Kiat CEO XL Hadapi Tantangan

JAKARTA - Menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar tidaklah mudah. Salah satu contohnya adalah Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk (EXCL), Hasnul Suhaimi.

Dia menceritakan bagaimana dirinya ditantang untuk turut andil dalam membesarkan perusahaan telekomunikasi tersebut.

"Waktu itu saya ditantang, kalau dalam tiga tahun tidak bisa membesarkan XL, saya bisa dipecat," katanya sambil berkelakar saat berkunjung ke kantor Redaksi okezone akhir pekan ini.

Dia merasa tertantang dengan hal itu, akhirnya memiliki visi yang dia sebut visi 123. Visi yang pertama adalah menjadi perusahaan telekomunikasi nomor satu di Indonesia. Visi dua dan tiga adalah perusahaan selama tiga tahun harus bisa menjadi perusahaan nomor dua terbesar

"Memang susah, tapi semua harus bisa mencapai semuanya terutama dengan visi nomor satu," akunya.

Akhirnya semua itu terbukti. Tantangan tersebut membuahkan hasil. Namun, dia mengaku keberhasilan XL melalui masa sulit juga atas kerja sama tim. "Semua harus dukung, tim, manajemen, staff. Semua harus tertuju ke visi untuk menjadi perusahaan dengan kualitas nomor satu," tuturnya.

Meski saat ini XL sudah jauh berkembang dibanding pertama kali dia bergabung di perusahaan tersebut, namun dia mengatakan sejumlah tantangan masih akan menghadang. Salah satunya tren kebutuhan pelanggan. Jika pada tahun sebelumnya pendapatan XL mengacu kepada layanan telepon dan SMS, kini lebih kepada layanan data. "Tidak bisa dipungkiri, sekarang itu zaman instant messenging, Sementara penggunaan SMS lambat laun akan jauh berkurang. Kita tidak bisa menghindari fakta tersebut. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menyiapkan antisipasi tersebut," paparnya.

Hasnul menyatakan, antisipasi itu antara lain adalah mematangkan fasilitas data atau 3G network. Berdasarkan trafik, pola kebutuhan data pelanggan meningkat signifikan menjadi 10,858 terabyte (TB) pada 2011, dari tahun sebelumnya yang hanya 2,749 TB. Secara persentase, kebutuhan fasilitas data pada 2011, tumbuh signifikan, yakni 61,1 persen (YoY). Kebutuhan fasilitas data juga memberikan kontribusi besar terhadap revenue, menjadi 22 persen dari 17 persen  dibanding tahun sebelumnya.

Pada tahun ini, XL pun akan semakin agresif mengembangkan data. Hasnul akan mengubah fokus yang awalnya lebih kepada business model menjadi data service.

Menurut dia, penggunaan data di Indonesia masih dalam fase yang rendah, seperti pada fasilitas pencarian data dan penggunaan jejaring sosial. "Namun ke depannya akan lebih banyak kepada suara dan gambar. Nah, kami tengah mempersiapkan potensi kebutuhan pelanggan tersebut," jelasnya.

Mengacu pada fokus tersebut, dia melakukan beberapa langkah, di antaranya merumuskan strategi pengembangan data, migrasi 2G menjadi 3G, dan terus menciptakan produk yang atraktif dan relevan bagi pelanggan.

Tren pertumbuhan kebutuhan fasilitas data ini, lanjut Hasnul, tidak lepas dari adanya pertumbuhan pendapatan per kapita yang terjadi di Indonesia. "Income per capita kita dari USD3.000 kini bertambah menjadi USD3.400. Ini mengalami pertumbuhan yang signifikan," tambah dia.

Peningkatan ini membuat pola konsumsi pelanggan menjadi berubah. Jika sebelumnya hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan primer, kini sudah merambah kepada pemenuhan kebutuhan primer.

"Implementasinya, kalau dulu orang beli handphone hanya untuk telepon dan SMS, kini sudah bisa membeli yang ada akses internetnya, sudah bisa membeli smartphone yang bisa main game, tablet dan laptop, yang variasi kontennya juga terus berkembang," papar dia.

Tidak main-main, XL mengalokasikan dana belanja modal (capital expanditure/capex) senilai USD7-8 triliun atau 60 persen dari total revenue yang dikantonginya.


2 comments:

brigita widya hapsari said...

wes banyak teorinya,
ayo sekarang praktek jadi CEO di perusahaan sendiri donk,,, :D

Aan Hunaifi said...

Gitoel : hehe oke siap2...pastinya ikuw semoga diberi kemudahan untuk langung praktek,,hehe