Thursday, September 29, 2011

What is EntreLeadership


EntreLeaders understand that ultimately the only power they can use to grow a quality team is the power of persuasion.  Persuasion is pulling the rope and positional leadership is pushing the rope.  And we all know you can't push a rope.

"You cannot lead without passion".  Passion causes things to move, and passion creates a force multiplier.  Passion actually covers a multitude of sins.  Real EntreLeaders care deeply, and that is basically what passion is.  Passion is not yelling or being wild; it is simply caring deeply.  When you care deeply about the organization, lots of things start to happen naturally.
"Nothing happens unless first a dream." Carl Sandburg
EntreLeaders are always dreaming about what can be and what is yet to come.  We wake up in the morning and have two ideas over coffee, three more on our morning run and six more ideas when in the shower.   Dreaming is the lifeblood of people and organizations that are alive and thriving.

Being able to "see" is a skill that must be present or developed in an EntreLeader.  People with no vision simply have jobs; they exist but aren't going anywhere because they aren't aware there is anywhere to go.  In Proverbs the Bible says, "Where there is no vision the people perish."   With no vision in your organization, you perish; you can't make payroll, your team becomes just employees, morale goes down, turnover goes up, sales go down.

The corporate mission statement is further clarification and definition for your dreams and vision and assures you that your goals are aimed at the right target.  The "mission statement" is based on agree-to intangibles (vision, values, guiding principles and assumptions/beliefs) by the leaders of the organization:

1. Assumptions/beliefs:  A reality map formed through your collective reinforced experience.  This would be a manifesto of the mental models you use and believe in to create your work and personal lives.

2. Values/Aspirations:  An attitude or world-view depicted by one word or one single concept observed through one's behavior.  Values often influence people's choices about where to invest their energies.  Please recognize that values change over time.  Being "fair" means something different for a person at 44 than at 4 years old.

3. Vision:  A word picture of the future leading from now through near to far reality.  You energize people to support your purpose or life signature with an overarching description of what you see.

4. Guiding Principles:  A universal operating standard that guides decision-making both personally and organizationally.  Use guiding principles to align, create trust and walk the talk by putting everybody on the same playing field.  Energy isn’t wasted in the politics of the team, organization or community because there aren't different rules for everybody.



For Peter Drucker, leadership is about communicating with people, uniting them behind a shared mission and values, and mobilizing energies toward accomplishing the mission or purpose of an organization.  An effective leader leads followers with dignity, and inspires them toward achievement.  That means that leadership is a means to an end--the mission it serves is the end.

Goals convert vision/mission into energy.  When you lay out exactly what you want to do in detail, you immediately start feeling the room move and the earth shake.   Your business plan is comprised of a series of: goals (the main objective), sub-goals or tasks required to achieve the goal, key success factors (metrics) and standards (quality requirements).

A goal must have these characteristics:

1.  Have economic value.

2.  Require an action by someone (beside yourself)

3.  Specify an accomplishment date.

4.  Be realistic.

5.  Allow for impartial evaluation.


The way to create unity is through shared personal goals.  For example, if you know the salesperson next to you is saving to buy his first home two years from now, you are his biggest cheerleader when he makes a sale.  In short, this creates relationships.  Many business leaders have made a huge mistake in separating the tasks or sub-goals from the person and his or her life.

Source : http://www.coachingtip.com/2011/09

Wednesday, September 28, 2011

Pribadi -Pribadi Penuh Inspirasi dan Mengesankan...

Inilah pribadi - pribadi yang menjadi inspirasi saya :

1. Gede Prama

Mengapa motivator top Indonesia ini saya pilih sebagai pribadi yang  penuh inspirasi pada urutan pertama ?

Pada tahun 2003 setelah lulus dari SMU Muhammdiyah I Babat-Lamongan, saya berada di persimpangan jalan, Mau lanjut kuliah kondisi tidak mendukung, mau kerja masih belum punya pengalaman, 

Dengan kondisi inilah setiap hari merasakan kondisi yang kurang termotivasi, dalam fikiran selalu berkecamuk bahwa apakah akan seperti ini terus ? hidupku kedepan akan stagnan dan hidup di desa hehe. Ditambah lagi lihat teman-teman SMA dan  temen dari satu Desa bisa dengan mudah langsung kuliah. 

Dalam hati bilang betapa bahagianya dan senangya bisa langsung kuliah, pasti banyak hal baru ?, pasti banyak temen baru ? pasti dapat ilmu baru ?

Didalam hatiku juga selalu ucapkan aku harus bisa  kuliah, aku harus bisa kuliah apapun itu caranya ? Aq harus bisa diterima di Universitas Negeri ? maklum selama ini pendidikan formal saya dari mulai TK ABA sampai SMA diselesaikan  Muhammadiyah. Alhamdulillah tahun 2004 bisa kuliah di Jurusan Fisika Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya,

Sambil menyiapkan diri untuk ikut SPMB, lihat acara di program tv yang diasuh Gede Prama di Metro TV. Dari situlah  mulai tertarik dengan Inspirasi sekaligus Motivasi Gede Prama, akhirnya cari bukunya ke Gramedia TP Surabaya, ternyata  buku -buku karangan Gede Prama ada banyak seperti  : Jalan Jalan Penuh Keindahan, Inovasi atau Mati, Pencerahan dalam Perjalanan, Rumah Kehidupan Penuh Keberuntungan, Jejak Jejak Makna, dll.

Setelah baca buku karangan Gede Prama akhirnya ENERGI OPTIMIS  dan ENERGI POSITIF terus mengalir, hingga akhirnya bisa bisa bilang BAHWA SEMUA TELAH - SEDANG - dan AKAN BERJALAN SEMPURNA,

Ada juga link biografi Gede Prama : http://heryazwan.wordpress.com/2007/12/06/meninggalkan-keangkuhan/


2. Dahlan Iskan

 

















3. Tung Desem Waringin















 
4. Stephen R Covey 























5. Jusuf Kalla
























 6. T.P Rahmat











 



 












7. Prof. Yohanes surya





  
8. Hasnul Suhaimi













 


9. Irwan Syarkawi
















10. Tanri Abeng







Untuk sementara ini versi fotonya dulu, tunggu cerita selanjutnya mengenai alasan dan mengapa pribadi-pribadi unggul ini bisa memebrikan "sesuatu" pada saya.















10 Pelajaran Berharga dari Steve Jobs


'Steve Jobs sosok legendaris dibalik kesuksesan Apple meski sudah tidak lagi menjabat sebagai CEO, Steve Jobs masih bakal dipastikan berpengaruh kuat di Apple yakni sebagai Chairman of The Board Apple. Sebagai CEO terbaik dalam bisnis, banyak pelajaran yang dapat diambil dari riwayat dan sejarah hidupnya dalam mendirikan Apple. Berikut adalah beberapa prinsip-prinsip hidup Steve Jobs, strategi dan beberapa kutipan pidatonya yang sangat penting untuk dijadikan sebuah pelajaran.

1. Inovasi yang paling abadi adalah menggabungkan seni dan ilmu
    Steve selalu menunjukkan bahwa perbedaan besar Apple dan produk komputer lainnya adalah bahwa perusahaan selalu berusaha menggabungkan seni dan ilmu pengetahuan dalam mendesain dan membuat setiap produknya. Tim pembuat produk Apple bukan hanya berasal dari kalangan yang memiliki latar belakang teknologi ataupun komputer tetapi juga memiliki latar belakang dalam antropologi, seni, sejarah dan puisi. Tetapi adalah sesuatu hal yang sulit bagi para ilmuwan komputer atau insinyur untuk melihat pentingnya unsur seni, sehingga setiap perusahaan harus memiliki seorang pemimpin yang menyadari pentingnya hal ini.  

2. Untuk menciptakan masa depan, Anda tidak bisa melakukannya melalui fokus pada suatu kelompok/konsumen-
   Sebuah teori manajemen mengatakan bahwa: jika anda membuat sebuah produk konsumen dalam membangun produk dan layanan jasa anda harus mendengarkan pelanggan Anda. Steve Jobs adalah salah satu pengusaha pertama itu hanya akan buang buang waktu, para pelanggan saat ini tidak selalu tahu apa yang mereka inginkan, terutama jika sesuatu itu adalah hal yang belum pernah mereka dengar, lihat, dan sentuh sebelumnya. Ketika diketahui bahwa Apple akan keluar dengan bentuk tablet (iPad) banyak yang skeptis dan mengatakan hal itu adalah lelucon, bagaimana bisa sebuah komputer hanya berbentuk sebuah layar tablet. Tetapi seteleh iPad benar benar dirilis, produk ini menjadi produk Apple yang paling cepat berkembang dalam sejarah dan menjadi trendsetter bagi lainnya. Picasso dan seniman besar telah melakukannya selama berabad-abad dan Jobs adalah yang pertama dalam bisnis.

3. Jangan takut gagal -
   Pada sebuah pidatonya di Standford pada tahun 2005 (http://www.youtube.com/watch?v=Hd_ptbiPoXM) Jobs mengatakan: “Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun kematian adalah tujuan kita semua. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Ini adalah agen perubahan kehidupan. Ini membersihkan yang lama dan memberi kesempatan bagi yang baru. Sekarang yang baru adalah Anda, tapi suatu hari tidak terlalu lama dari sekarang, Anda secara bertahap akan menjadi tua dan dibersihkan. Maaf bila terlalu dramatis, tetapi sangat benar. Waktu anda terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup orang lain.
  
Jangan terperangkap dengan dogma – yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan suara pendapat orang lain menenggelamkan suara batin Anda sendiri. Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisi. Selama anda sudah tahu apa yang Anda benar-benar ingin menjadi. Sesuatu yang lain adalah menjadi sekunder.”
4. Anda tidak dapat menghubungkan titik-titik maju hanya mundur -
    Salah satu kutipan penting di pidato Stanford pada tahun 2005 “Sekali lagi, Anda tidak dapat menghubungkan titik-titik untuk harapan di masa depan, Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik anda bagaimanapun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya pada intuisi, takdir, hidup, karma, apapun. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, dan itu telah membuat semua perbedaan dalam kehidupan saya.” Maksud dari kutipan pidato ini adalah bahwa, sebanyak apapun kita merencanakan hidup kita ke depan, selalu ada sesuatu hal yang benar-benar tak terduga tentang kehidupan yang membuat rencana anda tidak berjalan dengan baik seperti yang Anda inginkan. Anda harus percaya bahwa apa yang Anda lakukan sekarang akan menjadi sebuah titik-titik yang terhubung di masa depan, apa yang anda lakukan di masa lalu juga sekarang akan menjadi bagian dari rencana.


5. Dengarkan suara di belakang kepala Anda yang memberi tahu Anda jika Anda berada di jalur yang benar atau tidak - Kebanyakan dari kita tidak mendengar suara di dalam kepala kita.
    Kita hanya memutuskan secara instan untuk menjadi dokter atau bekerja di bidang keuangan karena dorongan orang tua ataupun karena kita ingin menghasilkan banyak uang. Jobs adalah pria yang memiliki rencana besar, ketika ia ingin membangun sebuah komputer banyak dorongan dan pilihan dari luar ataupun dari dalam kepalanya sendiri yang menunjukkan bagaimana ia harus menjadi. Tetapi ketika Jobs pertama kali melihat GUI (Graphical User Interface), ia tahu ini adalah masa depan komputasi dan bahwa ia harus menciptakannya. Disinilah anda harus pintar mendengarkan dan memilih pilihan yang anda, mengarahkan kemana anda harus menjadi.

6. Berharap banyak dari diri sendiri dan orang lain -
    Kita telah mendengar cerita dari Steve Jobs bahwa ia adalah seorang yang perfeksionis. Dia menginginkan yang terbaik dari dirinya dan orang-orang yang bekerja untuknya, dan terus menarik seseorang dengan bakat yang menakjubkan di sekelilingnya, Kenapa? karena sebuah pepatah mengatakan: Jika anda seorang pemain “B” dan anda menyewa pemain “C” itu karena anda tidak ingin pemain bawahan anda terlihat lebih pintar, tetapi jika anda seorang pemain “A” dan anda menyewa pemain “A+” itu karena anda menginginkan hasil yang terbaik.

7. Jangan peduli menjadi benar atau salah, peduli untuk kesuksesan dan keberhasilan –
    Ia menjadi CEO Apple Inc. Ketika ia berusia 30 tahun, satu tahun setelah Apple mengeluarkan Macintosh, ia dipecat. Ya, dipecat. Jobs, CEO Apple Inc. itu bukan mengundurkan diri, melainkan dipecat. Awalnya mereka –Jobs dan Apple- merekrut seseorang yang mereka anggap berkompeten untuk ikut bersama mereka menjalankan perusahaan. Namun di tengah jalan ia dan Jobs berbeda visi dan tidak dapat lagi diselaraskan. Komisariat perusahaan setuju mengeluarkannya. Jadilah Jobs dipecat dari Apple. Semua tujuan dan harapannya serta merta hancur berantakan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa telah mengecewakan banyak orang dan hamper-hampir ia berpikir untuk meninggalkan kediamannya di Silicon Valley.
Namun perlahan semangatnya kembali. Sedikit demi sedikit “Apa yang terjadi di Apple sedikitpun tidak mengubah saya.” Jobs tetap menyukai pekerjaanya. “Saya ditolak tetapi saya tetap cinta. Maka saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.” Kejadian itu mengantarkannya pada sebuah masa. Periode paling kreatif dalam hidupnya.
    Lima tahun kemudian ia bangkit, ia mulai mendirinkan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar dan pada waktu yang sama ia jatuh cinta pada seorang wanita istimewa yang kini menjadi istrinya. Pixar kemudian menjadi perusahaan pembuat film animasi komputer pertama , Toy Story, dan kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Tak lama kemudian Apple membeli NeXT dan Jobs kembali ke Apple. NeXT kemudian menjadi teknologi paling berperan dalam kebangkitan Apple. Ia yakin bahwa kejadian menekjubkan yang ia alami tidak akan terjadi jika ia tidak dipecat dari Apple dan berhenti di tengah jalan. Sehingga jangan takut untuk melakukan perubahan besar.

8. Cari orang-orang paling berbakat untuk menjadi partner anda -
    Adalah kesalahpahaman sebuah mindset bahwa Steve Jobs adalah Apple. Setiap orang dalam perusahaan tersebut adalah orang-orang hebat, Phill Schiller, Jony Ive, Peter Oppenheimer, Tim Cook adalah orang-orang super berbakat di sekeliling Jobs. Menurut Jobs ia tidak dapat melakukan apapun tanpa bakat besar di sekelilingnya.

9. Stay hungry, stay foolish -
   Sekali lagi akhir dari pidato mengesankan Steve Jobs di Standford pada tahun 2005: “Ketika saya masih muda, ada sebuah publikasi yang luar biasa disebut The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu dari Alkitab generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Steward Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Ini adalah akhir 1960-an, sebelum era komputer dan destkop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Itu seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya idealis, dan penuh dengan alat-alat rapi dan ungkapan-ungkapan hebat. Steward dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan ketika mencapa titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an, dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari. Dibawahnya ada kata-kata ‘Stay Hungry. Stay Foolish’ itu adalah pesan perpisahan mereka. Dan saya selalu mengaharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk melakukan kehidupan baru saya harap anda ‘Stay Hungry, Stay Foolish’ jangan cepat puas.” 


 10. Apapun adalah mungkin dengan kerja keras, tekad, dan visi - Meskipun ia adalah CEO terbesar dan seorang ayah dari komputer modern, Steve Jobs adalah pria biasa. Dia adalah suami, ayah, teman seperti Anda dan saya. Kita bisa menjadi seperti dia jika kita belajar dari dirinya dan menerapkannya mulai dari sekarang dalam kehidupan kita.

Sangat inspiratif sekali : semoga bermanfaat

source : http://kabarit.com/2011/09/10

Friday, August 12, 2011

Profil CEO Terbaik Indonesia

Resensi Buku Creating Excellence – T.P. Rachmat

 Sekilas bila membaca tulisan di bagian atas covernya yang berwarna putih dengan gradasi emas, yakni: “Astra is the biggest part of my life“, rasanya sudah bisa dipastikan bahwa isi di dalamnya akan banyak bercerita tentang pengalaman hidup Bapak T.P. Rachmat selama berada di lingkungan Astra yang menurut pengakuan beliau merupakan bagian terbesar dalam hidupnya selama 31 tahun, dimana 18 tahun diantaranya beliau menjabat sebagai CEO. Maka layaknya bila beliau menyebut Astra is the biggest part of my life.
Sedangkan judul besar: Creating Excellence yang terpapar dalam buku ini disebut beliau sebagai ‘perjalanan tiada akhir’. Hal ini menggambarkan keinginan dan semangat beliau untuk terus menerus mengajak kita semua yang membaca buku ini agar tidak mudah berpuas dengan sesuatu yang sudah baik tapi menciptakan sesuatu yang sudah baik tersebut menjadi sesuatu yang lebih baik lagi yakni sesuatu yang “EXCELLENCE”. Yang menurut beliau semuanya bisa dibangun dari mindset kita, yakni bagaimana kita bisa merubah mindset kita tidak hanya berpikir memperbaiki sesuatu yang ‘masalah’ tetapi bahkan meningkatkan yang baik menjadi excellence. Selalu ada standarbaru setiap saat. Untuk itulah diperlukan komitmen. Ada pengorbanan yang harus dibayar. Ada passion untuk terus belajar, benchmarking, melakukan improvement terus-menerus dan mendidik orang lain, harus ada sisi pembelajaran dan pengkaderannya.


 
Mindset menurut beliau adalah sesuatu yang paling penting dalam hidup. Beliau menegaskan bahwa banyak orang menyesal di akhir hidupnya karena belum melakukan apa-apa. Itu karena mereka membatasi mindset-nya. Hal ini divisualisasikan oleh beliau dengan cerita tentang seekor anak elang yang dibesarkan oleh ayam. Dimana seumur hidupnya dia hidup sebagai ayam. Dia hanya terbang setingi ayam lainnya karena dia melihat dirinya sebagai ayam. Waktu dia hampir mati, melihat ada burung elang terbang tinggi di langit, dia mengeluh, “seandainya saya bisa terbang, saya terbang seperti dia…”.
Isi selanjutnya dalam buku ini adalah pengalaman, pandangan dan pesan Bpk. Teddy Rachmat, sosok yang pernah mendapat predikat sebagai CEO terbaik di Indonesia dan memperoleh berbagai macam penghargaan dari dalam dan luar negeri ini, berisi inspirasi dan pengenalan akan prinsip bisnis yang berguna dan bermakna. Tidak ada penyajian ‘teori akademis’ dan tidak juga dimaksudkan untuk menggurui. Yang akan ditemui adalah pemikiran atau wisdom yang menjadi pegangan Pak Teddy dalam berbisnis sampai dengan hari ini.
Namun menariknya adalah, walaupun tidak disajikan secara teori akademis, pandanganpandangan Bpk. Teddy mengenai bisnis bisa menjadi acuan teori bisnis di lingkup akademis.

Coba saja kita tengok saat beliau ditanya mengenai pengeloaan bisnis yang efektif, seperti yang dipaparkan di bawah ini dimana beliau menjawab bahwa untuk berhasil menjalankan sebuah bisnis, pada dasarnya kita harus menguasai 3 hal, yakni:
- How to buy
- How to make
- How to sell

Untuk itu, ada 4 aspek penting yang harus kita tentukan dan jalankan secara cermat, yaitu:
1. Business Model: kalau business model-nya tergantung orang lain, suatu ketika akan diambil. Kita harus selalu bergerak di daerah yang subur bukan di daerah yang kering. Apapun business model yang akan kita tempuh, sebaiknya core- competencenya kita miliki.
2. Process: seharusnya kita me” manage process”, bukan “ manage hasil”. Dan saya sangat percaya dengan berbagai perangkat process-management seperti TPS, Six Sigma, TQC, dsb.
3. People: meliputi: a) talenta; b) karakter; dan c) kemauan. Tiga kriteria itu adalah kunci, sementara faktor “pengalaman” tidak terlalu penting.
4. Kultur: dalam hal ini kultur yang bersih, transparan, meritokrasi, dan tidak melihat latar belakang.

Keempat hal inilah yang menurut pandangan beliau akan melahirkan suatu bisnis yang efektif dan excellence bila lebih, lebih, lebih dan lebih ditajamkan lagi, terlebih karena lingkupbisnis yang senantiasa berubah dan konsep manajemen pun datang silih berganti. Jangan pernah berhenti, dan teruslah bekerja semasa kita hidup. Dan terbukti Prinsip Bisnis tersebut telah mengantar Bpk. Teddy Rachmat meraih kesuksesannya.

Mengapa TP Rachmat berkerja terus? Selain karena beliau bermimpi tidak ada lagi orang miskin di Indonesia, beliau juga mengatakan bahwa ia digerakkan oleh filosofi, ” Get as much as possible, give as much possible.” Karena itu, setelah selesai dari Astra, beliau berkata, kini saya memulai episode kedua dari perjalanan bisnis saya. Sepertinya beliau tidak pernah lelah untuk melanjutkan perjalanan ‘ Creating excellence: a never ending journey’ bukan hanya berlaku buat Astra yang memasuki episode 50 tahun kedua karyanya, tetapi juga berlaku buat seorang TP Rachmat, mantan CEO Astra. Karenanya tidaklah berlebihan bila karena berbagai kontribusinya di peta bisnis Indonesia, serta aktifitas kemanusiaannya, Dr.Djisman Simanjuntak, pakar manajemen dan ekonomi dari Prasetya Mulya, mengatakan, ” Indonesia is blessed to have you.”

