adalah penjelasan singkatnya :


Global: Orang (People), Proses (Business Process), dan produk (Product) harus berstandar  global
Growth: Investasi yang dikelola harus selalu tumbuh dari sisi asset dan profitablitas
Generator: Portofolio bisnis yang tersebar ditujuh sektor dioptimalkan sebagai pengerak (generator) pembangunan ekonomi nasional, dengan sinergi antar perusahaan. 
GreenSetiap insan di Bakrie Group harus respek terhadap lingkungan, sehingga  proses dan produk yang dihasilkan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
 

Strategi 4G diperlukan dalam rangka membawa Bakrie Group menjadi Global Company  Yang menjadi kebanggan Indonesia, sesuai dengan Tri Marta Bakrie yaitu Keindonesiaan – Kemanfaatan - Kebersamaan  

Untuk mencapai tujuan dan target perusahaan Bakrie Group menjadi Global Company, diperlukan dispilin dalam monitor serta evaluasi secara terus menerus dengan melibatkan semua insan Bakrie dan para mitra.

Bagaimana dengan ide dan pendapat anda  jika menjadi CEO Bakrie Group ?

Semoga bermanfaat,
Jiaxing, Zhejiang - China, 2012
Salam,

Aan Hunaifi

Thursday, June 7, 2012

11 Aturan Hidup Bill Gates


Bill gates dengan Steve Jobs

www.aanhunaificeo.com : Bill Gates (pendiri Microsoft yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia) pernah memberikan 11 aturan hidup dalam pidatonya di hadapan siswa-siswa sebuah sekolah menengah atas. Mungkin di antara kita sudah  ada yang pernah membacanya di tempat lain, tapi bagi mereka yang belum membacanya silakan menyimak kesebelas aturan berharga tersebut di sini :

Aturan 1: Hidup ini tidak adil - biasakan diri kalian dengan kenyataan ini!

Aturan 2: Dunia tak kan peduli harga diri kalian. Dunia hanya menginginkan kalian bisa menghasilkan suatu karya atau pencapaian SEBELUM kalian bisa merasa nyaman dengan diri kalian sendiri.

Aturan 3: Kalian TIDAK akan mendapat gaji besar begitu lulus sekolah. Kalian tidak akan bisa jadi seorang wakil presiden dengan fasilitas mobil sampai kalian benar-benar layak mendapatkannya.

Aturan 4: Jika kalian beranggapan guru kalian bersikap keras, tunggu  sampai kalian mendapat seorang bos.

Aturan 5: Jangan gengsi melakukan pekerjaan part-time. Kakek-nenek  kalian punya istilah yang berbeda untuk pekerjaan semacam ini - mereka menyebutnya peluang.

Aturan 6: Jika kalian berbuat salah, itu bukan kesalahan orangtuamu. Jadi jangan mengeluh karena kesalahan-kesalahanmu, melainkan ambil pelajaran dari kesalahan itu.

Aturan 7: Sebelum kalian lahir, orangtua kalian tidak bersikap membosankan seperti sekarang. Mereka seperti itu karena harus membayar tagihan-tagihan kalian, membersihkan pakaian kalian, dan  mendengarkan kalian bercerita betapa kerennya kalian. Jadi sebelum kalian menyingkirkan parasit-parasit dari generasi orangtua kalian, cobalah hilangkan dulu kutu-kutu di dalam diri kalian.

Aturan 8: Sekolah kalian bisa saja tidak memilih mana pemenang dan mana pihak yang kalah, tapi hidup TIDAK SEPERTI ITU. Di beberapa sekolah, nilai-nilai yang jelek bisa dihapus begitu saja. Mereka akan memberi  kalian BANYAK SEKALI kesempatan untuk memperbaiki kegagalan kalian. Hal ini TIDAK AKAN TERJADI di dalam kehidupan nyata.

Aturan 9: Hidup itu tidak terdiri dari semester-semester. Kalian tidak  akan mendapat waktu istirahat. Dan hanya ada segelintir pemberi kerja yang tertarik untuk membantu kalian dalam MENEMUKAN JATI DIRI KALIAN. Lakukan itu sendiri.

Aturan 10: Televisi BUKAN kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, orang-orang malah harus meninggalkan kedai kopi dan bekerja.

Aturan 11: Bersikap baiklah dengani orang-orang nerd (baca: orang yang  jarang bersosialiasi dan lebih banyak berkutat dengan buku-buku pelajaran). Mungkin saja, salah satu dari orang-orang ini  akan jadi atasan kalian.

sumber :andriewongso.com

Sunday, June 3, 2012

Belajar Lawan Kemiskinan dari Novel Sepatu Dahlan




SURABAYA - Sepatu di kaki  Dahlan Iskan adalah kisah nan panjang. Dia tidak sekadar sepasang alas kaki, tetapi juga cita-cita yang mengiringi tapak demi tapak perjalanan hidupnya. Termasuk mimpi dan kesulitan hidup di masa lalunya. Kisah itulah yang diurai oleh Khrisna Pabichara dalam novel karyanya berjudul Sepatu Dahlan yang di-launching di sela-sela acara Car Free Day (CFD) di ruas jalan Darmo Surabaya kemarin pagi  (20/5).
    
Novel setebal 369 halaman tersebut bercerita tentang impian seorang anak desa yang tegar menghadapi takdir dan kemiskinan dengan cara kerja keras serta ketekunan. "Ini merupakan novel yang terinspirasi dari sukses Dahlan Iskan. Seorang bocah ndeso yang hidup kekurangan namun kemudian berhasil membalik keadaan menjadi pengusaha dan menteri yang top," kata Khrisna.
    
Judul Sepatu Dahlan dipilih, ujar Khrisna, tidak lepas dari mimpi masa kecil Dahlan yang sangat ingin memiliki sepatu, tetapi tidak kesampaian. Sebab, apa daya, ketidakmampuan secara ekonomi dua orang tuanya membuat kakinya tidak mampu merasakan bersepatu hingga memasuki masa-masa akhir studi di SMA. 
    
Turut hadir dalam acara peluncuran novel kemarin sang tokoh utama, yaitu menteri BUMN kelahiran 17 Agustus 1951, Dahlan Iskan. Seolah mengiyakan cerita Khrisna, Dahlan mengatakan bahwa saking miskinnya, saat bersekolah dulu dirinya tidak pernah menggunakan sepatu. Tetapi nyeker alias telanjang kaki ke mana-mana. 

"Saya baru dapat sepatu pada pertengahan kelas tiga SMA. Itu pun sepatu bekas yang sudah bolong bagian depan dan belakangnya. Cuma saya sudah sangat senang dan bersyukur sekali saat itu," kata Dahlan.
    
Entah karena rasa sayang atau eman terhadap sepatu itu, tidak jarang ketika berangkat sekolah, Dahlan menenteng sepatu dan memilih untuk tetap nyeker. "Itu dilakukan biar sepatunya tidak cepat rusak," kata Dahlan yang kemarin hadir ditemani dua orang cucunya,  Ayrton Senninha Ananda dan Khalisha Salwa Dinata.
 
Dalam launching yang disiarkan live di JTV itu, Dahlan juga sempat mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengeluh terhadap keadaan. Terutama kemiskinan. "Kemiskinan bukan untuk dikeluhkan. Tetapi dilawan. Bagaimana caranya? Kerja keras sembari terus berdoa adalah jalan keluar terbaik," ujar Dahlan yang langsung disambut applause dari ratusan masyarakat yang berkumpul di sana.

Setelah novel Sepatu Dahlan yang sekarang sudah beredar di banyak toko buku, rencananya Khrisna dan penerbit Noura Books akan menjadikannya trilogi. Edisi kedua dan ketiga adalah Surat Dahlan dan Kursi Dahlan. 



"Ini fasenya berbeda. Kalau Surat Dahlan banyak akan menceritakan bagaimana Pak Dahlan membangun kerajaan media dan sukses dalam berbisnis. Sedangkan buku ketiga akan berbicara mengenai Pak Dahlan yang juga sukses memimpin PLN serta sekarang menjabat sebagai menteri BUMN," kata Khrisna.
    
Sesudah tampil live, Dahlan yang kemarin menggunakan baju lengan panjang kuning berlapis kaus pendek berwarna biru muda serta dipadu  dengan celana training dan sepatu kets melayani permintaan tanda tangan di atas buku dari ratusan orang yang secara langsung membeli buku tersebut. "Antre ya. Sabar. Semuanya insya Allah dapat," ujar Dahlan.
    
Kesempatan itu juga tidak disia-siakan oleh masyarakat untuk berfoto langsung dengan ayah dua anak tersebut. Bahkan, Rila Umila, salah seorang pesenam yang datang ke area Car Free Day, cukup beruntung. Sebab, permintaannya untuk mendapatkan kaus berwarna biru muda yang dikenakan oleh Dahlan terkabul. "Wah makasih banyak ya Pak Menteri," kata Rila.
    
Lantas, mau diapakan kaus tersebut? "Nanti ini ndak saya cuci. Mau saya pajang di ruang tamu,  Pak," ujarnya sambil tertawa.
    
Sebelum tampil live dalam acara launching novel Sepatu Dahlan, dengan semangat pria pemilik akun Twitter  @iskan_dahlan tersebut berbaur dengan masyarakat untuk mengikuti senam bersama yang dipimpin oleh instruktur dari Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya

sumber : www.jppn.com