Aplikasi Lean Manufacturing memakai Kerangka Dasar Matematika ?



Menarik  bagi kita yang sehari hari berjibaku dengan dunia industri khususnya bidang manufaktur, banyak sekali stratgi yang bisa diterapkan  supaya menghasilkan produk yang kompetitif dan berkualitas  yang disukai oleh konsumen. 
Kenapa harus disukai konsumen ? karena sejatinya konsumenlah yang membayar ongkos produksi dan ongkos lainnya lewat transaksi jual beli. Jika tidak disukai konsumen, tidak ada pembelian , kemudian tidak ada order, hingga akhirnya tidak akan ada produksi. Inilah rantai kesalingtergantungan antara produsen dan konsumen. 

Dalam bidang manufaktur kita mengenal banyak perusahaan yang mempunyai konsep seperti Toyota dengan TPS-nya, Motorola & GE dengan Six Sigma-nya.

Dalam masa akhir akhir ini ada istilah Lean & Six Sigma, dalam artikel sebelumnya saya menulis bahwa lean adalah suatu konsep dalam bisnis yang berfokus terhadap pemgurangan pemborosan yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk maupun jasa yang kita hasilkan. 

Sedangkan Six Sigma merupakan konsep yang bersifat kuantitatif, berhubungan dengan seberapa besar kualitas barang produksi yang kita bikin, dengan acuan dalam satu juta produksi hanya terdapat 3,4 cacat.
Jika kedua hal tersebut digabung menjadi satu menjadi konsep Lean Six Sigma, kita bisa artikan menjadi sebuah konsep strategi yang berfokus pada pengurangan aktifitas (proses) yang tidak bernilai tambah serta mengurangi jumlah cacat produksi (output).

Jika dalam berbisnis kita sudah berhasil melakukan konsep lean six sigma, dijamin produk maupun jasa yang kita hasilkan akan sangat kompetitif dari segi harga, namun dengan kualitas sempurna.

Untuk mendorong  implementasi Lean Six Sigma, saya mengunakan cara berfikir matematikawan. Dalam ilmu matematika ada kerangka dasar yaitu Mengurangi, Mengkalikan, Menambahkan, dan Membagi, 
Lalu apa hubungan Lean Six sigma dengan keempat kerangka tersebut ? 

Dalam konsep Lean ada  8 waste ( pemborosan ) seperti tulisan saya yang terdahulu yaitu 1. Waiting, 2. Over production ,3.  Defects, 4. Movement, 5. Unused  Skills  6.  Over Processing 7. Transportation  8. Over  Inventory

Untuk ke-8 jenis pemborosan tersebut sudah pasti kita harus sebisa mungkin MENGURANGI, Kalau sudah ada yang perlu dikurangi, kemudian apa yang harus ditambahi ? dikalikan ? atau dibagikan ? 

Dalam prinsip Lean produk harus One Piece Flow , artinya aliran produksi harus mengalir tanpa banyak mengalami delay karena penambahan pekerjaan atau lainnya. Jadi yang perlu ditambahin disini adalah pemahaman mind set dari setiap individu yang terlibat.  Seperti melakukan edukasi dan internal training.  Sebisa mungkin seorang pekerja harus fleksibel dalam artian mampu mengerjakan multi tasking, 

Analogi pekerja fleksibel bisa dikatakan sebagai pekerja yang multi talenta yang mempunyai 2 keahlian dalam satu proses.

Prof Vincent Gasperz dalam sebuah tulisan diakhir tahun, secara apik menjelaskan analogi ke ilmu matematika  menarik seperti ini  : Orang yang kurang mempunyai skills mempunyai nilai < 1 atau ½  Dalam Matematika kita mengenal prinsip perpangkatan untuk tiga bilangan berikut:
Bilangan lebih kecil dari satu (< 1): misalnya ½ (1/2)^0 = 1; (1/2)^1 = ½; (1/2)^2 = ¼, (1/2)^3 = 1/8; 1/2)^4 = 1/16; (1/2)^5 = 1/32, dst.

Makna dari angka-angka di atas, apabila seseorang hanya mengetahui atau menguasai suatu hal (masalah, ilmu pengetahuan, pekerjaan, kompetensi, dll) kurang dari 100% artinya kurang dari satu, maka cara terbaik adalah dia tidak melakukan apa-apa (pangkat nol) atau cukup melakukan untuk diri sendiri (pangkat 1), karena apabila orang yang hanya tahu setengah-setengah (kurang dari satu, tidak 100%) dipromosikan ke atas, misalnya memimpin orang banyak, maka kehadirannya akan merugikan karena akan tampak bahwa ia semakin kecil apabila pangkatnya atau peranannya ditingkatkan!

Bilangan sama dengan satu (=1): misalnya angka 1.
(1)^0 = (1)^1 = (1)^2 = (1)^3 = (1)^4 = (1)^5 = …………………….. = (1)^1000 = 1

Makna dari angka di atas, apabila seseorang jika kehadirannya di dunia hanya untuk kepentingan diri sendiri (angka 1), maka dalam perjalanan waktu meskipun ia dipromosikan atau pangkatnya ditingkatkan terus-menerus, tidak akan bermakna apa-apa bagi orang lain karena tetap bernilai 1.

Bilangan lebih besar dari satu (>1): misalnya 2, 3, 4, 5, dst.

(2)^0 = 1; (2)^1 = 2; (2)^2 = 4; (2)^3 = 8; (2)^4 = 16; (2)^5 = 32, …..dst.

Makna dari angka di atas, seseorang harus menguasai lebih dari bidangnya (di atas 100%), sehingga apabila ia dipromosikan atau diminta peranannya kepada orang lain, maka orang seperti ini akan bermanfaat bagi orang lain, karena semakin tinggi kedudukannya disertai kepedulian kepada banyak orang, maka akan mendatangkan hal-hal luar biasa dan membawa berkah bagi orang banyak.

Jadi sebagai seorang Leader dalam sebuah bisnis atau perusahaan, kita harus MENAMBAH / memperbanyak tim kerja kita dengan kemampuan lebih dari 1 (>1) sehingga akan terjadi perbaikan dan hasil yang luar biasa. 

Yang terakhir adalah kerangka konsep dalam MEMBAGI, untuk bisa mengimplementasikan LEAN SIX SIGMA, bisa dilakukan dengan pembagian fungsi kerja secara jelas ? Siapa yang kebagian sebagai pembuat Visi, Siapa yang menjadi eksekutor dan siapa yang kebagian sebagai sang monitor ? harus benar benar dijalankan. 

Kalau dalam proses produksi bisa membagi proses produksi dengan menggunakan sistem cell, sizing, Batching dan lain supaya mengurangi resiko loss time disebabkan karean terlalu sering mengangti tipe atau model.


Terakhir adalah selalu MEMBAGI-kan Informasi sekecil apapun pergerakan / progress dari target yang sudah dicanangkan secara bersama.  Pengalaman saya mengatakan bahwa “ JIKA ADA KOMUNIKASI PASTI ADA SOLUSI”. Komunikasi adalah kunci utama dalam setiap apapun masalah yang kita hadapi, 

Lewat komunikasi juga seorang leader harus mampu memutuskan kapan harus dikurangi ? apa yang harus ditambah ? Bagaimana harus mengkalikan ? dan dengan siapa harus bisa MEMBAGI ?


Bagaimana dengan pendapat anda ?
Semoga bermanfaat ,
Salam,
Aan Hunaifi

0 comments: