Friday, October 15, 2010

Bob Sadino : Miskin Dulu, Kaya Raya Kemudian

Entrepreneur sukses yang satu ini menjalani jalan hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih sukses. Dia sempat menjadi supir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp100.

Penampilannya eksentrik. Bercelana pendek jins, kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100.

Celana pendek memang menjadi “pakaian dinas” Om Bob –begitu dia biasa disapa– dalam setiap aktivitasnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini. Baik ketika santai, mengisi seminar entrepreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, namun itulah Bob Sadino.

“Keanehan” juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemapanan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan yang harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang entrepreneur yang menjadi rujukan semua orang seperti sekarang jika dulu tidak memilih untuk menjadi “orang miskin”.

Sewaktu orangtuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh hartake kayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda, juga di Hamburg, Jerman. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.

Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya ada menjadikannya tidak lagi menarik. “Dengan besaran gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja di sana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati hidup,” tulis Bob Sadino dalam bukunya Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila.

Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang tersisa dijadikan “senjata” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.

Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras.

“Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras,” ucap istrinya memperingati.

Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.

Dia sempat depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. “Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti magma yang sedang bergejolak di dalam gunung berapi,” papar Bob.

Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang.

Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob juga kini memiliki usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identik dengan Bob Sadino.

“Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kemstick tidak akan pernah ada,” ujar Bob.

Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.

Karena itu, menurutnya, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekadar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. “Kita punya ratusan ribu sarjana yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi menghidupi orang lain,” jelas Bob.

Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli.

“Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa. Sedangkan “bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Sedangkan “terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Ya, itulah resep Bob untuk menjadi sukses seperti sekarang.

Sumber : okezone

Serunya Ngobrol Bareng Dengan Seorang CEO

di tulis by Andi Primaretha, 3 Februari 2010

Perjalanan seseorang untuk menjadi pucuk pimpinan perusahaan besar sudah tentu diwarnai oleh berbagai rintangan dan cobaan yang sama sekali tidak mudah. Namun siapa sangka bahwa Hasnul Suhaimi, CEO PT. XL Axiata.TBK, pernah ditolak menjadi seorang dirut hanya karena persoalan tinggi badan. Hal tersebut ia ceritakan pada salah satu postingan blog miliknya, “Dia bilang, untuk menjadi dirut, badannya harus tinggi besar sehingga bisa tampil meyakinkan. Sesuatu yang memang tidak saya punyai”. Kontan pernyataan tersebut langsung direspon oleh para pembaca blog CEO yang beralamat di www.hasnulsuhaimi.info. “Hehehe…tinggi badan memang penting, tapi masih jauh lebih penting tingginya pencapaian yg sudah di raih orang itu. Dan pak Hasnul sudah membuktikannya…XL menjadi besar berkat tangan dingin dan pemikiran “si kecil” Hasnul…hehee…sukses trus bos…” Ungkap seorang pembaca yang menggunakan username HBS ketika mengomentari postingan blog tersebut.

Kesan serius, kaku dan galak yang sering dilekatkan kepada seorang CEO tidak tampak pada setiap interaksi yang terjadi antara Hasnul Suhaimi dengan para pembaca setia blognya. Dengan ramah, CEO yang meraih gelar pendidikan MBA di University of Hawai ini, merespon berbagai pertanyaan dan dukungan yang dialamatkan kepadanya. Sesekali pula ia pernah diangkat sebagai seorang mentor online oleh pembaca setia blognya karena terinspirasi oleh perjalanan karir dan kepemimpinan yang ia ceritakan di berbagai postingan blognya.

Pria lulusan Teknik Elektro ITB ini mengaku bahwa ia pun mengalami jatuh bangun dan pernah merasakan menjadi “montir”/teknisi sebelum menduduki jabatan yang ia pegang saat ini. Namun, berkat keteguhan dan kesabaranya, Direktur yang kerap disapa Uda ini, mampu membuktikan skill dan knowledge yang ia miliki hingga berbuah kesuksesan. Bukti nyata keberhasilan tersebut dapat dilihat dari kesuksesan XL sebagai salah satu perusahaan jasa telekomunikasi terbesar di tanah air. Jadi, apa anda juga tertarik ikutan ngobrol bareng dengan seorang CEO?

