Aan Hunaifi, Duta ASEANPreneurs Indonesia 2009


BERANGKAT dari hobi melakukan penelitian yang dilakoninya sejak SMA, Aan Hunaifi berhasil mengkoleksi  sejumlah penghargaan. Hebatnya lagi, penghargaan yang berhasil disabetnya tersebut tidak hanya berkisar pada perlombaan ilmiah, tapi juga kewirausahaan.

Sejak tahun 2006, mahasiswa angkatan 2004, Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga ini terhitung telah mengumpulkan banyak penghargaan di bidang kewirausahaan tingkat regional,  nasional, bahkan internasional. Bahkan, baru-baru ini, ia didaulat menjadi salah seorang fasilitator tim Indonesia pada lomba ASEAN Science Entreprise Challenge (ASEC) 2009

Aan mengatakan, ketertarikannya pada bidang kewirausahaan berawal ketika ia terpilih menjadi salah satu peserta Student Technopreneurship Program: Lemelson Recognition and Mentoring Program ( L-RAMP). 

Acara ini diadakan oleh The Lemelson Foundation (TLF) USA bekerjasama dengan IPB Bogor Indonesia pada 2006. “Waktu itu mayoritas pembicara memiliki background pengusaha. Topik topik yang diangkat juga banyak menginspirasi saya untuk menjadi seorang entrepreneur. Saya jadi sadar, ternyata ada dunia yang lebih menarik ketimbang cuma berkutat di laboraturium,” ujar Aan.

Dari situ, Aan mulai gemar mengikuti lomba kewirausahaan. Tahun 2007 ia berhasil menyabet Juara 3 pada Biotechnology Proposal Business Competition Tingkat Nasional yang dihelat Indonesia Biotechnology Students Forum (IBSF). “Ketika itu banyak petambak yang mengalami kesulitan memperoleh pakan. Saya pun mengajukan suatu bakteri yang bisa dipakai untuk pakan alternatif,” terangnya.

Tahun 2008, Aan semakin bersinar. Ia terpilih mewakili Indonesia dalam program Entrepreneurship for Physicist and Engineers from Developing Countries di Italia. Program yang diselenggarakan oleh The Abdus Salam ICTP Italia, Insitiute Of Physics (IOP), Inggris dan American Physics Sociaty (APS) Amerika Serikat ini menantang para fisikawan dan engineer untuk tidak berhenti sampai tahap riset saja. 

Para kandidat juga harus mampu mengembangkan riset yang dihasilkan menjadi produk masal yang menjual. “Saya menjadi orang pertama yang mewakili Indonesia di ajang ini. Selain itu, diantara peserta lainnya, saya  satu satunya yang masih berstatus mahasiswa,” ungkap laki-laki berpenampilan sederhana ini.


Tidak berhenti sampai disitu, pada Desember 2008, Aan kembali mengikuti kompetisi bidang kewirausahaan. Hasilnya pun luar biasa. Ia berhasil menjadi Duta ASEANpreneurs untuk Indonesia. Ajang ini diadakan oleh ASEANpreneurs Youth Leader Network (AYLN), National University of Singapore (NUS) Entrepreneurship Society Aan mengatakan, visi pelaksanaan ASEANpreneurs adalah untuk memasyarakatkan pengetahuan tentang entrepreneurship di lingkungan perguruan tinggi di seluruh negara di Asia Tenggara. Dalam seleksi yang berlangsung ketat tersebut Aan memperoleh nilai terbaik berkat pemikirannya terkait pengembangan bidang kewirausahaan di suatu negara.

Pertama, mensinergikan dunia riset, manajemen, dan lembaga riset supaya menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah. Kedua, mensinergikan hubungan pemerintah, peneliti dan lembaga riset termasuk perguruan tinggi. Pemerintah sebagai pemilik modal dan pembuat peraturan harus pro terhadap peneliti. Peneliti sendiri harus kreatif. Sementara itu, lembaga riset hendaknya memberi kesempatan dan akses pada peneliti agar bisa berkembang,” jelas Aan. Terakhir, Aan menyarakan agar program pertukaran pelajar di negara negara Asia Tenggara iintensifkan.



Di tengah kesibukannya sebagai Duta ASEANpreneurs, Aan juga sering diminta menjadi pembicara maupun fasilitator pada berbagai kegiatan. Salah satunya pada ASEC 2009. Dalam acara yang dihelat Mei 2009 tersebut Aan menyampaikan materi tentang empat hal penting yang harus diperhatikan agar bisa mentransformasi hasil riset menjadi produk. “Keempat poin tersebut saya singkat N-A-B-C,” ungkapnya. 

N kepanjangan dari Need maksudnya, kita harus mengetahui kebutuhan konsumen. A adalah Approaches. Setelah mengidentifikasi kebutuhan, kita harus tahu kira-kira pendekatan riset seperti apa yang harus dipakai 
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Lalu B atau benefit. Artinya, kita harus menghitung dengan cermat apakah produk yang kita hasilkan menguntungkan atau tidak. “Dalam hal ini tentu saja perlu uji kelayakan. Dan tentu saja, yang dimaksud keuntungan tidak hanya berupa uang tapi juga keuntungan bagi lingkungandan masyarakat,” jelas Aan. 

Terakhir C atau Competitor maksudnya, kita mengetahui competitor dari produk yang hendak kita kembangkan. Dibalik keberhasilannya, Aan merasa perlu berterimakasih pada para dosen yang membimbingnya, diantaranya Prof. Agoes Soegianto, DEA., Drs.Muhammad Affandy, M.Si, serta Prof. Ni Nyoman TP ,M.Si, PhD “Mereka selalu men-support saya untuk terus berkarya. Dari mereka pula saya belajar banyak tentang metode penelitian dan pengetahuan tentang berbagai hal,” ujar Aan. rfa 

sumber : http://warta.unair.ac.id/
 46 Tahun V, Juni 2009

0 comments: