SAYA BUTUH ORANG BODOH !


Si Jabrik
Teman saya punya teori yang rada gila. Dia bilang, “Negara ini ngak maju-maju sejak reformasi 1998, karena terlalu banyak orang pinter”. Awalnya saya terbahak-bahak mendengar teorinya yang gila itu. Tetapi ia serius melanjutkan. Buktinya dengan merangkai kata-kata dan kalimat secara elok, maka para politisi bisa menunda kenaikan BBM, namun memberikan ketidak jelasan, bahwa BBM akan naik atau tidak. Hanya orang-orang pintar yang bisa membuat situasi gamang, dan tidak jelas. Padahal demonstran (asli atau tidak) sudah seminggu ber-jibaku dibawah terik matahari dan guyuran air hujan, serak kehilangan suara. Namun BBM tetap saja bisa naik minggu depan atau bulan depan. Semuanya demi kompromi sebuah kontrak politik. Ini bukti bahwa politisi kita makin pintar dan canggih. Tetapi sanggah teman saya, kalau politisi kita bodoh, pasti akan tegas. Naik atau tidak. Selesai ! Tidak ada ruang untuk tidak jelas.

Teman saya dengan sengit juga melanjutkan argumentasinya. Menurut dia semakin banyak orang ketangkap gara-gara korupsi. Mulai dari bekas bupati, bekas walikota, bekas gubernur, hingga bekas menteri. Rame-rame masuk penjara gara-gara korupsi. Kenapa ? Karena mereka pinter-pinter semua, dan mereka merasa bisa menipu Negara. Coba kalau mereka bodoh dan tidak tau caranya korupsi. Pasti ngak ada orang korupsi. Begitu penjelasan teman saya. Walaupun gila, tetapi sedikit banyak ada benarnya juga.

Teman saya juga mengeluhkan, bahwa karena semuanya pinter, maka semakin banyak ‘talk show’, di televisi dan radio. Karena pada pinter semua. Maka apapun diperdebatkan. Seolah-olah semua orang mau pamer, kalau dirinya memang pinter dan tau segalanya. Saya semakin tertawa mendengar lanjutan teori teman saya ini. Terdengar ngawur namun mengundang seribu pertanyaan lanjutan.

Jadi argumen teman saya ini, sok pinter, pamer pinter, belaga pinter dan kebanyakan adu pinter, bakal jadi hambatan yang serius buat negera ini. Kebetulan saya punya pengalaman rada-rada mirip. Pernah sekali saya membuat sebuah proyek disebuah perusahaan. Saat proyek akan di aplikasikan, sang pimpinan perusahaan dengan bangganya mengatakan bahwa ia memberikan 10 staffnya, yang paling pinter. Celakanya proyek itu tidak jalan-jalan alias macet. Semata-mata karena setiap aspek dari proyek itu diperdebatkan dan dikaji ulang oleh 10 orang pinter, yang semuanya merasa lebih pinter dan tidak ada satupun yang mau mengalah.

Frustasi dengan situasi dan kondisi yang macet selama sebulan, saya menghadap pemilik perusahaan. Dengan sangat hati-hati, saya katakan bahwa saya ingin menukar anggota tim. Dari 10 yang paling pinter dengan 10 yang paling bodoh. Awalnya sang pemilik perusahaan matanya melotot dan merasa gusar. Ia merasa tersinggung Namun setelah saya perlahan-lahan saya jelaskan situasinya, akhirnya ia tersenyum juga. Mengerti betul situasinya, ia lalu menuruti permintaan saya. Ia memberikan 10 anggota staffnya yang tidak terlalu pinter. Dalam 2 bulan proyek itu terselesaikan dengan baik. Diakhir proyek, sang pemilik perusahaan mengatakan, kadang staff yang terlalu pinter malah menyulitkan. Kadang kita butuh staff yang biasa biasa saja.

Cerita ini pernah saya ceritakan juga ke Mpu Peniti. Dan beliau tertawa terkekeh-kekeh. Malah menurut beliau, kadang dalam situasi kritis dan genting, kita justru butuh orang bodoh. Karena mereka pikirannya lebih pendek, tidak pandai menghitung resiko, akibatnya lebih berani mengambil tindakan. Dan seringkali justru jadi menyelamatkan banyak orang.

Benarkah kita butuh orang bodoh ? Pernah sekali saya berdiskusi sengit dengan Mpu Peniti. Saya bersikukuh, kita tidak butuh orang bodoh. Buat apa orang bodoh ? Begitu argumen saya. Lalu Mpu Peniti bercerita dan memberikan saya sebuah pelajaran manajemen. Kisah ini terjadi saat pasca krisis ekonomi 1998. Alkisah, disebuah perusahaan, karena krisis ekonomi, maka perusahaan itu dibelit hutang. Bertubi-tubi “debt-collector” datang dan menagih hutang. Para karyawan stress menghadapi situasi seperti itu. Di saat genting, sang pimpinan, entah mendapat wangsit dari mana, tiba-tiba menugaskan seorang “office boy” yang terkenal sekali dikantor itu “agak lambat cara berpikir-nya”, menjadi resepsionis untuk menghadapi para penagih hutang. Percaya atau tidak strategi ini berhasil dengan manjur. Para penagih hutang rata-rata frustasi menghadapi “office boy” itu.

Moral dari cerita ini, menurut Mpu Peniti, adalah kita jangan takabur menyepelekan “orang bodoh” dan merendahkan mereka, seolah mereka adalah kaum yang terbuang. Manajemen adalah ibarat sebuah mosaic. Kita harus bisa memberdayakan semua orang. Tiap orang, apa-pun kemampuan dan situasinya – pasti akan bermanfaat. Maka sejak peristiwa itu, saya selalu belajar menghargai setiap orang. Apapun kekurangan dan kelebihannya.

Renzo Rosso, pemilik dan yang menemukan jeans bermerek Diesel, menulis sebuah buku “Be Stupid – For Successful Living”. Yang merupakan kelanjutan dari kampanye iklan Diesel yang super heboh yaitu “Be Stupid”. Konsep kampanye iklan itu sendiri diciptakan oleh perusahaan iklan “Anomaly”. Idenya sangat sederhana, kadang untuk berhasil dalam hidup ini, kita butuh strategi bodoh.

Renzo Rosso, menggunakan strategi bodoh sebagai sebuah cemeti yang membuat kita terperangah. Menurut Renzo, kemampuan kita seringkali dibatasi oleh sikap kita. Pembatasan itu terjadi karena kita terbiasa dengan arogansi dan kesombongan kita. Misalnya, karena kita punya segudang gelar, maka kita merasa sangat pandai. Nah, sangat pandai itu seringkali menjadi penghambat gerakan kita. Contoh kasus: Ada dua orang pegawai yang kena PHK. Yang pertama seorang sarjana S2 sangat cerdas dan pandai dengan segudang pengetahuan. Yang kedua seorang lulusan SMA yang mungkin pengetahuan-nya biasa biasa saja. Yang pertama saat ingin menjadi pengusaha, akan membuat rencana yang sangat rapi dan perhitungan resiko yang sangat nyelimet. Saking rumitnya, akhirnya ia batal menjadi pengusaha. Dan tetap menjadi pengangguran sehabis PHK. Yang kedua, karena sudah kepepet, akhirnya tanpa pikir panjang, berdagang pecel lele, dan es campur. Lalu kemudian sukses. Semata karena yang kedua tidak memiliki perhitungan resiko yang rumit. Ia punya nyali dan keberanian yang lebih besar. Semata-mata karena pengetahuan-nya yang terbatas. Itu pokok ide Renzo Rosso. Bahwa strategi bodoh kadang-kadang membuka pintu solusi yang sangat sederhana.

Republik ini dan Negara ini barangkali sudah saatnya juga butuh Strategi Bodoh. Sebuah sikap penyederhanan yang memangkas semua kerumitan, dan mengembalikan para pemimpin kita pada satu sikap sederhana, jujur membela kepentingan rakyat. Tanpa debat. Tanpa adu pinter. Saatnya hadir seorang pemimpin yang kritis mau menyelamatkan kita semua. Kalau perlu bodoh, marilah kita bodoh bersama.

sumber : http://biangpenasaran.blogspot.com/

0 comments: