Kiat Menjadi CEO di Perusahaan Multinasional

by - Monday, February 27, 2012


Pola-pola meniti karier di perusahaan multinasional beragam. Bagaimana para profesional Indonesia bisa menuju posisi puncak?

Ketika ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. tahun 2004, Maurits Lalisang justru terkejut. Kala itu dia merasa belum banyak pengalaman. Namun, tanggung jawab itu diterimanya dengan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Apalagi, selama 24 tahun mengabdi di raksasa consumer goods asal Belanda itu, dia tidak penah minta naik pangkat. Sejak bergabung di Unilever tahun 1980 sebagai tenaga penjualan, Maurits rajin keluar-masuk pasar tradisional. Berkat kerja keras dan prestasinya, kariernya terus melesat menjadi supervisor, manajer regional hingga ke kursi puncak: CEO.

Lulusan Jurusan Administrasi Niaga FISIP Universitas Indonesia itu terbilang konsisten mendaki tangga kariernya di satu perusahaan. Langkah serupa juga dilakukan Handry Satriago yang mengawali kariernya dari nol hingga kini menjadi orang nomor satu di GE Indonesia. Handry mulai bekerja di perusahaan tersebut pada Februari 1997 sebagai Manajer Pengembangan Bisnis. Dia hanya butuh waktu 13 tahun, dari seorang staf menjadi CEO GE Indonesia per 1 September 2010. Sarjana Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Institut Pertanian Bogor dan MBA dari IPMI ini sejak awal kariernya selalu melecut diri untuk berprestasi. “Pilihannya cuma ada dua: grow atau diam menikmati fasilitas yang ada. Tapi saya pilih grow, sehingga harus bekerja lebih giat lagi,” ucap eksekutif yang menggunakan kursi roda dalam beraktivitas ini.

Pola karier Handry dan Maurits nyaris sama: profesional loyal yang mengawali dari bawah. Nah, ini juga mirip dengan perjalanan karier Vadyo Munaan, VP & Senior Country Manager Mastercard Worldwide untuk Indonesia. Bedanya, Vadyo tidak meniti karier dari bawah, tetapi langsung di level atas dan bertahan sampai sekarang, 10 tahun lamanya. Setelah meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Parahyangan, Bandung, dia langsung menclok ke Mastercard Indonesia.

Bagaimana Vadyo bisa awet mempertahankan jabatan bergengsinya? Dia mengaku selalu membangun rasa percaya perusahaan terhadap dirinya. Caranya, “Performance harus diutamakan ketimbang ambisi pribadi,” ungkapnya. Selain itu, dia mampu memenuhi target-target yang dibebankan perusahaan kepadanya. Dia menampik bahwa Mastercard hanya mementingkan target kuantitatif. “Kami dituntut untuk dapat melihat bagaimana prospek pasar. Karena, setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda,” kata pria berumur 43 tahun itu. Sukses membangun kepercayaan perusahaan, Vadyo juga berhasil membangun kepercayaan pelanggan. “Saya bisa bertahan lama di Mastercard juga karena mau mendengarkan kebutuhan pelanggan. Pertama, kami harus mendapatkan kepercayaan pelanggan, setelah itu kepercayaan manajemen Mastercard,” imbuhnya.

Untuk pengabdian cukup lama inilah, Vadyo diganjar apresiasi khusus dari Mastercard. “Malah saya sekarang sudah bisa memilih mau hadiah apa,” tuturnya dengan tergelak tanpa bermaksud menyombongkan diri. Hadiah itu priceless, tetapi dia merahasiakan bentuknya. Apakah dapat jatah saham Mastercard? “Oh tidak. Saham saya yang paling berharga adalah kedua anak saya,” katanya.

Pola yang ditempuh Darwin Silalahi untuk mencapai puncak lain lagi. Untuk mencapai posisi CEO PT Shell Indonesia, dia berkali-kali harus pindah kerja dan terakhir melalui jalur konsultan. Dia merintis karier dari British Petroleum Indonesia (BP), lalu ke perusahaan lokal, sempat menjadi staf ahli di BUMN, menjadi direktur pengelola di perusahaan konsultan asing dan kini menjadi dirut di perusahaan minyak & gas asing lagi. Baginya itu semua bukan rencana hidup. “Saya sempat bercita-cita menjadi dokter,” ujarnya mengenang. Namun, selepas SMA, justru MIPA Universitas Indonesia yang dijejak lantaran ia menyukai mata pelajaran fisika dan matematika.

Ada juga CEO yang kariernya harus loncat sana-sini di bidang yang berbeda. Contohnya, Sutanto Hartono, yang pernah menjadi CEO Sony Music, lalu CEO RCTI, sampai akhirnya dipercaya sebagai Country Manager Microsoft Indonesia saat ini.

Lantas, apa saja yang dilakukan para eksekutif hebat itu agar perjalanan kariernya melesat?

Darwin percaya bahwa seseorang dapat mendaki karier dengan lancar jika mempunyai tiga kriteria yang disingkat menjadi CAR, yaitu capacity, achievement, relationship. Capacity merupakan kemampuan yang dibawa orang tersebut sejak lahir, seperti tingkat inteligensia yang tinggi, kompetensi yang dibangun melalui pembelajaran terus-menerus, dan kemampuan berpikir strategis plus mengeksekusinya.

Achievement merupakan hal apa saja yang bisa dicapai dalam hidup orang tersebut. Bukan saja dalam pekerjaan, tetapi juga terkait dengan pencapaian pribadi, misalnya mencapai puncak gunung. Adapun relationship adalah jaringan yang dibangunnya, terutama ke pemimpin perusahaan. Menurutnya, setelah posisi manajer ke atas, rata-rata jabatan atau job baru itu ditawarkan justru karena relationship yang dibangun itu. Bukan saja dalam organisasi perusahaan tempat bekerja, tetapi juga dengan kalangan luar perusahaan.

Vadyo menuturkan pengalaman yang berbeda. Dia mengklaim, terobosan yang paling mengesankan selama bekerja di Mastercard adalah meluncurkan Mastercard Internet Gateaway Services (MiGs). MiGs dapat diterapkan seperti pemesanan tiket online. “Teknologi ini hanya dimiliki Mastercard untuk online payment yang paling aman,” katanya. Inovasi ini membuatnya lega lantaran dapat menyelaraskan kesibukan konsumen dengan transaksi pembayaran secara real-time.

Agar kariernya terus moncer, Handry memiliki kiat khusus. Menurut lelaki kelahiran Pekanbaru, 13 Juni 1969, ini, sebagai seorang pemimpin, dia menerapkan prinsip 4E (energy, energizing, edge, execute) dari Jack Welch. Menurutnya, leader harus memiliki energy dan passion untuk learning dan improving. Sebab, biasanya ketika perusahaan sukses, pemimpin lupa belajar sesuatu yang baru. Bos juga mesti mampu meng-energize orang lain. Pasalnya, tidak mungkin pemimpin bisa maju sendirian, sehingga harus bekerja sama dengan tim. Selain itu, pemimpin juga perlu edge supaya berani mengambil keputusan pada prinsip yang dipegangnya.

Namun Handry mengingatkan, ”Sebagus apa pun Anda, kalau tidak execute, tidak bisa menonjol.” Untuk bisa execute, dia menyarankan agar atasan membuat target yang bisa dicapai dan berdasarkan perhitungan matang. Create success story juga penting, misalnya dengan membuat pilot project sebelum menjalankan proyek besar. Ini untuk menumbuhkan kepercayaan orang lain kepada pemimpin. “Jadi, leader itu jangan memberikan mimpi besar,” dia mewanti-wanti.

