Bandung Bondowoso, APEC dan Roh Entrepreneur


Bisnis.com, JAKARTA - Alkisah, di wilayah Prambanan dahulu kala berkuasa seorang raja bernama Prabu Boko. Raja yang dikisahkan sebagai raksasa sakti itu memiliki seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang.

Kecantikan Roro Jonggrang pun memikat Bandung Bondowoso, seorang pangeran dari Kerajaan Pengging, yang berbatasan dengan Prambanan. Atas nama perluasan wilayah, Bandung Bondowoso berhasil menaklukkan Prambanan, bahkan membunuh Prabu Boko. Bandung yang kemudian tinggal di kerajaan Prambanan, lantas meminang Roro Jonggrang untuk menjadi permaisuri.



Namun Roro Jonggrang keberatan atas pinangan dari sang pembunuh ayahnya, dan meminta syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membuat seribu candi dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso pun menyanggupi, dan dengan balabantuan makhluk halus yang dikerahkannya, ratusan batu candi mampu berdiri dalam sekejap.

Roro Jonggrang yang galau kemudian mencari akal untuk menggagalkan upaya tersebut, dan memanggil para dayang untuk membakar jerami dan menabuh lesung yang membangunkan ayam jago sehingga berkokok bersahutan. Karena terang cahaya jerami yang dibakar dan bunyi lesung serta kokok ayam yang bersahutan itu, maka makhluk-makhluk halus yang membantu bandung Bondowoso pun kabur.

Singkat cerita, Bandung Bondowoso sangat marah karena Roro Jonggrang telah mengelabuhinya. Ia terhitung cuma mampu menyelesaikan 999 candi, hanya kurang satu candi sesuai permintaan Roro Jonggrang. Maka dikutuklah Roro Jonggrang menjadi candi yang keseribu yang dipercaya sebagai patung cantik yang saat ini berada dalam ruangan utama candi Prambanan.

Tak banyak kisah selanjutnya, apa yang terjadi dengan Bandung Bondowoso setelah itu. Yang pasti, Bandung tidak merasa menjadi pecundang meski diperdaya Roro Jonggrang. Ia justru berhasil mengubah Jonggrang menjadi patung, yang mempercantik candi Prambanan sebagai salah satu destinasi wisata populer di Jawa Tengah hingga saat ini.

Kisah Bandung Bondowoso saya usung di kolom ini, karena relevan dengan perhelatan APEC Summit di Bali, 5-8 Oktober lalu. Adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengibaratkan Trihatma K. Haliman, boss Agung Podomoro, salah satu raja properti di Indonesia saat ini, seperti Bandung Bondowoso.

Sebagaimana Anda tahu, puncak perhelatan KTT APEC 2013, bertempat di hotel yang baru jadi dan belum sepenuhnya rampung. Hotel yang memakai brand Prancis, Sofitel, yag berlokasi di Nusa Dua, itu benar-benar dikerjakan dengan kebut-kebutan oleh Trihatma dan eksekutif kepercayaannya, Handaka Santosa.

Saya melihat sendiri, sekitar pekan kedua September, tiga pekan sebelum APEC digelar, hotel tersebut masih "belum apa-apa". Kelihatannya mustahil, ketika itu, bahwa hotel tersebut bisa dipakai.

Namun Trihatma tak kurang akal. Ia minta 'restu' untuk bisa mendatangkan 5.000 buruh dari Jawa Barat, untuk bekerja non stop guna kejar tayang agar venue itu bisa digunakan untuk retreat. Dan, akhirnya well done. "Bisul saya sudah pecah," kata Trihatma ketika saya ucapkan selamat, begitu gelaran APEC dinyatakan selesai.

Trihatma berani mengambil risiko dan mencari jalan keluar ketika situasi kepepet. Disinilah poinnya, ketika Juni lalu diputuskan retreat para pemimpin APEC menggunakan tempat yang belum apa-apa itu. Ia adalah entrepreneur pemenang.

Spirit Bandung Bondowoso juga terjadi saat Konferensi Gerakan Non-Blok pada 1-6 September 1992 di Jakarta. Kala itu adalah kejar tayang penyelesaian Balai Sidang Jakarta. "Kerjaan saya memang membereskan yang susah-susah di saat-saat yang genting," seorang pria separuh baya, yang berprofesi sebagai kontraktor bercerita kepada saya.

Hingga menjelang hari H, Balai Sidang Jakarta yang saat itu bernama JICC (Jakarta International Convention Center) masih terdapat satu eskalator yang belum terpasang. Repotnya, ketika seluruh vendor dikumpulkan, stok eskalator tersebut tidak tersedia.

Maka dicarilah cara: semua pengelola pusat belanja di Jakarta dikumpulkan, dan ditanya satu-satu apakah ada yang memiliki eskalator terpasang dengan spek dan ukuran yang persis sama dengan disain JICC.

Ditemukanlah satu eskalator yang mirip, dari sebuah mal di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tanpa pikir panjang, keluarlah instruksi sakti --dari petinggi negara ketika itu-- untuk membongkar eskalator tersebut, dan dipasang di JICC demi negara.

Maka, kalau di Bali penyelesaian Sofitel mengerahkan ribuan tenaga kerja dengan persuasi, maka di JICC para pekerja diawasi tentara agar tidak ada yang bermalas-malasan, untuk mengejar tenggat waktu konferensi Gerakan non-Blok.

Mungkin ini salah satu kuncinya. Seorang pekerja di Sofitel mengatakan, para pekerja didoktrin dengan motivasi baru yakni FOC: For Our Country. Semangat ini mirip kemenangan tim Usia-19 yang baru-baru ini menggulung Korea Selatan.

Spirit "untuk negara" tampaknya mengantarkan penyelenggaraan APEC dianggap sukses, meski masih ada sih, kekurangan yang berhasil ditutupi, termasuk bandara Bali yang belum sepenuhnya selesai. Para kepala negara bahkan memuji Presiden SBY yang dinilai berhasil menyelenggarakan KTT para pemimpin dari 21 negara dan perekonomian itu dengan sangat baik.

Maka, sukses APEC Leaders Summit 2013 tak lepas dari sejumlah tokoh dan entrepreneur yang terjun langsung. Mereka kini dijuluki dengan sebutan RATT-1. Sekadar untuk tahu,  RATT-1 adalah RI-1 dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Podomoro-1, yakni Trihatma K. Haliman, Telkom-1, yakni Arif Yahya, dan Trans-1, yakni Chairul Tanjung.

Tak banyak yang tahu, Presiden SBY sedikitnya empat kali melakukan kunjungan ke Bali sebelum KTT APEC, memastikan persiapan gelaran tersebut dapat berlangsung dengan baik.

Trihatma dengan caranya sendiri sebagai entrepreneur, berani ambil risiko dan tak hilang akal di saat-saat kritis. Arif Yahya, sebagai boss Telkom juga dibilang berperan sangat penting, karena menyediakan akses sambungan telepon dan sambungan internet berkecepatan tinggi, yang sangat vital bagi penyelenggaraan perhelatan tersebut.

Lalu Chairul Tanjung, sebagai Wakil Ketua Panitia, langsung turun ke lapangan dan memastikan setiap detil acara agar berlangsung smooth. "Saya memeriksa ke setiap detil supaya perfect," kata Chairul yang sampai ikut mengurusi lampu dan karpet.

***

Maka kisah-kisah para tokoh dan entrepreneur itu mengingatkan saya pada sukses banyak tokoh yang lain, yang berani melakukan terobosan penuh risiko. Sebutlah Ignasius Jonan, Dahlan Iskan, Jokowi, Ciputra, dan banyak lagi tokoh entrepreneur yang berhasil karena fokus pada tujuan.

Jonan bahkan rela berdesakan dengan penumpang di loket untuk memastikan bahwa sistem yang dibangunnya jalan, dan menyulap kereta api sebagai moda trasportasi publik yang nyaman. Ia tak ambil pousing dengan demo mahasiswa yang menentang pembongkaran kaki lima --yang tidak berhak-- di seluruh stasiun kereta api.

Dahlan Iskan juga tak segan lempar kursi di pintu tol begitu melihat antrean mobil yang panjang di pintu tol yang tidak dihuni penjaga sehingga memicu kemacetan. Ia menerobos banyak kebuntuan aturan, yang selama ini menghalangi lari kencang perusahaan milik negara.

Jokowi, yang doyan blusukan, juga tak segan bertindak tegas ketika sidak ke kantor suku dinas perizinan --dan banyak instansi lain-- karena menemukan banyak pegawai yang tidak fokus bahkan main game, sementara pekerjaan layanan menumpuk tak terselesaikan. Tanah Abang yang katanya seram dan tak tersentuh, nyatanya juga berhasil ia bereskan.

 Begitu pun begawan properti Ciputra yang rela memungut sendiri puntung rokok dan memastikan Ancol berjalan dengan baik saat mulai beroperasi beberapa dekade silam. Ia punya prinsip mengubah sampah dan loyang menjadi emas. Dan Ciputra kini memiliki grup properti dengan ikon Sang Pemenang.

Seperti halnya Bandung Bondowoso, para entrepreneur itu begitu eager mengejar tujuan, punya banyak akal dan tahu cara yang harus dilakukan. Maka saya setuju kalau ada yang mengatakan, para entrepreneur tak akan pernah jadi pecundang. Mereka akan selalu menjadi pemenang. Bagaimana menurut Anda?

Penulis : Arief Budisusilo
Sumber : koran.bisnis.com/read/20131020/270/181909/bandung-bondowoso-apec-dan-roh-entrepreneur

0 comments: