ARE YOU TOXIC LEARNER ?

by - Saturday, April 07, 2012



Toxic Learner: Orang yang sangat sulit menyesuaikan diri dalam belajar. Mereka bukanlah orang  yang bodoh. Dia tahu dan mampu tapi tidak mau. (Dia bisa, tapi juga berbisa alias beracun…?!?)

“Kenapa mesti berdiri, kenapa mesti gerak gerak segala….?”, “ Ini sumbernya darimana?”. Ini  contoh komentar toxic leaner.

Biasanya mereka adalah orang-orang yang mempunyai luka batin,  atau orang yang disingkirkan oleh atasannya. Mereka sering merasa dirinya lebih tahu, lebih pintar dari orang lain. Problem dalam dirinya dimanifestasikan dengan membuat orang lain susah

Ciri ciri Toxic Learner:  

1. ASS:  Apatis, Sinis, Skeptis. Apatis: masa bodoh dan menganggap remeh apa yang dipelajari.  Sinis: cenderung negative: “Gak mungkinlah, percuma”. Skeptis: ragu2, “Berubah sih berubah,  yang diatas mau  berubah gak?”
2. Melabel : Dia belajar untuk melabel orang lain. “Teman saya, atasan saya ada yang seperti itu…”
3.  Full Glass Person : Merasa sudah tahu apa yang dipelajari. Sebetulnya dia tidak mengerti. Padahal selalu ada hal hal baru, yang bisa dipelajari. Ada yang ikut training cuma mau lihat  seperti apa trainer  mengajar. 

Kisah Guru bijak: Pangeran bertamu ke seorang Guru. Guru mengajaknya minum teh, menuangkannya ke gelas  sampai meluber. “ Stop, Guru, sudah penuh ”, ujar Pangeran.

”Begitu juga dengan Pangeran, kalau cangkir sudah penuh, untuk apa diisi lagi. Percuma kalau datang tapi merasa sudah penuh ilmunya” ujar Sang Guru

4. Parable of Boiled Frog. Peter Senge memperkenalkannya eksperimen katak rebus. Kalau katak dimasukkan kedalam air mendidih, dia akan melompat keluar. Kalau ditaruh di air dingin, katak akan tenang. Kemudian air dipanaskan bertahap, katak masih didalam air, berenang renang. Panas dinaikkan terus, katak tetap didalam air, sampai akhirnya menjadi sweeke, katak rebus. 

Organisasi maupun orang merasa berada di comfort zone, sehingga tidak perlu berubah, atau  belajar dari orang lain. Dia merasa sudah berada pada posisi tinggi. Itu juga sebabnya kenapa banyak organisasi tidak berubah.

5. Meremehkan Belajar : Gak perlu teori lah ”. Teori dibuat berdasarkan pengalaman, ketika dipraktekkan teori itu akan bermanfaat. Memang ada teori yang tidak praktis.

6. Under-estimate : Menganggap orang lain tidak bisa, dia lebih mengerti. Ketika anda tidak bisa menghargai orang lain, anda masih mempuyai kekurangan: tidak bisa menghargai.



Tips Toxic Learner:
  1. Jangan cepat melabel. Mentang-mentang sudah tahu tentang toxic learner. Jangan-jangan anda yang toxic, sok tahu, tidak mau mendengarkan orang lain.
  2. Trainer bukan berarti lebih tahu. Harus menjadi Trainer yang humble. Teliti dan introspeksilah, jangan jangan….
  3. Ketahuilah motif orang untuk belajar. Orang mungkin mempunyai UEN : Unmet Emotional Needs, kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi. Belajar bagaimana mempelajari bahasa yang tidak tersampaikan, bagaimana melihat motif orang yang belajar. 

Ada 3 motif orang belajar :

a. Mastery Motive : Motif untuk menguasai apa yang dipelajari.
b. Ego Involvement : Mempunyai tujuan lain, seperti mendapatkan sertifikat, dll.
c. Social Motive  Ingin mendapat teman, untuk bergaul, untuk fun.

Kita harus bisa membaca UEN seseorang. Semakin peka kemampuan membaca UEN, akan semakin membantu kita. Ketidakpekaan bisa menciptakan toxic learner.

4.Belajar mendekati, membicarakannya. Ganti gaya supaya peserta tidak bosan, misalnya dari  duduk ke berdiri, ganti metode.

5.Terimalah apa adanya : “Kita bisa membawa kuda ke kolam tapi kita tidak bisa memaksanya  meminum air….”

sumber : http://www.anthonydiomartin.blogspot.com/

You May Also Like

0 comments