The Young Leadpreneur

by - Saturday, April 21, 2012



Oleh: Aan Hunaifi, Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi, Jurusan Fisika, Universitas Airlangga Surabaya.

Dalam perjalanan zaman, sejarah baru selalu ditandai dengan lahirnya generasi baru. Dalam kancah sejarah, generasi baru yang mengukir sejarah baru itu adalah dari kalangan kaum muda. Perputaran sejarah juga telah membuktikan bahwa setiap generasi itu ada umurnya.  Kenyataan ini semestinya disadari oleh kaum muda Indonesia. Kesadaran yang diharapkan mendorong segenap kaum muda untuk segera mempersiapkan dan merancang prosesi pergantian generasi. Karena pada hakikatnya kita membutuhkan wajah-wajah baru.

Indonesia membutuhkan pemimpin dari kaum muda yang mampu merepresentasikan wajah baru kepemimpinan bangsa. Ini bukan tanpa alasan, karena kaum muda dapat dipastikan hanya memiliki masa depan dan nyaris tidak memiliki masa lalu. Dan ini sesuai dengan kebutuhan Indonesia kini dan ke depannya yang perlu mulai belajar melihat ke depan, dan tidak lagi suka dengan tabiat yang suka melihat ke belakang. 

Kita harus segera maju ke kepan dan bukan berjalan ke masa lalu. Dan secara filosofisnya, masa depan itu adalah milik kaum muda. Sebagaimana telah sering kita dengar nasehat bahwa, pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Bahkan Presiden RI pertama Soekarno pernah mengatakan beri aku 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Oleh sebab itu keberadaan kaum muda sangat vital dalam mengawal keberlanjutan suatu negara. Tentunya bukan kaum muda yang hanya punya karakter  biasa-biasa saja, tetapi kaum muda yang mampu melihat dan membangun visi pembangunan bangsa kedepan. Dengan melihat potensi dan tantangan bangsa sebagai sebuah peluang untu mensejahterakan masyarakat di tengah krisis multidimensional saat ini.

Untuk mengatasi permasalahan bangsa yang begitu besar dibutuhkan seorang pemuda yang mempunyai Leadpreneurship. Leadpreneurship adalah perpaduan antara keterampilan kewirausahaan (entreneurship) dan kualitas kepemimpinan (leadership).

Entreprneur adalah penggerak roda perekonomian suatu negara. Mereka mampu menciptakan banyak lapangan kerja baru sehingga membantu upaya pemerintah mengurangi masalah pengangguran dan kemiskinan. Dengan Entrepreneurship, berbagai macam produk dihasilkan, kreativitas dipicu, dan inovasi tercipta.

Inilah peluang yang mesti dijemput oleh kaum muda saat ini. Sebuah peluang untuk mempertemukan berakhirnya umur generasi itu dengan muara dari gerakan kaum muda untuk menyambut pergantian generasi dan menjaga perputaran sejarah dengan ukiran-ukiran prestasi baru. Maka, harapannya adalah bagaimana kaum muda tidak membiarkan begitu saja sejarah melakukan pergantian generasi itu tanpa kaum muda menjadi subjek di dalamnya.
Kepemimpinan Leadpreneur tidak akan datang dengan sendirinya. Sejarah baru dengan kepemimpinan dari generasi baru tidak akan serta merta menjadi nyata tanpa ada persiapan dari generasi baru itu. Bahwa negeri ini mesti diperbaiki dengan semangat baru, orang-orang baru dengan vitalitas baru serta visi kepemimpinan yang benar-benar baru adalah harapan bagi segenap rakyat Indonesia.

Persiapan yang perlu dilakukan kaum muda saat ini diantaranya adalah bagaimana menyamakan persepsi tentang urgennya kepemimpinan kaum muda dalam menjawab kebutuhan bangsa ke depan. Urgensi kepemimpinan kaum muda yang disadari oleh pemikiran kolektif bahwa generasi pemimpin yang ada saat ini sudah berumur tua dan layak untuk diganti dengan generasi yang lebih muda. Inilah kesamaan persepsi yang diharapkan memacu para pemuda untuk bersungguh-sungguh mempersiapkan diri sebagai pemimpin dan mengambil kepemimpinan itu pada saatnya tiba.

Ketika kita berbicara kepemimpinan berarti kita berbicara masalah prilaku, gaya atau cara. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka ada 3 ciri pokok dari kepemimpinan, yaitu Persepsi sosial, Kemampuan berpikir abstrak, dan Keseimbangan emosional.

Tiga hal inilah yang akan kita bahas dalam kaitannya antara kepemimpinan kaum muda dan tua.
Persepsi Sosial adalah kecakapan dalam melihat dan memahami perasaan, sikap dan kebutuhan anggota-anggota kelompok. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin, kemampuan berpikir Abstrak, yang berarti memiliki kecerdasan yang tinggi.

Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan menafsirkan, menganalisis dan bahkan mempunyai insting yang kuat dalam menghadapi suatu keadaan. Hal ini penting ketika akan mengambil suatu keputusan atau kebijakan, pemimpin harus mengambil suatu resiko.

Keseimbangan emosional. Hal ini tentunya sangat penting ketika seorang pemimpin menghadapi masalah. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang sanggup mengendalikan emosinya, dan bukan dia yang dikendalikan oleh emosi.

Dari ciri tersebut, jika dilihat secara obyektif nampaknya Kaum tua lebih mendominasi ketiganya meskipun tidak semua. Dalam mengambil keputusan, Kaum tua lebih banyak berpikir berdasarkan experience/ pengalamannya, sehingga kemungkinan resiko kegagalan sedikit banyaknya dapat diminimalisir. Kaum tua juga memiliki persepsi sosial dan stabilitas emosional yang cukup baik, mungkin karena faktor kedewasaan, pengalaman dan kematangan pemikiran. Biasanya dalam menilai orang lain dalam kelompoknya, ia lebih cenderung bercermin kepada dirinya sendiri.

Namun, jika kita bertolak kepada kepemimpinan kaum muda, ada beberapa ciri yang bisa kemukakan disini, yaitu : pertama, lebih antusias dan bersemangat ; kedua, cenderung lebih egois dan menang sendiri, yang sangat erat kaitannya dengan stabilitas emosi ; dan ketiga, bertindak dengan orientasi pada hasil dan prestasi untuk mendapatkan pengakuan , terlalu cepat dalam mengambil keputusan, atau berani “Gambling” Bertanggung jawab

Dari ciri pokok ini, Kepemimpinan muda memang masih jauh untuk memenuhi ketiga ciri pokok yang telah saya sebutkan diatas. Namun, beberapa ciri positif yang dimiliki Kaum muda ini tidak dimiliki oleh kepemimpinan kaum tua, dimana ketika kedua golongan leadership ini dikonvergensikan, akan menciptakan kepemimpinan yang lebih Solid ketimbang kepemimpinan yang didominasi oleh kaum tua saja, seperti yang terjadi di negara kita sekarang. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh pemikir besar Francis Bacon bahwa Pemuda lebih cocok mencipta ketimbang memutuskan, Lebih cocok bertindak ketimbang menimbang, lebih cocok menggarap proyek baru ketimbang proyek mapan. Orang Tua terlalu sering menolak, terlalu lama berunding, terlalu sedikit berbuat. Sungguh baik bila terpadu keduanya, karena problema bisa terpecahkan oleh nilainya.

Disamping itu terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki kaum muda dalam rangka menjawab tantangan global yang begitu kompleks saat ini : 

Pertama, kemampuan meneliti (riset). Penelitian bermula dari adanya masalah. Kaum muda Indonesia tentu sangat menyadari bahwa masalah negeri ini demikian kompleks dan seperti benang kusut. Oleh karenanya kaum muda ditantang untuk mengurai dan memecahkan masalah-masalah sesuai dengan disiplin ilmu dan kemampuan yang dimilikinya.Riset akan membuahkan imajinasi, lalu bergerak menjadi kreasi. Selanjutnya kreasi akan mendorong produksi, lalu melahirkan industri, dan pada pada akhirnya gebrakan industri akan menciptakan generasi yang mandiri. Dengan demikian, jika generasi muda Indonesia memimpikan kemandirian, maka gerakan riset merupakan sebuah keniscayaan. 

Kedua, kemampuan advokasi. Semua menyadari bahwa kondisi masyarakat saat ini sungguh memprihatinkan. Kemiskinan, penganguran, serta merebaknya patologi sosial masyarakat merupakan fakta keseharian kita. Gerakan pemberdayaan bergaya konvensional nampaknya sulit untuk dijadikan penawar. Kaum muda semestinya memahami tentang gerakan advokasi-pemberdayaan yang komprehensif. Harus diakui bahwa potret kaum muda yang terlihat saat ini baru mampu melakukan advokasi parsial. 

Gerakan pemberdayaan yang dilakukan pun tidak dibangun di atas kemandirian kaum muda itu sendiri. Kemampuan advokasi perlu dibangun, dipahami dan dilakukan, serta mencari terobosan gerakan baru dalam upaya menjawab tantangan dan perubahan.

Ketiga, kemampuan memproduksi. Pengertian memproduksi tidak lantas identik dengan kegiatan produksi secara besar-besaran, akan tetapi lebih fokus kepada kemampuan menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada dalam skala sekecil apapun. Kaum muda dituntut untuk mengembangkan kreasi-kreasi alternatif yang dapat mendorong proses produksi.

Keempat, kemampuan publikasi. Jika kegiatan riset telah menjadi budaya, advokasi menjadi menu sehari-hari, dan produksi/kreasi menjadi aksi, maka kemampuan berikutnya adalah kemampuan mengkomunikasikan gerakan kemandirian tersebut melalui publikasi massa.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini begitu banyak karya karya hebat anak negeri, tidak bisa dieksekusi lebih lanjut dan luas dikarenakan tidak adanya kemampuan dalam berkomunikasi salah satunya adalah kemampuan publikasi.

Kaum muda memiliki peranan yang signifikan dalam proses pembangunan. Ia merupakan penggerak arah dan kebijakan pembangunan serta menentukan masa depan bangsa. Kaum muda harus berani mengambil peran dalam berbagai bidang, terutama kerja-kerja intelektual sehingga menjadi fundamen yang kokoh dalam proses pembangunan ke depan. Gerakan penelitian (research movement), gerakan keilmuan (intellectual movement), dan gerakan mencipta (creation movement) menuju arah kemandirian bangsa harus selalu dikumandangkan sehingga akan bergerak menjadi karakter kaum muda Indonesia yang berani bertekad dan berbuat.

Namun yang tidak kalah penting dari itu semua adalah keberadaan kaum muda yang mempunyai Leadprneurship, dimana kepemimpinan yang mampu mengkonvergensikan antara keterampilan kewirausahaan dan kualitas kepemimpinan. Kedua kualitas itu menyatu dalam diri seorang Leadpreneur, mengubahnya menjadi pribadi dengan kemampuan: mengubah sumber daya bernilai rendah menjadi bernilai tinggi melalui pengambilan risiko terukur dan kepemimpinan efektif,  pribadi yang mampu memanfaatkan peluang dan melihat masalah sebagai peluang sekaligus tantangan, dengan bekerja secara sistematis dan efisien.

Pemimpin muda dengan jiwa entreprneurship akan mampu menghidupkan visi, misi, memberikan inspirasi atau dorongan kepada orang-orang di sekelilingnya dengan harapan, keberanian, serta keyakinan, mengambil inisiatif dan menerima tantangan, Selalu belajar serta terbuka terhadap ide-ide baru. Oleh sebab itu, sangatlah pantas apabila The Young Leadpreneur diberi peluang untuk membuktikan diri dengan gaya yang berbeda dalam memimpin demi kemandirian dan martabat bangsa.

Semoga Bermanfaat.

Aan Hunaifi
Mahasiswa Akhir Universitas Airlangga – Surabaya.
Adrress         : Department of Physics Faculty of Sciences and Technology Airlangga University                          – Surabaya –Indonesia
                        : Kampus C Unair – Mulyorejo- Surabaya

NB : Artikel ini untuk mengikuti lomba penulisah Esay Mahasiswa tahun 2009 yang diselenggarakan oleh majalah Tempo, dengan tema " MENJADI INDONESIA"

You May Also Like

3 comments