Tuesday, November 16, 2010

Seperti apa sosok CEO Hebat ?

CEO Yang Hebat Akan Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia Yang Hebat

29 Mar
“Memimpin Itu Berarti Melayani Diri Sendiri Dan Melayani Orang-Orang Lain Dengan Penuh Respek.” – Djajendra
Seorang CEO yang profesional dan yang berkinerja hebat lahir dari rahim sumber daya manusia yang profesional, yang beretika, yang beretos kerja dinamis dan kreatif, yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan yang mau bekerja keras demi kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, seorang CEO yang hebat selalu akan fokus pada upaya untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang bermutu tinggi. Dan, dia tidak akan pernah bilang tidak kepada semua kesempatan baik, tapi dia akan terus memotivasi dan membangun rasa percaya diri bawahannya untuk bergerak secara dinamis, kreatif dan strategis untuk mencari peluang-peluang baru buat mencapai kinerja yang lebih hebat. Dia juga selalu tahu diri untuk mendengarkan semua informasi dari bawahannya, dan dia tahu bahwa saat dia menolak untuk mendengarkan informasi bawahannya, maka para bawahan pun tidak akan mempercayai dirinya lagi.
Seorang CEO yang hebat selalu yakin bahwa memimpin itu berarti melayani diri sendiri dan melayani orang-orang lain dengan penuh respek. Dan, dia juga sangat hebat untuk melindungi dan memproteksi dirinya dengan cara merekrut manajer-manajer yang hebat, yang mampu secara cerdas membangun kualitas sumber daya manusia yang hebat. Jadi, seorang CEO yang cerdas tidak akan membiarkan dirinya dikelilingi oleh para manajer oportunistis yang hanya sekedar suka cari muka untuk keuntungan diri pribadi mereka. Seorang CEO yang cerdas hanya akan mencari sumber daya manusia yang beremosi baik, berpikir positif, beretika dan bermoralitas tinggi, dan yang suka bekerja keras tanpa mengenal kata sulit atau pun menyerah.
Sumber  www.djajendra-motivator.com

Wednesday, November 10, 2010

Lima Kebohongan Terbesar Tentang Sukses

1. Sukses bisa di tarik kedalam hidup anda hanya dengan fokus dan berpikir positif.
sukses merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan berhubungan erat dengan tindakan.
Apabila anda penggemar buku dan film “The Secret” yang banyak menjelaskan tentang fokus hingga menjadi kenyataan maka anda harus berpikir dua kali. buku dan film the secret diilhami dari buku kuno yang berjudul “The Science of getting rich” dan di dalam buku tersebut banyak di jelaskan tentang fokus dan berpikir positif tetapi ada satu rahasia kecil tetapi berefek besar yang ditutupi dari anda dalam penerjemahannya kedalam film the secret.
The science of getting rich menjelaskan bahwa harus ada suatu tindakan yang berkesinambungan dan selaras dengan pikiran anda dan tindakan tersebut harus bisa membawa anda lebih dekat kepada fokus dan goal anda. Jadi tidak ada apa pun juga yang bisa berhasil tanpa suatu tindakan nyata. sebesar apa pun fokus dan pikiran positif anda tetapi tanpa dibarengi dengan action maka tidak akan pernah mencapai hasil yang anda inginkan
2. Sukses Hanya bisa di dapat oleh orang-orang tertentu saja
Sukses tidak pernah membedakan warna kulit, keturunan, tinggi badan, agama, kepercayaan, jenis kelamin dan lain sebagainya. sukses bisa dicapai dan digapai oleh setiap orang yang sudah siap dan memiliki suatu tekad, fokus, rencana yang matang dan realisasi dalam tindakan yang akan menarik sukses kedalam hidup mereka masing-masing. Satu hal penting tentang sukses adalah tidak peduli apa yang telah anda lakukan di masa lalu tetapi yang terpenting adalah kemana anda akan menuju di masa depan.
sukses senantiasa menanti dan mengulurkan tangannya kepada siapa pun yang sudah siap. Jadi yang terpenting adalah melakukan persiapan seperti belajar baik melalui mentor maupun buku-buku dan guru-guru sukses lainnnya sehingga pada saat sukses menghampiri anda maka anda sudah siap.
3. Anda baru bisa merasa bahagia apabila sudah mencapai sukses
mana yang terlebih dahulu, ayam atau telur? tidak ada yang tahu, jadi mengapa harus mengharapkan kesuksesan baru bisa merasa bahagia. Bahagia merupakan suatu Perasaan yang bisa dikembangkan dan dipengaruhi oleh pikiran. anda bisa merasa bahagia kapan pun anda inginkan. dengan mengembangkan perasaan bahagia maka pikiran anda akan menjadi jernih dan anda bisa lebih fokus. dengan lebih fokus maka anda akan lebih mudah menyelesaikan tugas dan kegiatan anda dengan lebih baik. bukankah itu juga merupakan suatu kesuksesan?.
4. Sukses membutuhkan pengorbanan yang sangat besar
sukses tidak membutuhkan pengorbanan seperti yang anda bayangkan. memang dibutuhkan pengorbanan tetapi pengorbanan yang lain dan tidak seperti yang anda bayangkan. hal-hal yang perlu dikorbankan untuk mencapai kesuksesan adalah kemalasan, kelambanan, keegoan dan ketidak tahuan. itulah sebagai besar yang harus anda korbankan.
5. Anda bisa dikatakan sukses apabila telah memiliki lebih banyak materi daripada tetangga sebelah.
sukses tidak bisa diukur antara satu orang dengan orang lainnya. sukses yang baik diukur dengan perbandingan pencapaian diri anda sendiri. Anda harus bisa mencapai lebih banyak dan lebih baik dibandingkan tahun-tahun lalu. dan anda juga menargetkan tahun depan agar bisa lebih baik dari tahun ini. itulah perbandingan terbaik yang bisa anda lakukan dalam mengukur kesuksesan.
Selamat bekerja dan sukses selalu
By : Hermanto

Friday, October 15, 2010

Bob Sadino : Miskin Dulu, Kaya Raya Kemudian

Entrepreneur sukses yang satu ini menjalani jalan hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih sukses. Dia sempat menjadi supir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp100.

Penampilannya eksentrik. Bercelana pendek jins, kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100.

Celana pendek memang menjadi “pakaian dinas” Om Bob –begitu dia biasa disapa– dalam setiap aktivitasnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini. Baik ketika santai, mengisi seminar entrepreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, namun itulah Bob Sadino.

“Keanehan” juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemapanan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan yang harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang entrepreneur yang menjadi rujukan semua orang seperti sekarang jika dulu tidak memilih untuk menjadi “orang miskin”.

Sewaktu orangtuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh hartake kayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda, juga di Hamburg, Jerman. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.

Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya ada menjadikannya tidak lagi menarik. “Dengan besaran gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja di sana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati hidup,” tulis Bob Sadino dalam bukunya Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila.

Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang tersisa dijadikan “senjata” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.

Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras.

“Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras,” ucap istrinya memperingati.

Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.

Dia sempat depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. “Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti magma yang sedang bergejolak di dalam gunung berapi,” papar Bob.

Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang.

Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob juga kini memiliki usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identik dengan Bob Sadino.

“Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kemstick tidak akan pernah ada,” ujar Bob.

Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.

Karena itu, menurutnya, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekadar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. “Kita punya ratusan ribu sarjana yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi menghidupi orang lain,” jelas Bob.

Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli.

“Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa. Sedangkan “bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Sedangkan “terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Ya, itulah resep Bob untuk menjadi sukses seperti sekarang.

Sumber : okezone

Serunya Ngobrol Bareng Dengan Seorang CEO

di tulis by Andi Primaretha, 3 Februari 2010

Perjalanan seseorang untuk menjadi pucuk pimpinan perusahaan besar sudah tentu diwarnai oleh berbagai rintangan dan cobaan yang sama sekali tidak mudah. Namun siapa sangka bahwa Hasnul Suhaimi, CEO PT. XL Axiata.TBK, pernah ditolak menjadi seorang dirut hanya karena persoalan tinggi badan. Hal tersebut ia ceritakan pada salah satu postingan blog miliknya, “Dia bilang, untuk menjadi dirut, badannya harus tinggi besar sehingga bisa tampil meyakinkan. Sesuatu yang memang tidak saya punyai”. Kontan pernyataan tersebut langsung direspon oleh para pembaca blog CEO yang beralamat di www.hasnulsuhaimi.info. “Hehehe…tinggi badan memang penting, tapi masih jauh lebih penting tingginya pencapaian yg sudah di raih orang itu. Dan pak Hasnul sudah membuktikannya…XL menjadi besar berkat tangan dingin dan pemikiran “si kecil” Hasnul…hehee…sukses trus bos…” Ungkap seorang pembaca yang menggunakan username HBS ketika mengomentari postingan blog tersebut.

Kesan serius, kaku dan galak yang sering dilekatkan kepada seorang CEO tidak tampak pada setiap interaksi yang terjadi antara Hasnul Suhaimi dengan para pembaca setia blognya. Dengan ramah, CEO yang meraih gelar pendidikan MBA di University of Hawai ini, merespon berbagai pertanyaan dan dukungan yang dialamatkan kepadanya. Sesekali pula ia pernah diangkat sebagai seorang mentor online oleh pembaca setia blognya karena terinspirasi oleh perjalanan karir dan kepemimpinan yang ia ceritakan di berbagai postingan blognya.

Pria lulusan Teknik Elektro ITB ini mengaku bahwa ia pun mengalami jatuh bangun dan pernah merasakan menjadi “montir”/teknisi sebelum menduduki jabatan yang ia pegang saat ini. Namun, berkat keteguhan dan kesabaranya, Direktur yang kerap disapa Uda ini, mampu membuktikan skill dan knowledge yang ia miliki hingga berbuah kesuksesan. Bukti nyata keberhasilan tersebut dapat dilihat dari kesuksesan XL sebagai salah satu perusahaan jasa telekomunikasi terbesar di tanah air. Jadi, apa anda juga tertarik ikutan ngobrol bareng dengan seorang CEO?

Monday, October 11, 2010

The Best CEO: Five Defining Characteristics of a Great CEO

by Jan B. King

What are the five defining characteristics of the great CEO?

1. Personal insight.
Great CEOs are great leaders. They know themselves and what they stand for. They have been called on all their lives as problem solvers because others know them to be fair and impartial. People respect their opinions and look to them for guidance. Great CEOs are mature as people. They can suffer disappointment more gracefully than others and give others credit for their achievements. They don't come in the office door yelling for something they need. They aren't as concerned about titles or power structures as they are about the welfare of those who work at the company. They are trustworthy because they've always been honest with people and have earned that trust. They care about families, and they know that people are more important than dollars and express it in their actions every day. Finally, great CEOs seek out feedback. They want to know how others see them so that they can understand themselves better and continue to grow as people. They also want feedback about the company from an employee perspective, and they use surveys as a starting point for creating a dialogue to make things better.

2. Resourcefulness.
Great CEOs seem to have boundless energy. They come to work with the greatest enthusiasm. Even when they don't feel like it, they find ways to reenergize themselves and come in ready to go. They take good care of themselves physically and emotionally so that they can be there for the employees and the needs of the company. They give much more than they take every day. They don't give up. If the wall is too high, they back down and find another way around. They don't blame, but they do look for solutions to problems so that those problems are less likely to happen again.

3. Courage.
The CEO has one of the world's toughest jobs. No matter how tough it was to start the company, it's even harder to keep it going and growing. A CEO must decide what he or she stands for and do what is right, all the time. It takes courage to fire the salesperson responsible for the company's biggest, most lucrative account when that same salesperson drives a company car drunk and causes an accident. There will be many times when CEOs will want to smooth over something that requires decisive action because of the potential consequences or because they just can't take on one more challenge at the moment. However, CEOs who exercise poor moral judgment will lose their personal integrity with all of their employees watching.

4. Willingness to look at risk.
A great CEO isn't afraid to look at the downside and answer the hard questions he or she hopes will never become a reality. The CEO needs a backup plan-one that is designed by looking at the company's worst-case scenarios. This plan addresses questions such as: What if your industry experiences a slump? What if new governmental regulations affect your business? What if you lose the client that accounts for 50 percent of your sales? Preparing yourself and your company for these eventualities may be the difference between a tough year or two and bankruptcy. If you are in business for 20 years, some of your worst-case scenarios will probably happen. The key is to be ready and able to take immediate action to reduce the loss.

5. Foresight.
It seems some CEOs have an uncanny ability to predict the future. They may have unusual insights into their particular markets, and luck may play a part as well. In addition, they are prepared to create their own luck by cultivating an ability to see opportunities for their company and to make the deals that convert those opportunities into realities. Some things that may seem like amazing foresight are actually the result of the hard work and discipline it takes to constantly look forward to build a successful company. Great CEOs must also constantly develop new products to build and retain a customer base. Foresight is also the ability to hire and retain the right people, looking ahead toward the growth of the company. Finally, over time, each company must develop a steady source of business during both good economic times and bad, because there are sure to be bad economic times during the life of a business.

Tuesday, October 5, 2010

Cara Miliarder Top Dunia Hamburkan uang (II)

VIVAnews - Sepak terjang para miliarder top dunia kerap mengundang perhatian. Bukan saja terkait dengan aksi besar bisnisnya, melainkan langkah-langkahnya di luar sektor usahanya.

Ketika seorang miliarder tiba-tiba membelanjakan uang dalam jumlah besar, ratusan miliar atau triliunan rupiah, sontak sorotan tajam media langsung tertuju padanya.

Sebut saja misalnya ketika taipan Roman Abramovich membeli klub sepak bola ternama Chelsea pada 2003, media pun memberitakan secara besar-besaran aksi tersebut.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun di dunia dalam "menghamburkan" uang mereka. Bukan sekedar berapa yang dipakai untuk jamuan makan siang, pesta perkawinan atau membeli kapal pesiar, melainkan apa yang mereka lakukan dengan uang sebanyak itu.

Berikut ini cara-cara miliarder membelanjakan uang mereka:

Michael Bloomberg, pendiri Bloomberg L.P

Michael Bloomberg tergolong taipan yang kurang konvensional dalam membelanjakan uangnya. Pemilik kekayaan US$18 miliar itu menghamburkan duit yang tak sedikit untuk memenangkan pencalonan dirinya sebagai Walikota New York pada 2009. Menurut laporan AFP, Bloomberg menghabiskan US$1 juta per hari dalam pertarungan politik melawan saingannya. Catatan New York Times, Bloomberg juga mengeluarkan biaya besar dalam tiga pemilu sebelumnya.

Meskipun duit banyak membantunya dalam mempertahankan kursinya, Bloomberg secara rutin menjaga popularitasnya tetap tinggi dikalangan pemilih New York. Itu menunjukkan bukan sekedar uang dibalik kesuksesannya.

Warren Buffett

Pada 2008, Warren Buffet dinobatkan sebagai orang terkaya dunia versi Forbes dengan harta US$62 miliar. Meski begitu Buffet terkenal taipan yang hemat, bukan pemboros besar. Sepanjang karirnya, ia mengkritik belanja besar para CEO-nya, termasuk kritikan pada label US$100 juta jet pribadi perusahaan yang menurutnya "Tidak Bisa Dipertahankan."

Meski duitnya ratusan triliunan rupiah, dia memilih hidup sederhana. Lantas untuk apa segunung uangnya digunakan? Pada 2006, Buffet memilih menyumbangkan 80 persen kekayaannya kepada Bill dan Melinda Gates Foundation. Pada saat itu, ia menyumbang sebesar US$30 miliar, donasi terbesar yang pernah ada.

Lakshmi Mittal

Lakshmi Mittal adalah salah satu taipan papan atas dunia versi Forbes dengan total harta US$28,7 miliar pada 2010. Pada 2004, raja baja India dan CEO ArcelorMittal ini menikahkan putrinya selama enam hari berturut-turut bagi 1000 tamu undangan di Istana Versailles, termasuk bintang tenar Kylie Minogue. BBC memperkirakan biaya pernikahan tersebut lebih dari US$55 juta.

Larry Ellison

CEO Oracle, Larry Ellison ini memiliki kekayaan bersih sekitar US$28 miliar. Pada 2004-2005, ia membuat berita utama saat ia membeli lebih dari 12 properti di Malibu, California, termasuk hotel dan restoran dengan menghabiskan US$180 juta.

Ellison juga menghabiskan duitnya untuk mengakuisisi turnamen olahraga. Baru-baru ini, ia menggelontorkan US$100 juta untuk membeli laga Turnamen Tenis Terbuka BNP Paribas.

Cara Miliarder Top Dunia "Hamburkan" 1

Uang Ada banyak cara para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun menghabiskan uang mereka.

Senin, 6 September 2010, 06:38 WIB
VIVAnews - Sepak terjang para miliarder top dunia kerap mengundang perhatian. Bukan saja terkait dengan aksi besar bisnisnya, melainkan langkah-langkahnya di luar sektor usahanya.

Ketika seorang miliarder tiba-tiba membelanjakan uang dalam jumlah besar, ratusan miliar atau triliunan rupiah, sontak sorotan tajam media langsung tertuju padanya.

Sebut saja misalnya ketika taipan Roman Abramovich membeli klub sepak bola ternama Chelsea pada 2003, media pun memberitakan secara besar-besaran aksi tersebut.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh para pemilik harta puluhan dan ratusan triliun di dunia dalam "menghamburkan" uang mereka. Bukan sekedar berapa yang dipakai untuk jamuan makan siang, pesta perkawinan atau membeli kapal pesiar, melainkan apa yang mereka lakukan dengan uang sebanyak itu.

Berikut ini cara-cara miliarder membelanjakan uang mereka:

Carlos Slim

Carlos Slim adalah taipan nomor wahid dunia dengan total harta US$53,5 miliar pada 2010. Pada awal September ini, dia membelanjakan duit sekitar US$1,4 miliar untuk membangun Plaza Carso, sebuah kompleks di Mexico City yang akan mencakup museum, bioskop, perumahan dan ruang komersial.

Proyek ini akan membenahi kawasan kumuh di ibukota yang sudah dipeloporinya sejak beberapa tahun lalu. Plaza Carso akan menjadi museum Soumaya dan diresmikan pada 20 November mendatang sebagai bagian dari peringatan dua abad Meksiko. Museum ini akan menampilkan koleksi 64 ribu karya seni, serta mempekerjakan 5 ribu orang karyawan secara langsung dan 15 ribu karyawan secara tidak langsung.

Roman Abramovich & kapal pesiarnya

Dia adalah seorang pengusaha Rusia serta pemilik perusahaan investasi terkemuka. Ia terkenal sebagai sosok taipan dengan gaya hidup mewah. Pada 2009, dia mengejutkan media saat membeli sebuah rumah pribadi. Harganya termahal untuk sebuah rumah, yakni US$90 juta di St Barts. Ia juga dikenal memiliki simbol kemewahan lainnya, seperti kapal pesiar swasta terbesar di dunia, kawasan ski es di Colorado, tim sepak bola Inggris Chelsea, serta koleksi seni US$100 juta.

Untuk makan siang? Pada November 2009, Wall Street Journal pernah melaporkan Abramovich pernah larut dalam makan siang senilai US$52 ribu di New York City untuk dirinya dan sembilan tamu, termasuk tip US$12 ribu. Namun, juru bicara miliarder Rusia itu membantah kabar tersebut. Meski begitu, Abramovich juga dikenal aktif di kegiatan sosial. Pada 1999, di daerah dingin yang miskin di kawasan Siberia, Rusia, ia mendirikan yayasan amal untuk membangun pendidikan, rumah sakit dan perguruan tinggi guna membantu rakyat Okrug.

Li Ka-shing

Meski dikenal sebagai sosok miliarder dunia dengan total harta US$21,3 miliar, Li Ka Shing masih tetap dikenal sebagai sosok pribadi yang low profile dan bersahaja. Gaya hidup sederhana tak berubah, kemana-mana pergi tak meninggalkan kebiasaan lamanya, memakai sepatu hitam sederhana, pakaian hitam dan jam tangan murah merek Seiko. Meski begitu, ia sangat dikenal sebagai sosok filantropis sejati yang dermawan.

Menurut catatan Forbes, ia mendirikan Li Ka Shing Foundation pada 1980 dan mendonasikan US$500 juta untuk bidang kesehatan dan pendidikan. Pada 1981, ia menyumbang US$150 juta untuk pendirian Shanto University dekat kampung halamannya di Shantou, Guangdong, China. Pada 2002, ia mendirikan Cheung Kong School of Business di Beijing, sekolah bisnis swasta pertama di China. Pengajarnya, profesor kelas dunia dari sekolah bisnis top seperti Wharton, Stanford dan INSEAD.

Monday, October 4, 2010

How does one become a chief executive officer (CEO)?

How does one become a chief executive officer (CEO)?
Is there a certain blueprint to follow in order to attain this prestigious title? What professional and personal traits are necessary for the position? Technically, anyone can fill the chief executive slot, but typically those who have distinguished themselves in some manner and have strong leadership characteristics end up getting the job.


Education
There are no laws stipulating that chief executives must have attended college or that they must have a master's degree. However, very few people make it to the top of the corporate ladder these days without some sort of formal education.

Why is having a formal education so important? There is no simple answer to that question; however, completing university courses does provide one with exposure to a number of disciplines and causes a person to think, interact and share ideas with others, which are valuable experiences for a CEO to have. A degree from an Ivy League school or other top-tier institution is sometimes given even more credence because of the competitiveness that often accompanies such programs.

Some big-name CEOs with degrees from top-tier schools include the following:
Meg Whitman, former CEO of eBay (NYSE:EBAY) – undergraduate degree from Princeton, Master of Business Administration (MBA) from Harvard
John Bogle, former CEO of The Vanguard Group – undergraduate degree from Princeton
Roberto Goizueta, former CEO of Coca Cola (NYSE:COKE) – undergraduate degree from Yale

Many CEOs have some form of business degree. Note, however, that the degree could be in economics, management, finance or another business-related discipline. (Think you need an MBA to stay competitive? Read Should You Head Back To Business School?)

Some well-known chief executives, however, dropped out or never went to college:
Richard Branson, CEO of Virgin Group
Michael Dell, CEO of Dell Computer (NYSE:DELL)
Barry Diller, CEO of IAC/Interactive (NYSE:IACI)

Personality Traits
Having a degree from a top-notch school and an exceptional knowledge of the industry in which the company operates are great qualities to have. However, those qualities in and of themselves don't guarantee that a person will make it to the top of the corporate ladder. Personality traits may also play a role in an individual's ability to attain chief executive status.

Typically, CEOs are:
good communicators, deal makers and managers
extroverts who are eager to go out on the road and tell their company's story
able and willing to present a cohesive vision and strategy to employees
able to garner respect

Jack Welch is a great example of an extrovert who was able to garner respect, and who had a vision even as a low-level engineer at General Electric (NYSE:GE). While there, a higher-up took notice of his abilities, and the rest is history. (For further reading on this topic, see Is Your CEO Street Savvy?)

Experience
Generally speaking, a person must have a great deal of experience in the company's field in order to become CEO. A chief executive's job is to provide vision and a course for the company to navigate, which is difficult to do without extensive experience and a working knowledge of the potential risks and opportunities that lie ahead for the company.

Prior senior-level managerial experience is also generally a must. After all, how can an individual be expected to run a multimillion- or multibillion-dollar company with hundreds or thousands of employees unless he or she has previous experience managing and/or overseeing other employees?
A great example of someone who worked his way up the ranks is, again, Jack Welch. Welch joined General Electric in 1960 as an engineer and worked his way up to vice president and vice chairman before becoming CEO in 1981. By the time he got there, he knew the company and the landscape well. He had also previously held a high-level position.

Another example of a chief executive with a great deal of experience in his field is Eric Schmidt, former CEO of Novell and chief executive of Google (NYSE:GOOG). Schmidt worked in research at Bell Labs early in his career. In addition, he served as chief technology officer at Sun Microsystems (NYSE:JAVA). These experiences helped him land his chief executive positions and become the success story he is today.

Then there's Andrea Jung, CEO of Avon Products (NYSE:AVP). Jung has a sizable amount of experience in retail. After graduating from Princeton, she worked for Bloomingdales, where she was part of the management trainee program. From there, she also worked at Neiman Marcus, another high-end outfit where she served as executive vice president. When she finally came to Avon, she started as a consultant and then moved up to chief operating officer (COO) before finally landing the chief executive position.

Anne Mulcahy, CEO of Xerox (NYSE:XRX), is another great of example of someone with a significant amount of experience in her field. In the mid-1970s, she started as a sales representative. She later worked as a vice president in human resources before climbing to senior vice president. All told, it was about 25 years before she became a chief executive - by that time, she knew the business extremely well.

Bottom Line
Although some individuals are born leaders, most are made. Becoming a chief executive typically takes years of hard work. Extensive experience in the company's field is desirable and some companies tend to prefer those with degrees from upper-tier schools. Finally, those that have worked their way up from a low level within the organization may have an advantage, as they arguably know the company better than any outsider ever could.

For further reading on this topic, check out The Basics Of Corporate Structure.

by Glenn Curtis (Contact Author | Biography)

Glenn Curtis started his career as an equity analyst at Cantone Research, a New Jersey-based regional brokerage firm. He has since worked as an equity analyst and a financial writer at a number of print/web publications and brokerage firms including Registered Representative Magazine, Advanced Trading Magazine, Worldlyinvestor.com, RealMoney.com, TheStreet.com and Prudential Securities. Curtis has also held Series 6,7,24 and 63 securities licenses.

AWAS ada Mata-mata yang menjadi CEO hingga Pemuda Gaul

KOMPAS.com — Donald Heathfield menjalankan sebuah perusahaan yang memiliki kantor di Paris, Singapura, dan Jakarta. CEO dan pendiri perusahaan manajemen Future Map ini bekas teman sekelas Presiden Meksiko Felipe Calderon. Dialah salah satu dari 10 orang yang diduga mata-mata Rusia di AS.

Sebuah artikel di surat kabar Singapura, Strait Times, edisi Rabu (30/6/2010), menyebutkan, Heathfield mengambil identitas seorang bayi yang sudah meninggal di Kanada.

David Heathfield, warga Kanada, heran ketika nama adiknya yang meninggal di Montreal tahun 1963 dalam usia enam pekan tiba-tiba muncul di berkas perkara pengadilan AS. Dia yakin, tersangka mata-mata itu mengetahuinya dari sebuah surat kabar di Montreal.

Jaksa di AS mengatakan, Heathfield bertemu dengan pejabat tinggi AS tahun 2004 dengan urusan riset senjata nuklir. Dia memiliki kaitan dengan organisasi yang terlibat dalam memperkirakan teknologi yang baru muncul.

The New York Times melaporkan, Heathfield belajar untuk master administrasi publik di Harvard University tahun 2000 yang digunakan untuk mempererat pergaulan. Mark Podlasly, teman sekelasnya, menuturkan kepada surat kabar itu bahwa Heathfield tetap menjalin kontak dengan hampir semua teman sekelasnya.

”Di Singapura, di Jakarta, dia tahu apa yang dilakukan mereka semua. Jika Anda ingin tahu apa yang mereka lakukan, Don pasti tahu,” kata Podlasly.

Istri Heathfield, Tracey Foley, adalah pemilik situs real estat dan bekerja sebagai agen bagi Redfin Realty. Di situsnya, Foley menggambarkan diri sebagai warga asli Montreal yang pernah tinggal dan bersekolah di Swiss, Kanada, dan Perancis.

Kemarin mereka bersama delapan tersangka lainnya menghadap sidang untuk kemungkinan pembebasan dengan jaminan di pengadilan di New York, Boston, dan Alexandria, Virginia. Tersangka ke-11, Christopher Metsos, berhasil melarikan diri setelah dibebaskan dengan jaminan oleh polisi Siprus.

Metsos, warga negara Kanada, dituduh sebagai pemasok dana utama bagi sel mata-mata Rusia di AS, menggelontor mereka dengan dana, dan bertukar informasi diam-diam dengan mereka. Pria paruh baya yang digambarkan botak dan berkumis itu ditangkap di Lacarna, Siprus, Selasa, saat hendak naik pesawat ke Budapest. Sehari kemudian, dia dibebaskan dengan jaminan dan tidak muncul saat harus melapor di kantor polisi.

Melimpah

Hakim ketua Ronald L Ellis mengatakan, bukti-bukti atas para tersangka benar-benar melimpah. "Ada bukti berupa pengamatan video dan audio tentang pertemuan antara pejabat Pemerintah Rusia dan sejumlah mata-mata itu," katanya.

Asisten Jaksa Agung AS Michael Farbiarz mengatakan, bukti-bukti makin kuat, terutama terhadap Anna Chapman, sehingga dia tidak mungkin bisa bebas dengan membayar jaminan. Chapman (28), yang berambut merah, dijuluki femme fatale di berbagai laporan media, menghadapi hukuman hingga 5 tahun penjara jika terbukti menjadi mata-mata.

Media-media Rusia melaporkan, Chapman adalah seorang perempuan pengusaha yang masuk ke kelas tertinggi masyarakat. Di halaman situs jejaring sosial LinkedIn miliknya, Chapman terdaftar sebagai CEO PropertyFinder Ltd yang mengelola laman real estat di Moskwa, Spanyol, Bulgaria, dan negara-negara lain.

"Siapa pun yang mengenal Anna dengan baik yakin dia seorang pengusaha, itu saja. Mengembangkan ide baru, bisnisnya adalah satu-satunya yang menarik bagi hidupnya," sebut situs berita lifenews.ru.

Masih ada lagi pasangan suami istri Vicky Pelaez (55) dan Juan Lazaro (65) ikut dalam lingkaran mata-mata Rusia di AS. Pelaez adalah kolumnis bagi surat kabar berbahasa Spanyol paling terkenal di AS, El Diario/La Prensa. Suaminya seorang fotografer dan pelatih karate kelahiran Uruguay.

Jaksa mengatakan, Pelaez pernah direkam saat tengah bertemu seorang pejabat Rusia di sebuah taman di sebuah negara Amerika Selatan. Dia terlihat menerima sebuah tas yang tampaknya berisi uang. Tahun 2007, Lazaro juga terekam di taman yang sama menerima uang dari pejabat itu.

Berdasarkan berkas perkara di pengadilan federal AS, agen Biro Investigasi Federal AS (FBI) juga menyadap percakapan dari dalam rumah pasangan itu di pinggiran New York yang mengindikasikan mereka menerima komunikasi radio dari Moskwa.

Agen lain juga merekam percakapan Pelaez dan Lazaro tahun 2002 saat suaminya itu mengatakan bahwa keluarganya pernah tinggal di Siberia. "Kami pindah ke Siberia segera setelah perang dimulai," kata Lazaro dalam rekaman itu.

Pelaez, kelahiran Peru, pernah diculik Gerakan Revolusioner Tupac Amaru tahun 1984 saat sedang meliput. Tahun 1987, pasangan itu pindah ke New York.

Keduanya memiliki hasrat yang sama soal pandangan kiri. Melalui kolomnya di El Diario, Pelaez secara agresif mengkritik Pemerintah AS dan membela imigran ilegal.

Elvira Pelaez, saudari Vicky, di Lima, Peru, mengatakan, bukti-bukti rekaman percakapan dan video tentang saudaranya tidak jelas. Menurut dia, tuduhan mata-mata itu adalah respons represif atas tulisan-tulisan Vicky.

Tidak cocok

Pasangan lain yang diduga mata-mata adalah Richard dan Cynthia Murphy yang tinggal di Montclair, New Jersey. Di mata seorang tetangga, kemampuan berkebun mereka tidak cocok dengan tuduhan mata-mata itu.

Cynthia adalah wakil presiden sebuah firma keuangan Manhattan bernama Morea Financial Service. Dalam berkas perkara, Cynthia digambarkan memiliki kontak dengan penyandang dana dan donor politik yang tidak diketahui namanya.