Bagi Handry, seorang pemimpin perusahaan multinasional tidak cukup hanya bisa menjual produk ke Indonesia. “Tetapi, how to sell Indonesia to the company tempat kita bekerja,” ujarnya. Itulah sebabnya, dia menuntut diri sendiri agar dapat menyajikan fakta menarik tentang Indonesia yang dapat “dijual” ke headquarter. Ujung-ujungnya, kantor pusat punya kepercayaan untuk berinvestasi ataupun mendidik pasar Indonesia. Dengan demikian, tidak cukup hanya mengandalkan potensi pasar Indonesia sebanyak 240 juta jiwa.

Menaklukkan pasar Indonesia dan regional juga menjadi target Handry. Misalnya, potensi pengguna kereta api. Fakta menariknya, pengguna lokomotif terbanyak di ASEAN adalah Indonesia. Jadi, sangat masuk akal kalau service center of excellence juga ada di Indonesia, sehingga hal-hal semacam itu mesti disampaikan ke kantor pusat.

Meski bekerja di perusahaan global, menurut Hendry, profesional Indonesia pun wajib memberikan manfaat bagi negara dan bangsa. “What can we do selain doing business?” ujarnya. Jadi, Indonesia juga harus mendapatkan keuntungan dari keberadaan multinational company. GE, misalnya, melakukan banyak program rural dengan menjual peralatan high tech untuk pedesaan dengan harga murah.

Keberhasilan yang dicapai para eksekutif kita di perusahaan multinasional tidak berakhir hingga di sini. Ke depan, Handry masih bercita-cita menjadi guru. “Kalau untuk menjadi guru, saya harus melewati jalur sebagai CEO regional atau global dulu, ya harus saya jalani,” dia menuturkan impiannya di hari tua kelak.

Sementara Handry masih punya impian menjadi guru, Vadyo sudah puas dengan kariernya di Mastercard. “Tidak ada lagi ambisi berlebih karena posisi saya ini sudah teratas di Mastercard Indonesia,” katanya. Kini, yang terpenting adalah mempersiapkan pengganti dirinya. Penggantian di sini bukanlah orangnya, melainkan sistemnya. “Jadi siapa pun nantinya yang duduk di posisi saya sekarang, semua akan berjalan dengan baik, mampu memberikan semangat, memelihara disiplin dan prosedur yang sama ke semua tim karena ini hasil kerja tim,” Vadyo menegaskan.

Terlepas dari prestasi dan jabatan yang dicapai eksekutif kita di perusahaan multinasional, Darwin mengingatkan, sesungguhnya lompatan karier yang diraihnya tak pernah direncanakan sebelumnya. “Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik dengan 3 kriteria CAR, selebihnya pasrahkan apa yang digariskan Tuhan,” ujarnya dengan bijak.

Betty Alisjahbana menambahkan, untuk menuju puncak perusahaan multinasional harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yang harus dilakukan antara lain membangun kinerja yang konsisten, memiliki visi, mencari dukungan mentor, punya exposure di tingkat global, serta tidak berdiam di satu bidang saja. Sebaliknya, yang tidak boleh dilakukan adalah bersikap tertutup terhadap dunia internasional dan tidak percaya diri.” Kebanyakan profesional kita kurang percaya diri. Ini mungkin kultur kita dibesarkan,” kata mantan CEO IBM Indonesia itu, prihatin. (*)


Kunci-kunci Menuju Puncak
Inilah fondasi untuk menduduki pucuk korporasi multinasional
  • Percaya diri dan bersikap terbuka
  • Bangun kompetensi yang unggul
  • Cetak kinerja yang konsisten
  • Luaskan jejaring, buat exposure di tingkat global
  • Carilah mentor untuk mendukung kinerja cemerlang


Reportase: Herning Banirestu, Sigit A. Nugroho dan Yurivito Kris Nugroho.
Riset: Sarah Ratna
sumber :http://swa.co.id

You May Also Like

0 comments