10 CEO Indonesia Paling Respek Pada Lingkungan

by - Saturday, March 31, 2012

Riset Warta Ekonomi Intelligence Unit mengenai Green CEOs menghasilkan 10 Chief Executive Officer perusahaan publik yang memperoleh prosentase penilaian  paling tinggi dalam hal menerapkan paradigma hijau di perusahaan. Berikut profil mereka:
   
1. Widya Wiryawan
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk.

Pria berkacamata ini meraih posisi Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. (AAL) sejak 2007. Satu tahun Widya memimpin, penjualan bersih AAL mengalami peningkatan 36,9% dari Rp5961,0 miliar. Karena krisis global, penjualan 2009 mengalami penurunan, dan baru pada 2010 mampu mencatat angka penjualan bersih senilai Rp8,8 triliun melebihi penjualan di tahun 2008. Akhir April lalu, AAL membagikan deviden 2010 sebesar Rp850 per lembar, dengan nilai total Rp1,31  triliun. Nilai itu 65% bagian dari laba bersih senilai Rp2,02 triliun.

Di bawah kepemimpinan Widya, AAL memiliki program yang terencana dalam menerapkan paradigma “hijau” di perusahaan. AAL telah memiliki tata kelola lingkungan perkebunan grup AAL yang ditangani oleh divisi Safety, Health & Environment. AAL juga mempunyai program Corporate Social Responsibility yang dikelola oleh departemen Community Development. Disamping itu, AAL memiliki program konservasi perkebunan dan conservation specialist untuk mengelola program konservasi ini.

Perusahaan yang memiliki luas kebun 291.814,48 ha ini memerhatikan aspek lingkungan perkebunan kelapa sawit sejak dari periode pra konstruksi (survei lahan, sosialisasi, dan perizinan) guna mencegah potensi konflik seperti masalah status lahan. Begitu pula pada periode konstruksi  (pembukaan lahan, pembibitan, dan penanaman) guna mencegah kepunahan vegetasi dan satwa serta  kebakaran lahan. Pada periode operasi (perawatan kebun, masa panen, dan operasional pabrik CPO), AAL juga memiliki program yang mengatur masalah emisi udara, limbah cair, dan limbah
padat.

Tak cukup dengan itu, AAL juga mengikuti program sertifikasi Astra Green Company yang  bekerjasama dengan badan sertifikasi internasional AFAQ Perancis. AAL pun telah melakukan uji coba  mengikuti standar Indonesia Sustainable Palm Oil. Bahkan, beberapa perusahaan yang tergabung dalam grup AAL dalam tiga tahun terakhir memperoleh Peringkat Hijau dalam penghargaan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan Perusahaan) dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sejak 2009 lalu AAL untuk kali pertama menginisiasi laporan keberlanjutan kepada publik. Hal itu, menurut Widya, ditujukan sebagai bagian dari akuntabilitas perseroan untuk tanggung jawab sosial dan pengelolaan lingkungan.

2. Sofyan Basyir
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Di bawah kepemimpinan Sofyan Basyir, pelan tapi pasti BRI berubah menjadi bank terbaik dan  terbesar di Indonesia. Ia menjabat posisi Direktur Utama BRI sejak Mei 2005 dan terpilih kembali menjabat posisi itu pada 20 Mei lalu. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk pada 2010 meraup laba bersih setelah pajak sebesar Rp11,47 triliun, melonjak sebesar 56,98% dibandingkan tahun sebelumnya hanya sebesar Rp7,31 triliun.

BRI diketahui telah menyalurkan dana Bina Lingkungan (BL) sekitar Rp6,66 miliar sepanjang kuartal I 2011. Jumlah tersebut diupayakan dapat meningkat menadi Rp40-60 miliar pada akhir 2011. Menurut Sofyan, dana BL BRI terus meningkat setiap tahun. Tahun lalu BRI telah menyalurkan dana sebesar Rp48,82 miliar, sementara pada 2008 dan 2009 masing-masing sebesar Rp35,03 miliar dan Rp37,87 miliar. Tahun lalu BRI menyisihkan 3-4% dari laba perseroan yang mencapai Rp11,47 triliun untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

Dalam pemberian kredit, BRI juga semakin memperhatikan aspek lingkungan hidup. Misalnya, untuk pembiayaan industri kelapa sawit dan turunannya, BRI menegaskan kepada debiturnya agar pembukaan areal dan operasional kebun maupun pabrik dilakukan dengan prinsip tidak merusak alam atau lingkungan. BRI menerapkan syarat tersebut dalam persyaratan formal pemberian kredit. 

Dipimpin Sofyan Basir, BRI juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Pada November 2010 lalu, misalnya, BRI mengkampanyekan gerakan penanaman 1 miliar pohon untuk dunia melalui acara BRI Bersemi (Bersepeda untuk bumi) yang diikuti sekitar seribu peserta bersepeda santai di Jakarta. BRI menyelenggarakan pula kegiatan penanaman hutan bakau di wilayah pantai utara DKI Jakarta. BRI mengalokasikan dana Rp1,842 miliar untuk program ini.

3. Wachid Usman
Direktur Utama PT Timah Tbk.

Wachid Usman memangku jabatan Direktur Utama perseroan sejak tahun 2007, setelah memegang beberapa jabatan penting sejak bergabung dengan PT Timah pada tahun 1982, antara lain Kepala Operasi Produksi, Kepala Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Direktur Operasi PT Tambang Timah dan pernah merangkap sebagai Direktur Utama PT Tambang Timah pada tahun 2002-2003. Sarjana teknik tambang Institut Teknologi Bandung ini menekankan bahwa sebagai perusahaan tambang timah kelas dunia, PT Timah Tbk. juga harus melaksanakan tanggung jawab pengelolaan lingkungan.

Untuk memastikan pengelolaan lingkungan berjalan efektif, PT Timah Tbk. melakukan pengawasan dengan melibatkan pihak independen dan mengacu pada Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 yang
telah diraih sejak 1997. Sejak kegiatan operasi penambangan direncanakan, Timah memberikanperhatian khusus bagi perbaikan kembali kualitas lingkungan pada masa pasca tambang sehingga kondisi lingkungan bisa kembali seperti sedia kala.

Sampai tahun 2009, PT Timah Tbk telah menanam 526.607 pohon di sekitar wilayah operasi perusahaan. Mereka juga terlibat dalam proyek Pemerintah Provinsi Bangka-Belitung bernama ‘Babel Hijau’. Timah juga menjalankan program ‘One Man One Tree’ untuk melakukan adopsi pohon yang melibatkan para karyawannya.

4. Prijono Sugiarto
Presiden Direktur PT Astra International Tbk.

Sejak Januari 2010, pria kelahiran 20 Juni 1960 ini menduduki jabatan Presiden Direktur menggantikan pendahulunya Michael D. Ruslim. Kiprah Prijono sendiri di Astra dimulai sejak 1990. Dinakhodai Prijono, Astra memiliki kerangka kerja Astra Green Company (AGC) yang menunjukkan aspirasi Astra untuk bisa memperoleh lingkungan kerja yang sehat dan aman sekaligus melindungi keberlanjutan lingkungan. Formula AGC menjadi panduan dasar implementasi dan evaluasi bagian Environment, Health, and Safety (EHS) di seluruh perusahaan Grup Astra. Formula

AGC ini juga menjadi green strategy Astra yang mencakup pula di dalamnya proses bisnis yang aman, nyaman, dan bersih (green process), pengembangan produk ramah lingkungan dan aman serta pengembangan kompetensi karyawan di bidang EHS (green employee). Implementasi EHS ini mengikuti
standar dan regulasi nasional dan internasional.

Disamping itu, Astra juga melakukan sejumlah aksi kepedulian lingkungan, seperti program konservasi dan sanitasi berbasis masyarakat di bantaran sungai Ciliwung, Jakarta. Aksi kepedulian lainnya adalah pemberian bantuan peralatan pengelolaan sampah di Jakarta dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia dan Ulang Tahun Jakarta ke-484. Astra pun membangun Taman Astra seluas 4.000 meter persegi di dekat kantor pusatnya demi kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan, serta gerakan penanaman pohon di berbagai tempat di
Indonesia.

5. Eamon John Ginley
Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk.

Eamon J. Ginley dilantik sebagai CEO Holcim Indonesia pada tanggal 19 Juli 2009. Sebelumnya, Eamon menjabat sebagai Manufacturing Director sejak 2004. Dihela sarjana kimia ini sebagai CEO, Holcim Indonesia mengembangkan sejumlah strategi berwawasan lingkungan. Apalagi sebagai perusahaan produsen semen, Holcim sangat potensial menghasilkan polusi yang mencemari lingkungan.

Holcim mengembangkan produk dan layanan yang ramah lingkungan, antara lain produk semen yang berbahan baku clinker yang rendah. Holcim juga mengembangkan sarana mobil pengaduk semen ukuran
kecil yang lebih efisien untuk proyek pembangunan berskala kecil dan semen yang bisa cepat mengering serta membangun proyek-proyek properti ramah lingkungan (Ecohome). Disamping itu, Holcim juga menjadi pionir eradifikasi ozone depleting substances (gas CFC).

Holcim juga mengoperasikan bahan bakar alternatif dari biomasa berupa sekam padi yang sudah tidak terpakai dan cangkang kelapa sawit. Untuk mengolah debu semen, Holcim menggunakan alat penghisap debu elektrostatis. Holcim juga mengembangkan tanaman bahan bakar yang cepat tumbuh untuk menyerap karbon di sekitar pabrik, mengurangi faktor klinker semen, serta mengurangi penggunaan air dan listrik per ton yang dibutuhkan untuk pembuatan semen.

6. Maurits D. Lalisang
Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk.

Maurits menjabat sebagai Presiden Direktur Unilever Indonesia sejak 2004. Bergabung dengan Unilever tahun 1980, ia pernah menjabat berbagai jabatan senior di Unilever, termasuk Direktur Corporate Relations, Direktur Foods, Direktur Home Care and Direktur Sales. Di bawah kepemimpinan Maurits, Unilever memiliki program sustainability yang lengkap, mulai dari Unilever Sustainable Living Plan, sustainable development report, hingga sustainability strategy.

Unilever Sustainable Living Plan bertujuan membantu masyarakat menikmati kualitas hidup yang baik sekaligus ramah lingkungan. Unilever mencanangkan tiga tujuan besar yang harus dicapai pada 2020, yaitu memotong separo environmental footprint produk-produknya, membantu lebih dari 1 miliar penduduk dunia untuk ikut meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraannya, serta berusaha 100% bahan baku produknya adalah bersumberkan bahan baku agrikultur yang berkelanjutan.

Pada November 2009 Unilever mencanangkan strategi menggandakan skala bisnisnya sekaligus mengurangi dampak lingkungan dalam keseluruhan rantai bisnisnya. Dalam hal ini, sejak 2008, ada empat prioritas dampak lingkungan yang menjadi pusat perhatian Unilever, yakni emisi greenhouse gas (GHG), air, limbah, dan sumber produksi perusahaan yang berkelanjutan (sustainable sourcing).

Aksi lingkungan juga giat dilakukan Unilever. Pada tahun 2010 dilakukan gerakan penanaman 10.000 bibit pohon kelapa, program pengelolaan sampah di 8 kota besar dengan melibatkan 134.000 kader lingkungan, pengembangan 730 wiraswastawan di bidang pengelolaan sampah, dan pengembangan 19 koperasi bank sampah

7. Alwin Syah Loebis
Direktur Utama PT Antam Tbk.

PT Antam Tbk. baru saja mencetak kenaikan 71% laba bersih pada triwulan I tahun ini, dengan nilai Rp 346,6 miliar. Periode yang sama tahun lalu, laba ANTM sebesar Rp201,23 miliar. Di bawah kepemimpinan Alwin, ANTM gencar melakukan aksi korporasi. Meski demikian, alumni Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1983 tidak melupakan tanggung jawab lingkungan perusahaannya. Pada akhir 2010, di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Antam di Pongkor, Jawa Barat, dibangun Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati TNGHS meliputi Pusat Penelitian & Pendidikan Pohon dan Tanaman Asli, Pusat Pembenihan dan Penanaman Pohon Asli, sarana pembibitan, dan Pusat Reklamasi dan Restorasi Lahan. Untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat penerima manfaat dari program CSR Antam, dilakukan survei indeks kepuasan masyarakat bersama Institut Pertanian Bogor. pengumpulan data dilaksanakan pada Desember 2009. Hasilnya, ANTM menerima penilaian Community Satisfaction Index sebesar 76,4%. 

8. Rinaldi Firmansyah
Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Lahir di Tanjung Pinang, 49 tahun silam, Rinaldi Firmansyah mulai memimpin PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) sejak 2007 setelah sebelumnya menjabat sebagai direktur keuangan. Alumnus Teknik Elektro ITB, Bandung, ini mengusung Green Leadership Program dalam menghadapi masalah lingkungan. Ada tiga strategi utama yang dijadikan motor penggerak. Pertama, melakukan penghematan energi (energy saving) baik di kantor maupun pada peralatan di lokasi operasi Telkom.

Implementasinya, mulai dari  menerapkan paperless office di semua kantor Telkom hingga pemindahan dan migrasi TDM switch yang sudah tua menjadi soft switch. Migrasi ini mampu mereduksi hingga 35,0 A dari existing switch sebesar 58,9 A menjadi 23,9 A.

Strategi kedua adalah pemanfaatan energi hijau (green energy) untuk mengurangi konsumsi sumber daya dan menghemat total cost ownership. Misalnya membangun BTS yang menggunakan energi hijau. Adapun strategi ketiga ialah mencanangkan go green program, seperti mendukung gerakan penanaman
pohon.


9. Gatot Mudiantoro Suwondo
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Pria lulusan Mindanao State University Filipina ini menjabat Direktur Utama BNI sejak Februari  2008. Di tangan Gatot, BNI makin menunjukkan tanggung jawabnya yang besar di bidang lingkungan.  BNImenjadi pelopor konsep green banking di Indonesia. BNI menjadi bank pertama di Indonesia  yang menjadi anggota lembaga United Nation Environment Programme Finance Initiative (UNEP FI) sejak 2005. Lembaga ini merupakan tempat bank-bank dari seluruh penjuru dunia untuk berbagi sukses praktek perbankan berwawasan lingkungan.

Dalam kebijakan perusahaan, BNI juga telah memasukkan isu lingkungan sebagai bahan pertimbangan. BNI menyalurkan kredit komersial untuk usaha-usaha ramah lingkungan seperti industri daur ulang, pertanian/peternakan dengan sistem produksi bersih dan industri terkait efisiensi. BNI juga dipercaya sebagai bank pelaksana kredit program pinjaman lunak dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan telah ikut serta dalam beberapa skim pinjaman lunak lingkungan dari kreditur internasional. Dalam proses kerjanya pun, BNI juga telah mengurangi penggunaan kertas dan membatasi penggunaan listrik.
   

10. Lukman A. Mahfoedz
PT Medco Energi Tbk.

Pria kelahiran 1954 ini menjabat sebagai CEO Medco Energi pada bulan Mei 2011. Meski baru sebulan menjabat sebagai CEO, Lukman bukanlah orang baru di Medco. Sebelumnya, Lukman menjabat  sebagai Project Director Medco Energi sejak tahun 2008. Sebagai CEO baru Medco Energi, sarjana teknik mesin ITS Surabaya ini juga menerima tongkat estafet pengemban tanggung jawab perusahaan di bidang lingkungan.

Medco Energi diketahui telah cukup lama menjalankan aktivitas proyek bisnisnya berdasarkan paradigma hijau. Strategi hijau diimplementasikan ke dalam visi perusahaan yang memfokuskan  pada pencarian energi terbarukan, seperti etanol, panas bumi, dan biomassa. Pada tahun 2006 Medco Energi membangun pabrik etanol di Lampung berbahan baku singkong. Lalu pada Desember 2007 perusahaan ini mendapat izin untuk mengoperasikan ladang panas bumi di Sarulla, Sumatera Utara.

DINA KARINA SEPTYANI, JAJANG YANUAR HABIB, FEKUM ARIESBOWO W. DAN FADJAR ADRIANTO

(Tulisan ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 13 tahun 2011)
sumber :http://www.wartaekonomi.co.id/berita-174455019-10-ceo-hijau.html

You May Also Like

0 comments