Tak banyak keterangan mengenai pasangan lain yang diduga mata-mata Rusia, Michael Zottoli dan Patricia Mills, yang baru-baru ini pindah ke Arlington dari Seattle.

Di Washington DC, tersangka mata-mata lainnya, Mikhail Semenko, digambarkan sebagai lajang yang memiliki gaya hidup seperti Anna Chapman. New York Times menyebut dia "pria gaul usia akhir 20-an tahun yang mengendarai Mercedes S-500".

Kisah mengenai mata-mata itu terlihat seperti film kuno semasa Perang Dingin: agen-agen bertukar tas satu sama lain, identitas dan paspor palsu, pengiriman pesan lewat transmisi gelombang pendek, atau tinta yang tidak kelihatan.

Penangkapan mereka merupakan hasil penyelidikan FBI yang dimulai hampir satu dasawarsa lalu. Jaringan mata-mata itu memiliki semua yang diperlukan bagi spionase kelas dunia: peralatan canggih, pengetahuan mendalam soal Amerika, dan cerita-cerita penyamaran yang dibuat sangat teliti.

Satu-satunya hal yang hilang, menurut New York Times, adalah rahasia sebenarnya yang mereka kirim ke Moskwa. Benarkah di era internet sekarang Rusia membutuhkan mata-mata? (AP/AFP/REUTERS/FRO)

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang dilahirkan di Jakarta 1955 dari sebuah keluarga sederhana yang terletak di Kali Pasir, Cikini. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 4 Jakarta, ia masuk ke Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Administrasi Niaga. “Dulu ketika saya kuliah, biayanya sangat murah saya hanya membayar uang kuliah sebesar Rp 15.000,00. dalam satu semester,” ujarnya.

Maurits menceritakan sewaktu kuliah ia merupakan bagian dari komunitas Warung Kopi (Warkop/Dono, Kasino, Indro, Nanu) yang akhirnya dikenal sebagai kelompok komedi di Indonesia era 1980 – 1990an. Tahun 1978 ia berhasil menyelesaikan studinya, namun ia tidak langsung bergabung dengan perusahaan Unilever Indonesia, ia bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan Jepang selama 1,5 tahun.

“Saya bergabung dengan Unilever mulai tahun 1980 dengan posisi sebagai salesman yang keluar masuk pasar,” kata Maurits. Namun ia mengakui, itulah masa paling indah dalam perjalanan karirnya sebagai bagian dari keluarga besar Unilever. “Hampir semua pasar tradisional yang besar di Jakarta pernah saya kunjungi, jadi jika sekarang ada salesman yang berkata tidak jujur pasti ketahuan,” paparnya.

Banyak hal yang bisa dipetik sebagi seorang salesman seperti belajar bagaimana menerapkan strategi yang jitu dalam pemasaran, mengenal lebih banyak manusia dengan berbagai karakter dan belajar melakukan komunikasi dengan banyak orang. Setelah itu karirnya melesat menjadi supervisor, regional manager di Palembang. Ia adalah salah seorang putra lokal yang pernah mencicipi hidup Unilever di luar negeri.

“Saya sudah berputar-putar di berbagai tempat di dunia seperti Belanda dan Inggris,” tuturnya. Namun akhirnya kecintaan pada kampung halamanlah yang membuat saya ingin kembali. Seperti peribahasa lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang, bagaimanapun juga kita akan bahagia tinggal di tanah air tercinta.

Hal yang paling membahagiakan di Unilever Indonesia adalah kita hidup dalam suatu keluarga besar sehingga terjalin ikatan yang sangat erat. “Hal inilah yang tidak saya dapatkan ketika berada di luar negeri,” tegasnya. Jika kita bahagia dengan apa yang kita rasakan saat ini maka kita tidak akan khawatir apa yang akan terjadi di hari esok.

Filosofi Hidup
Di waktu senggangnya ia menyempatkan diri bermain golf dan main band. Perusahaan memang menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat olah raga, fasilitas bermusik dan ruangan santai. Hal ini positif karena karyawan bisa melakukan berbagai aktivitas olah raga atau musik sambil menunggu kemacetan yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta.

Filosofi hidupnya cukup sederhana, “I just try my best every time,” ujarnya. Selama di Unilever ia tidak pernah minta naik pangkat dan baginya menjadi presiden direktur hanyalah titipan dan suatu hari pasti akan berakhir. Keterbukaan inilah yang membuat staf atau karyawan tidak canggung untuk memasuki ruang kerjanya.

Dulu ketika di tunjuk sebagai presiden direktur Januari 2004 ia justru terkejut karena ia merasa belum cukup banyak pengalaman tetapi ia menerima tanggung jawab ini. Yang penting kita percaya bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dan menikmati apapun yang menjadi tanggung jawab kita.

Setelah kurang lebih 25 tahun bekerja di Unilever pengabdian, kerja keras dan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit telah mengantarkan pemuda yang kali pertama hanya mengangkat sabun, margarin keluar masuk pasar menjadi seorang CEO yang mengangkat nama Unilever sebagai perusahaan consumer good yang paling disegani di Indonesia.

(By Sinar Harapan)/Posted by: warisancoetomocoid on: Mei 19, 2009

Tuesday, September 28, 2010

Kiprah CEO Indonesia


Ada fenomena menarik tentang para chief executive officer atau CEO Indonesia. Mereka masuk dalam jajaran elite perusahaan dalam usia relatif muda, 28-40 tahun. Berangkat dari bawah, mereka tidak saja bermodal rajin dan ulet tetapi juga berlatar belakang pendidikan tinggi.

Tidak ada CEO Indonesia, terutama di perusahaan yang sudah go public, naik panggung eksekutif karena aspek kebetulan atau serta-merta. Semua CEO tersebut adalah profesional yang tahan uji. Mereka adalah penerus estafet kepemimpinan perusahaan, bukan ahli waris perusahaan.

Harun Hayadi (46), CEO Ciputra Surya, misalnya, bisa menjadi contoh menarik. Pada usia 24 tahun, ia masuk grup Ciputra dalam posisi sebagai tenaga lapangan. Ia pernah berjuang di lantai pemasaran, penjualan, dan pengembangan perusahaan. Ia bersaing ketat dengan pekerja lainnya di Grup Ciputra.

Ketika mulai dipercaya sebagai CEO pada usia 30 tahun, tidak ada yang mencemooh dia, bahwa posisi itu ia genggam karena menjadi menantu Ciputra, sang pemilik. Perusahaan yang dipegang Harun berkembang amat pesat.

Kini, salah satu perusahaan yang dipegang Harun, Citra Raya Surabaya, menjadi salah satu perusahaan properti paling berkilau di Indonesia. Perusahaan ini fenomenal karena tidak kenal hujan dan panas. Selalu laris manis. Ia menjadi tonggak sukses perusahaan properti Indonesia. Dari 2.000 hektar areal yang dimiliki, sudah 860 hektar yang digarap.

Apa rahasia sukses Harun? Pria yang ramah ini dikenal rendah hati dan egaliter. Ia kembangkan teamwork kuat. Ia perhatikan kesejahteraan dan sangat menghargai staf yang berprestasi. Ia pun mengajak dialog staf yang lamban dan salah melulu.

Hal yang digarisbawahi anak buahnya, Harun tidak berlagak pintar, tidak pula berlagak bos. Harun suka datang dan bertanya kepada staf yang lebih mengerti suatu persoalan, atau para pengembang yang lebih berpengalaman.

”Kita jangan berlagak pintar deh. Selalu ada orang lebih pintar dan lebih pintar lagi. Di atas langit, kan, masih ada langit,” ujar Harun. Bagi dia, kegagalan tidak selamanya. Sukses pun demikian. Selalu ada pesaing yang mengintai untuk mengalahkan Anda. Oleh karena itu, waspadalah selalu.

Merangkak dari bawah

Gambaran tentang keuletan yang dipadu dengan kecerdasan juga tampak pada sejumlah eksekutif lain, misalnya pada G Sulistyanto (50), Managing Director Sinar Mas, salah satu korporat raksasa berskala dunia.

Jabatan formal Sulis, begitu ia biasa disapa, memang managing director, tetapi sehari-hari ia menjadi ”komandan” dari President Office Sinas Mas yang mengayomi lima korporat besar, masing-masing bergerak di bidang pulp and paper, finansial, agrobisnis, properti dan others, yakni bisnis-bisnis di luar empat korporat itu.

Empat CEO perusahaan besar masing-masing adalah anak Eka Tjipta Widjaja, yakni Teguh Ganda, Indra, Franky Osman, dan Muchtar Widjaja. Adapun others dipegang oleh beberapa eksekutif di antaranya Danny Josal dan Franky.

Sulis tidak serta-merta duduk di posisi elite itu. Pelobi tingkat tinggi yang lahir dari keluarga sangat sederhana ini, seperti Harun, berangkat dari lantai terbawah. Dari staf kecil, Sulis naik perlahan hingga menjadi salah seorang tumpuan harapan Sinar Mas.

Pengalaman paling berkesan yang ia alami adalah ketika menjadi Wakil Ketua Tim Restrukturisasi Sinar Mas (ketuanya Franky Widjaja). Sinar Mas ketika itu, 2000-2001, dalam posisi sangat kritis, Utang mencapai 11,5 miliar dollar AS. Angka ini fantastis karena besaran utang ini ”kelas dunia”. Pada saat bersamaan, harga kertas dan bubur kertas ataupun CPO (produk andalan Sinar Mas) jatuh. ”Saya sampai menghela napas bolak-balik menghadapi kenyataan begini,” ujar Sulis.

Akan tetapi, dengan determinasi dan wibawa tinggi Eka Tjipta (pendiri) dan timnya, Sinar Mas mampu keluar dari kesulitan. Harga kertas dan bubur kertas sudah naik, begitu pula CPO, menjadi primadona dunia. Sinar Mas berkilau lagi dan utang pun terbayar.

Dengan bekal pengalaman masa silam yang pahit, Eka Tjipta sebagai pendiri korporat memerintahkan anak-anaknya agar tidak berada dalam satu holding besar. Perusahaan itu kemudian dibagi menjadi lima bagian besar. Dengan formula ini, kata Sulis seandainya finansial bermasalah, ia tidak sampai mengganggu bisnis properti, kertas, agrobisnis dan others. Ia diharapkan survive sendiri.

Duduk di posisi amat penting di Sinar Mas, tidak membuat Sulis sulit ditemui. Pria ini tetap ramah dan bersedia mengangkat telepon teman dan mitranya. Ia tidak menutup diri ditemui wartawan dan orang-orang tidak mampu. Sulis dikenal membagi waktunya untuk edukasi, pendidikan, dan pemberdayaan orang miskin.

Lalu hendak ke mana Sinar Mas? Sulis menyatakan, tantangan ke depan menjadi perusahaan berkelas dunia. Kini perusahaan-perusahaan Sinar Mas bermain di wilayah Kanada, Amerika Serikat, China, Jepang, Eropa, Asia Tenggara, dan Asia Selatan.

Di China, misalnya, Sinar Mas menjadi salah satu raksasa properti di sana. Perusahaan ini juga bergerak di bidang perbankan dan ritel. Kiprah perusahaan ini di antaranya tampak di Beijing, kawasan pantai timur termasuk Shanghai, dan di selatan, Guangzhou.

Sulis menegaskan, perusahaan ini dijalankan dengan profesional. Tidak ada korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), atau ”koncoisme”. Siapa yang mampu, dialah yang diberi tempat layak. Jumlah karyawan Sinas Mas di Indonesia 320.000 orang. ”Jelas tidak mudah menangani tenaga kerja sebanyak itu. Tapi saya kira itu salah satu ujian bagi para CEO Indonesia,” katanya.

Dalam konteks yang tidak banyak berbeda, sosok CEO Indonesia yang berangkat dari bawah ialah Budi Karya Sumadi. Masuk Pembangunan Jaya Ancol pada usia 25 tahun, Budi mulai dari posisi supervisor. Dengan modal ketekunan, loyalitas, dan kreativitas ia menapak karier hingga menjadi direktur tahun 1994.

Budi menjadi CEO pada usia 47 pada tahun 2004. Ia mematahkan tradisi bahwa CEO di perusahaan itu dipegang oleh pendiri dan para pemegang saham. Prestasi Pembangunan Jaya Ancol pun sangat cemerlang.

Generasi kedua

Menurut data yang dihimpun Kompas, kini lebih kurang 40 persen CEO Indonesia yang masuk dalam Kompas100 datang dari pemilik, keluarga pemilik, atau orang dekat pemilik. Selebihnya adalah eksekutif yang tidak ada urusan dengan pemilik. Angka 40 persen ini diperkirakan secara perlahan menurun sejalan dengan makin kerasnya kompetisi bisnis dan kencangnya usaha para profesional menembus wilayah elite korporat.

Akan tetapi, aspek ini juga membuat pemilik dan keluarga pemilik berbenah diri untuk menyongsong tantangan. Para pemilik juga makin profesional dan tangguh bertarung di gelanggang kompetisi bisnis. Di antara para CEO dari kalangan pemilik, seorang di antaranya adalah Anthony Salim. Pria yang dingin pada pers ini refleksi dari CEO yang mampu menggabungkan kecerdasan, kreativitas, talenta bisnis, dan kerja keras menjadi satu aspek yang utuh.

Anthony terbiasa bangun pukul 05.00, olahraga ringan, dan mandi. Pukul 06.00 biasanya ia sudah keluar rumah; menuju kantor atau ke bandara. Ia suka melakukan perjalanan ke luar negeri dan kota-kota besar di Indonesia untuk urusan kerjaan.

Ia mempunyai beban berat menangani banyak usaha dengan karyawan lebih dari 500.000 orang. Namun, Anthony Salim selalu tampak sehat. Seorang anggota stafnya menyatakan, Anthony menyukai pekerjaannya dan tidak mengabaikan olahraga. Itu sebabnya, ia mempunyai energi luar biasa untuk menangani korporat sebesar Grup Salim.

Sehari Anthony kerap bisa menghadiri sepuluh rapat. Dan semua rapat ia kuasai materinya, padahal perusahaannya sangat banyak. Ia bahkan bisa berbicara lebih dalam dibandingkan dengan eksekutif yang menangani langsung perusahaan tersebut.

Kemampuan Anthony di antaranya tampak ketika ia menangani gejolak dan persaingan yang terjadi antarperusahaan mi instan, atau ketika menangani masalah minyak goreng yang rumit. Grup Salim bisa keluar dari masalah itu dengan senyum. Ini juga sebabnya, para eksekutif Indonesia menyebut Anthony Salim sebagai refleksi dari sukses generasi kedua bisnis Indonesia.

Gambaran lain tentang sukses CEO Kompas100 dari generasi kedua adalah James Tjahaja Riady. James mempunyai perbedaan formula dengan Anthony kendati di ujungnya, masing-masing meraih sukses besar.

James menggabungkan kemampuan bisnisnya dengan aspek beraroma spiritual sehingga ia banyak berbicara tentang sukses perusahaan dan kehendak Yang Maha Pencipta. James suka mengajak para stafnya tidak mengabaikan hubungan vertikal dengan Tuhan. Ia menggugah stafnya agar tidak sekadar memikirkan masalah duniawi.

Seperti eksekutif puncak lainnya, James amat sibuk. Namun, semua bisa ia atasi dengan mekanisme kerja yang sangat efektif. Pagi ia pasti berdoa, berolahraga, sarapan, lalu bekerja all out. Ia datang pada banyak rapat dengan inner circle perusahaan ataupun staf lainnya.

Hal yang menarik, wajahnya tampak segar meski bekerja sejak pukul 07.00 hingga larut malam. ”Nikmati pekerjaan Anda, dan selalu bersyukur kepada Allah. Dengan begitu Anda tidak pernah punya beban berat,” ujar James.

Perusahaan James meraksasa di banyak negara, di antaranya China, Hongkong, Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat. James bermain di wilayah finansial, properti, perbankan, jasa, dan ritel.

Hal yang bisa dipetik dari para CEO Indonesia, terutama yang masuk dalam Kompas100 ini, ialah mereka berlatar belakang pendidikan tinggi, berangkat dari level bawah.

Mereka mampu menggabungkan talenta, kecerdasan, naluri bisnis, dan kepekaan pada kondisi masyarakat. Mereka pun memiliki fisik sangat baik karena pandai menjaga kondisi. Penjagaan kondisi itu bukan semata karena minum obat atau vitamin, tetapi karena berolahraga teratur dan mampu ”menikmati” pekerjaan-pekerjaan berat.

Aspek lain yang menarik, kini muncul CEO-CEO muda, yang duduk di kursi itu ketika usia mereka mulai dari 27 sampai 32 tahun. Mereka umumnya berlatar belakang pendidikan luar negeri, pernah bekerja di luar negeri, berbakat, dan cerdas.

Menurut data Kompas, CEO perusahaan-perusahaan besar properti yang kini berkibar adalah anak-anak muda itu. Mereka, di antaranya, adalah Anindya Novyan Bakrie (Grup Bakrie), Solihin Kalla (Grup Hadji Kalla), Erwin Aksa (Grup Bosowa), Didi Teja (properti), Eiffel Tedja (Grup Pakuwon), dan Ronald Kumalaputera (properti). Mereka menjalankan bisnis raksasa dengan kapitalisasi ratusan sampai triliun rupiah.

Ditulis oleh : Oleh Abun Sanda

Friday, July 30, 2010

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen
Maurits Lalisang dilahirkan di Jakarta 1955 dari sebuah keluarga sederhana yang terletak di Kali Pasir, Cikini. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 4 Jakarta, ia masuk ke Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Administrasi Niaga. “Dulu ketika saya kuliah, biayanya sangat murah saya hanya membayar uang kuliah sebesar Rp 15.000,00. dalam satu semester,” ujarnya.

Maurits menceritakan sewaktu kuliah ia merupakan bagian dari komunitas Warung Kopi (Warkop/Dono, Kasino, Indro, Nanu) yang akhirnya dikenal sebagai kelompok komedi di Indonesia era 1980 – 1990an. Tahun 1978 ia berhasil menyelesaikan studinya, namun ia tidak langsung bergabung dengan perusahaan Unilever Indonesia, ia bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan Jepang selama 1,5 tahun.

“Saya bergabung dengan Unilever mulai tahun 1980 dengan posisi sebagai salesman yang keluar masuk pasar,” kata Maurits. Namun ia mengakui, itulah masa paling indah dalam perjalanan karirnya sebagai bagian dari keluarga besar Unilever. “Hampir semua pasar tradisional yang besar di Jakarta pernah saya kunjungi, jadi jika sekarang ada salesman yang berkata tidak jujur pasti ketahuan,” paparnya.

Banyak hal yang bisa dipetik sebagi seorang salesman seperti belajar bagaimana menerapkan strategi yang jitu dalam pemasaran, mengenal lebih banyak manusia dengan berbagai karakter dan belajar melakukan komunikasi dengan banyak orang. Setelah itu karirnya melesat menjadi supervisor, regional manager di Palembang. Ia adalah salah seorang putra lokal yang pernah mencicipi hidup Unilever di luar negeri.

“Saya sudah berputar-putar di berbagai tempat di dunia seperti Belanda dan Inggris,” tuturnya. Namun akhirnya kecintaan pada kampung halamanlah yang membuat saya ingin kembali. Seperti peribahasa lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang, bagaimanapun juga kita akan bahagia tinggal di tanah air tercinta.

Hal yang paling membahagiakan di Unilever Indonesia adalah kita hidup dalam suatu keluarga besar sehingga terjalin ikatan yang sangat erat. “Hal inilah yang tidak saya dapatkan ketika berada di luar negeri,” tegasnya. Jika kita bahagia dengan apa yang kita rasakan saat ini maka kita tidak akan khawatir apa yang akan terjadi di hari esok.

Filosofi Hidup
Di waktu senggangnya ia menyempatkan diri bermain golf dan main band. Perusahaan memang menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat olah raga, fasilitas bermusik dan ruangan santai. Hal ini positif karena karyawan bisa melakukan berbagai aktivitas olah raga atau musik sambil menunggu kemacetan yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta.

Filosofi hidupnya cukup sederhana, “I just try my best every time,” ujarnya. Selama di Unilever ia tidak pernah minta naik pangkat dan baginya menjadi presiden direktur hanyalah titipan dan suatu hari pasti akan berakhir. Keterbukaan inilah yang membuat staf atau karyawan tidak canggung untuk memasuki ruang kerjanya.

Dulu ketika di tunjuk sebagai presiden direktur Januari 2004 ia justru terkejut karena ia merasa belum cukup banyak pengalaman tetapi ia menerima tanggung jawab ini. Yang penting kita percaya bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dan menikmati apapun yang menjadi tanggung jawab kita.

Setelah kurang lebih 25 tahun bekerja di Unilever pengabdian, kerja keras dan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit telah mengantarkan pemuda yang kali pertama hanya mengangkat sabun, margarin keluar masuk pasar menjadi seorang CEO yang mengangkat nama Unilever sebagai perusahaan consumer good yang paling disegani di Indonesia.

(By Sinar Harapan)Posted by: warisancoetomocoid on: Mei 19, 2009

Maurits Lalisang raih Best CEO in the Year

Maurits Lalisang raih Best CEO in the Year
Oleh: Siti Nuraisyah Dewi
JAKARTA (Bisnis.com): Maurits Lalisang terpilih sebagai Best CEO in the Year pada ajang Bisnis Indonesia Award 2010 yang digelar hari ini.

Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Unilever Indonesia Tbk mengatakan penghargaan tersebut didedikasikan kepada segenap karyawan Unilever Indonesia yang telah bekerja keras mengembangkan perseroan bersamanya.

"Saya berterima kasih kepada seluruh karyawan Unilever yang telah mendedikasikan dirinya selama ini, juga kepada Bisnis Indonesia yang telah menyelenggarakan ajang penghargaan ini. Semoga dengan adanya ajang ini para pebisnis dapat berlomba memberikan yang terbaik bagi konsumen dan bagi negara," ujarnya.

Menurut dia, penghargaan tersebut sebenarnya untuk segenap karyawan, bukan untuk dirinya pribadi. Pria lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia ini mengawali karir di Unilever Indonesia pada 1980 sebagai Sales Trainee.by Bisnisindonesia; Kamis, 29/07/2010 17:23:36 WIB

Tuesday, June 1, 2010

Are leaders born or made?

by : Preston C. Bottger - Professor - IMD, Jean-Louis Barsoux - Research Fellow - IMD

Are leadership qualities innate or acquired?

The above is a question that has obsessed many leadership scholars over the years and is often posed by executives in development programs. Here’s our response – it’s a bad question, which begets bad answers.

As many decades of leadership writing shows, this is a question that cannot yield a satisfactory response, especially for aspiring leaders.

Understandably, the line taken by management educators tends to be that most leadership qualities can be developed, given adequate amounts of key personal characteristics, notably intelligence and physical energy. But the fact is that you do not know what you are born with until you try very hard to express it.

So why do executives even concern themselves with this question? Often, it is to gauge their own leadership potential; sometimes, to determine that of others.

Yet “born or made?” is a bad question for such assessments because it gets executives focused on the wrong topics – such as which dispositions are fixed and which behaviors are amenable to change.

Actually, the question illuminates little, as it fails to deal with a basic point, namely the degree of responsibility sought.

What level of leadership responsibility does the person aspire to? The highest levels of leadership responsibilities present tasks that are massive, complex and conflictual. The playing field, the boundaries and the rules become less certain. Indeed, it is the leader’s job to shape these choices.

Also, the further executives advance in leadership, the more they must deal with high-caliber people who know how to get what they want, who are difficult, strong-willed and who have a sharp appetite for power.

For executives trying to assess their leadership potential, we propose instead three critical questions.

Question 1: How far do you want to go?

To reach higher office and to fulfill the obligations of higher office, you must continuously make choices that will affect other people’s money and lives. And you will be doing this in a context where other people will want your position or will be competing with you for the next higher role.

It is easy to criticize the competence of those with greater responsibilities than ourselves, and even easier to fantasize about how we would do it better.

Many people who aspire to senior leadership simply underestimate the degree and kinds of effort required to take on those responsibilities.

A useful exercise: Look at your immediate boss’ job and honestly ask if you could do it as well, or better. Then, stretch even further and take the most senior leader in your line of sight – perhaps the CEO – and educate yourself about what that person must deal with.

Get a feel for the gap between how you spend your time and the time, energy and capabilities required to do those jobs. What would it take to be CEO of your company? What would you have to do that you now cannot do, or do not enjoy doing? What do you enjoy now, but would have to give up?

We see too many executives who set themselves up to fail by lack of valid assessment of the role they are pursuing in comparison to their true capabilities.

Question 2: What are you willing to invest?

Aspiring leaders can delude themselves about their strengths and the extent of their limitations.

The realization that you have significant limitations can be hard to digest. But if you are serious about wanting to lead, you face tough choices about how much effort you must put in and in which areas – in order to grow the capabilities that enable the exercise of extreme responsibility.

The work of leadership certainly requires business smarts, technical capabilities and cultural sensibilities, but above all, it is about power. While this point is upsetting to some people, the brutal reality is that whatever else a leader must do, a leader must gain, exercise and retain power. We meet too many “high potentials” who aspire to high leadership, but are used to rewards for being bright and creative. This breeds a sense of entitlement that is incompatible with the necessity to fight for leadership power.

While it has bad connotations for some people, the appetite for power is a necessary condition for reaching positions of high responsibility.

Also, there will be pleasures that you must give up. Certainly, there will be implications for aspects of your personal life – raising questions not so much of “work-life balance” in the short-term but rather of finding a “workable mix” over the long-term.

And there are constraining beliefs to overcome that limit your capacity to see things as they actually are, and to generate new behaviors. As a leader you must take people where they have never been before – in thought and action – often against their initial preferences. But until you let go of the hooks that tie you to your own past, you won’t be able to go new places either.

Question 3: How will you keep it up?

Over several decades, you need methods to keep yourself going when you are not being recognized and rewarded for your performances – and to deal with criticism, resistance, setbacks and people disliking you or what you are asking them to do.

The assessment of the costs of leadership is not a one-off event.

If you envisage another 10, 20 or even 30 years of leadership work, then you must find effective methods for maintaining your physical vitality, your emotional flexibility and your intellectual reach and freshness.

As they do the hard work of leadership, many people become more closed and set in the ways that have brought them success so far. So periodically, senior executives must create time-out to review where they are investing their time and energy, to ensure that they remain capable of generating new behaviors to deal with new challenges.

Management educators might be right that leadership is learnable. But instead of taking comfort in the idea that you can develop, you should take fright at how much work there is devising methods for managing novel situations, indeed extreme circumstances.

The most significant leadership question is not “born or made?”. The important questions are: what are your current assets and what are you willing to do – or to sacrifice – to attain leadership at the highest level you can?

This article first appeared on IMD’s web site. You can see the original article here.
IMD is a leading international business school based in Lausanne, Switzerland
Source :http://www.ceoforum.com.au

Friday, May 7, 2010

The Best-Performing CEOs in the World


by Morten T. Hansen, Herminia Ibarra, and Urs Peyer

A lot of people have blamed short-term thinking for causing our current economic troubles, which has set off a debate about what time window we should use to assess a CEO’s performance. Today boards of directors, senior managers, and investors intensely want to know how CEOs handle the ups and downs of running businesses over an extended period. Many executive compensation plans define the “long term” as a three-year horizon, but the real test of a CEO’s leadership has to be how the company does over his or her full tenure.

This article contains the first ranking that shows which CEOs of large public companies performed best over their entire time in office—or, for those still in the job, up until September 30, 2009. To compile our results, we collected data on close to 2,000 CEOs worldwide.

It may come as no shock that Steve Jobs of Apple tops the list. However, our ranking does contain a few surprises. You’ll see some relatively unknown faces at the top. The inverse is also true: Some obvious candidates in terms of reputation don’t make the top 50, which we’re printing in this issue—or even the top 100 or top 200. (To view the top 100 and access a list of the top 200, go to hbr.org/top-ceos.) In fact, our list overlaps very little with lists of the most-admired or highest-paid CEOs.

Sidebar Icon The Top 50 CEOs

Top 100 CEOs Slideshow

Do We Celebrate the Wrong CEOs?

Women CEOs: Why So Few?

When we analyzed the data to see which factors increased the likelihood that an executive would rank high, we uncovered a few more surprises. Although one might expect context to have a big effect, we found a wide diversity of countries and industries represented among the top performers. The CEO’s background did matter, however, as did the situation left behind by his or her predecessor.

Our data highlight the great extent to which CEOs account for variations in company performance, beyond those due to industry, country, and economic swings. That drives home how important it is to use objective, long-term measures to assess CEOs and to inform CEO searches and succession planning.

Apa Kata CEO Terbaik

Baru saja Swa, sebuah majalah bisnis, melansir hasil survey bertajuk The Best Chief Executive Officer (CEO) 2008 yang dilakukan bersama dua lembaga riset bisnis -Dunamis dan Synovate. Survei itu menempatkan Agus D.W Martowardoyo, CEO & Presdir PT. Bank Mandiri, Tbk pada urutan teratas dalam daftar Top 10 Best CEO 2008 di Indonesia.

“Seorang pemimpin harus pandai mendengar,” kata Agus D.W Martowardoyo dalam wawancara SWA.

CEO Bank Mandiri yang disukai Wapres Jusuf Kalla untuk menempati pos Gubernur Bank Indonesia tersebut melesak ke urutan ke-1 CEO versi SWA, lalu diikuti: (2) Franky Oesman Widjaja (Sinarmas Agribusiness and Food), (3) Tony Chen (Microsoft Indonesia), (4) Arif Soeleman Siregar (Inco Indonesia), (5) Kris Taenar Wiluan (Citra Tubindo, pemasok peralatan industri perminyakan), (6) Anthony Akili (Smailing Tour & Travel), (7) Harry Sasongko (GE Finance), (8) A.Sutjipto (Wijaya Karya), (9) Mohammad Nadjikh (Kelola Mina Laut), (10) Haidar Baqir (Mizan Publika).

Ke-10 CEO tersebut dipilih dari 29 CEO yang diseleksi berdasarkan performance keuangan perusahaannya. Mereka ditelesik berdasarkan fungsi Perintis, Penyelaras, Pemberdaya, dan Panutan -konsep Stephen Covey tentang The Roles of Leadership.

Tentang nilai-nilai kepemimpinan, para CEO itu mengatakan,

“Kepemimpinan adalah bagaimana menjadi sumber inspirasi dan mendorong karyawan untuk melakukan yang terbaik, mengambil keputusan terbaik dengan disiplin, semangat, dan cinta.” Franky Oesman Widjaja, CEO Sinarmas Agribusiness and Food.

“Berusaha memaksimalkan kehidupan setiap hari, sebagai wujud syukur dan tanggung jawab kepada Tuhan, keluarga, dan perusahaan.” Tony Chen, CEO Microsoft Indonesia.

“Kepemimpinan adalah Trust and Encourage your team.” Arif Soeleman, Siregar, Inco Indonesia.

“Kepemimpinan adalah memberikan contoh yang baik.” Kris Taenar Wiluan , CEO & owner Citra Tubindo.

“A leader is to lead and inspire by actions or example whether inteonally or not. If my action inspire my team to dream more, learn more, do more and become more, then I am a succesfull leader.” Anthony Akili, CEO & owner Smailing Tour & Travel.

“Kepemimpinan bagaikan lari maraton dalam siklus visi, perencanaan, eksekusi, dengan mengajak semua karyawan berpartisipasi.” Harry Sasongko, CEO GE Finance.

“Kepemimpinan adalah inspirator yang dapat mengajak, memotivasi, dan mendorong bawahannya untuk berusaha keras mencapai cita-cita perusahaan.” A.Sutjipto, CEO Wijaya Karya.

“Seorang pemimpin yang sukses bukanlah orang yang dicintai atau dikagumi, melainkan orang yang menggugah anak buahnya untuk melakukan hal-hal yang besar.” Mohammad Nadjikh, CEO & owner Kelola Mina Laut.

“Kepemimpinan adalah kepemilikan visi yang diwujudkan di dunia nyata melalui kecintaan, kesabaran, dan ketrampilan, serta keteladanan dan kemampuan menggerakkan orang untuk berusaha dengan sepenuh hati dalam mencapainya.” Haidar Baqir, CEO & owner Mizan Publika.

The Best CEO: Five Defining Characteristics of a Great CEO

What are the five defining characteristics of the great CEO?

1. Personal insight.
Great CEOs are great leaders. They know themselves and what they stand for. They have been called on all their lives as problem solvers because others know them to be fair and impartial. People respect their opinions and look to them for guidance. Great CEOs are mature as people. They can suffer disappointment more gracefully than others and give others credit for their achievements. They don't come in the office door yelling for something they need. They aren't as concerned about titles or power structures as they are about the welfare of those who work at the company. They are trustworthy because they've always been honest with people and have earned that trust. They care about families, and they know that people are more important than dollars and express it in their actions every day. Finally, great CEOs seek out feedback. They want to know how others see them so that they can understand themselves better and continue to grow as people. They also want feedback about the company from an employee perspective, and they use surveys as a starting point for creating a dialogue to make things better.

2. Resourcefulness.
Great CEOs seem to have boundless energy. They come to work with the greatest enthusiasm. Even when they don't feel like it, they find ways to reenergize themselves and come in ready to go. They take good care of themselves physically and emotionally so that they can be there for the employees and the needs of the company. They give much more than they take every day. They don't give up. If the wall is too high, they back down and find another way around. They don't blame, but they do look for solutions to problems so that those problems are less likely to happen again.

3. Courage.
The CEO has one of the world's toughest jobs. No matter how tough it was to start the company, it's even harder to keep it going and growing. A CEO must decide what he or she stands for and do what is right, all the time. It takes courage to fire the salesperson responsible for the company's biggest, most lucrative account when that same salesperson drives a company car drunk and causes an accident. There will be many times when CEOs will want to smooth over something that requires decisive action because of the potential consequences or because they just can't take on one more challenge at the moment. However, CEOs who exercise poor moral judgment will lose their personal integrity with all of their employees watching.

4. Willingness to look at risk.
A great CEO isn't afraid to look at the downside and answer the hard questions he or she hopes will never become a reality. The CEO needs a backup plan-one that is designed by looking at the company's worst-case scenarios. This plan addresses questions such as: What if your industry experiences a slump? What if new governmental regulations affect your business? What if you lose the client that accounts for 50 percent of your sales? Preparing yourself and your company for these eventualities may be the difference between a tough year or two and bankruptcy. If you are in business for 20 years, some of your worst-case scenarios will probably happen. The key is to be ready and able to take immediate action to reduce the loss.

5. Foresight.
It seems some CEOs have an uncanny ability to predict the future. They may have unusual insights into their particular markets, and luck may play a part as well. In addition, they are prepared to create their own luck by cultivating an ability to see opportunities for their company and to make the deals that convert those opportunities into realities. Some things that may seem like amazing foresight are actually the result of the hard work and discipline it takes to constantly look forward to build a successful company. Great CEOs must also constantly develop new products to build and retain a customer base. Foresight is also the ability to hire and retain the right people, looking ahead toward the growth of the company. Finally, over time, each company must develop a steady source of business during both good economic times and bad, because there are sure to be bad economic times during the life of a business.

Jan B. King is the former President & CEO of Merritt Publishing, a top 50 woman-owned and run business in Los Angeles and the author of Business Plans to Game Plans: A Practical System for Turning Strategies into Action (John Wiley & Sons, 2004). She has helped hundreds of businesses with her book and her ebooks, The Do-It-Yourself Business Plan Workbook, and The Do-It-Yourself Game Plan Workbook

Monday, February 22, 2010

Rektor Unair Terima Mahasiswa Baru

Kampus C - Warta Unair

Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Fasich, Apt., Selasa (18 Agustus 2009) kemarin secara resmi menerima sebanyak 6124 orang mahasiswa baru tahun akademik 2009. Acara sidang Universitas Airlangga dalam Rangka Pengukuhan Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2009-2010 ini, digelar di Gedung Auditorium Kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya, dihadiri seluruh pimpinan Unair, Dekan, Guru Besar, Ketua Presidium Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unair, perwakilan dosen dan orang tua mahasiswa.

Mahasiswa angkatan tahun 2009 ini adalah mahasiswa angkatan ketiga sejak Unair meraih status Badan Hukum Milik Negara (BHMN) tahun 2006. Mereka terdiri dari 996 mahasiswa Diploma-3 (D3), 3.938 mahasiswa Strata-1 (S1), 493 mahasiswa Alih Jalur, 697 mahasiswa pascasarjana (S2, S3, dan Spesialis), sehingga total mencapai 6160. Mereka diterima setelah melalui berbagai ujian tertulis (test) yang dilakukan Unair sejak bulan Februari hingga Agustus 2009.

Penerimaan mahasiswa secara resmi tersebut dilaksanakan oleh Rektor dengan acara pemakaian jaket almamater dan mutz Unair secara simbolis kepada dua perwakilan mahasiswa baru , yang diikuti oleh semua mahasiswa.
Pada acara itu, Rektor Unair menyerahkan beasiswa penuh (full scholarship) yang disebut Beasiswa Masuk Universitas (BMU) kepada 23 mahasiswa baru Unair berprestasi khusus, yang diwakili oleh Ainur Rozikun (Fakultas Sains dan Teknologi) dan Churnia Ragil (Fak. Psikologi). Beasiswa ini dikeluarkan sesuai SK Rektor Unair No. 644/H3/KR/2009, yang rinciannya meliputi biaya SPP selama empat tahun dan biaya hidup sebesar Rp 5 juta setiap mahasiswa setiap tahun.
Selain itu dalam kesempatan ini disampaikan pidato ilmiah oleh pakar politik dari FISIP Unair, Drs. Daniel Theodore Sparringa, MA., Ph.D, dan pidato perwakilan orangtua mahasiswa baru oleh Ir. Helmi (PT Pupuk Kaltim).

Harus Disyukuri
Dalam sambutannya, Rektor Unair Prof. Dr. Fasich, Apt, mengatakan bahwa keberhasilan menjadi mahasiswa Unair tersebut merupakan prestasi yang harus disyukuri, mengingat tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk dapat menempuh pendidikan di Unair sebagai salah satu perguruan tinggi yang mempunyai reputasi di tanah air Indonesia.
“Ucapan syukur tersebut selanjutnya harus ditindaklanjuti dengan kerja keras selama menempuh pendidikan di Unair, agar pada saatnya nanti sampai pada tujuan dan cita-cita saudara, orang tua, dan bangsa, yaitu menjadi seorang sarjana,” kata Rektor.

Ditambahkan oleh Rektor, sejak menyandang status BHMN tahun 2006, Unair memperoleh otonomi untuk melaksanakan semua tanggungjawabnya dalam menyelenggarakan pendidikan bagi mahasiswa. Bahkan sudah pula disusun rencana strategis untuk mengarah menjadi universitas terkemuka, mandiri, inovatif dan bermoral tinggi. Untuk itu telah dilakukan perubahan kearah penyempurnaan di berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (tri civitas akademika).

Prestasi Unair
Di bidang penelitian misalnya, Unair telah mendapat mandat dari pemerintah untuk membuat vaccine flu burung, sebagai hasil ketekunan seluruh sivitas dalam bidang penelitian flu burung (avian influenza/AI). Penelitian penyakit flu burung dan penyakit tropis lainnya akan makin dimungkinkan seiring dengan telah dimilikinya fasilitas laboratorium Bio Safety Level-3 (BSL-3) serta pembangunan Rumah Sakit Penyakit Tropik Infeksi yang sedang berlangsung dan dalam waktu tidak lama lagi akan segera beroperasi.


Rektor juga memuji bahwa capaian prestasi mahasiswa juga pantas dibanggakan. Misalnya, tahun lalu Aan Hunaifi, mahasiswa FST Unair terpilih sebagai Duta ASEAN Preneurs untuk Indonesia yang diselenggarakan oleh ASEAN Preneurs Youth Leader Network National University of Singapore Enterpreneourship Society. Lima mahasiswa jurusan Fisika FST menjadi juara Olimpiade NasionalMIPA Perguruan Tinggi 2009, Harun Immanuel dari Departemen Matematika FST menjadi delegasi Indonesia yang pertama kali meraih hadiah sebagai pemenang II lomba olimpiade matematika tingkat dunia. Di bidang olahraga, tim basket putera Unair sebagai juara Road to LA Light Campus League 2009.

Secara kelembagaan Unair juga telah meraih penghargaan Anugerah Anindyaguna dari Mendiknas atas pengakuan sebagai PT berkelas dunia. Ranking Unair dalam Webometrics terbaru juga meningkat. Di tingkat nasional Unair berada di peringkat lima besar, dan di level Asia Tenggara berada di posisi 40, pada ranking dunia berada di peringkat 2.672. Unair juga memperoleh Penghargaan Good Practices dari Dirjen Dikti dalam hal penjaminan mutu (quality assurance) dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar, kompetensi mahasiswa, alumni dan dosen, serta sarana dan prasarana. (Sumber www.Wartaunair.ac.id)

Friday, January 22, 2010

Terpilih sebagai Country Manager untuk Indonesia


Surabaya - Setelah mengikuti seleksi ketat akhirnya Aan Hunaifi, mahasiswa Fakultas Saintek Unair, terpilih sebagai Country Manager untuk Indonesia dari National University of Singapore (NUS) Entreprenurship Society. Program ini mendapat dukungan penuh dari Sekjen ASEAN.


"Pada awalnya saya merasa sedikit pesimis akan bisa terpilih mengingat begitu banyak peminatnya," katanya kepada detiksurabaya.com, Sabtu (20/12/2008).

Dalam mengikuti seleksi dengan system online tersebut, dia hanya berbekal pengalaman yang pernah memenangi lomba dan training seperti Entreprenurship for physicists and Engineers di Italy 2008, juara 3 Lomba Bisnis Plan Bioteknologi 2007 dan Student Technopreneurship Program tahun 2006.

Selain itu Hanafi juga pernah aktif sebagai Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)

Sebagai Country Manager bertugas untuk mengenalkan program dan aktivitas ASEANpreneurs Singapore di Indonesia. Salah satu program yang akan dilaunching adalah ASEANpreneurs Alpha Challenge (AAC), yang merupakan kompetisi dengan konsep bercerita, tentang kesuksesan para entrepreneur dalam format digital di tingkat Asean.

Di samping itu, beberapa program yang akan di kerjakan seperti ASEANpreneurs Youth Leader Network (AYLN), ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange (AYLE), Bussines Plan Competition, ASEANpreneurs Week dan beberapa format program pengembangan entreprenurship lainnya, dimana sasaran utama adalah para mahasiswa di Indonesia.

Program-program ASEANPreneurs dirancang untuk memberi kesempatan mahasiswa Indonesia untuk berbagi ide, pengalaman, teknologi dalam mengembangkan kemampuan entrepreneurship.

"Dalam menjalankan tugas ini saya akan kerjasama dengan kampus-kampus yang fokus terhadap pengembangan entrepreneurship," tuturnya.

Ia berharap jika terjalin kerjasama yang baik antara ASEANPreneurs NUS dengan Kampus di sini, akan memberi banyak manfaat. Mengingat sekarang Mendiknas juga mendorong program-program kampus yang berbasis kewirausahaan. (stv/fat) sumber www.detiksurabaya.com

Kepemimpinan Muda : Peluang dan Tantangan


Makalah ini saya tulis untuk mengikuti Lomba The Next Leaders yang diadakan oleh Lead Institute dan Metro TV.
Walaupun cuma bisa masuk tahap kedua Audisi di Jogja ( dari 450 orang diambil 35 untuk diambil lagi 15 orang )tapi Lomba ini sangat membantu saya untuk memperbaiki kualitas saya tentang pengetahuan politik dan diplomasi. Pada awalnya saya berpikir bahwa lomba ini terbuka bagi semua pemimpin dari berbagai background. tetapi ternyata lebih difokuskan ke politik. Jadi ya saya kurang begitu kompetitif mengikuti lomba ini. hehehe…..Tapi ndak apa-apa yang penting sudah mencoba. dan yang terpenting saya harus selalu memperbaiki kualitas diri supaya bisa bersaing dan bermanfaat bagi orang lain…InsyaALLAH..
Berikut Makalah selengkapnya :
Dalam perjalanan zaman, sejarah baru selalu ditandai dengan lahirnya generasi baru. Dalam kancah sejarah, generasi baru yang mengukir sejarah baru itu adalah dari kalangan kaum muda. Perputaran sejarah juga telah membuktikan bahwa setiap generasi itu ada umurnya
Kenyataan ini semestinya disadari oleh kaum muda Indonesia. Kesadaran yang diharapkan mendorong segenap kaum muda untuk segera mempersiapkan dan merancang prosesi pergantian generasi. Karena pada hakikatnya kita membutuhkan wajah-wajah baru.

Indonesia membutuhkan pemimpin dari kaum muda yang mampu merepresentasikan wajah baru kepemimpinan bangsa. Ini bukan tanpa alasan, karena kaum muda dapat dipastikan hanya memiliki masa depan dan nyaris tidak memiliki masa lalu. Dan ini sesuai dengan kebutuhan Indonesia kini dan ke depannya yang perlu mulai belajar melihat ke depan, dan tidak lagi suka dengan tabiat yang suka melihat ke belakang. Kita harus segera maju ke kepan dan bukan berjalan ke masa lalu. Dan secara filosofisnya, masa depan itu adalah milik kaum muda. Sebagaimana telah sering kita dengar nasehat bahwa, pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Bahkan Presiden RI pertama Soekarno pernah mengatakan beri aku 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Oleh sebab itu keberadaan kaum muda sangat vital dalam mengawal keberlanjutan suatu negara.

Inilah peluang yang mesti dijemput oleh kaum muda saat ini. Sebuah peluang untuk mempertemukan berakhirnya umur generasi itu dengan muara dari gerakan kaum muda untuk menyambut pergantian generasi dan menjaga perputaran sejarah dengan ukiran-ukiran prestasi baru. Maka, harapannya adalah bagaimana kaum muda tidak membiarkan begitu saja sejarah melakukan pergantian generasi itu tanpa kaum muda menjadi subjek di dalamnya.

Kepemimpinan kaum muda tidak akan datang dengan sendirinya. Sejarah baru dengan kepemimpinan dari generasi baru tidak akan serta merta menjadi nyata tanpa ada persiapan dari generasi baru itu. Bahwa negeri ini mesti diperbaiki dengan semangat baru, orang-orang baru dengan vitalitas baru serta visi kepemimpinan yang benar-benar baru adalah harapan bagi segenap rakyat Indonesia.
Persiapan yang perlu dilakukan kaum muda saat ini diantaranya adalah bagaimana menyamakan persepsi tentang urgennya kepemimpinan kaum muda dalam menjawab kebutuhan bangsa ke depan. Urgensi kepemimpinan kaum muda yang disadari oleh pemikiran kolektif bahwa generasi pemimpin yang ada saat ini sudah berumur tua dan layak untuk diganti dengan generasi yang lebih muda. Inilah kesamaan persepsi yang diharapkan memacu para pemuda untuk bersungguh-sungguh mempersiapkan diri sebagai pemimpin dan mengambil kepemimpinan itu pada saatnya tiba

Ketika kita berbicara kepemimpinan berarti kita berbicara masalah prilaku, gaya atau cara. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka ada 3 ciri pokok dari kepemimpinan, yaitu Persepsi sosial, Kemampuan berpikir abstrak, dan Keseimbangan emosional. Tiga hal inilah yang akan kita bahas dalam kaitannya antara kepemimpinan kaum muda dan tua.

Persepsi Sosial adalah kecakapan dalam melihat dan memahami perasaan, sikap dan kebutuhan anggota-anggota kelompok. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Kemampuan berpikir Abstrak, yang berarti memiliki kecerdasan yang tinggi. Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan menafsirkan, menganalisis dan bahkan mempunyai insting yang kuat dalam menghadapi suatu keadaan. Hal ini penting ketika akan mengambil suatu keputusan atau kebijakan, pemimpin harus mengambil suatu resiko.

Keseimbangan emosional, hal ini tentunya sangat penting ketika seorang pemimpin menghadapi masalah. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang sanggup mengendalikan emosinya, dan bukan dia yang dikendalikan oleh emosi.

Dari ciri tersebut, jika dilihat secara obyektif nampaknya Kaum tua lebih mendominasi ketiganya meskipun tidak semua. Dalam mengambil keputusan, Kaum tua lebih banyak berpikir berdasarkan experience/ pengalamannya, sehingga kemungkinan resiko kegagalan sedikit banyaknya dapat diminimalisir. Kaum tua juga memiliki persepsi sosial dan stabilitas emosional yang cukup baik, mungkin karena faktor kedewasaan, pengalaman dan kematangan pemikiran. Biasanya dalam menilai orang lain dalam kelompoknya, ia lebih cenderung bercermin kepada dirinya sendiri. Namun, jika kita bertolak kepada kepemimpinan kaum muda, ada beberapa ciri yang bisa kemukakan disini, yaitu :
  1. Lebih antusias dan bersemangat
  2. Cenderung lebih egois dan menang sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan stabilitas emosi
  3. Bertindak dengan orientasi pada hasil dan prestasi untuk mendapatkan pengakuan
  4. Terlalu cepat dalam mengambil keputusan, atau berani “Gambling” Bertanggung jawab
Dari ciri pokok ini, Kepemimpinan muda memang masih jauh untuk memenuhi ketiga ciri pokok yang telah saya sebutkan diatas. Namun, beberapa ciri positif yang dimiliki Kaum muda ini tidak dimiliki oleh kepemimpinan kaum tua, dimana ketika kedua golongan leadership ini dikonvergensikan, akan menciptakan kepemimpinan yang lebih Solid ketimbang kepemimpinan yang didominasi oleh kaum tua saja, seperti yang terjadi di negara kita sekarang.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh pemikir besar Francis Bacon bahwa Pemuda lebih cocok mencipta ketimbang memutuskan, Lebih cocok bertindak ketimbang menimbang, lebih cocok menggarap proyek baru ketimbang proyek mapan. Orang Tua terlalu sering menolak, terlalu lama berunding, terlalu sedikit berbuat. Sungguh baik bila terpadu keduanya, karena problema bisa terpecahkan oleh nilainya.
Disamping itu terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki kaum muda dalam rangka menjawab tantangan global yang begitu kompleks saat ini :

Pertama, kemampuan meneliti (riset). Penelitian bermula dari adanya masalah. Kaum muda Indonesia tentu sangat menyadari bahwa masalah negeri ini demikian kompleks dan seperti benang kusut. Oleh karenanya kaum muda ditantang untuk mengurai dan memecahkan masalah-masalah sesuai dengan disiplin ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Riset akan membuahkan imajinasi, lalu bergerak menjadi kreasi. Selanjutnya kreasi akan mendorong produksi, lalu melahirkan industri, dan pada pada akhirnya gebrakan industri akan menciptakan generasi yang mandiri. Dengan demikian, jika generasi muda Indonesia memimpikan kemandirian, maka gerakan riset merupakan sebuah keniscayaan.

Kedua, kemampuan advokasi. Semua menyadari bahwa kondisi masyarakat saat ini sungguh memprihatinkan. Kemiskinan, penganguran, serta merebaknya patologi sosial masyarakat merupakan fakta keseharian kita. Gerakan pemberdayaan bergaya konvensional nampaknya sulit untuk dijadikan penawar. Kaum muda semestinya memahami tentang gerakan advokasi-pemberdayaan yang komprehensif. Harus diakui bahwa potret kaum muda yang terlihat saat ini baru mampu melakukan advokasi parsial. Gerakan pemberdayaan yang dilakukan pun tidak dibangun di atas kemandirian kaum muda itu sendiri. Kemampuan advokasi perlu dibangun, dipahami dan dilakukan, serta mencari terobosan gerakan baru dalam upaya menjawab tantangan dan perubahan.

Ketiga, kemampuan memproduksi. Pengertian memproduksi tidak lantas identik dengan kegiatan produksi secara besar-besaran, akan tetapi dalam skala sekecil apapun. Kaum muda dituntut untuk mengembangkan kreasi-kreasi alternatif yang dapat mendorong produksi.

Keempat, kemampuan publikasi. Jika kegiatan riset telah menjadi budaya, advokasi menjadi menu sehari-hari, dan produksi menjadi aksi, maka kemampuan berikutnya adalah kemampuan mengkomunikasikan gerakan kemandirian tersebut melalui publikasi massa.

Kaum muda memiliki peranan yang signifikan dalam proses pembangunan. Ia merupakan penggerak arah dan kebijakan pembangunan serta menentukan masa depan bangsa. Kaum muda harus berani mengambil peran dalam berbagai bidang, terutama kerja-kerja intelektual sehingga menjadi fundamen yang kokoh dalam proses pembangunan ke depan.

Gerakan penelitian (research movement), gerakan keilmuan ( intellectual movement), dan gerakan mencipta (creation movement) menuju arah kemandirian bangsa harus selalu dikumandangkan sehingga akan bergerak menjadi karakter kaum muda Indonesia yang berani bertekad dan berbuat. Oleh sebab itu, sangatlah pantas apabila kaum muda diberi peluang untuk mengemukakan apresiasinya dengan gaya yang berbeda dalam memimpin