Strategi CEO Baru Bakrie Group Menjadi Global Company

Artikel ini saya tulis untuk mengikuti lomba blog dalam rangka memperingati HUT Grup Bakrie ke 70 , dengan tema  “Seandainya Saya Jadi CEO Grup Bakrie” yang diprakasai oleh salah satu penerus Bakrie Group yaitu Bapak Anindya  Bakrie.



Sekilas  Bakrie Group

Bakrie Group adalah sebuah konglomerasi asli Indonesia yang punya sejarah panjang selama 70 tahun berkiprah dalam percaturan bisnis Indonesia. Bisa berumur 70 tahun bagi sebuah korporasi di Indoensia merupakan sebuah bukti nyata bahwa perusahaan bisa survive dan terus tumbuh berkembang.

Dimulai dari usaha jasa perdagangan komoditas yang didirikan oleh almarhum Achmad Bakrie pada tahun 1942, kemudian diteruskan oleh generasi kedua yang dikomandani oleh Aburizal Bakrie atau yang sering kita kenal sebagai Ical, dalam fase inilah perusahaan ditransformasi dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan modern lewat aksi perseroan dengan mencatatkan sahammnya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) pada tahun 1989  dan pada tahun 2008 Bakrie Group menfokuskan diri menjadi perusahaan investasi.

Sebagai perusahaan investasi, saat ini Bakrie Group mengelola dan memiliki portofolio di tujuh sektor bisnis strategis yaitu infrastruktur, logam, agribisnis, telekomunikasi, batubara, oil & gas, serta sektor properti. Dari tujuh sektor bisnis tersebut Bakrie Group  memiliki ratusan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung lewat anak usaha dan mencatatkan sebanyak 11 emiten di Bursa Efek Indonesia dan 1 emiten di Bursa efek London.

Sebuah tantangan dan peluang yang luar biasa besar jika seandainya saya menjadi CEO Group Bakrie, tidak mudah dan tidak kecil energi yang saya butuhkan untuk mengelola Bakrie Group tersebut. Tetapi disitulah menarik dan seksinya posisi CEO Bakrie Group, dengan menempati posisi tersebut jiwa dan kemampuan leadership dan entrepreneurship kita diuji dan dibuktikn. Sebab seorang pemimpin sejati harus berani menerima tantangan dan mengambil peluang walau penuh resiko sekalipun. Ibaratnya sebagai nahkoda dikapal besar CEO Bakrie Group harus mampu menyeberangi bukan hanya sungai bengawan solo yang tenang, tetapi harus juga mampu menyeberangi samudera yang penuh dengan angin kencang, ombak besar dan cuaca yang tidak menentu. 

Memasuki umur yang ke 70 tahun sudah saatnya Bakrie Group bukan saja eksis di level Indonesia tetapi harus menjadi perusahaan kelas dunia (Global Company) yang disegani dunia serta menjadi kebanggaan bangsa Indoensia.  Untuk itu diperlukan upaya yang sistematis dan strategis dalam mencapi posisi tersebut, sebagai CEO Bakrie Group saya menggunakan analisa S-W-O-T untuk bisa mendefinisikan strategi-strategi yang akan saya jalankan tersebut.

Ada tiga tahapan atau step dalam metode analisa SWOT yang saya lakukan pertama, menelaah isu-isu startegis Bakrie Group, kedua, Analisa strategi SWOT, ketiga, Implementasi dan monitoring.

Step #1 : Isu-isu Strategis Bakrie Group

Dalam beberapa tahun belakangan ini banyak berita baik negatif dan positif yang menyertai perjalanan usaha milik keluarga Bakrie tersebut, berita negatif yang bisa berpengaruh terhadap kepercayaan baik investor dan stakeholder tersebut, seperti kasus Lumpur lapindo, Bakrie Life, kasus pajak di perusahaan batubara bakrie group. Namun disisi isu negatife tersebut ada banyak berita positif seperti dari perusahaan Bakrie Telecom (BTEL) yang dikenal sebagai operator yang terjangkau oleh masayarkat bawah,  juga atas inisiatifnya menerapkan Green ICT.

Ada juga berita positif yang paling terbaru adalah keberhasilan yang patut diapresiasi kepada manajemen Bakrie Group yaitu berhasil melakukan proses kuasi reorganisasi buat Bakrie & Brothers (BNBR) serta ditambah dengan masuknya BUMI Resources dalam Forbes Global 2000 dimana Forbes menilai perusahaan dari sisi penjualan, laba, aset dan nilai pasar, bukan hanya itu saja Bakrie Group juga berhasil melakukan kerjasama dengan pemerintah Nigeria untuk investasi di negara tersebut. Melalui berbagai prestasi yang didapat perusahaan tersebut, akan semakin mudah dalam melakukan aksi–aksi strategis kedepan serta meningkatkan nilai kepercayaan terhadap shareholder dan stakeholder.

Step #2 : Analisa SWOT dan Strategi Bakrie Group

Analisa SWOT merupakan akronim dari Strenghts (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (kesempatan) dan Threats (ancaman). Berikut ini adalah penjelasan lebih detail mengenai kondisi situasi internal dan eksternal dari Bakrie Group dengan memakai analisa SWOT :

# Strenghts (kekuatan) : Nama Bakrie bukan saja dikenal dalam ranah politik, tetapi juga dikenal luas oleh para sumber pendanaan atau investor  baik yang bersifat personal maupun institusional ditingkat nasional dan internasional. Inilah sebuah kekuatan untuk memudahkan Bakrie Group dalam mengakses kebutuhan pendanaan disetiap  investasi yang telah dan akan dijalankan.

Jangka waktu usia 70 tahun bagi sebuah perusahaan sudah pasti memiliki budaya, sistem manajemen unggul, tim yang solid dan teruji. Dengan pengalaman panjang tersebut Bakrie Group memilih untuk fokus memiliki dan mengelola portofolio bisnis di tujuh sektor bidang usaha startegis.

Sebagai CEO Bakrie Group strategi yang saya gunakan untuk memaksimalkan kekuatan tersebut adalah
1.  Melakukan investasi yang memberikan bagi hasil maksimal, optimal dan berkelanjutan bagi perusahaan.
2.   Mendapatkan dana dari investor potensial seperti China, India, Timur Tengah, Afrika dengan mendirikan joint venture dan memanfaatkan situasi krisis di eropa untuk mengalihkan dana ke portofolio inti bisnis Bakrie group
3.    Memperluas akses sumber dana investasi dengan memperbanyak melisting emiten di beberapa pasar potensial seperti Hongkong, China, dan USA
4.   Menerapkan Good Corporate Government (GCG) dan LEAN Management untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas dan profitabilitas
5.  Membentuk Dream Tim, disertai proses kaderisasi berkelanjutan disetiap portofolio bisnis yang dimiliki dan dikelola
6.   Menambah kepemilikan saham diperusahaan yang berprospek jangka panjang, disertai pelepasan kepemilikan saham di perusahaan yang kurang prospek dan merugi. 

# Weaknesses (kelemahan) : Berita berita negatif yang selama ini dialamatkan ke Bakrie group mempunyai dampak kepada stakeholder dan shareholder, yang jika ditelaah lebih lanjut belum tentu kebenaran dari isu isu tersebut. Masuknya Aburizal Bakrie diranah politik bagai pedang bermata dua, disatu sisi bisa jadi kekuatan disatu sisi sebagai kekurangan.

Semakin banyaknya portofolio bisnis yang terdiversifikasi membuat sistem pengelolaan yang kompleks, bisa membuat Bakrie group tidak fokus, tidak seksi, lambat mengeksekusi peluang karena terperangkap dalam birokratisasi korporasi.

Oleh sebab itu sebagai CEO Bakrie Group strategi saya untuk memperbaiki kekurangan tersebut adalah : 
  1.  Menyelesaikan secara hukum atas kasus lapindo dan tetep berkomitmen membayar ganti rugi tepat waktu serta memperbaiki kerusakan fasilitas umum yang diakibatkan oleh Lapindo brantas. 
  2.  Mendorong sikap profesionalitas manejemen dengan menjauhkan dan membedakan aktifitas politis dengan aktifitas bisnis Bakrie group. 
  3. Menerapkan Lean Management Startegy untuk mengurangi kompleksitas dan resiko operasional 
  4. Menciptakan dan meningkatkan brand image, kualitas produk yang menjadi identitas brand produk andalan nomor satu dipasar nasional dan global.

# Opportunities (kesempatan) : Manejemen Bakrie Group saat ini telah sangat jeli dengan memasuki dan fokus kepada tujuh sector usaha yaitu infrastruktur, logam, agribisnis, telekomunikasi, batubara, oil & gas,  dan sektor properti. Sebagai Negara yang terus tumbuh secara ekonomi dan jumlah populasi, ketujuh pilihan sektor tersebut sangat sesuai dan cocok untuk iklim investasi Indonesia baik saat ini maupun masa depan.

Menurut analisa dan studi Standard Chartered, pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang saat ini disebut sebagai negara-negara berkembang termasuk Indonesia, akan jauh lebih sigfinikan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara barat (maju).  Kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 akan berada di negara-negara yang saat ini disebut sebagai negara berkembang.

Dilihat dari trend dan prediksi Standard Chartered bahwa GDP indonesia akan menempati posisi kesepuluh pada tahun 2020 dengan nilai 3.2 triliun USD dan nomor lima pada tahun 2030 dengan 9.3 triliun USD. Sungguh sebuah peluang yang luar biasa besar bagi Bakrie Group untuk mampu bersaing dan menjadi generator (pengerak) bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Paling tidak empat sektor bisnis Bakrie Group yang paling prospek, yang bisa turut serta andil menjadi generator pertumbuhan tersebut yaitu sektor energi, telekomunikasi, agribisnis dan infrastruktur. Sebagai ilustarsi dari segi energi, pada masa depan kebutuhannya akan semakin meningkat dikarenakan pertumbuhan ekonomi baik kebutuhan domestik maupun industri, belum lagi penetrasi sektor telekomunikasi Indoensia seperti internet dan mobile masih rendah, ditambah infrastruktur jalan, industri dan perumahan yang masih jauh dari ukuran ideal saat ini. Semua itu adalah peluang yang bisa digarap oleh Bakrie Group.

Adapun langkah dan startegi yang dilakukan sebagai CEO Bakrie Group adalah :
1.    Melakukan investasi untuk menghasilkan inovasi produk energi yang ramah lingkungan, seperti Geo Coal dari  Bumi Resources group, membuat Biofuel dari kelompok Bakrie Sumatera Plantation, serta masuk ke bisnis panas bumi, dan energi terbarukan lainnya.
2.      Membuat digital infrastruktur lewat sinergi antara kelompok usaha infrastruktur dan telekomunikasi.
3.  Mendorong sinergi portofolio bisnis Bakrie Group, untuk aktif dan terlibat dalam  percepatan pembangunan di program MP3EI.

#Threats (ancaman): Untuk melakukan investasi di banyak sektor strategis diperlukan dana yang besar, sedangkan resiko dalam investasi tetep ada, sebagaimana dengan filosofi investasi semakin tinggi return, maka semakin tinggi pula resiko,  sehingga ancaman terhadap kegagalan investasi bagi Bakrie group besar. Belum lagi resiko operasional dari perusahaan yang diakibatkan oleh banyaknya usaha yang dimiliki dan dikelola.

Terdapat juga resiko kerusakan dan pencemaran lingkungan seperti lapindo brantas, pengundulan hutan akibat pertambangan dan perkebunan sawit, disamping itu resiko dari perubahan peraturan pemerintah terkait aktifitas usaha yang dimiliki Bakrie Group seperti pajak, aturan ekspor, izin eksplorasi, aturan pasar modal dan lain lain. 

Mengatasi hal tersebut diperlukan solusi cerdas dan penyelesaian tanpa bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku baik di Indonesia maupun di negara tujun investasi Bakrie Group, adapun solusi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :  
  1.  Menerapkan prinsip Good Corporate Government (GCG) secara ketat dan disiplin disetiap usaha yang dimiliki dan dikelol.
  2.  Menerapkan sistem pelaporan keuangan yang dipakai secara global dan memakai auditor pajak, keuangan yang terpercaya dimata investor dan pembuat aturan. 
  3. Merumuskan dan menerapkan sistem manejemen resiko secara transparan dan bertanggung jawab. 
  4. Fokus berinvesatsi di portofolio inti serta mengurangi investasi yang tidak sesuai dengan misi dan visi jangka panjang perusahaan. 
  5. Menerapkan best practice management sebagai contoh di sektor pertambangan menerapkan best practice mining.
  6. Menghasilkan produk yang ramah lingkungan atau green product.
  7. Membentuk social enterprise di tujuh sektor bisnis yang dimiliki untuk fokus melakukan inovasi-inovasi sosial seperti membantu UMKM, pendidikan,serta kesehatan.
 Step # 3 : Implementasi dan Monitoring Strategi

Setelah melakuakan analisa SWOT diatas, saya menyimpulkan dan meringkas strategi seandainya menjadi CEO Bakrie Group dengan mengimplementasikan STRATEGI 4G yaitu Global, Growth, Generator, dan Green.

Berikut adalah penjelasan singkatnya :


Global: Orang (People), Proses (Business Process), dan produk (Product) harus berstandar  global
Growth: Investasi yang dikelola harus selalu tumbuh dari sisi asset dan profitablitas
Generator: Portofolio bisnis yang tersebar ditujuh sektor dioptimalkan sebagai pengerak (generator) pembangunan ekonomi nasional, dengan sinergi antar perusahaan. 
GreenSetiap insan di Bakrie Group harus respek terhadap lingkungan, sehingga  proses dan produk yang dihasilkan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
 

Strategi 4G diperlukan dalam rangka membawa Bakrie Group menjadi Global Company  Yang menjadi kebanggan Indonesia, sesuai dengan Tri Marta Bakrie yaitu Keindonesiaan – Kemanfaatan - Kebersamaan  

Untuk mencapai tujuan dan target perusahaan Bakrie Group menjadi Global Company, diperlukan dispilin dalam monitor serta evaluasi secara terus menerus dengan melibatkan semua insan Bakrie dan para mitra.

Bagaimana dengan ide dan pendapat anda  jika menjadi CEO Bakrie Group ?

Semoga bermanfaat,
Jiaxing, Zhejiang - China, 2012
Salam,

Aan Hunaifi

2 comments:

Adang N M I said...

Mantap strateginya,.
jadi CEO betulan.. amin mas..

Kunjungan blogwalking
Sukses untuk blognya..
kembali tak lupa mengundang juga rekan blogger
Kumpul di Lounge Event Blogger "Tempat Makan Favorit"

Salam Bahagia

Aan Hunaifi said...

trima kasih kunjunganya mas adang, Blognya juga bagus