Pages

Sunday, February 26, 2012

Apa itu konsep Just in Time (JIT) ?

Lean thingking #3:

Untuk memahami dasar-dasar Operational Excellence (OE), dalam seri tulisan Lean Thinking  kali ini, saya mencoba sharing tentang konsep Just In Time (JIT).

Apa definisi JIT ? Siapa yang mempelopori konsep JIT ? apa keuntungan dari penerapan JIT ? Bagaimana filosofi JIT ? Apa syarat untuk implementasi konsep JIT ? Siapa saja yang berperan  dalam JIT ? berikut penjelasan dari berbagai pertanyaan tersebut,

Salah satu tujuan kita berbisnis adalah memproduksi barang baik produk maupun jasa yang berkualitas tinggi (quality) dan memuaskan pelanggan (customer satisfication), oleh sebab itu pemahaman dan implementasi Konsep JIT sangat diperlukan sebagai prasyarat utama.

Konsep Just In Ti me (JIT) adalah sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terbaik yang ada di Jepang, sejak awal tahun 1970an, JIT pertama kali dikembangkan dan disempurnakan di pabrik Toyota Manufacturing oleh Taiichi Ohno, oleh karena
itu Taiichi Ohno sering disebut sebagai bapak JIT, Konsep JIT berprinsip hanya memproduksi  jenis-jenis barang yang diminta (what) sejumlah yang diperlukan (How much) dan pada saat dibutuhkan (When) oleh konsumen.

Just In  Time (JIT) merupakan keseluruhan  filosofi dalam operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan  baku dan suku cadang,  personalia, dan fasilitas dipakai sebatas  dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan.

Fujio Cho dari Toyota mendefinisikan pemborosan (waste) sebagai: Segala sesuatu yang  berlebih, di luar kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat, dan waktu kerja yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk.

Dalam bahasa sederhanya pengertian pemborosan adalah  segala sesuatu tidak memberi nilai tambah itulah pemborosan.
Ada 7 (tujuh) jenis pemborosan disebabkan karena
  1. Over produksi ( OverProduction )
  2. Waktu menunggu ( Waiting )
  3. Transportasi ( Transportation )
  4. Pemrosesan ( Process production )
  5. Tingkat persediaan barang ( Unnecessary Inventory )
  6. Gerak ( Unnecessary Motion )
  7. Cacat produksi ( Defects )
Dalam pelaksanaan konsep JIT terdapat empat hal pokok yang harus dipenuhi : pertama, Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan. kedua, Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya. ketiga, Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan  fluktuasi permintaan. keempat, Berpikir kreatif, inovatif serta selalu menerima masukan atau saran dari karyawan

Untuk mencapai empat konsep tersebut perlu diterapkan sistem dan metode sebagai berikut :

a. Sistem kanban  untuk mempertahankan produksi Just In Time (JIT).
b. Metode kelancaran dan kecepatan produksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
c. Optimalisasi waktu penyiapan untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
d. Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
e. Aktifitas perbaikan lewat kelompok kecil (small group) dan sistem saran untuk meningkatkan skills    tenaga kerja.
f. Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan
sedangkan elemen-elemen Just In Time (JIT) adalah
  • Pengurangan waktu set up
  • Aliran produksi lancar (layout)
  • Produksi tanpa kerusakan mesin
  • Produksi tanpa cacat
  • Peranan dan support operator produksi
  • Hubungan yang harmonis dengan pemasok
  • Penjadwalan produksi yang stabil dan terkendali
  • Sistem Kanban

Tulisan ini hanya sekilas menjelaskan apa itu Just in Time (JIT), tentu masih banyak hal  yang beum di jelaskan di tulisan singkat ini, oleh sebab itu tunggu tulisan-tulisan selanjutnya  di seri tulisan sharing Lean Thinking berikutnya..

Bagaimana pendapat anda ?
semoga bermanfaat ?
salam dari Jiaxing, Zhejiang- China

Aan Hunaifi

2 comments:

...ketiga, Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan. keempat, Berpikir kreatif, inovatif serta selalu menerima masukan atau saran dari karyawan....
mohon penjelasannya pak, untuk teknisnya pada point tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi, apakah dengan sistem outsorching?
saya melihat adanya ketimpangan dengan masukan dan saran dari karyawan, ketika SDM tersebut menuntut status ke-pegawai-annya?

terimakasih
JALSENG

Tenaga kerja yang fleksibel disini maksudnya adalah skills karyawan,harus mampu mengoperasikan lebih dari satu alat/mesin produksi,dalam sebuah pabrik ada kalanya dalam satu line produksi terdapat banyak sekali mesin atau tools yang berbeda-beda, untuk itulah diperlukan skills tenaga kerja yang fleksibel, jadi tidak ada hubunganya dengan sistem outsourching,
JIT merupakan sebuah Winning system,dimana diperlukan sebuah Dream Team,sebuah dream team harus melibatkan segenap elemen dan insan pekerja, baik dalam penemuan ide sampai eksekusinya.semoga bisa membantu,
bagaimana dengan ide & konsep bapak ?