TPM for Social Enterprise


Seri Tulisan Lean Thinking #2

Bagi sebagian orang yang bekerja dibidang manufaktur, konsep TPM bukan barang baru lagi. Ada yang menyebut TPM sebagai Total Productive Maintenance ada juga yang menyebut TPM sebagai Total Productive Managament. Kedua konsep tersebut walaupun terlihat berbeda tetapi sejatinya adalah sama tujuannya yaitu bagaimana dalam sistem produksi bisa mengeliminasi losses dan Waste.
Satu hal yang penting dalam implementasi konsep TPM bahwa kegiatan MENCEGAH dari kerusakan mesin, kerusakan bahan, serta kerusakan sistem adalah kunci pokok dalam menghasilkan produk yang berkualitas, biaya produksi rendah dan kecepatan proses produksi.  

            Dalam konsep TPM manufaktur terdapat 8 pilar yaitu :
1. Autonomous Maintenance (AM). 2. Planned maintenance (PM), 3. Focus Improvement (FI), 4. Education and Training (ET), 5. Quality Maintenance, 6. Safety, Health and Environment (SHE), 7. Office, 8. Early Management (EM)

Namun dalam sharing ini, saya akan menjelaskan konsep TPM untuk bidang Social Enterprise. Kenapa untuk bidang sosial ? apakah yang melatar belakangi untuk membuat konsep TPM untuk bidang sosial ? apakah sama dengan TPM di bidang manufaktur ?
Saat ini berkembang paradigma baru dalam system kelola organisasi yaitu keberlanjutan. Organisasi bisa dikatakan bagus apabila programnya berdampak sekaligus mampu membiayai sendiri operasionalnya. Itulah tantangan yang dihadapi dan harus dicari jalan keluar oleh organisasi social.
        Untuk bidang sosial, TPM saya sebut dengan kepanjangan Total Progresife Movement, kata progresif bisa diartikan bahwa dalam organisasi harus terus menerus melakukan perbaikan kearah kemajuan. Beberapa tujuan penerapan TPM (Total Progresife Movement ) atau disebut sebagai TPM Social Enterprise adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai alat atau tools manajemen untuk mempercepat visi dan misi organisasi
2.      Menjadikan organisasi pembelajar (Learning Organization)
3.      Mengimplementasikan lima nilai inti atau DNA sebuah organisasi
4.      Sebagai indikator keberhasilan pimpinan dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab 

Sama halnya di TPM bidang manufaktur, di konsep TPM Social Enterprise juga ada pilar –pilar yang mensuport implementasi dilapangan yaitu :

1.      Office Managament, 2.      Innovation, 3.      Competition, 4.      Social Contribution,
5.      Training & Eductaion


Pilar # 1 : Office Managament
Tujuan dan keuntungan implementasi Office Management TPM , pertama perbaikan atas proses kerja pimpinan, kedua, Perbaikan terhadap biaya-biaya yang tidak diperlukan (Efisiensi), dan Perbaikan terhadap aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah buat organisasi. Kenapa pilar pertama adalah office Management ? dikarenakan untuk melakukan sebuah perubahan harus dilakukan dari dalam (internal) dalam organisasi baru keluar (eksternal).

Pilar# 2 :Innovation
Tujuannya menjadi organisasi pembelajar inovasi harus terus dilakukan. Terdapat tiga item dalam proses inovasi TPM Social Enterprise yaitu : People, Process  dan Organization. Berikut penjelasan dari ketiga item tersebut :

  1. People: Bagaimana membuat anggota mempunyai jiwa social entrepreneurs, leadpreneurship, dan change maker,
  2. Process : Bagaimana membuat proses beroganisasi menjadi suportif, dan kondusif bagi anggota untuk belajar. Penerapan TPM Social Enterprise adalah melahirkan suasana Collective leaders. Dimana Collective leaders merupakan jantung penggerak organisasi, tidak hanya terkonsentrasi di jajaran puncak organisasi, tapi terdapat merata di seluruh tingkatan organisasi.
  3. Organization : Bagaimana menjadikan penerapan manejemen dan pengelolalan organisasi secara professional dan modern.
Fungsi hakiki dari organisasi pembelajar adalah menjadi “pabrik pemimpin” atau Leader-Driven organization, memproduksi sebanyak mungkin pemimpin di seluruh bagian organisasi

Pilar # 3 : Competition
Tujuan dari pilar kompetisi supaya anggota organisasi menrasakan lingkungan dan jiwa yang kompetitif dan fairness.

Pilar# 4 : Social Contribution
Sebuah organisasi yang  bagus harus mampu mencipatakan sekaligus membangun modal sosial (Social Capital): saling pengertian (shared value), trust (kepercayaan) dan budaya kerjasama ( a culture of cooperation),
Disamping itu harus mampu mempunyai jiwa Social Entrepreneur, pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode untuk mengukur keberhasilana aktifittas IPM diukur dari manfaat dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat.

Pilar # 5 : Training & Eductaion
Pilar yang terakhir ini lebih focus ke proses mencetak  Leadpreneurs sebanyak banyaknya. Leadpreneurs merupakan pribadi pemimpin yang mempunyai jiwa entrepreneurship. Filosofi dari pilar kelima ini adalah Mendapatkan, Menciptakan, Membagi lalu Memberikan nilai tambah.

Dari kelima pilar TPM Social Enterprise diatas terdapat 5 nilai inti (core value) :
1.      Nilai inti Organisasi Aktif penjabaran dari pilar Office Managament
2.      Nilai inti Organisasi Progressife penjabaran dari pilar Innovation
3.      Nilai inti Organisasi Prestatif penjabaran dari pilar Competition
4.      Nilai inti Organisasi Responsife Penjabaran dari pilar Social Contribution
5.      Nilai inti Organisasi Adaptif penjabaran dari pilar Training & Eductaion

Akhir dari semua penjelasan konsep TPM Social Enterprise adalah menjadikan organisasi kita sebagai organisasi pembelajar (Learning Organization).

Bagaimana dengan ide dan pendapat anda ?
Semoga bermanfaat,

Aan Hunaifi

Tulisan ini dibuat untuk membantu berbagi ide dan konsep di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Lamongan periode 2011-2013.
IPM merupakan kawah candradimuka penulis dalam melatih dan belajar organsasi







0 comments: