Surat Motivasi CEO General Electric Indonesia Untuk Pemimpin Masa Depan


Handry Satriago
CEO
GE Indonesia
BRI II Tower, 16th Floor
JL. Jend Sudirman No. 44-46.
Jakarta 10210
Indonesia
T +62 21 573 0466
F +62 21 573 0561
Jakarta, 9 July 2012

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan
Di manapun Anda berada
Di dunia yang semakin global

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu
membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop
dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk
“Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena,
walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”,
celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain
pembuatannya.



Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu
mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata
“leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg
dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang
yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga
dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku
untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di
Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya?
Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia
inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi
sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker
lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di
medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya
kehilangan kemampuan untuk berjalan. Bulan-bulan yang melelahkan
karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada
keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda. Saya
ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu.
Keterbatasan menghadang di banyak hal.

Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya
harapkan.
Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi
tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus
dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus
mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan
menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa
lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap.
“Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna
untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya
atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terusmenerus
dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan
balik.



Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak!
Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan,
bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan
ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan,
tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya
kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan
memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk
mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat
saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan
kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di
muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme
primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari
dari ancaman, atau… melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan,
maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu
terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul, yang jika
digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita
dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu
bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan
tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang
rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika
membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki
tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika
memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa
praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai
bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika
melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang
General Electric International Operations Company, Inc.
asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya
takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi
menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk
dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya
tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya
gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang
didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak
dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan
saya. Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah
yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah
terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.
Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya
tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang
pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan
mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi
pengikut. Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani
mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda
dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup
sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar
40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi
terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133
dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya
136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan
keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing
Indonesia terukur pada ranking 46. Singkat kata, kita masih belum
menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti
mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah.
Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan
langkah anda untuk berperang.
sumber : http://ipayk.tumblr.com

0 comments: