Pentingnya Soft Skills Bagi Mahasiswa

by - Sunday, February 19, 2012


    

Melalui tulisan ini, saya mau berbagi pengalaman bagaimana saya mendapatkan kesempatan beasiswa Training Entrepreneurship di International Centre for Theoritical Physics ( ICTP ) Italy. 

Sebuah lembaga riset prestisius kelas dunia yang didanai oleh PBB, yang didirikan oleh Penerima  hadiah Nobel Fisika Abdus salam dari Pakistan, sebagai informasi Abdus Salam merupakan orang muslim pertama  yang meraih hadiah Nobel Fisika.

Berawal dari kebiasaan saya setiap awal tahun baru, yaitu selalu menuliskan  target-target yang harus di capai pada tahun tersebut, pada tahun 2008 ini saya menuliskan target harus bisa go internasional setelah sudah cukup modal sering mengikuti dan menjuarai event-event  tingkat nasional.

        Langkah pertama yang saya lakukan adalah  semakin intens mencari informasi baik di internet maupun di kampus  yang memberikan  kesempatan belajar ke luar negeri, kedua, saya memperbaiki kualitas bahasa inggris saya, ini merupakan faktor kunci sebab semua aplikasi dan proposal harus dalam bahasa inggris jadi mau ngak mau harus bisa. 
     
      Terkadang ada rasa agak putus asa karena lama tidak menemukan  kesempatan yang pas, tetapi berbekal semangat dan keyakinan suatu saat pasti akan menemukan kesempatan yang dicari, akhirnnya kesempatan itu datang dari The Abdus Salam ICTP  yang membuka program Entreprenurship forPhysicist and Engineers from Developing Countries. Walaupun masih harus diseleksi lagi oleh pantia, mulai dari awal mengirimkan aplikasi saya sudah optimis bisa lolos menjadi peserta program, sebab saya memiliki modal yang dibutuhkan  untuk mengikuti program tersebut.

       Modal saya untuk mengikuti program tersebut adalah saya pernah menjadi Student Technopreneurship Program dari The Lemelson Foundation USA dan IPB, dan Juara 3 Proposal Bisinis Bioteknologi tahun 2007 dari  Indonesia Biotechnology Students Forum (IBSF) ditambah dengan beberapa penghargaan yang lain. Setelah menunggu akhrinya panitia mengumumkan saya lolos seleksi dan berhak mengikuti program tersebut. 

      Dalam program training tersebut, saya di ajari mulai dari bagaimana mencari ide riset yang potential market, hingga comerzialitation product sekaligus proses paten, materi-materi tersebut sangat penting khususnya bagi negara-negara berkembang yang ingin beralih dari the economy based on natural resources ke the economy based on technology.
     
      Kebetulan ada salah satu mentor profesor yang berasal dari Oxford University UK, beliau mengatakan bagaimana universitas Oxford bisa mengembangkan  riset-riset yang berkualitas tinggi dan aplikatif sebab, di Oxford sudah ada satu mekanisme hubungan yang baik yaitu  antara Universitas, Pemerintah, (Perusahaan) Swasta,  sehingga hasil riset para penelitinya selalu teraplikasi dengan baik disamping itu pihak univeristas juga mendapatkan royalti dari paten yang dihasilkan. Belajar dari sini  mungkin  sudah saatnya Universitas Airlangga yang sudah BHMN menerapkan mekanisme hubungan sinergi tersebut sehingga akan menghasilkan riset-riset yang berkulaitas tinggi.


          Bagi saya mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri walaupun cuma training adalah kesempatan berharga dan langka. Menurut saya ini merupakan buah dari kerja keras, semangat dan focus pada target yang sudah saya tulis di awal tahun. 

Menyimak survey dan kajian menarik dari Majalah Tempo Pada tahun 2007 yang telah memilih 10 Perguruan Tinggi karena lulusannya yang berkarakter. Karakter  (soft skills)  penting di dunia kerja yang dikemukakannya yaitu:

1. Mau bekerja keras,  2. Kepercayaan diri tinggi, 3. Mempunyai visi kedepan, 
4. Bisa bekerja dalam tim, 5. Memiliki kepercayaan matang, 6. Mampu berpikir analitis, 7. Mudah beradaptasi, 8. Mampu bekerja dalam tekanan, 9. Cakap berbahasa Inggris, 
10. Mampu mengorganisasi pekerjaan

       Pada umumnya jarang sekali perguruan tinggi melakukan identifikasi awal kondisi mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi dari sisi soft skills-nya. Yang banyak dilakukan perguruan tinggi adalah mengidentifikasi kondisi awal kemampuan dalam berbahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Program studi juga jarang menanyakan kepada mahasiswa baru maupun lama tentang pembelajaran apa yang disukai dan tidak disukai selama ini?.  Nah, dalam era kepuasan konsumen, nampaknya harus sudah berubah kita harus lebih banyak berkomunikasi dan menggali informasi dari mahasiswa kita.

         Kita sering menyamakan pendidikan sebagaimana layaknya proses produksi barang di sebuah industri. Ada yang dinamakan input yang disetarakan dengan mahasiswa yang baru masuk, lalu ada proses produksi yang disetarakan dengan proses pembelajaran, dan ada yang dinamakan produk yang disebut lulusan. Di dalam industri dibuat SOP dan kita pun dalam dalam rangka penjaminan mutu membuat SOP. 
       
       Namun ada yang dilupakan bahwa bahan baku perguruan tinggi walaupun telah disaring memiliki rentang keragaman yang cukup tinggi, bukan hanya pada intelektualnya melainkan dari sisi karakternya. Hal ini disebabkan karena pengaruh kebiasaaan belajar, pola hidup dan pola pikir yang berulang-ulang dilakukan sampai mereka berada di SMA. Belum lagi pengaruh budaya yang membentuknya. Perubahan inilah yang menjadi hakekat dari pendidikan, dimana tujuan pendidikan adalah untuk merubah perilaku. Perubahan perilaku merupakan fungsi dari olah hati dikalikan dengan fungsi dari olah pikir, olah raga dan olah ras.

      Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999). Pada tahap pertama, penulis buku meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dan dekan/rektor perguruan tinggi) agar mereka menominasikan 50 nama orang-orang yang menurut mereka tersukses di Amerika. Dari mereka, akhirnya diperoleh 50 nama yang beberapa di antaranya adalah:

♦ Jack Welch (General Electric), ♦ Bill Gates (Microsoft), ♦ Andy Grove (Intel), 
♦ Lou Gerstner (IBM), ♦ Michael Dell (Dell Computer),♦ Mike Armstrong (AT&T),
 ♦ John Chambers (Cisco System), ♦ Frederick Smith (Federal Express), ♦ Steve Case (America Online), ♦ Elizabeth Cole (American Red Cross), ♦ Bob Eaton (DaimlerChrysler), 
♦ Michael Eisner (Walt Disney), ♦ Ray Gilmartin (Merck), ♦ Hank Greenberg (AIG), ♦ Sandy Weill (Citigroup), ♦ Alex Trotman (Ford Motor Company)

     Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 orang terpilih tersebut satu-per-satu. Dalam wawancara tersebut antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tersebut. Jawaban mereka kemudian di rangkum di dalam bab kesimpulan yang memuat 10 kiat yang menurut 50 orang tersebut paling menentukan kesuksesan mereka.

        Ternyata dari sepuluh kiat sukses tersebut tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hardskills sebagai persyaratan untuk sukses di dunia kerja. Lima puluh orang tersebut seolah sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan mereka bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam katagori keterampilan lunak (softskills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Di Jerman dikenal juga dengan istilah strategical skills atau key qualifications.

Ten Common Traits of the Best Business Leaders :

1. Passion,  2. Intelligence and clarity of thinking 3. Great communication skills, 
4. High energy level, 5. Egos in check, 6. Inner peace, 7. Capitalizing early life experience, 
8. Strong family lifes, 9. Positive attitude, 10. Focus on “doing the right things right”

       Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah “passion”, gairah, atau semangat yang membara. Orang bijak menterjemahkan semangat sebagai burning desire yang diwujudkan dalam bentuk: “bersedia mencurahkan apapun yang dipunyai untuk apapun yang sedang dikerjakan.” Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 orang sukses tadi menempatkan “semangat” sebagai modal pertama untuk meraih kesuksesan. Yang menjadi pertanyaan, semangat” itu -andaikan bisa diajarkan- akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dengan cara bagaimana? Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bias ditularkan. 

         Mengenai kiat semangat ini, saya sering di tanya sama  teman-teman. Mereka biasanya menanyakan bagaimana saya selalu bersemangat dan bergairah untuk menulis dan mengikuti kompetisi-kompetisi mahasiswa mulai semester awal sampai sekarang. Hasilnya Alhamdulillah, sampai saat ini saya telah mengumpulkan beberapa penghargaan dari mengikuti kegiatan tersebut. 
        
       Mengenai resep semangat ini, saya merasa sangat beruntung ketika pada awal semester bertemu dengan Pak.Afandi dosen biologi Unair. Ketika itu saya banyak di kasih cerita dan motivasi bagaimana semangat hidup beliau mulai dari masa SMA hingga Kuliah di Biologi –Unair. Singkat cerita, apa yang disampaikan pak Afandi waktu itu menginspirasi saya untuk selalu bersemangat dalam menjani hidup, walaupun dengan banyak keterbatasan.

     Dengan demikian tugas dosen di perguruan tinggi bukan mengajarkan semangat, melainkan menularkannya. Artinya, para dosen perlu bersemangat terlebih dahulu supaya dapat menularkan. Apakah mahasiswa akan bersemangat jika selama 100 menit tatap muka di kelas, dosen mengajar sambil duduk dengan tayangan berbentuk transparansi yang sudah usang 10 tahun yang lalu ? Nah, ini baru soal menularkan kiat nomor satu. 
      
     Lalu bagaimana dengan sembilan kiat sukses lainnya? Cerita diatas tadi bukan berarti tidak mementingkan hard skills dalam dunia pendidikan dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun beberapa buku selalu menekankan bahwa di dalam dunia nyata tersebut soft skills sangat menonjol peranannya dalam membawa orang mampu bertahan di puncak sukses, dengan kata lain :

”We HIRE people for their technical skills,
but then.... We FIRE them for behavioral faults”

Semoga Bermanfaat !
Salam,

Aan  Hunaifi

Tulisan ini di cetak dan diterbitkan sebagai Seri Buku Panduan Mahasiswa Baru 2009, di Universitas Airlangga- Surabaya

You May Also Like

2 comments