Resep Cespleng untuk BUMN Menembus Forbes Global 2000

by - Friday, June 01, 2012


Majalah Forbes kembali meluncurkan edisi Forbes Global 2000. Pada tahun ini, enam BUMN Indonesia tercatat di dalamnya. Keenamya adalah BRI, Mandiri, Telkom, BNI, PGN, dan Semen Gresik serta empat perusahaan swasta yaitu BCA, Gudang Garam, Bumi Resources Bank Danamon. Forbes melihat dari sisi penjualan, laba, aset dan nilai pasar. Sedangkan negara yang tercakup sebanyak 66 negara, dengan empat negara merupakan negara baru.

Kalau diteliti Data Forbes Global 2000 dari sektor bisnis dari 10 perusahaan paling untung di Indonesia ternyata didominasi perbankan hingga 5 perusahaan. Industri manufaktur hanya diwakili oleh industri semen dan rokok, selebihnya sektor telekomunikasi, migas dan tambang

Melihat daftar tersebut salut dan bangga ternyata ada perusahaan BUMN yang masuk dalam skala global dalam aspek raihan keuntungan dan prospek bisnisnya. Bagi orang yang agak pesimis melihat daftar tersebut mengatakan sudah wajar lah wong BUMN ikuw kan dimodalin sama APBN, lebih lebih yang masuk daftar adalah sektor Bank

Lain halnya bagi orang yang optimisnya agak kenceng dikit, pasti menanyakan mengapa kok  cuma 6 yang masuk 2000 Forbes? knapa ndak 20 atau minimal setengahnya dari jumlah BUMN yang masuk daftar itu? kita akan gemes, ketika melihat fakta bahwa jumlah BUMN kita  berjumlah 141 perusahaan, dan tidak semuanya untung alias rugi.

Sebagai contoh adalah Maskapai penerbangan Merpati yang setiap hari mengalami kerugian sebesar 3 M. Ini satu fakta yang menarik jika kita cermati, disaat ada maskapai swasta bernama Lion Air yang habis memborong Pesawat sebanyak 230 pesawat merk Boeing 737  senilai Rp. 195 Triliun.

Pertanyaanya adalah Mengapa Merpati bisa merugi sedemikian besar ? Apakah industri penerbangan yang lagi sunset ? Atau adakah  salah urus dalam menerapkan strategi bisnis ?

Tentu tidak mudah dalam menjawab pertanyaan tersebut ? Kalaupun bisa menjawab itu, saya  yakin Pak Boss BUMN akan segera memangil untuk di wawancara menjadi CEO Merpati, hehe, yang beberapa tempo lalu sempat heboh di media, bahkan sampai akan ada demo mogok gara-gara CEO merpati diganti.

Memang pelik kalau membicarakan urusan yang namanya pengelolaan BUMN, banyak hal hal non teknis lain yang ikut tumplek blek nimbrung, seperti politik, kepentingan kelompok,
kepentingan almamater dan tentu kepentingan pribadi dll.

Kembali ke awal diskusi tulisan ini, mengapa dari sekian banyak BUMN yang ada cuma ada  enam BUMN yang masuk daftar prestisius  Forbes 2000 ?


Sudah banyak para ahli baik yang ahli proses bisnis, ahli marketing, ahli keuangan dan  ahli strategi mengemukakan pendapatnya, namun kalau saya ambil kesimpulan terdapat dua hal utama  yang menjadikan penyebab kurang optimalnya BUMN kita yaitu Inefisiensi dan campur tangan pengendali Politk di negeri ini. Secara logika dasar memang yang mempunyai saham terbesar BUMN adalah pemerintah, pemerintah itu siapa? sudah pasti domain politik  yang kental di wilayah tersebut inilah pangkal dari masalahnya. Oleh sebab itu diperlukan konsep supaya bisa menambah lagi jumlah BUMN kita didaftar  forbes 2000. dalam tulisan ini, saya mencoba membuat tiga hal penting yang perlu dijadikan sebagai sebuah startegi tata kelola BUMN  adalah Clean, Lean dan Green,

Startegi pertama BUMN harus CLEAN,  Mengapa Harus Clean (Bersih) ? Bukan hanya konsumenn  saja yang ingin memakai produk dari hasil olahan pabrik yang bersih dan higienis, pekerja pun akan sangat nyaman dan sehat jika bekerja dilingkungan yang bersih. Kebersihan dalam proses produksi sangat vital, dari tampilan bersih inilah yang akan menambah nilai dari sebuah perusahaan. 

Dalam sebuah kesempatan survey tentang AMDAL beberapa tahun lalu di salah satu PMA Smelter di Gresik yang kebetulan bersebelahan dengan salah satu BUMN besar, saya menyaksikan sendiri bagaimana kondisi pabrik seakan akan kurang begitu terawat  lingkungan pabriknya, sehingga bukan saja membuat lingkungan tercemar tetapi nama baik BUMN itu sendiri yang kurang bagus dimata stakeholder

Jika dibandingakan dengan kondisi Pabrik yang saya survey pada waktu itu sangat jauh berbeda, mungkin karena pabrik tersebut saham terbesarnya dimiliki oleh Perusahaan Jepang jadi harus mengikuti standar dari Jepang yang memang terkenal sangat ketat dalam hal bersih bersih di Pabrik. Salah satu aktifitas yang terkenal yang dipopulerkan oleh budaya korporasi Jepang yaitu aktifitas 5S yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke dalam bahasa indonesianya bisa diartikan sebagai Sisih, Sapu, Susun Standarisasi dan Selalu dijalankan. Sudah terbukti dengan aktifitas 5S ini banyak perusahaan Jepang menjadi terbaik di bidangnya dan Jepang mampu menempatkan perusahaanya sebanyak  258 buah dalam  daftar Forbes Global 2000 tahun ini.



Disamping kebersihan dalam pabrik penting ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingya yaitu Bersih (Clean) dalam hal Tata Kelola Perusahaan, BUMN harus menjadi perusahaan terpercaya, dari sisi People, Process dan Product dan jauh dari hal remang-remang. Atau dalam istilah pak Boss BUMN Dahlan Iskan, BUMN bukan hanya harus Clean tetapi juga harus Clear.

Strategi kedua adalah BUMN harus menerapkan PRINSIP LEAN. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya bahwa lean merupakan proses untuk focus kepada aktifitas yang bernilai tambah dan mengurangi aktifitas yang tidak bernilai tambah atau pemborosan. Kita cukup apresiasi langkah akrobat ala koboi dari CEO BUMN saat ini Pak Dahlan Iskan, berani melakukan terobosan ( business as not ussual )dalam rangka mengurangi  hambatan baik dari sisi operasional maupun sisi Bisnis.  

Namun sebagaimana pada umumnya kalau orang yang sudah terlanjur posisi nyaman dan aman, diusik dengan kebijakan baru, pasti akan memperlakukan perlawanan dan itu terjadi dengan rencana interpelasi lewat DPR atas acrobat Dahlan Iskan.

Tapi walapun akan dihambat lewat jalur politik, namun Dahlan Iskan tetep percaya diri disamping karena mendapatkan backing full dari RI 1, Ada satu kekuatan yang tidak dimiliki oleh menteri menteri lain selain Dahlan Iskan yaitu Dahlan Iskan Menguasai Media Massa

Kembali ke konsep lean, Inefisiensi yang terjadi di BUMN bukan saja membuat BUMN tidak bagus secara keuangan, tetapi juga membuat produk yang dihasilkan tidak kompetitif. Kalau produk sudah tidak kompetitif akan ditinggalkan oleh konsumen, kalau sudah ditinggalkan konsumen otomatis tidak terjadi transaksi bisnis, hingga akhirnya antara pengeluaran operasional lebih tinggi dari pendapatan. Lama kelamaan akan merugi terus menerus. Dan ini sudah terbukti di beberapa BUMN terjadi saat ini, bahkan utangya jauh melebihi asset yang dimiliki.

