Belajar Lawan Kemiskinan dari Novel Sepatu Dahlan

by - Sunday, June 03, 2012




SURABAYA - Sepatu di kaki  Dahlan Iskan adalah kisah nan panjang. Dia tidak sekadar sepasang alas kaki, tetapi juga cita-cita yang mengiringi tapak demi tapak perjalanan hidupnya. Termasuk mimpi dan kesulitan hidup di masa lalunya. Kisah itulah yang diurai oleh Khrisna Pabichara dalam novel karyanya berjudul Sepatu Dahlan yang di-launching di sela-sela acara Car Free Day (CFD) di ruas jalan Darmo Surabaya kemarin pagi  (20/5).
    
Novel setebal 369 halaman tersebut bercerita tentang impian seorang anak desa yang tegar menghadapi takdir dan kemiskinan dengan cara kerja keras serta ketekunan. "Ini merupakan novel yang terinspirasi dari sukses Dahlan Iskan. Seorang bocah ndeso yang hidup kekurangan namun kemudian berhasil membalik keadaan menjadi pengusaha dan menteri yang top," kata Khrisna.
    
Judul Sepatu Dahlan dipilih, ujar Khrisna, tidak lepas dari mimpi masa kecil Dahlan yang sangat ingin memiliki sepatu, tetapi tidak kesampaian. Sebab, apa daya, ketidakmampuan secara ekonomi dua orang tuanya membuat kakinya tidak mampu merasakan bersepatu hingga memasuki masa-masa akhir studi di SMA. 
    
Turut hadir dalam acara peluncuran novel kemarin sang tokoh utama, yaitu menteri BUMN kelahiran 17 Agustus 1951, Dahlan Iskan. Seolah mengiyakan cerita Khrisna, Dahlan mengatakan bahwa saking miskinnya, saat bersekolah dulu dirinya tidak pernah menggunakan sepatu. Tetapi nyeker alias telanjang kaki ke mana-mana. 

"Saya baru dapat sepatu pada pertengahan kelas tiga SMA. Itu pun sepatu bekas yang sudah bolong bagian depan dan belakangnya. Cuma saya sudah sangat senang dan bersyukur sekali saat itu," kata Dahlan.
    
Entah karena rasa sayang atau eman terhadap sepatu itu, tidak jarang ketika berangkat sekolah, Dahlan menenteng sepatu dan memilih untuk tetap nyeker. "Itu dilakukan biar sepatunya tidak cepat rusak," kata Dahlan yang kemarin hadir ditemani dua orang cucunya,  Ayrton Senninha Ananda dan Khalisha Salwa Dinata.
 
Dalam launching yang disiarkan live di JTV itu, Dahlan juga sempat mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengeluh terhadap keadaan. Terutama kemiskinan. "Kemiskinan bukan untuk dikeluhkan. Tetapi dilawan. Bagaimana caranya? Kerja keras sembari terus berdoa adalah jalan keluar terbaik," ujar Dahlan yang langsung disambut applause dari ratusan masyarakat yang berkumpul di sana.

Setelah novel Sepatu Dahlan yang sekarang sudah beredar di banyak toko buku, rencananya Khrisna dan penerbit Noura Books akan menjadikannya trilogi. Edisi kedua dan ketiga adalah Surat Dahlan dan Kursi Dahlan. 



"Ini fasenya berbeda. Kalau Surat Dahlan banyak akan menceritakan bagaimana Pak Dahlan membangun kerajaan media dan sukses dalam berbisnis. Sedangkan buku ketiga akan berbicara mengenai Pak Dahlan yang juga sukses memimpin PLN serta sekarang menjabat sebagai menteri BUMN," kata Khrisna.
    
Sesudah tampil live, Dahlan yang kemarin menggunakan baju lengan panjang kuning berlapis kaus pendek berwarna biru muda serta dipadu  dengan celana training dan sepatu kets melayani permintaan tanda tangan di atas buku dari ratusan orang yang secara langsung membeli buku tersebut. "Antre ya. Sabar. Semuanya insya Allah dapat," ujar Dahlan.
    
Kesempatan itu juga tidak disia-siakan oleh masyarakat untuk berfoto langsung dengan ayah dua anak tersebut. Bahkan, Rila Umila, salah seorang pesenam yang datang ke area Car Free Day, cukup beruntung. Sebab, permintaannya untuk mendapatkan kaus berwarna biru muda yang dikenakan oleh Dahlan terkabul. "Wah makasih banyak ya Pak Menteri," kata Rila.
    
Lantas, mau diapakan kaus tersebut? "Nanti ini ndak saya cuci. Mau saya pajang di ruang tamu,  Pak," ujarnya sambil tertawa.
    
Sebelum tampil live dalam acara launching novel Sepatu Dahlan, dengan semangat pria pemilik akun Twitter  @iskan_dahlan tersebut berbaur dengan masyarakat untuk mengikuti senam bersama yang dipimpin oleh instruktur dari Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya

sumber : www.jppn.com

You May Also Like

0 comments