Monday, October 11, 2010

The Best CEO: Five Defining Characteristics of a Great CEO

by Jan B. King

What are the five defining characteristics of the great CEO?

1. Personal insight.
Great CEOs are great leaders. They know themselves and what they stand for. They have been called on all their lives as problem solvers because others know them to be fair and impartial. People respect their opinions and look to them for guidance. Great CEOs are mature as people. They can suffer disappointment more gracefully than others and give others credit for their achievements. They don't come in the office door yelling for something they need. They aren't as concerned about titles or power structures as they are about the welfare of those who work at the company. They are trustworthy because they've always been honest with people and have earned that trust. They care about families, and they know that people are more important than dollars and express it in their actions every day. Finally, great CEOs seek out feedback. They want to know how others see them so that they can understand themselves better and continue to grow as people. They also want feedback about the company from an employee perspective, and they use surveys as a starting point for creating a dialogue to make things better.

2. Resourcefulness.
Great CEOs seem to have boundless energy. They come to work with the greatest enthusiasm. Even when they don't feel like it, they find ways to reenergize themselves and come in ready to go. They take good care of themselves physically and emotionally so that they can be there for the employees and the needs of the company. They give much more than they take every day. They don't give up. If the wall is too high, they back down and find another way around. They don't blame, but they do look for solutions to problems so that those problems are less likely to happen again.

3. Courage.
The CEO has one of the world's toughest jobs. No matter how tough it was to start the company, it's even harder to keep it going and growing. A CEO must decide what he or she stands for and do what is right, all the time. It takes courage to fire the salesperson responsible for the company's biggest, most lucrative account when that same salesperson drives a company car drunk and causes an accident. There will be many times when CEOs will want to smooth over something that requires decisive action because of the potential consequences or because they just can't take on one more challenge at the moment. However, CEOs who exercise poor moral judgment will lose their personal integrity with all of their employees watching.

4. Willingness to look at risk.
A great CEO isn't afraid to look at the downside and answer the hard questions he or she hopes will never become a reality. The CEO needs a backup plan-one that is designed by looking at the company's worst-case scenarios. This plan addresses questions such as: What if your industry experiences a slump? What if new governmental regulations affect your business? What if you lose the client that accounts for 50 percent of your sales? Preparing yourself and your company for these eventualities may be the difference between a tough year or two and bankruptcy. If you are in business for 20 years, some of your worst-case scenarios will probably happen. The key is to be ready and able to take immediate action to reduce the loss.

5. Foresight.
It seems some CEOs have an uncanny ability to predict the future. They may have unusual insights into their particular markets, and luck may play a part as well. In addition, they are prepared to create their own luck by cultivating an ability to see opportunities for their company and to make the deals that convert those opportunities into realities. Some things that may seem like amazing foresight are actually the result of the hard work and discipline it takes to constantly look forward to build a successful company. Great CEOs must also constantly develop new products to build and retain a customer base. Foresight is also the ability to hire and retain the right people, looking ahead toward the growth of the company. Finally, over time, each company must develop a steady source of business during both good economic times and bad, because there are sure to be bad economic times during the life of a business.

Tuesday, October 5, 2010

Cara Miliarder Top Dunia Hamburkan uang (II)

VIVAnews - Sepak terjang para miliarder top dunia kerap mengundang perhatian. Bukan saja terkait dengan aksi besar bisnisnya, melainkan langkah-langkahnya di luar sektor usahanya.

Ketika seorang miliarder tiba-tiba membelanjakan uang dalam jumlah besar, ratusan miliar atau triliunan rupiah, sontak sorotan tajam media langsung tertuju padanya.

Sebut saja misalnya ketika taipan Roman Abramovich membeli klub sepak bola ternama Chelsea pada 2003, media pun memberitakan secara besar-besaran aksi tersebut.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun di dunia dalam "menghamburkan" uang mereka. Bukan sekedar berapa yang dipakai untuk jamuan makan siang, pesta perkawinan atau membeli kapal pesiar, melainkan apa yang mereka lakukan dengan uang sebanyak itu.

Berikut ini cara-cara miliarder membelanjakan uang mereka:

Michael Bloomberg, pendiri Bloomberg L.P

Michael Bloomberg tergolong taipan yang kurang konvensional dalam membelanjakan uangnya. Pemilik kekayaan US$18 miliar itu menghamburkan duit yang tak sedikit untuk memenangkan pencalonan dirinya sebagai Walikota New York pada 2009. Menurut laporan AFP, Bloomberg menghabiskan US$1 juta per hari dalam pertarungan politik melawan saingannya. Catatan New York Times, Bloomberg juga mengeluarkan biaya besar dalam tiga pemilu sebelumnya.

Meskipun duit banyak membantunya dalam mempertahankan kursinya, Bloomberg secara rutin menjaga popularitasnya tetap tinggi dikalangan pemilih New York. Itu menunjukkan bukan sekedar uang dibalik kesuksesannya.

Warren Buffett

Pada 2008, Warren Buffet dinobatkan sebagai orang terkaya dunia versi Forbes dengan harta US$62 miliar. Meski begitu Buffet terkenal taipan yang hemat, bukan pemboros besar. Sepanjang karirnya, ia mengkritik belanja besar para CEO-nya, termasuk kritikan pada label US$100 juta jet pribadi perusahaan yang menurutnya "Tidak Bisa Dipertahankan."

Meski duitnya ratusan triliunan rupiah, dia memilih hidup sederhana. Lantas untuk apa segunung uangnya digunakan? Pada 2006, Buffet memilih menyumbangkan 80 persen kekayaannya kepada Bill dan Melinda Gates Foundation. Pada saat itu, ia menyumbang sebesar US$30 miliar, donasi terbesar yang pernah ada.

Lakshmi Mittal

Lakshmi Mittal adalah salah satu taipan papan atas dunia versi Forbes dengan total harta US$28,7 miliar pada 2010. Pada 2004, raja baja India dan CEO ArcelorMittal ini menikahkan putrinya selama enam hari berturut-turut bagi 1000 tamu undangan di Istana Versailles, termasuk bintang tenar Kylie Minogue. BBC memperkirakan biaya pernikahan tersebut lebih dari US$55 juta.

Larry Ellison

CEO Oracle, Larry Ellison ini memiliki kekayaan bersih sekitar US$28 miliar. Pada 2004-2005, ia membuat berita utama saat ia membeli lebih dari 12 properti di Malibu, California, termasuk hotel dan restoran dengan menghabiskan US$180 juta.

Ellison juga menghabiskan duitnya untuk mengakuisisi turnamen olahraga. Baru-baru ini, ia menggelontorkan US$100 juta untuk membeli laga Turnamen Tenis Terbuka BNP Paribas.

Cara Miliarder Top Dunia "Hamburkan" 1

Uang Ada banyak cara para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun menghabiskan uang mereka.

Senin, 6 September 2010, 06:38 WIB
VIVAnews - Sepak terjang para miliarder top dunia kerap mengundang perhatian. Bukan saja terkait dengan aksi besar bisnisnya, melainkan langkah-langkahnya di luar sektor usahanya.

Ketika seorang miliarder tiba-tiba membelanjakan uang dalam jumlah besar, ratusan miliar atau triliunan rupiah, sontak sorotan tajam media langsung tertuju padanya.

Sebut saja misalnya ketika taipan Roman Abramovich membeli klub sepak bola ternama Chelsea pada 2003, media pun memberitakan secara besar-besaran aksi tersebut.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun di dunia dalam "menghamburkan" uang mereka. Bukan sekedar berapa yang dipakai untuk jamuan makan siang, pesta perkawinan atau membeli kapal pesiar, melainkan apa yang mereka lakukan dengan uang sebanyak itu.

Berikut ini cara-cara miliarder membelanjakan uang mereka:

Carlos Slim

Carlos Slim adalah taipan nomor wahid dunia dengan total harta US$53,5 miliar pada 2010. Pada awal September ini, dia membelanjakan duit sekitar US$1,4 miliar untuk membangun Plaza Carso, sebuah kompleks di Mexico City yang akan mencakup museum, bioskop, perumahan dan ruang komersial.

Proyek ini akan membenahi kawasan kumuh di ibukota yang sudah dipeloporinya sejak beberapa tahun lalu. Plaza Carso akan menjadi museum Soumaya dan diresmikan pada 20 November mendatang sebagai bagian dari peringatan dua abad Meksiko. Museum ini akan menampilkan koleksi 64 ribu karya seni, serta mempekerjakan 5 ribu orang karyawan secara langsung dan 15 ribu karyawan secara tidak langsung.

Roman Abramovich & kapal pesiarnya

Dia adalah seorang pengusaha Rusia serta pemilik perusahaan investasi terkemuka. Ia terkenal sebagai sosok taipan dengan gaya hidup mewah. Pada 2009, dia mengejutkan media saat membeli sebuah rumah pribadi. Harganya termahal untuk sebuah rumah, yakni US$90 juta di St Barts. Ia juga dikenal memiliki simbol kemewahan lainnya, seperti kapal pesiar swasta terbesar di dunia, kawasan ski es di Colorado, tim sepak bola Inggris Chelsea, serta koleksi seni US$100 juta.

Untuk makan siang? Pada November 2009, Wall Street Journal pernah melaporkan Abramovich pernah larut dalam makan siang senilai US$52 ribu di New York City untuk dirinya dan sembilan tamu, termasuk tip US$12 ribu. Namun, juru bicara miliarder Rusia itu membantah kabar tersebut. Meski begitu, Abramovich juga dikenal aktif di kegiatan sosial. Pada 1999, di daerah dingin yang miskin di kawasan Siberia, Rusia, ia mendirikan yayasan amal untuk membangun pendidikan, rumah sakit dan perguruan tinggi guna membantu rakyat Okrug.

Li Ka-shing

Meski dikenal sebagai sosok miliarder dunia dengan total harta US$21,3 miliar, Li Ka Shing masih tetap dikenal sebagai sosok pribadi yang low profile dan bersahaja. Gaya hidup sederhana tak berubah, kemana-mana pergi tak meninggalkan kebiasaan lamanya, memakai sepatu hitam sederhana, pakaian hitam dan jam tangan murah merek Seiko. Meski begitu, ia sangat dikenal sebagai sosok filantropis sejati yang dermawan.

Menurut catatan Forbes, ia mendirikan Li Ka Shing Foundation pada 1980 dan mendonasikan US$500 juta untuk bidang kesehatan dan pendidikan. Pada 1981, ia menyumbang US$150 juta untuk pendirian Shanto University dekat kampung halamannya di Shantou, Guangdong, China. Pada 2002, ia mendirikan Cheung Kong School of Business di Beijing, sekolah bisnis swasta pertama di China. Pengajarnya, profesor kelas dunia dari sekolah bisnis top seperti Wharton, Stanford dan INSEAD.

Monday, October 4, 2010

How does one become a chief executive officer (CEO)?

How does one become a chief executive officer (CEO)?
Is there a certain blueprint to follow in order to attain this prestigious title? What professional and personal traits are necessary for the position? Technically, anyone can fill the chief executive slot, but typically those who have distinguished themselves in some manner and have strong leadership characteristics end up getting the job.


Education
There are no laws stipulating that chief executives must have attended college or that they must have a master's degree. However, very few people make it to the top of the corporate ladder these days without some sort of formal education.

Why is having a formal education so important? There is no simple answer to that question; however, completing university courses does provide one with exposure to a number of disciplines and causes a person to think, interact and share ideas with others, which are valuable experiences for a CEO to have. A degree from an Ivy League school or other top-tier institution is sometimes given even more credence because of the competitiveness that often accompanies such programs.