Asyiknya membaca buku ini adalah karena disajikan dengan gaya dialog atau wawancara yang kemudian diperkuat dengan tulisan kecil atau sisipan yang memberikan konteks terhadap pemikiran dan pandangan Pak Teddy. Bahan tulisan sisipan tersebut diolah dari kutipan berbagai artikel dan tulisan yang pernah dipublikasikan atau dari masukan beberapa narasumber yang sempat dihubungi. Akhir kata, semoga buku ini tidak hanya menjadi bacaan yang menarik untuk kita, khususnya yang merupakan bagian dari keluarga besar lingkup bisnis Bpk. Teddy Rachmat, tapi juga bisa bias menginspirasi, memotivasi dan menggerakkan kita untuk semakin lebih, lebih, lebih dan lebih baik lagi.




Jadilah insan yang EXCELLENCE !
By : Andreas IG

Saturday, July 9, 2011

ASEC, Lomba Sains Peduli Kaum Difabel,




ASEC 2011 Usung Tema Peduli Orang Cacat

Tangerang, Psikologi Zone – Lomba sains “ASIAN Science Enterprise Challenge” (ASEC) 2011 yang diselengarakan di Karawaci, Tangerang, selesai dilakukan. Acara ini diikuti oleh 116 Murid SMA/SMK dan Sekolah Berkebutuhan Khusus (SLB) di berbagai kota di Indonesia.


ASEC telah menjaring remaja usia 16-19 tahun dan menggandeng mereka sebagai ilmuwan untuk lebih dekat dengan dunia industri (technopreneurship).

Dalam acara ini, satu perserta bergabung dalam sebuah kelompok dimana di dalamnya tidak mempunyai kesamaan asal sekolah. Tujuan dari pengelompokkan ini, agar para peserta dapat bersosialisasi dengan anggota kelompok yang benar-benar baru.

Tantangan yang diberikan oleh , Prof. Chris Rogers, Director Centre for Engineering Education & Outreach TUFTS University, Amerika Serikat, yaitu membuat sebuah produk yang dapat membantu kaum difabel atau lanjut usia lebih mudah bermobilisasi.

Setelah itu, mereka diharuskan untuk melakukan presentasi produk dalam bentuk bahasa inggris kepada para juri selama 3 menit saja. Para juri terdiri dari , Ph.D dari Magister Manajemen CSR Universitas Trisakti, Prof. Yohanes Surya, PhD. dari Surya Institute, Janto Sulungbudi S.Si. dari Fisika –Universitas Parahyangan, Maria R. Nindita Radyati, dan A’an Hunaifi, S.si dari PT Kandel, dan Prof. Dr Evvy Kartini dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Masing-masing kelompok diharuskan mengeluarkan dana tidak lebih dari Rp 300.000,- untuk membuat prototype produk. Pemenang dalam kontes ini adalah kelompok Helping Hands Corporation dengan produk Happy Feet Creates Happiness.
Kriteria pemenang terdiri dari visi, semangat peserta, inovatif dan kreatif, nilai masyarakat, dan kebermanfaatan produk bagi kelompok minoritas.
Kempok Helping Hands Corporation yang terdiri dari Zul Fadhli dari SMA CTF Medan, Luthfi Mu’awan dari SMAN 1 Purwareja Klampok, Esti Marina dari SMA Taruna Nusantara, Nadhira Riezkya dari SMA Madania, Noor Yulian dari SMAN 2 Kudus, dan Hanna Tirsa Fonabata dari SMAN 3 Jayapura, akan mengikuti ke tahap selanjutnya di Global Enterprise Challenge (GEC) 2011.