Karena diawal tulisan ini saya pakai contoh industri penerbangan, saya mau mengambil contoh penerapan lean di industry ini, Kita semua pasti tau tentang maskapai Low Cost Carrier (LCC) Air Asia, dulu sewaktu dibeli oleh Tony Fernandes mempunyai kerugian luar biasa besar tetapi sekarang menjadi maskapai terbesar karena menggunakan prinsip Lean. Di segment full service kita juga pasti tahu Singapore Airlanes (SQ) didalam sebuah  diskusi bisnis, memperlihatkan ternyata biaya operational yang dikeluarkan SQ dalam setiap jam penerbangan merupakan yang terkecil sendiri diantara maskapai full service lainya, padahal sebagaimana kita tau Singapore Airlines merupakan masakapai yang terkenal karena service excellence dan kehandalan armadanya. Singapore Airlanes (SQ) bisa dikatakan sebagai maskapai Service Bintang Lima tetapi Biaya Operasional kaki lima.

Strategi ketiga buat BUMN adalah BUMN harus Go Green, Isu saat ini dan kedepan pada sebuah perusahaan adalah kesinambungan, Kunci pokok kesinambungan terletak kepada sejauh mana produk dan perusahaan focus dan concern terhadap aspek lingkungan.  Apalah artinya BUMN mempunyai profit yang mengunung jika aktifitas dan produknya merusak lingkungan, untuk jangka pendek mungkin bagus secara ekonomis tetapi dalam jangka panjang akan sangat riskan sekali.

Ada salah satu BUMN yang kebetulan sudah masuk daftar  Forbes 2000 yaitu Semen gresik group, menurut CEO dari Semen Gresik Dwi Soetjipto mengatakan, pabrik semen di Tuban (Jawa Timur) saat ini sudah menggunakan energi dari limbah sektor pertanian. Besarannya mencapai 5-8 persen dari total penggunaan energi. Dalam perkembangannya, ternyata limbah berbentuk sekam ini banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk proses pembuatan batu bata. Semen Gresik juga mempunyai program Waste to Zero . Dalam program ini, produsen semen terbesar di Indonesia ini berencana mengolah 217 ton sampah di Kabupaten Gresik menjadi sumber energi alternatif. Langkah langkah tersebut patut diapresiasi dan diikuti oleh BUMN yang lain sehingga mampu menempatkan lebih banyak lagi posisi BUMN  di daftar Forbes 2000.

Sebagai akhir dari tulisan ini, yang namanya resep bisa saja langsung ces pleng berhasil, bisa juga tidak cocok, sama halnya ketika kita sakit terus diberikan resep oleh dokter ahli sekalipun, kalau memang belum cocok dengan kondisi pasien ya tidak ada gunanya alias tidak ada perubahan, yang terpenting adalah semangat untuk terus melakukan perbaikan terus menerus dalam mencapai keperkasaan BUMN di masa depan.

Saya yakin dengan sumber daya alam yang begitu melimpah, ditunjang dengan semakin banyaknya SDM yang berkualitas suatu saat BUMN kita akan menjadi salah satu motor pengerak ekonomi bukan hanya Indonesia tetapi dikawasan ASIA, dan saat itulah nama Indonesia disebut sebagai MACAN ASIA.

Kuncinya adalah melakukan kerjasama tim yang solid, sukses mengelola restrukturisasi, profitisasi, sinergi, serta bisa mentransformasi budaya kerja di seluruh BUMN RI. Setelah fase itu semua sukses dilakukan baru dilakukan fase Privatisasi, dengan syarat untuk BUMN strategis tetep dibawah pengendali negara.

Bagaimana sumbangan ide dan resep anda untuk BUMN ? semoga bermanfaat.

Jiaxing, China 2012
Salam,

Aan Hunaifi

You May Also Like

4 comments