Some big-name CEOs with degrees from top-tier schools include the following:
Meg Whitman, former CEO of eBay (NYSE:EBAY) – undergraduate degree from Princeton, Master of Business Administration (MBA) from Harvard
John Bogle, former CEO of The Vanguard Group – undergraduate degree from Princeton
Roberto Goizueta, former CEO of Coca Cola (NYSE:COKE) – undergraduate degree from Yale

Many CEOs have some form of business degree. Note, however, that the degree could be in economics, management, finance or another business-related discipline. (Think you need an MBA to stay competitive? Read Should You Head Back To Business School?)

Some well-known chief executives, however, dropped out or never went to college:
Richard Branson, CEO of Virgin Group
Michael Dell, CEO of Dell Computer (NYSE:DELL)
Barry Diller, CEO of IAC/Interactive (NYSE:IACI)

Personality Traits
Having a degree from a top-notch school and an exceptional knowledge of the industry in which the company operates are great qualities to have. However, those qualities in and of themselves don't guarantee that a person will make it to the top of the corporate ladder. Personality traits may also play a role in an individual's ability to attain chief executive status.

Typically, CEOs are:
good communicators, deal makers and managers
extroverts who are eager to go out on the road and tell their company's story
able and willing to present a cohesive vision and strategy to employees
able to garner respect

Jack Welch is a great example of an extrovert who was able to garner respect, and who had a vision even as a low-level engineer at General Electric (NYSE:GE). While there, a higher-up took notice of his abilities, and the rest is history. (For further reading on this topic, see Is Your CEO Street Savvy?)

Experience
Generally speaking, a person must have a great deal of experience in the company's field in order to become CEO. A chief executive's job is to provide vision and a course for the company to navigate, which is difficult to do without extensive experience and a working knowledge of the potential risks and opportunities that lie ahead for the company.

Prior senior-level managerial experience is also generally a must. After all, how can an individual be expected to run a multimillion- or multibillion-dollar company with hundreds or thousands of employees unless he or she has previous experience managing and/or overseeing other employees?
A great example of someone who worked his way up the ranks is, again, Jack Welch. Welch joined General Electric in 1960 as an engineer and worked his way up to vice president and vice chairman before becoming CEO in 1981. By the time he got there, he knew the company and the landscape well. He had also previously held a high-level position.

Another example of a chief executive with a great deal of experience in his field is Eric Schmidt, former CEO of Novell and chief executive of Google (NYSE:GOOG). Schmidt worked in research at Bell Labs early in his career. In addition, he served as chief technology officer at Sun Microsystems (NYSE:JAVA). These experiences helped him land his chief executive positions and become the success story he is today.

Then there's Andrea Jung, CEO of Avon Products (NYSE:AVP). Jung has a sizable amount of experience in retail. After graduating from Princeton, she worked for Bloomingdales, where she was part of the management trainee program. From there, she also worked at Neiman Marcus, another high-end outfit where she served as executive vice president. When she finally came to Avon, she started as a consultant and then moved up to chief operating officer (COO) before finally landing the chief executive position.

Anne Mulcahy, CEO of Xerox (NYSE:XRX), is another great of example of someone with a significant amount of experience in her field. In the mid-1970s, she started as a sales representative. She later worked as a vice president in human resources before climbing to senior vice president. All told, it was about 25 years before she became a chief executive - by that time, she knew the business extremely well.

Bottom Line
Although some individuals are born leaders, most are made. Becoming a chief executive typically takes years of hard work. Extensive experience in the company's field is desirable and some companies tend to prefer those with degrees from upper-tier schools. Finally, those that have worked their way up from a low level within the organization may have an advantage, as they arguably know the company better than any outsider ever could.

For further reading on this topic, check out The Basics Of Corporate Structure.

by Glenn Curtis (Contact Author | Biography)

Glenn Curtis started his career as an equity analyst at Cantone Research, a New Jersey-based regional brokerage firm. He has since worked as an equity analyst and a financial writer at a number of print/web publications and brokerage firms including Registered Representative Magazine, Advanced Trading Magazine, Worldlyinvestor.com, RealMoney.com, TheStreet.com and Prudential Securities. Curtis has also held Series 6,7,24 and 63 securities licenses.

AWAS ada Mata-mata yang menjadi CEO hingga Pemuda Gaul

KOMPAS.com — Donald Heathfield menjalankan sebuah perusahaan yang memiliki kantor di Paris, Singapura, dan Jakarta. CEO dan pendiri perusahaan manajemen Future Map ini bekas teman sekelas Presiden Meksiko Felipe Calderon. Dialah salah satu dari 10 orang yang diduga mata-mata Rusia di AS.

Sebuah artikel di surat kabar Singapura, Strait Times, edisi Rabu (30/6/2010), menyebutkan, Heathfield mengambil identitas seorang bayi yang sudah meninggal di Kanada.

David Heathfield, warga Kanada, heran ketika nama adiknya yang meninggal di Montreal tahun 1963 dalam usia enam pekan tiba-tiba muncul di berkas perkara pengadilan AS. Dia yakin, tersangka mata-mata itu mengetahuinya dari sebuah surat kabar di Montreal.

Jaksa di AS mengatakan, Heathfield bertemu dengan pejabat tinggi AS tahun 2004 dengan urusan riset senjata nuklir. Dia memiliki kaitan dengan organisasi yang terlibat dalam memperkirakan teknologi yang baru muncul.

The New York Times melaporkan, Heathfield belajar untuk master administrasi publik di Harvard University tahun 2000 yang digunakan untuk mempererat pergaulan. Mark Podlasly, teman sekelasnya, menuturkan kepada surat kabar itu bahwa Heathfield tetap menjalin kontak dengan hampir semua teman sekelasnya.

”Di Singapura, di Jakarta, dia tahu apa yang dilakukan mereka semua. Jika Anda ingin tahu apa yang mereka lakukan, Don pasti tahu,” kata Podlasly.

Istri Heathfield, Tracey Foley, adalah pemilik situs real estat dan bekerja sebagai agen bagi Redfin Realty. Di situsnya, Foley menggambarkan diri sebagai warga asli Montreal yang pernah tinggal dan bersekolah di Swiss, Kanada, dan Perancis.

Kemarin mereka bersama delapan tersangka lainnya menghadap sidang untuk kemungkinan pembebasan dengan jaminan di pengadilan di New York, Boston, dan Alexandria, Virginia. Tersangka ke-11, Christopher Metsos, berhasil melarikan diri setelah dibebaskan dengan jaminan oleh polisi Siprus.

Metsos, warga negara Kanada, dituduh sebagai pemasok dana utama bagi sel mata-mata Rusia di AS, menggelontor mereka dengan dana, dan bertukar informasi diam-diam dengan mereka. Pria paruh baya yang digambarkan botak dan berkumis itu ditangkap di Lacarna, Siprus, Selasa, saat hendak naik pesawat ke Budapest. Sehari kemudian, dia dibebaskan dengan jaminan dan tidak muncul saat harus melapor di kantor polisi.

Melimpah

Hakim ketua Ronald L Ellis mengatakan, bukti-bukti atas para tersangka benar-benar melimpah. "Ada bukti berupa pengamatan video dan audio tentang pertemuan antara pejabat Pemerintah Rusia dan sejumlah mata-mata itu," katanya.

Asisten Jaksa Agung AS Michael Farbiarz mengatakan, bukti-bukti makin kuat, terutama terhadap Anna Chapman, sehingga dia tidak mungkin bisa bebas dengan membayar jaminan. Chapman (28), yang berambut merah, dijuluki femme fatale di berbagai laporan media, menghadapi hukuman hingga 5 tahun penjara jika terbukti menjadi mata-mata.

Media-media Rusia melaporkan, Chapman adalah seorang perempuan pengusaha yang masuk ke kelas tertinggi masyarakat. Di halaman situs jejaring sosial LinkedIn miliknya, Chapman terdaftar sebagai CEO PropertyFinder Ltd yang mengelola laman real estat di Moskwa, Spanyol, Bulgaria, dan negara-negara lain.

"Siapa pun yang mengenal Anna dengan baik yakin dia seorang pengusaha, itu saja. Mengembangkan ide baru, bisnisnya adalah satu-satunya yang menarik bagi hidupnya," sebut situs berita lifenews.ru.

Masih ada lagi pasangan suami istri Vicky Pelaez (55) dan Juan Lazaro (65) ikut dalam lingkaran mata-mata Rusia di AS. Pelaez adalah kolumnis bagi surat kabar berbahasa Spanyol paling terkenal di AS, El Diario/La Prensa. Suaminya seorang fotografer dan pelatih karate kelahiran Uruguay.

Jaksa mengatakan, Pelaez pernah direkam saat tengah bertemu seorang pejabat Rusia di sebuah taman di sebuah negara Amerika Selatan. Dia terlihat menerima sebuah tas yang tampaknya berisi uang. Tahun 2007, Lazaro juga terekam di taman yang sama menerima uang dari pejabat itu.

Berdasarkan berkas perkara di pengadilan federal AS, agen Biro Investigasi Federal AS (FBI) juga menyadap percakapan dari dalam rumah pasangan itu di pinggiran New York yang mengindikasikan mereka menerima komunikasi radio dari Moskwa.

Agen lain juga merekam percakapan Pelaez dan Lazaro tahun 2002 saat suaminya itu mengatakan bahwa keluarganya pernah tinggal di Siberia. "Kami pindah ke Siberia segera setelah perang dimulai," kata Lazaro dalam rekaman itu.

Pelaez, kelahiran Peru, pernah diculik Gerakan Revolusioner Tupac Amaru tahun 1984 saat sedang meliput. Tahun 1987, pasangan itu pindah ke New York.

Keduanya memiliki hasrat yang sama soal pandangan kiri. Melalui kolomnya di El Diario, Pelaez secara agresif mengkritik Pemerintah AS dan membela imigran ilegal.

Elvira Pelaez, saudari Vicky, di Lima, Peru, mengatakan, bukti-bukti rekaman percakapan dan video tentang saudaranya tidak jelas. Menurut dia, tuduhan mata-mata itu adalah respons represif atas tulisan-tulisan Vicky.

Tidak cocok

Pasangan lain yang diduga mata-mata adalah Richard dan Cynthia Murphy yang tinggal di Montclair, New Jersey. Di mata seorang tetangga, kemampuan berkebun mereka tidak cocok dengan tuduhan mata-mata itu.

Cynthia adalah wakil presiden sebuah firma keuangan Manhattan bernama Morea Financial Service. Dalam berkas perkara, Cynthia digambarkan memiliki kontak dengan penyandang dana dan donor politik yang tidak diketahui namanya.

Tak banyak keterangan mengenai pasangan lain yang diduga mata-mata Rusia, Michael Zottoli dan Patricia Mills, yang baru-baru ini pindah ke Arlington dari Seattle.

Di Washington DC, tersangka mata-mata lainnya, Mikhail Semenko, digambarkan sebagai lajang yang memiliki gaya hidup seperti Anna Chapman. New York Times menyebut dia "pria gaul usia akhir 20-an tahun yang mengendarai Mercedes S-500".

Kisah mengenai mata-mata itu terlihat seperti film kuno semasa Perang Dingin: agen-agen bertukar tas satu sama lain, identitas dan paspor palsu, pengiriman pesan lewat transmisi gelombang pendek, atau tinta yang tidak kelihatan.

Penangkapan mereka merupakan hasil penyelidikan FBI yang dimulai hampir satu dasawarsa lalu. Jaringan mata-mata itu memiliki semua yang diperlukan bagi spionase kelas dunia: peralatan canggih, pengetahuan mendalam soal Amerika, dan cerita-cerita penyamaran yang dibuat sangat teliti.

Satu-satunya hal yang hilang, menurut New York Times, adalah rahasia sebenarnya yang mereka kirim ke Moskwa. Benarkah di era internet sekarang Rusia membutuhkan mata-mata? (AP/AFP/REUTERS/FRO)

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang dilahirkan di Jakarta 1955 dari sebuah keluarga sederhana yang terletak di Kali Pasir, Cikini. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 4 Jakarta, ia masuk ke Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Administrasi Niaga. “Dulu ketika saya kuliah, biayanya sangat murah saya hanya membayar uang kuliah sebesar Rp 15.000,00. dalam satu semester,” ujarnya.

Maurits menceritakan sewaktu kuliah ia merupakan bagian dari komunitas Warung Kopi (Warkop/Dono, Kasino, Indro, Nanu) yang akhirnya dikenal sebagai kelompok komedi di Indonesia era 1980 – 1990an. Tahun 1978 ia berhasil menyelesaikan studinya, namun ia tidak langsung bergabung dengan perusahaan Unilever Indonesia, ia bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan Jepang selama 1,5 tahun.

“Saya bergabung dengan Unilever mulai tahun 1980 dengan posisi sebagai salesman yang keluar masuk pasar,” kata Maurits. Namun ia mengakui, itulah masa paling indah dalam perjalanan karirnya sebagai bagian dari keluarga besar Unilever. “Hampir semua pasar tradisional yang besar di Jakarta pernah saya kunjungi, jadi jika sekarang ada salesman yang berkata tidak jujur pasti ketahuan,” paparnya.

Banyak hal yang bisa dipetik sebagi seorang salesman seperti belajar bagaimana menerapkan strategi yang jitu dalam pemasaran, mengenal lebih banyak manusia dengan berbagai karakter dan belajar melakukan komunikasi dengan banyak orang. Setelah itu karirnya melesat menjadi supervisor, regional manager di Palembang. Ia adalah salah seorang putra lokal yang pernah mencicipi hidup Unilever di luar negeri.

“Saya sudah berputar-putar di berbagai tempat di dunia seperti Belanda dan Inggris,” tuturnya. Namun akhirnya kecintaan pada kampung halamanlah yang membuat saya ingin kembali. Seperti peribahasa lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang, bagaimanapun juga kita akan bahagia tinggal di tanah air tercinta.

Hal yang paling membahagiakan di Unilever Indonesia adalah kita hidup dalam suatu keluarga besar sehingga terjalin ikatan yang sangat erat. “Hal inilah yang tidak saya dapatkan ketika berada di luar negeri,” tegasnya. Jika kita bahagia dengan apa yang kita rasakan saat ini maka kita tidak akan khawatir apa yang akan terjadi di hari esok.

Filosofi Hidup
Di waktu senggangnya ia menyempatkan diri bermain golf dan main band. Perusahaan memang menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat olah raga, fasilitas bermusik dan ruangan santai. Hal ini positif karena karyawan bisa melakukan berbagai aktivitas olah raga atau musik sambil menunggu kemacetan yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta.

Filosofi hidupnya cukup sederhana, “I just try my best every time,” ujarnya. Selama di Unilever ia tidak pernah minta naik pangkat dan baginya menjadi presiden direktur hanyalah titipan dan suatu hari pasti akan berakhir. Keterbukaan inilah yang membuat staf atau karyawan tidak canggung untuk memasuki ruang kerjanya.

Dulu ketika di tunjuk sebagai presiden direktur Januari 2004 ia justru terkejut karena ia merasa belum cukup banyak pengalaman tetapi ia menerima tanggung jawab ini. Yang penting kita percaya bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dan menikmati apapun yang menjadi tanggung jawab kita.

Setelah kurang lebih 25 tahun bekerja di Unilever pengabdian, kerja keras dan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit telah mengantarkan pemuda yang kali pertama hanya mengangkat sabun, margarin keluar masuk pasar menjadi seorang CEO yang mengangkat nama Unilever sebagai perusahaan consumer good yang paling disegani di Indonesia.

(By Sinar Harapan)/Posted by: warisancoetomocoid on: Mei 19, 2009