Keenam anak tersebut akan berlomba dengan pemenang ASEC dari Negara Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan China pada tanggal 18 hingga 19 Juni, bertempat di Singapura. [okz]

source :  http://www.psikologizone.com/asec-lomba-sains-peduli-kaum-difabel/065111643
link others :
http://kampus.okezone.com/read/2011/05/30/65/462466/asec-2011-usung-tema-peduli-orang-cacat
 http://www.madania.net/news.php?grup=news&menu=view&id=440 : english

Monday, January 31, 2011

The Secret Of Jack Welch

"  The Welch Way " (Inspirational Session)

How to put Jack Welch's ideas and tactics to work in any career or organization

Jack Welch became one of history's most admired and successful CEOs by rewriting the rules of leadership and letting hands-on, frontline employees--instead of bureaucrats --tell him what needed to be done. The Welch Way distills Welch's management style into a fast-moving, hard-hitting plan for leadership success, one that will help anyone reach the top in virtually any professional setting.

Detailed yet accessible, The Welch Way is filled with Welch quotes and insights, action ideas, and other unique and innovative features. Business leaders as well as those who aspire to the mantle of leadership will get the inside story on how Welch was able to:

a. Use change as a competitive weapon
b. Make ideas rule
c. Articulate a vision
d. Set stretch goals 
 e. Spark others to perform 

Put "The Welch Way" to Work In Your Own Career

Jack Welch was one of the 20th century's most dynamic and successful corporate leaders. The Welch Way examines the techniques and behaviors that the legendary CEO used to transform GE from a manufacturing dinosaur into the world's most adaptive, responsive mega-corporation, and how they can be implemented in virtually any situation.

Detailed yet accessible, The Welch Way is filled with Welch quotes, insights, action ideas, and other unique and innovative features. Business leaders as well as those who aspire to the mantle of leadership will get the inside track on how Welch inspired hundreds of thousands of managers and employees to:
a. Embrace change
b. Defy tradition
c. Lead by energizing others
d. Blow up bureaucracy
e. Pounce on every opportunity
f.  Set stretch goals
g. Move beyond boundaries
h. Spark others to perform
i. Get good ideas from everywhere 
 

History will reveal Jack Welch to be exactly the right leader at exactly the right time. His leadership standards and strategies, on the other hand, are timeless. The Welch Way details two dozen of Welch's most pertinent, powerful secrets, and will provide you with a model for dynamic leadership that involves every worker, at every level, and is proven to work in any industry or economic climate.

"How Jack Welch performed the largest corporate makeover in history is what this book is about. The Welch Way does not focus on the specific growth strategies of Welch's revolution (e.g., stressing service over manufacturing), but instead on the behavioral and cultural forces behind the strategies. What follows are the leadership secrets employed by GE's eighth chairman in his two-decade journey to change the destiny of one of the world's great corporations."

Jack Welch became one of history's most accomplished CEOs by rewriting the rules of leadership, and letting hands-on, frontline employees--instead of bureaucrats--tell him what needed to be done. The Welch Way distills Welch's management style into a fast-moving, hard-hitting plan for leadership success, one that will help anyone reach the top in any professional setting.

The first book written specifically to help managers and employees apply Welch's actions and success strategies to their own careers, The Welch Way shines a light on how innovative and unpretentious leadership can spark employees to contribute above and beyond their normal duties, to take pride in their company and its products, and to help create a learning environment that is as exciting as it is transformative. Drawing on Welch's life and career, it explains how you can follow the Welch model to:

a. Articulate a top-to-bottom vision that is tangible, stimulating, and achievable
b. Involve everyone in the game, and make sure everyone plays to win
c. Defy tradition, retaining only the best current practices while discarding the rest
d. Make intellect rule by ensuring that everyone's voice is heard
e. Embrace change as a competitive weapon, at every level of the organization 


Jack Welch transformed GE into one of the world's most valuable corporations by developing no-nonsense plans, and then getting his people so passionate about what they were doing that they couldn't wait to execute those plans. Let The Welch Way show you how to bring Welch-like success to any professional environment, and reach new heights in today's wide-open, idea-driven workplace.

Reviewed by Jeffrey A. Krames is a vice president and publisher in McGraw-Hill's business books division. Considered a leading global authority on maverick CEO Jack Welch, Krames is also the bestselling author of The Jack Welch Lexicon of Leadership and the New York Times, Washington Post, and BusinessWeek bestseller The Rumsfeld Way. His work has been published in The New York Times, The Wall Street Journal, Barron's, Financial Times, and The Los Angeles Times, and he has been interviewed on CNN, BBC, and PBS as well as in Newsweek, Time, BusinessWeek, Publisher's Weekly, and other national publications.