Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

by - Monday, October 04, 2010

Maurits Lalisang, Presiden Direktur Mulai Karir Sebagai Salesmen

Maurits Lalisang dilahirkan di Jakarta 1955 dari sebuah keluarga sederhana yang terletak di Kali Pasir, Cikini. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 4 Jakarta, ia masuk ke Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Administrasi Niaga. “Dulu ketika saya kuliah, biayanya sangat murah saya hanya membayar uang kuliah sebesar Rp 15.000,00. dalam satu semester,” ujarnya.

Maurits menceritakan sewaktu kuliah ia merupakan bagian dari komunitas Warung Kopi (Warkop/Dono, Kasino, Indro, Nanu) yang akhirnya dikenal sebagai kelompok komedi di Indonesia era 1980 – 1990an. Tahun 1978 ia berhasil menyelesaikan studinya, namun ia tidak langsung bergabung dengan perusahaan Unilever Indonesia, ia bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan Jepang selama 1,5 tahun.

“Saya bergabung dengan Unilever mulai tahun 1980 dengan posisi sebagai salesman yang keluar masuk pasar,” kata Maurits. Namun ia mengakui, itulah masa paling indah dalam perjalanan karirnya sebagai bagian dari keluarga besar Unilever. “Hampir semua pasar tradisional yang besar di Jakarta pernah saya kunjungi, jadi jika sekarang ada salesman yang berkata tidak jujur pasti ketahuan,” paparnya.

Banyak hal yang bisa dipetik sebagi seorang salesman seperti belajar bagaimana menerapkan strategi yang jitu dalam pemasaran, mengenal lebih banyak manusia dengan berbagai karakter dan belajar melakukan komunikasi dengan banyak orang. Setelah itu karirnya melesat menjadi supervisor, regional manager di Palembang. Ia adalah salah seorang putra lokal yang pernah mencicipi hidup Unilever di luar negeri.

“Saya sudah berputar-putar di berbagai tempat di dunia seperti Belanda dan Inggris,” tuturnya. Namun akhirnya kecintaan pada kampung halamanlah yang membuat saya ingin kembali. Seperti peribahasa lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang, bagaimanapun juga kita akan bahagia tinggal di tanah air tercinta.

Hal yang paling membahagiakan di Unilever Indonesia adalah kita hidup dalam suatu keluarga besar sehingga terjalin ikatan yang sangat erat. “Hal inilah yang tidak saya dapatkan ketika berada di luar negeri,” tegasnya. Jika kita bahagia dengan apa yang kita rasakan saat ini maka kita tidak akan khawatir apa yang akan terjadi di hari esok.

Filosofi Hidup
Di waktu senggangnya ia menyempatkan diri bermain golf dan main band. Perusahaan memang menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat olah raga, fasilitas bermusik dan ruangan santai. Hal ini positif karena karyawan bisa melakukan berbagai aktivitas olah raga atau musik sambil menunggu kemacetan yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta.

Filosofi hidupnya cukup sederhana, “I just try my best every time,” ujarnya. Selama di Unilever ia tidak pernah minta naik pangkat dan baginya menjadi presiden direktur hanyalah titipan dan suatu hari pasti akan berakhir. Keterbukaan inilah yang membuat staf atau karyawan tidak canggung untuk memasuki ruang kerjanya.

Dulu ketika di tunjuk sebagai presiden direktur Januari 2004 ia justru terkejut karena ia merasa belum cukup banyak pengalaman tetapi ia menerima tanggung jawab ini. Yang penting kita percaya bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dan menikmati apapun yang menjadi tanggung jawab kita.

Setelah kurang lebih 25 tahun bekerja di Unilever pengabdian, kerja keras dan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit telah mengantarkan pemuda yang kali pertama hanya mengangkat sabun, margarin keluar masuk pasar menjadi seorang CEO yang mengangkat nama Unilever sebagai perusahaan consumer good yang paling disegani di Indonesia.

(By Sinar Harapan)/Posted by: warisancoetomocoid on: Mei 19, 2009

You May Also Like

0 comments