Pembelajaran TP Rahmat

by - Tuesday, August 27, 2013



Theodore Permadi Rachmat (TP Rachmat), pendiri Triputra Group, adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan visioner. beliau telah terbukti berhasil di dunia bisnis, baik sebagai profesional ataupun entrepreneur. Setelah berkontribusi aktif dalam pengembangan bisnis di Indonesia selama kurang lebih 44 tahun, T.P. Rachmat ingin berbagi pengalaman hidupnya dengan menerbitkan sebuah buku yang diberi judul Pembelajaran T.P. Rachmat

Buku setebal 364 halaman yang ditulis oleh Ekuslie Goestiandi dan Yusi Avianto Pareanom ini mengupas bagaimana pembelajaran Teddy Rachmat, panggilan hangat T.P. Rachmat, dalam mengarungi kehidupan yang berhasil menghadirkan perbedaan nyata.

Lewat buku ini, Pak Teddy mencoba untuk mengumpulkan dan menyusun secara sistematis butirbutir pembelajaran yang selama ini berserakan dan tak tertata rapi. “Selayaknya kehidupan manusia yang tak pernah mencapai titik sempurna, demikian pula proses pembelajaran pun tak mengenal kata usai. Sepanjang kehidupan bergulir, maka pembelajaran pun harus dilakukan terus menerus”, tutur Pak Teddy didalam tulisan pembuka bukunya.

Sukses berawal dari pikiran
Kesuksesan merujuk kepada pencapaian. Pada umumnya, pencapaian ini berhubungan dengan karier, harta, dan status sosial, meskipun tidak selalu demikian. Definisi sukses setiap orang pastinya berbeda-beda, tergantung dengan tujuan hidupnya. Kriteria kesuksesan yang terlalu rendah akan membuat seseorang berhenti untuk berkarya ketika telah merasa mencapainya. Pikirkanlah kriteria kesuksesan setinggi-tingginya karena pikiranseseorang akan menggerakkan langkahnya. Pikiran yang besar, akan mendorong langkah yang besar pula.
Bagi dirinya pribadi, kesuksesan adalah berhasil berkontribusi untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia. Hal inilah yang membuat pria kelahiran Kadipaten, 5 Desember 1943 ini tidak mengenal kata pensiun untuk terus berkarya mencapai kesuksesan hidupnya. Dalam mewujudkan mimpinya, Teddy Rachmat menetapkan motto hidup“less for self, more for others, and enough for everybody” (menikmati sekadarnya untuk diri sendiri, berbagi sebanyak mungkin kepada orang lain, agar semua umat manusia dapat hidup berkecukupan). Sedangkan misi hidupnya adalah menjadi pribadi yang memiliki empat kualitas diri, yaitu: integrity & ethics, excellent, compassionate, dan humility.

Gembira kerja karena Passion dengan kata lain mencegah kita bekerja pas bandrol, karena tanpa passion orang akan gampang melakukan kompromi, sebuah kondisi yang lambat laun menciptakan kebiasaan buruk yang mudah menolerir level kinerja dibawah standar. Dan, ketika berhadapan dengan persoalan yang berat sekalipun, orang yang memiliki passion tak akan gampang gentar. “Dengan passion, secara naluriah mereka akan terdorong mencari jalan keluarnya. Ibarat sabun deterjen, mereka sepertinya bisa mencuci sendiri,” ujar Pak Teddy dalam bukunya.
Mainlah layang-layang di tempat yang banyak anginnya
Menurut Pak Teddy, berbisnis tidak jauh berbeda dengan bermain layang-layang. Nyaris mustahil menerbangkan layang-layang di tempat yang tidak berangin. Lain halnya jika layang-layang dimainkan di tempat yang banyak anginnya, hanya dengan satu dua kali tarikan, ia sudah menjulang ke angkasa. Persoalannya, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa lahan bisnis yang kita pilih benar-benar selalu berangin? Didalam bukunya, Pak Teddy memberikan banyak ilustrasi tentang bagaimana memahami angin bisnis ini. Beliau pun memberikan contoh bagaimana seorang William Soeryadjaya, pendiri Astra, adalah pengusaha yang sangat pintar membaca arah angin dalam berbisnis.

Pengalaman di lima tempat
Setengah bagian (diawal) buku Pembelajaran T.P. Rachmat ini memang terkesan banyaknya penjabaran teori yang dikaitkan dengan pemikiran seorang Teddy Rachmat. Namun, jika terus membacanya, isi buku ini terasa
semakin menarik ketika Pak Teddy membongkar success storynya disetiap perusahaan yang beliau pimpin. Kelima tempat yang dimaksud adalah: Astra International, United Tractors, Adira Finance, Adaro Energy, dan Triputra.

Astra International
Hubungan Pak Teddy dan Astra International dimulai sejak tahun 1968. Setelah lulus dari Teknik Mesin ITB, Pak Teddy ikut dengan pamannya, William Soeryadjaya, untuk membesarkan Astra. Divisi alat berat adalah tempat Pak
Teddy memulai kariernya di Astra International, perusahaan yang dipimpinnya sejak tahun 1984. Setelah diangkat sebagai CEO Astra, Pak Teddy fokus untuk membenahi organisasi perusahaan agar memiliki standar kelas dunia. Karena kepiawaiannya, Astra International terus melaju pesat sehingga menjadi salah satu perusahaan terbesar di
Indonesia. Walaupun sempat ada pengalaman pahit karena di tahun 1998 beliau harus meninggalkan perusahaan yang telah 14 tahun dipimpinnya, tetapi tahun 2000 Pak Teddy kembali dipercaya untuk menjadi CEO Astra hingga akhirnya pensiun di tahun 2005. Sampai sekarang Astra terus berkembang dibawah kepemimpinan kaderkader
terbaik bangsa hasil karya kepemimpinan Pak Teddy.

United Tractors
UT didirikan pada tahun 1972, merupakan pengembangan dari divisi alat berat Astra International. Kesempatan belajar ke Caterpillar yang telah didapatkan Pak Teddy membuat dirinya sangat memahami bisnis alat berat, sehingga pada 1977 dipercaya untuk memimpin UT di usia yang relatif masih sangat muda. Dengan pendekatan customer intimacy yang baik, UT berhasil mendominasi pasar alat berat di Indonesia dengan bekerja sama
dengan Komatsu. Jika ditanya apakah kunci keberhasilan UT, maka jawabannya adalah winning team yang berani untuk beropini. UT selalu merekrut orang-orang terbaik dan memberikan tantangan kerja yang berat bagi setiap karyawannya yang memiliki potensi besar. Hal inilah yang membuat kader-kader terpilih Astra banyak bermunculan dari UT.

Adira Finance
Success story seorang Teddy Rachmat tidak berhenti sebagai seorang profesional saja. Pak Teddy memutuskan untuk berpindah kuadran menjadi seorang entrepreneur setelah tidak lagi aktif di Astra. Tahun 1998, Pak Teddy memutuskan untuk mengelola Adira, perusahaan yang telah didirikan oleh  ayahnya pada tahun 1990. Dengan
bermodalkan pinjaman dari Chairul Tanjung (Bank Mega) dan Arwin Rasyid (Bank Danamon) masingmasing
Rp 2 Triliun, Adira mulai dibesarkannya. Untuk membawa Adira tumbuh ke tahap berikutnya, Pak Teddy merekrut orang-orang pilihan. Mereka adalah Stanley Atmadja dan timnya yang terdiri dari Marwoto Soebiakno, Erida Gunawan, dan Hafid Hadeli. Sejarah pun berulang, setiap perusahaan yang berada dibawah nama besar Pak Teddy selalu berhasil. Dalam kurun waktu 4 tahun (1998-2002) pertumbuhan Adira mencapai 1.700%, suatu pencapaian yang luar biasa. Namun, pada saat performansi Adira sedang hebat-hebatnya, Pak Teddy justru membuat keputusan yang mengagetkan untuk menjual 75% saham Adira ke Bank Danamon. Menurut Pak Teddy,  perusahaan yang bergerak dibidang jasa multi financing harus di back-up oleh institusi perbankan. Keputusan ini
menunjukkan bahwa Pak Teddy sangat mengutamakan kemajuan organisasi yang dimilikinya dibandingkan dengan hanya memperkaya diri sendiri (menjadikan Adira sebagai angsa bertelur emasnya).

Adaro Energy
Di tahun 2005, lima investor, yaitu Garibaldi Thohir, Benny Subianto, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Teddy Rachmat, bergabung mengambil alih Adaro dari pemilik lama. Pak Teddy membeli saham Adaro dari sepupunya, Edwin Soeryadjaya, dengan harga yang cukup tinggi dan tetap mengajaknya untuk ikut bersama-sama mengelola
Adaro. Tawaran yang sangat berani ini diambil Pak Teddy karena beliau yakin bahwa angin untuk bisnis ini akan bertiup kencang karena meningkatnya kebutuhan batubara China dan negara-negara lain. Pengalaman pahit yang dulu pernah dialaminya, yaitu sempat ditipu oleh  rekan bisnisnya sebesar Rp 50 miliar dalam bisnis batubara, merupakan pelajaran yang sangat berharga dan membuatnya sangat memahami peta permainan bisnis batubara.
Sekarang ini, Adaro tumbuh kian pesat dan menjadi salah satu dari dua perusahaan Indonesia yang termasuk dalam daftar 50 perusahaan terbaik Asia versi majalan Forbes (edisi September 2011) dengan kapitalisasi pasar
sebesar USD 7,6 miliar. Pertumbuhan rata-rata penjualan selama 5 tahun sebesar 28 persen dan pertumbuhan
rata-rata pendapatan usaha sebesar 40 persen.

Triputra
Tidak berhenti sampai disitu saja, di usianya yang sudah tidak muda lagi, Pak Teddy masih terus ingin berkarya. Dana hasil penjualan Adira Finance ke Bank Danamon tidak digunakan untuk menikmati masa pensiunnya, malahan dipakai Pak Teddy untuk menggenjot bisnis yang baru dirintisnya, grup Triputra, bersama timnya. Mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk dijadikan cerutu menggambarkan bagaimana beliau membangun
bisnis Triputra. Tidak ada satu bisnis pun yang tiba-tiba menjadi besar. Semuanya memerlukan waktu, proses, dan ketekunan. Sekarang ini, puntung-puntung rokok itu telah mulai menunjukkan dirinya sebagai cerutu. Pencapaian yang luar biasa diperlihatkan Triputra dengan menghasilkan lompatan kinerja yang pesat. Pada tahun 2011, omset Triputra mencapai sekitar Rp 40 Triliun meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya beromset Rp 27,5 Triliun. Berlandaskan misi mulia, yaitu contributing to the nation’s competitive edge, kini Pak Teddy bersama tim terus mengembangkan layar untuk membesarkan 4 lini bisnis Triputra (agribusiness, mining, manufacturing, dan trading & service) dengan moto: excellence through people and process.

Sepuluh Pembelajaran Praktis
Pada bagian akhir bukunya, Pak Teddy merangkum pembelajaran hidupnya kedalam 10 poin penting,
yaitu:
1. Pay the price
2. Keep it simple
3. Pilih lingkaran yang mendukung
4. Reputasi adalah segalanya
5. Jatuh? Bangun!
6. Mengenali peluang, menghitung risiko
7. Stop Worrying
8. Bertindak atas dasar benar atau salah
9. Tough Love
10. Welas asih dan falsafah sungai Pembelajaran dari seorang Teddy Rachmat merupakan perpaduan antara personal humility, sincere compassion dan effective leadership. Buku ini sangat menginspirasi terkhusus bagi orang-orang yang ingin menghadirkan perbedaan nyata bagi banyak orang disekelilingnya.

Resensi oleh : Oleh: Adrian Gilrandy (TIA)
Sumber : Majalah Internal Triputra Group TREN

You May Also Like

3 comments